7 : Perasaan Aneh

"Eenngghhh.."

"Astaga udah siang dong kebo banget dah tidurnya.."

Nadya mengucek-ngucek matanya berkali-kali, dia pikir masih malam ternyata hari sudah siang dan matahari mulai meninggi. Hari ini tidak ada jam kuliah maupun waktu bersama kedua sahabatnya. Karena kedua sahabatnya sedang bekerja di hari libur kuliah mereka, jadi mau tidak mau Nadya menikmati kesendiriannya di rumah.

Kegiatannya selama di rumah hanya menyapu, mengepel, memasak walaupun cuma bisa masak telor ceplok, mie instant, telor dadar, mie instant. Bersih-bersih rumah dan dan juga kamar.

Tak lupa juga setelah dia membersihkan apartemennya, dia selalu mengisi waktu luangnya dengan berolahraga di ruang tengah yang cukup luas untuk dia melakukan yoga atau sejenis senam kecil. Selain yoga dan senam, Nadya juga sangat menyukai olahraga basket dan juga voli, tak heran jika tubuhnya tinggi. Rutinitasnya sehari-hari tidak pernah membuatnya bosan sedikit pun. Dia malah sangat menikmati hidupnya, walaupun terkadang dia masih teringat dengan mantannya itu.

"Haaahhh capek..."

"Mau sebanyak apapun kegiatannya yang namanya belum bisa move on ya belum bisa move on.. Haaahh... Ngerepotin banget sih.."

Setelah selesai berolahraga dan bersih-bersih rumah, tak lupa Nadya segera mandi dan juga sarapan pagi. Karena ini adalah hari libur, Nadya memutuskan untuk pergi ke toko buku yang jaraknya tak jauh dari rumah. Cukup berjalan kaki beberapa meter saja dia sudah sampai di toko buku.

Hidup sendiri di apartemen sendiri itu sangat membosankan, Nadya selalu merasa kesepian yang amat sangat dalam. Ditambah mengingat ayahnya yang tinggal sendiri di Indonesia, ibu dan adiknya entah pergi kemana tidak ada kabar, hingga sampai saat ini dia ikut dengan ayahnya hidup berdua bersama.

Bulan Januari adalah bulan musim penghujan, sebelum berangkat Nadya memakai jaket dan juga membawa payung untuk berjaga-jaga ketika nanti hujan.

Sepanjang perjalanan, Nadya melihat seorang anak yang sedang bermain di sebuah taman. Terlihat sangat harmonis dan juga bahagia. Pandangan itu lagi-lagi mengingat dimana dia hidupnya harmonis dengan kedua orangtuanya sebelum hidup berpisah.

"Jadi kangen ayah..." gumamnya pelan.

Nadya terus melanjutkan perjalanannya ke arah toko buku. Namun saat Nadya sudah berada di depan pintu toko, tiba-tiba saja Nadya melihat sosok laki-laki yang sangat familiar baginya sedang duduk sendiri sambil memegang satu bouquet bunga matahari. Dan sosok itu ternyata Sato. Nadya berniat untuk memanggilnya namun sayang sekali, belum juga di panggil, laki-laki itu sudah menoleh ke arahnya dan berlari. Nadya yang panik seketika, langsung masuk ke dalam toko buku dan mencari tempat persembunyian.

'Kenapa ada dia di mana-mana coba...'

Nadya mencari ke rak buku yang banyak penghuninya agar tidak ketahuan oleh Sato. Saat Nadya sudah merasa tidak di ikuti oleh laki-laki itu, Nadya menghela nafasnya lega sambil mengelus-elus dadanya.

"Huuhh akhirnya dia gak ada..."

Gadis itu keluar dari tempat persembunyiannya, lalu mencari rak buku yang bertuliskan Comic.

Siapa sangka sudah berumur 24 tahun pun dia masih suka menonton anime dan mengoleksi beberapa barang, seperti komik dan beberapa Action Figure di apartemennya. Kalau ayahnya tahu Nadya mengoleksi barang-barang itu, tamatlah riwayatnya.

Nadya mengambil beberapa komik yang sedang ia incar, termasuk komik anime kesukaannya, Haikyuu dan juga Tokyo Revengers. Setelah dia merasa sudah selesai berbelanja, dia pun pergi ke kasir untuk membayar.

"Yey akhirnya beli juga~"

Saat Nadya membuka pintu toko buku itu, Lagi-lagi dirinya harus terkejut melihat Sato sudah didepan mata.

"Oi!!"

"HUWAAA!!!"

Nadya terkejut bukan main saat di tegur oleh Sato yang bersandar di sebuah tiang listrik yang tak jauh letaknya dari toko buku itu. Ternyata Sato menunggu Nadya keluar dari toko buku.

"Kenapa pake acara ngumpet?" keluh Sato.

"S-Siapa yang ngumpet? Sok tahu.."

