Rafa pun berlari mengejar Nabila tadi. Bayangan itu membuat dia penasaran siapa Nabila itu sebenarnya. Apa Nabila adalah seseorang dari masa lalunya? atau Nabila tau tentang bayangan itu? atau? terlalu banyak pertanyaan yang dipikirkan Rafa. Tapi sekarang dia harus menemukan Nabila dulu.
"Kemana dia pergi?" Tanyaa Rafa. Setelah cukup jauh berlari, Rafa berhenti disalah satu taman tidak jauh dari tempat pesta tadi, dan Rafa melihat ke sekelilingnya berusaha untuk menemukan Nabila.
Nabila tidak tau apa yang ada dipikirannya sekarang. Dia hanya ingin jauh jauh dari Rafa. Pertunangan Rafa itu membuatnya sangat terguncang dan takut. Dia takut jika dia tak punya kesempatan lagi untuk bersama Rafa. Dia takut jika Rafa tak akan lagi mengingatnya dan dia harus melupakan masa lalu yang menyakitkan itu sendiri.
Karena terlalu sibuk memikirkan tentang Rafa, Nabila tidak fokus berlari dan akhirnya ia menabrak seseorang.
"Aww, maafkan aku, maafkan aku." Nabila mengelus kepalanya karena beradu dengan punggung orang itu. Tapi ia tidak melihat orang itu dan Nabila hanya meminta maaf sambil menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah.
"Nabila.."
Merasa seseorang itu mengenalnya bahkan menyebut namanya Nabila pun mengangkat kepalanya. Dan melihat siapa orang itu, dan dia sangat terkejut karena ternyata orang yang ditabraknya tadi adalah Rafa.
"Rafa..." Setelah melihat siapa orang itu, Nabila berusaha untuk lari karena dia tidak ingin muncul didepan Rafa. Tapi, Rafa dengan cepat menarik tangan Nabila membuat Nabila tidak bisa lari.
"Tunggu Nabila, kenapa kau menghindariku?" Tanya Rafa heran.
Nabila tidak bisa berkata apa apa, dia tidak tau apa yang harus dia katakan. Apa ini waktunya untuk dia mengungkapkan semua kebenaran? dan mengatakan siapa dia sebenarnya?
"Nabila..." Ternyata itu Randi, dia menghampiri Rafa dan Nabila.
Secara bersamaan Erick pun datang, dia mencari Rafa sejak tadi karena Rafa tiba tiba hilang. Karena ini sudah waktunya untuk meresmikan jabatan baru Rafa.
"Rafa, apa yang kau lakukan disini? semua orang menunggumu. Ayahmu bahkan sudah menyuruh orang untuk mencarimu. Apa kau tidak mau jabatanmu diresmikan? ucap Erick tergesa gesa.
Dan pada saat itulah Erick melihat Nabila, begitupun juga dengan Nabila dia juga melihat Erick. Tapi, seketika dia terkejut karena Erick seperti berpura-pura tidak mengenalnya.
"Ayo Rafa, kau harus cepat, semua orang menunggumu." Erick menarik tangan Rafa dan membawa Rafa pergi.
Rafa hanya bisa mengikuti Erick karena ini sudah waktunya acara peresmian jabatannya. Dan acara makan bersama dengan tamu tamunya dari luar negeri. Dia tidak mau mengecewakan mereka dan membuat perusahaannya dipermalukan.
Setelah Rafa pergi, Nabila baru bisa bernafas lega dan terduduk lemas di lantai taman tersebut. Melihat Nabila seperti itu, Randi pun cemas dan menanyakan keadaan Nabila.
"Apa yang terjadi ? kau tidak apa apa?" Tanya Randi. Ia membantu Nabila berdiri dan akhirnya mereka duduk di salah satu kursi taman didekat situ.
"Terimakasih." Nabila terlihat lesu dan tersenyum kearah Randi.
"Aku melihatmu berlari tadi dengan wajah ketakutan. Aku mengikutimu karena aku pikir ada sesuatu yang menimpamu." Kata Randi.
Tapi Nabila hanya diam saja dan tidak membalas perkataan Randi. Karena dia pikir tidak seharusnya Randi mengetahui masa lalunya dengan Rafa.
"Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak mau menceritakannya sekarang." Randi berusaha untuk memahami perasaan Nabila.
Nabila melihat Randi, dan dia baru tersadar kalau Randi memakai pakaian formal dengan balutan jas.
"Kau bekerja disini?" Nabila baru tersadar dan mengingat percakapannya dengan Randi waktu itu. Jadi, perusahaan yang dimaksud Randi waktu itu adalah perusahaan yang sama dengan Rafa.
"Iya, karena itu aku datang ke pesta ini. Karena ini adalah salah satu acara perusahaan." Kata Randi tersenyum.
Nabila hanya bisa mengangguk dan mengehela napas. Ia berpikir kenapa semuanya selalu berada didekat Rafa. Tidak dirinya, bahkan Randi pun bekerja untuk Rafa. Sepertinya dunia ini sangat kecil dan sempit. Dan juga Erick, dia baru teringat kalau tadi dia juga melihat Erick, tapi Nabila heran kenapa dia bertingkah seakan akan dia tidak mengenal Nabila.
"Hei, kau melamun?" Tanya Randi, Ia melihat Nabila yang hanya terdiam.
"Tidak, aku tiba tiba terpikir sesuatu." Kata Nabila dengan tersenyum terpaksa.
"Oiya, apa kamu mengenal Rafa?" Tanya Randi
"Owh dia sering berkunjung dan membeli bunga di tokoku. Hari ini aku juga bekerja untuknya. Jadi, aku sudah mengenalnya." Kata Nabila berbohong kepada Randi.
