Setelah acara selesai, Randi pun memutuskan untuk mengantarkan Nabila dan Arina pulang kerumah masing masing. Karena hari sudah malam dan bahaya bagi mereka jika pulang sendiri.
Berbeda dengan Rafa saat semuanya sudah pulang dan beristirahat, ia masih terduduk di salah satu kursi yang masih tersisa di tempat acara itu.
Ternyata Erick belum juga pulang. Setelah dia melihat Nabila tadi dia merasa sangat khawatir terhadap Rafa. Hal itu membuat dia menunggu Rafa sampai ia pulang. Tapi, Rafa tidak juga beranjak dari tempat duduknya dan masih terus melamun ntah apa yang dipikirkannya.
"Hei, Rafa, ini sudah malam kau tidak ingin pulang?" Tanya Erick sambil menghampiri Rafa dan duduk disebelahnya.
"Apa kau masih ingat? waktu itu aku pernah menceritakan kepadamu bahwa aku melihat suatu bayangan yang membuat kepalaku sakit." Rafa langsung berbicara setelah Erick duduk disebelahnya.
"Owhh, ituu, emang kenapa?" Tanya Erick. Ia melihat Rafa dan penasaran kenapa Rafa mengungkit hal itu lagi.
"Tadi, bayangan itu muncul lagi, aku melihat bayangan itu lagi. Dalam bayangan itu aku melihat seorang wanita. Tapi bayangan itu tidak terlalu jelas dan samar-samar." Kata Rafa berusaha mengingat.
Erick sudah yakin semua itu pasti karena Nabila hadir lagi dalam kehidupan Rafa. Nabila lah sesorang dari masa lalu Rafa. Tapi Rafa tidak lagi mengingatnya akibat kecelakaan itu. Dan Erick tidak ingin Rafa tau kebenaranya karena suatu alasan.
"Mungkin kau terlalu banyak pikiran karena pesta ini, jadinya kau memikirkan hal hal yang aneh-aneh. Sudah lupakan saja." Erick berupaya untuk tidak membahas hal itu. Dia tidak ingin Rafa terus berupaya mencari tau tentang masa lalunya itu.
"Seharusnya kau mendukungku untuk mengungkap tentang bayangan itu, agar aku bisa keluar dari rasa penasaran ini. Tapi, kau malah menyuruhku untuk melupakanya, hal itu hanya membuat aku tambah penasaran." Kata Rafa dingin.
"Lebih baik kita pulang, hari sudah malam, kau juga harus beristirahat." Erick berusaha menjauh dari obrolan Rafa itu.
Rafa pun ikut berdiri dan berjalan duluan dari Erick. Tapi setelah itu dia kembali menghadap ke Erick.
"Apakah menurutmu kita ini teman?" Tanya Rafa tiba-tiba.
"Tentu saja, kita bahkan lebih dari teman, pertanyaan konyol apa itu." Kata Erick sambil tertawa.
"Kalau begitu, berusahalah untuk tidak membohongiku, teman seharusnya saling mendukung satu sama lain kan." Kata Rafa. Setelah itu dia pergi meninggalkan Erick yang masih berdiri terdiam. Erick hanya bisa terdiam setelah Rafa mengatakan hal itu. Dia melakukan semua ini karena demi Rafa juga.
Keesokan Harinya..
Toko Bunga
Kring..! Kring..!
Bunyi telepon berdering didalam toko itu. Hal itu membuat Nabila melihat kearah telepon yang jaraknya jauh dari tempat dia berdiri sekarang.
"Arinaa..... Arinaaaa...., tolong angkat teleponnya. Aku tidak bisa menjangkaunya karena ada beberapa kerjaan yang sedang kulakukan." Kata Nabila berusaha teriak memanggil Arina.
Arina muncul dari ruang yang berbeda karena tadi dia harus mengurus beberapa barang yang rusak.
"Siapa yang menelepon pagi pagi ni?" sambil berjalan dan menghampiri telepon itu.
"Halo, dengan Arina, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Arina.
Nabila melihat Arina yang mengangkat telepon itu, dia berpikir apakah ada orderan masuk? atau ada pesanan datang? Setelah Arina selesai berbicara dengan seseorang itu Nabila langsung bertanya.
"Siapa itu? apakah kita dapat pesanan?" Tanya Arina.
"Kau disuruh datang ke kantor Rafa. Tadi itu yang menelepon adalah sekretarisnya dia bilang kau harus mengambil bayaran untuk bunga kita kemaren." Kata Arina.
"Kenapa harus aku, kau saja yang ambil, aku banyak kerjaan." Nabila menyuruh Arina saja yang pergi, karena dia masih tidak mau bertemu Rafa lagi setelah pertemuan malam kemaren.
"Tidak bisa, orang itu tadi mengatakan, kau sendiri yang harus datang karena itu perintah dari Rafa. Yasudah pergi saja, biar aku yang melanjutkan pekerjaanmu." Arina pun mengambil alih pekerjaan Nabila.
