17 : Ada Yang Hilang

Hari demi hari berlalu, Nadya di beri istirahat tambahan menjadi 3 minggu setelah kejadian atau insiden yang menimpanya beberapa minggu lalu. Butuh cukup banyak energi agar dia bisa kembali ke kampus.

Mencoba melupakan kejadian itu, berusaha untuk tetap tenang dan melupakan apapun yang sudah terjadi.

Nadya berjalan menuju gerbang kampusnya. Tak heran jika banyak yang melihat kearahnya dengan tatapan yang mungkin dirinya pun tidak mengerti tatapan apa itu.

Nadya tetap berjalan dengan penuh percaya diri menuju ke ruangannya. Saat pintu ruangan itu di buka, Tiba-tiba saja bunyi terompet dan sebaran bunga sakura bertebaran di sekitarnya. Gadis itu tentu saja sangat terkejut.

"SELAMAT DATANG KEMBALI NAA-CHAN!!!"

Sebuah surprise kecil-kecilan yang di meriahkan oleh teman-teman seruangannya. Tentu saja itu membuat Nadya bingung.

"Naa-chan akhirnya kau kembali juga!"

"Naa-chan bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?"

"Yo Naa-chan!"

"Akhirnya Naa-chan kembali huwaaa!!!!"

Seperti itulah respon dari teman-temannya. Antara bingung, sedih bahkan senang bercampur menjadi satu. Tanpa sadar Nadya meneteskan air matanya dan mulai menangis sesegukan. Tentu saja, dengan sigap beberapa teman seruangannya memeluknya dengan erat.

"Ayo semangat.."

"Naa-chan pasti bisa~ Naa-chan orang hebat!"

"Jangan menangis seperti itu, dasar cengeng!"

"Hahahaha... Naa-chan lucu sekali..."

"Kita sudah tahu semuanya dan kita tetap temanmu.. Jangan pernah merasa sendiri, okay?"

Disaat Nadya masih di dalam pelukan teman-temannya, entah mengapa dia mengingat seseorang mengatakan hal yang sama seperti mereka.

"Kamu itu berharga, kamu tetep menjadi permata. Semua gadis itu istimewa dan.. kamu termasuk salah satunya..."

"Jadi... Teruslah hidup. Saya... dan teman-temanmu mengkhawatirkanmu... Semoga kamu lekas sembuh ya..."

Perkataan Sato terlintas begitu saja. Gadis itu makin sesegukan menangis.

'Kamu benar.. Ternyata.. Banyak yang begitu mengkhawatirkan aku disini...'

Di sisi lain, Ritsuka dan Hitoka saat ini sedang ada dosen di ruangan mereka, jadi mereka tidak bisa bergabung dengan teman-teman Nadya meskipun mereka di ajak.

"Gua harap..."

"Aku harap..."

"Naachan baik-baik aja.."

...🍁🍁🍁...

JREEENNGGG~

Bunyi senar gitar yang di petik terdengar sangat indah, baik Uenoyama, Nakayama dan Akihiko hari ini merasa takjub dengan latihan yang semakin kemari semakin lancar. Di tambah Sato sedang dalam kondisi terbaiknya.

"Latihan hari ini cukup sampai sini.. Dua hari lagi kita bakal tampil di bar, tetap semangat semuanya!" kata Nakayama bersemangat.

"YOSHAA!!!!"

Semua membereskan peralatan mereka masing-masing, sedangkan Sato memilih untuk duduk dan kembali fokus dengan gitarnya. Memainkan sedikit demi sedikit nada gitar yang ia petik sambil menulis not yang terlihat seperti not lagu.

Nakayama dan Akihiko yang menyadari perubahan seorang Sato, mereka mengisyaratkan sesuatu. Akihiko berjalan mendekat kearah Sato.

"Oi Sato.."

"E-Eh? Akihiko-san? Kenapa?" tanya Sato dengan nada sedikit terkejut.

"Mau latihan bersamaku?" tawar Akihiko sambil tersenyum lebar.

Sato awalnya bingung, karena dia hanya tahu kalau Akihiko hanya bisa bermain drum.

"T-Tapi bagaimana latihannya?" tanya Sato ragu-ragu.

"Heeehh~ Jangan meremehkan aku, dasar bodoh! Aku ini bisa bermain alat musik drum, biola dan juga gitar, tahu!" kata Akihiko jengkel.

"W-Whooaaaa... Aku gak tahu soal itu loh.. Ayo Akihiko kalau begitu kita latihan bersama. Aku mungkin juga akan membuat lagu walaupun liriknya belum ada hahahaha..." kata Sato sambil tertawa garing.

Akihiko menganggukkan kepalanya dan mengambil gitar yang sedang menganggur. Mereka latihan bersama sambil mencoba nada-nada baru yang cocok untuk lagu terbaru mereka.