"Kenapa kamu berbohong kepadaku Nabila?aku sebenarnya tau kalau kalian adalah sepasang kekasih di masa lalu. Tapi sekarang berbeda. Aku tak akan biarkan kamu bersama Rafa lagi." Kata Randi dalam hati.
"Lalu, tadi kenapa dia menahanmu seperti itu." Kata Randi penasaran. Randi seperti cemburu dan tidak suka kalau Rafa melakukan hal seperti itu kepada Nabila.
"Tadi itu dia....." Ucapan Nabila terpotong karena pada saat itu Arina muncul dengan nafas yang terengah engah.
"Hei Nabila, kau kemana saja aa? aku sudah mencarimu kemana mana. Kau tiba tiba berlari meninggalkanku. Kau tega Nabila, lihatlah aku sangat lelah mencarimu." Arina terduduk di samping Nabila
Nabila hanya bisa tersenyum dan merasa bersalah mendengar semua celotehan Arina itu. Disisi lain, Randi melihat senyum Nabila yang selalu membuat hati Randi berdegup kencang. Yang membuat Randi tidak mau melepaskan Nabila kesiapa pun termasuk Rafa.
Flashback
Bel pulang sekolah berbunyi, itu tandanya waktu pulang sekolah sudah tiba. Semua murid-murid tampak sangat antusias karena pelajaran sudah berakhir.
"Hei, Randi, kau mau kemana sudah pulang sekolah ini?" Tanya Rafa membalikan badannya ke tempat duduk Randi yang tepat di belakangnya,
"Aku langsung pulang, aku harus membantu ibuku berjualan." Kata Randi.
"Owhh kau sangat berbakti dengan ibumu. Aku bangga punya teman sepertimu. Kalau begitu aku ajak Erick saja untuk bermain." Rafa pergi ketempat duduk Erick dan mereka keluar berdua.
Saat Randi berjalan keluar sekolah dia melihat ada seorang gadis yang mengintip intip dibelakang pagar masuk sambil menggambar wajah orang itu diatas kertas.
"Kau menggambar wajah seseorang tanpa dapat izin dari orang itu. Sepertinya itu adalah salah satu tindakan jahat." Kata Randi tepat dibelakang gadis tadi.
Hal itu membuat Gadis tadi tekejut dan langsung menyembunyikan kertas gambarnya itu kebelakang.
"Siapa kau?" Ternyata itu adalah Nabila. Dia diam-diam melihat Rafa yang akan pulang sekolah. Sejak dulu Nabila sudah menyukai Rafa. Dia menggambar wajah Rafa agar dia bisa memandang-mandang wajah Rafa selalu.
"Hmm, kau bahkan bukan dari sekolah kami. Kau menggambar orang secara diam diam, dan tanpa sepengetahuan orang itu. Apa kau penguntit? aku harus melaporkanmu." Kata Randi. Ia langsung pergi dari hadapan Nabila dan berpura pura akan melaporkan Nabila.
"Tunggu, tunggu." Nabila berusaha menghadang Randi.
"Aku bukan penguntit, aku hanya ingin menggambar wajah orang itu. Itu bukan tindakan yang jahat. Seharusnya kau tidak boleh melaporkan orang begitu saja." Kata Nabila kesal.
Randi melewati Nabila begitu saja, dia mengabaikan Nabila dan tidak peduli dengan apapun yang Nabila katakan.
"Heiiiiii kau bahkan mengabaikan orang begitu saja, dasar kau tidak sopan." Kata Nabila kesal.
"Hmm, aku penasaran hukuman seperti apa yang akan kamu dapatkan jika aku melaporkanmu ya." Kata Randi dengan senyum jahilnya.
Nabila kembali bersikap baik-baik lagi, dia tidak ingin Rafa sampai tau kalau selama ini dia diam-diam Nabila selalu menggambar wajah Rafa. Bisa bisa nanti Rafa malah menjauhinya, dia tidak ingin itu terjadi.
"Baiklah, apa maumu?" Tanya Nabila berusaha berbicara dan membujuk Randi.
Nabila mengeluarkan satu permen tangkai rasa strawberry dan memberikannya kepada Randi.
"Aku tidak punya uang atau apapun, ini ambillah, aku memberikannya gratis untukmu." ucap Nabila.
"Permen?" Randi tidak percaya kalau Nabila memberikan nya setangkai permen strawberry.
"Ini bukan permen biasa. Kalau kau memakannya hari-hari mu akan terasa sangat indah, kau akan selalu tersenyum. Dan harimu akan lebih ceria daripada sebelumnya, karena itu ambillah." Kata Nabila tersenyum.
"Tidak usah malu, aku memberikan ini gratis untukmu." Nabila menarik tangan Randi dan meletakan permen itu di telapak tangan Randi.
Nabila tersenyum kearah Randi, senyumnya yang begitu ceria dan manis. Senyum apa adanya dan seperti tidak ada beban sama sekali.
Randi melihat permen itu. Lalu, dia juga melihat senyuman Nabila yang begitu manis dan tulus itu. Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang tersenyum untuk dirinya. Hal kecil seperti itu membuat hati Randi luluh seketika.
"Aku suka permennya, senyumannya, dan dirinya." Randi berucap dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Hendra G
dapet banget romannya.mantap kak👍
2020-08-29
0
Sugianti Bisri
suka♥️♥️♥️♥️♥️
2020-08-27
0
Sept September
siang Kaka... aku datang yaaaaa...
bawa jempol jempol buat karya kece Kakak 💕
semangat yaaaaa...
nanti aku bakal balik lagi...
da da da....
Sept🙄
2020-08-19
0