Rumah sakit
"Sudah sekian lama kau tak menghubungiku dan sekarang kau tiba tiba menelponku dan langsung mengatakan kalau kau membutuhkanku, huhh."
Jawab seorang laki laki yang bernama Erick yang merupakan seorang dokter dan sekaligus teman Rafa sejak mereka masih sekolah sampai sekarang. Mereka masih berhubungan erat dan sudah seperti saudara yang begitu sangat akrab.
"Bukannya menyapa kau malah marah marah denganku." Kata Rafa.
"Ada masalah apa sampai kau meneleponku hah? sudah lama kita tak bertemu." Tanya Erick dengan penasaran.
"Bayangan itu muncul kembali dan membuat kepalaku sangat sakit." Kata Rafa dengan serius.
Erick pun membenarkan posisi duduknya dan langsung berubah serius ketika Rafa membahas tentang bayangan itu lagi.
"Sudah 4 tahun bayangan itu hilang dan sekarang tiba tiba muncul, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Erick dengan penasaran.
"Aku tidak tau, aku hanya mampir ke toko bunga tadi, dan..." Seketika Rafa pun teringat kembali ketika dia bertanya kepada Nabila tentang wallflower. Dan Nabila pun menjelaskan makna dan sesudah itulah kepalanya terasa sakit dan bayangan itu muncul kembali.
"Dan apaa?" Erick pun bertanya kepada Rafa karena Rafa terlihat diam saja.
"Tidak jadi, aku hanya ingin kau memberikan aku obat untuk menghilangkan rasa sakit kepala ku ini." Kata Rafa.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa saja memberikanmu obat untuk menghilangkan rasa sakit di kepalamu. Tapi, tidak dengan bayangan itu." Kata Erick dengan serius.
"Apa kau tau? kenapa bayangan itu bisa muncul kembali?" Tanya Rafa.
Erick pun tampak memajukan sedikit badannya kearah Rafa.
"Ia akan muncul kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan masa lalumu." Seketika raut wajah Rafa pun tampak terkejut.
"Apa akhir akhir ini kau bertemu seseorang?" ucap Erick penasaran.
"Tidak, tidak ada." Kata Rafa berbohong
Setelah itu ia pamit dan pergi meninggalkan Erick.
Lalu Erick berbicara sendiri dengan lamunannya.
"Apa dia bertemu Nabila lagi? itu tidak boleh terjadi." Kata Erick khawatir.
Toko Bunga
Nabila tampak melamun sambil menatap kosong kearah jalanan yang ada dihadapannya. Dia hanya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Rafa. Dia pun mengingat kembali ketika Rafa tampak sakit sambil memegang kepalanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia, apakah dia lagi sakit? huhh setau aku dia tidak mempunyai riwayat penyakit apapun. Tetapi, kenapa tadi dia tampak begitu kesakitan yahh?"
Nabila tampak bergumam dengan dirinya sendiri. Dia tampak berpikir keras sambil memainkan pena yang ada di tangannya.
Arina pun melihat Nabila yang tampak melamun sejak tadi. Kalau bisa dihitung sudah lama Nabila duduk disitu dan kerjaannya hanya melamun. Entah apa yang dipikirkannya, Arina pun tak tau. Arina pun berinisiatif untuk mengejutkan Nabila, ia pun berjalan perlahan lahan ketempat Nabila.
"Bwwaaaa..." Arina pun berhasil mengejutkan Nabila dengan memukul pundaknya. Ia pun tampak senang dan tertawa sangat keras ketika berhasil membuat Nabila terkejut dan kesal.
"Hei ... apa yang kau lakukan? kau mengejutkanku saja, kau itu membuat jantungku hampir copot. Menyebalkan sekali." Nabila pun mengelus ngelus dadanya, dan melihat Arina dengan tatapan kesal karena ia begitu puas menertawakannya.
"Santai dong, salah sendiri ngapain juga kau melamun seperti itu. Sudah dari tadi aku perhatikan, kau bahkan tidak melakukan apa apa kau hanya melamun. Entah apa yang kau pikirkan sebenarnya huh." Kata Arina dengan penasaran.
"Apa aku berpikir selama itu? huhh aku tak menyadarinya." Nabila hanya membalas ucapan Arina dengan lemas.
"Emangnya kau memikirkan apa?" Arina tampak heran dan bertanya kepada Nabila.