Nakayama tersenyum melihat kedua pria itu latihan bersama. Dia berjalan menuju pintu keluar berlahan-lahan.

CEKREK!

"Haahh... Akihiko emang hebat.. Jadi aku gak perlu khawatir lagi soal itu.." kata Nakayama sambil mengelus dadanya.

"Nakayama-san.."

Nakayama menoleh kearah Uenoyama yang menyodorkannya sebuah kertas undangan konser mereka.

"Hmm... Kenapa?"

"Perlu gak kita samperin itu cewek terus kasih undangan ini ke dia?" tanya Uenoyama to the point.

"E-Eehh??!! A-Apa kau yakin, Uenoyama?" tanya Nakayama.

Pria itu hanya menganggukkan kepalanya polos.

"Tapi kau tahu kan kemarin dia bilang apa ke kita?" kata Nakayama khawatir.

Uenoyama kembali mengingat kejadian kemarin saat dia berkelahi dengan Sato.

FLASHBACK

"Oi..."

"Hmm?"

"Lo udah undang dia buat dateng ke konser kita?"

"Dia? Dia siapa maksudnya?"

"Nadya."

"Kenapa harus?"

"Ya harus. Siapa tahu dia mau lihat penampilan ki—"

"Gak perlu."

"Hah?"

"Gak perlu. Jangan undang dia, biar dia hidup tenang."

"Hah??! Apaan sih maksud lo?"

"Intinya gua gak mau undang dia, titik."

GRAB!

BUAG!

"OI!! APA-APAAN LO??!!"

"LO YANG APA-APAAN!!! LO PENGECUT HAH??!!!"

"SIALAN! APA SIH MAKSUD LO??!!"

"KALO LO SUKA SAMA DIA, KALO LO MAU PERJUANGIN DIA, YAUDAH PERJUANGIN AJA!"

"...."

"LO LAKI APA BUKAN SIH? CUMAN PERKARA DIA GAK MAU TEMUIN LO WAKTU ITU, LO JADI SEOLAH-OLAH MIKIR KALO DIA GAK MAU KETEMU SAMA LO LAGI GITU, IYAAA??!!"

"...."

"Lo gak usah egois jadi laki.. Semua orang butuh waktu sendiri buat nenangin dirinya sendiri.. Apalagi dengan masalah dia waktu itu.."

"...."

"Gak usah jadi anak kecil.. Umur kita bukan umur yang masih doyan sama cinta monyet.."

"Gua... Tetep gak mau undang dia.. Ini demi dia, bukan demi gua. Gua cuman gak mau dia jadi trust issue gara-gara laki-laki."

"Jadi lo bener-bener gak mau ketemu sama dia ataupun ngelihat dia sedikit pun?"

"...."

"Yaudah kalo gitu... Itu hak lo, Sato. Gua juga gak bisa ngelarang apa-apa. Dan itu juga pilihan lo.."

"...."

"Tapi..."

"...."

"Kalo dia udah dapet laki-laki yang lebih segalanya dari lo dan gak se-pengecut lo, gua yakin lo bakalan nyesel.."

"Kenapa lo ngomong begitu ke gua?"

"Karena lo pengecut, Sato..."

"Gua gak pengecut.. Gua cuman gak mau dia trau—"

"Dia trauma sama orang lama, bukan sama orang baru, Sato."

"...."

"Dia trauma sama perlakuan itu laki-laki brengsek... Sama mantan lo yang kelakuannya kayak setan itu.."

"...."

"Gadis itu bukan barang, gadis itu tetap punya mahkotanya sendiri. Tinggal kita aja yang berusaha ngejaganya."

"Tapi.."

"...."

"Gua tetep gak bisa..."

"...."

"Gua... Belum pantes buat dia.. Biarinin gua kayak begini dulu..."

FLASHBACK END

"Inget gak kejadian kemaren?" tanya Nakayama lagi yang berusaha meyakinkan Uenoyama untuk tidak menemui Nadya.

Bukan Uenoyama namanya kalau dia tidak keras kepala. Dia memakai sepatunya lalu sambil membawa tas yang berisikan gitar miliknya dan berjalan pergi dari studio.

"Uenoyama!! Mau kemana lagi??" teriak Nakayama.

"Aku mau ketempat gadis itu." jawab Uenoyama dengan wajahnya yang lempeng.

Mendengar perkataan Uenoyama untuk yang kesekian kalinya, cukup membuat Nakayama menepuk keningnya lalu dia berlari kearah Uenoyama.

"Haaahh... Bukan Uenoyama kalo gak kepala batu, yasudah ayo aku akan ikut denganmu!" kata Nakayama pasrah.

"Nah begitu dong dari tadi orang mah..." sahut Uenoyama tanpa merasa berdosa.

"Itu karena kau terus memaksa ya?! Dasar bodoh!"

...🍁🍁🍁...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!