"Ya kamu lah emang siapa lagi? Saya kan nanya sama kamu, bukan sama tiang listrik." protes Sato lagi.

Merasa gagal gadis itu menghindar akhirnya dia pun menarik lengan Sato untuk menjauh dari toko buku dan mencari tempat yang tidak ada kerumunan orang-orang.

"Oi Oi Oi!! Mau ngapain ini? Mau mesum kamu ya?" kata Sato panik.

"Berisik! Kamu jangan ngomong mulu.." sahut gadis itu.

Nadya menarik Sato hingga ke taman tempat kemarin mereka berdua bertemu namun diam-diam. Nadya menuju sebuah bangku kosong yang tak jauh dari pohon.

"Duduk disini." kata gadis itu.

Sambil menaruh kantong belanjaannya yang penuh komik di bangku itu, Nadya bertolak pinggang dan menatap Sato kesal. Sato yang bingung hanya bisa mengerutkan alisnya.

"Kenapa?" tanya Sato bingung.

"Kamu yang kenapa." elak Nadya cepat.

"Saya? Lah saya emangnya kenapa?"

"Kenapa kamu kabur kemarin?"

"Eh?"

"Kenapa gak bilang-bilang kalau kamu di taman juga?"

"Hah?"

"Kenapa main tinggalin aku gitu aja??"

"....."

Sato yang di sodori pertanyaan yang begitu banyak hanya bisa menghela nafasnya kasar.

"Saya gak kabur..." jawab Sato enteng.

"Lah ya terus kenapa pergi??" tanya gadis itu penasaran.

"Oi kenapa jadi saya yang di cecer begini dah?"

"Ya salah kamu lah, kenapa kamu pergi kemarin? Kenapa gak bil—"

"Gimana kemarin?"

"Hmm? Kemarin?"

"Ada apa sama kema—"

"Kamu di tembak cowok di kampus kamu kan?"

"Geh?!"

"Gimana jawaban kamu? Kamu terima?"

Sekarang giliran gadis itu yang bingung. Sato tahu kalau gadis itu habis di tembak kemarin oleh Gabriel.

"Enggak, enggak, dengerin dulu."

"Pasti kamu terima ya? Hahahaha selamat deh.." jawab Sato cepat sambil tertawa garing.

"Hah?? Maksud kamu apa sih? Aku gak nger—"

"Nih..

Sato menyodorkan satu bouquet bunga matahari sama seperti kemarin Sato menjatuhkannya di tempat yang sama, di taman itu.

"Ini buat kamu.. Rawat baik-baik.."

"I-Ini... T-Tapi kenapa?"

"Makasih banyak.."

"Hah?"

"Makasih banyak udah hadir di kehidupan saya makasih banyak udah selalu jadi pawang hujan saya.." kata Sato sambil tersenyum lembut kearah gadis itu.

Nadya makin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Wajahnya terlihat bingung saat mendengar semua perkataan Sato.

"M-Maksud kamu apa? Pawang Hujan?"

PUK!

"Jaga diri baik-baik, semoga kamu ketemu dengan orang yang benar-benar serius sama kamu... Saya slalu do'ain buat kamu..."

Belaian lembut di puncak kepala gadis itu membuat Nadya luluh seketika. Wajahnya berhasil memerah dalam sekejap.

"T-Tapi emang kamu mau kemana?"

Belum juga menjawab pertanyaan Nadya, laki-laki itu berbalik badan dan hendak pergi.

Namun dengan cepat Nadya menahannya dengan memeluk erat laki-laki itu. Sato terkejut bukan main.

"Jangan pergi..."

"....."

"Jangan pergi...."

"....."

"Bukannya kamu udah dapet pacar baru? Kan kamu kemarin di temb—"

"Aku nolak dia.."

"Hmm?"

"Aku nolak dia..."

"Kenapa emangnya?" tanya Sato yang masih tidak percaya.

"Karena aku masih mau dekat sama kamu." jawab Nadya lantang.

Sato tertegun dengan jawaban gadis itu. Lagi-lagi gadis itu membuat Sato kembali salah tingkah dan memerah wajahnya layaknya kepiting rebus.

"Jangan pergi... Aku mohon..."

"Bukannya kamu yang bilang kalau kamu mau kita dekat kan?"

Sato jadi ingat kembali dimana dia mengatakan hal itu dengannya saat gadis itu sakit beberapa hari yang lalu. Mungkin sudah semingguan mereka saling mengenal. Atau mungkin lebih.

"Jangan pergi... Please..."

Rengekan Nadya berhasil membuat Sato tinggal di sana, tetap diam ditempatnya. Sato benar-benar luluh dengan gadis itu. Perasaan aneh muncul di dalam dirinya.

'Kenapa? Kenapa perasaan gua jadi begini? Apa jangan-jangan..'

...✨✨✨...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!