"Ahh tidak ada, aku hanya memikirkan kegiatan apa yang bagus aku lakukan besok. Karena besok hari Minggu kita tidak kerja dan aku bingung harus ngapain." Kata Nabila.
Nabila pun hanya bisa berbohong menjawab pertanyaan Arina tadi. Karena ia belum berani untuk mengatakan kepada Arina apa yang sebenarnya dia pikirkan. Dan tentang hubungan dia dengan Rafa di masa lalu.
Arina pun memukul lengan Nabila, dia pun terlihat kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa kau tidak ingat besok itu kau ada janji jalan dengan Randi, huh." Arina pun berbicara dengan lantang dan menekankan setiap kalimat yang diucapkannya agar Nabila ingat dan mendengarkanya.
"Aaaaa aku lupaa, kenapa aku bisa melupakan pertemuan aku besok." Nabila pun
memukul kepalanya sendiri dan merasa sangat bodoh karena ia sama sekali tidak ingat akan janjinya dengan Randi untuk jalan jalan besok.
Keesokan harinya...
Taman Bermain
"Kenapa dia lama sekali." Nabila pun bergumam karena Randi yang ditunggunya tak kunjung datang juga.
Randi adalah teman Arina, waktu itu Arina sangat sedih melihat Nabila yang belum bisa move on dari cinta lamanya. Dan terus saja menangis jika ada sesuatu yang berhubungan dengan cinta lamanya.
Walaupun Arina tidak tau siapa cinta lama Nabila yang membuat Nabila susah untuk melupakannya. Dan pada akhirnya Arina pun mengenalkan Nabila dengan Randi salah satu temannya.
"Nabilaaa." Nabila pun menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya tersebut.Ternyata itu Randi sambil berlari lari menghampiri Nabila yang duduk di salah satu kursi taman disitu.
"Kau sudah lama menungguku?" Tanya Randi dengan nafas yang masih terengah engah
"Tidak juga." Kata Nabila tersenyum.
Mereka pun menghabiskan seharian penuh waktu mereka untuk pergi jalan jalan sambil menikmati pemandangan yang ada disekitar sana. Dan menikmati beberapa permainan dan jajanan yang ada di taman tersebut.
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat dan hari pun sudah beranjak malam.
"Apa kau menyukainya? jalan jalan hari ini?" tanya Randi ketika mereka sudah duduk disalah satu kursi taman dan menikmati satu cup kopi hangat.
"Ahh tentu saja." Nabila pun meminum kopinya sambil menjawab pertanyaan Randi dengan tersenyum.
Sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam Nabila tidak suka pergi jalan jalan dan menghabiskan waktu dengan cowok lain.
Tetapi, karena Arina yang menyuruh dan memaksa, Nabila pun hanya menurut saja apa yang disuruh sahabatnya itu. Karena dia tidak mau melihat Arina selalu khawatir dengan dirinya.
"Bagaimana jika Minggu depan kita pergi jalan lagi?" Randi mulai bicara dengan Nabila.
"Baiklah, jika aku punya waktu." Kata Nabila dengan kaku. Karena sebenarnya dalam hati Nabila tidak begitu suka pergi berdua saja dengan Randi karena menurutnya dia dan Randi itu masih Canggung. Tapi semua ini demi Arina.
"Sepertinya hari sudah sangat malam, sudah waktunya untuk pulang." Nabila pun mengatakan kepada Randi karena ia takut Ibunya khawatir.
"Ah iyaa, baiklah, aku antar kamu pulang," Kata Randi.
Ketika mereka menuju pakiran mobil tiba tiba-tiba ada seseorang laki laki yang menyenggol Nabila dan membuat badan Nabila pun oleng. Ia tidak bisa menjaga keseimbangan badannya sendiri karena terlalu terkejut. Dan Nabila pun tampak akan terjatuh. Namun, refleks seseorang tadi langsung menarik tangan Nabila dan pada akhirnya Nabila berada di pelukan cowok itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Gayle (Hiatus)
Mampir lagi ni kak😆
Udah ku like, rate 5 sama vote...terus berkarya kak smngt.
2020-08-22
0
EL
aku sudah mampir yah..
2020-08-14
0
Rilansun
kk aku mampir nih, nyicil dulu ya😅.
bagus kk critanya, smngt nulis dan mikirnya 💪😊
slm dari Brittle 🖤
2020-08-11
0