Nabila tidak punya pilihan, karena ini sudah perintah dari Rafa langsung. Kalau dia tidak datang mereka tidak dapat bayaran itu. Nabila merasa kasihan dengan Arina yang sudah bekerja dengan sangat keras. Jadi, dia memberanikan diri untuk datang, dia akan berusaha untuk melupakan kejadian itu dan bersikap biasa saja.
Perusahaan Maju Jaya
Nabila sudah sampai didepan kantor Rafa, dia mengadahkan kepalanya keatas dan melihat bangunan pencangkar langit itu.
"Wahh, kantornya sangat besar dan tinggi. Aku kagum dengan Rafa karena dia bisa menjadi CEO perusahaan ini." Kata Arina dengan perasaan kagum.
Nabila pun berjalan masuk kedalam bangunan itu. Dia melihat banyak orang yang berlalu lalang dengan memakai pakaian kantor yang rapi dan seragam. Dulunya, dia sangat ingin kerja di kantor seperti ini, tapi mungkin takdir berkata lain. Tapi, Nabila bersyukur dengan pekerjaannya sekarang.
Nabila menghampiri salah satu meja resepsionis karena dia tidak tau ruangan Rafa ada dilantai mana. Melihat bangunan yang sebesar ini membuat Nabila bingung.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu resepsionis itu.
"Saya ingin menemui Rafa, apa bisa tunjukan saya ruangnya dimana?" Tanya Nabila santai.
"Apakah maksud anda pak Rafa? CEO perusahaan ini?" Tanya Resepsionis itu heran. Karena Nabila menyebut nama Rafa dengan panggilan tidak formal seperti itu.
Nabila baru menyadari kalau dia sekarang ada di kantor Rafa, semua orang disini adalah karyawan Rafa. Jadi, semua orang mengenal Rafa sebagai CEO mereka, Karena itu Nabila harus bersikap formal juga. Nabila menertawai sikapnya itu sendiri karena sudah memanggil Rafa dengan paggilan yang tak sopan.
"Ah iya, maksud saya pak Rafa." Kata Nabila malu.
"Tapi maaf, apakah sebelumnya anda sudah membuat janji dulu?" Tanya Resepsionis itu.
"Tidak, tapi saya disuruh langsung oleh pak Rafa kesini." Kata Nabila menjelaskan.
Resepsionis itu melihat-lihat Nabila dan tidak percaya dengan omongan Nabila dia melihat Nabila seperti orang yang biasa saja, tidak seperti orang penting. Mana mungkin CEO yang se sibuk Rafa itu mau mengundang orang seperti Nabila ini.
"Tidak mungkin, pak Rafa adalah orang yang sibuk. Dimia tidak mungkin punya waktu untuk mengundang orang seperti anda." ucap Resepsionis.
"Hah! "orang seperti anda" apa maksud dari ucapan anda itu." Nabila mulai kesal karena resepsionis itu seperti merendahkannya.
"Jika tidak ada urusan lain anda bisa keluar kearah pintu itu. Masih banyak urusan yang harus kami lakukan." Kata Resepsionis itu sambil menunjuk kearah pintu keluar.
"Kau salah paham, coba kau telepon dulu dan biarkan aku bicara, dan setelah itu kau baru bisa percaya." Kata Nabila, Namun Nabila baru teringat kalau dia tidak punya nomor hp Rafa. Hall itu membuat dia tidak bisa berbicara dengan Rafa secara langsung dan harus berurusan dulu dengan Resepsionis sombong ini
"Pak, tolong bawa dia keluar ya, dia membuat keributan disini." Resepsionis itu bahkan tak mengacuhkan Nabila ia malah memanggil pak satpam untuk mengeluarkan Nabila.
"Tunggu pak, saya bukan membuat keributan. Saya ingin bertemu pak Rafa karena dia menyuruh saya untuk datang kesini." Kata Nabila berusaha berbicara baik-baik sambil menahan amarahnya.
Pak satpam itu malah tidak mendengar Nabila dan memaksa Nabila untuk keluar.
"Pak,Pak dengarkan saya dulu, saya bukan pembohong saya bisa membuktikannya pak!" Nabila mulai marah karena tidak ada yang percaya dengannya.
"Kau ini ingin menambah masalah? kau membuat keributan disini. Lihatlah semua orang melihatmu!" Kata pak satpam itu.
"Tapi......." ucapan Nabila terpotong karena seseorang datang dan membuat keributan ini berhenti.
"Ada ribut-ribut apa ini?" semua orang menundukkan kepalanya bahkan Resepsionis dan pak satpam melakukan hal yang sama. Nabila melihat kearah orang yang datang itu dan ternyata....
"Nabila..? ada apa ini?" Tanya Rafa. Dan yang datang itu adalah Rafa, ia bahkan langsung mengenal Nabila. Hal itu membuat Resepsionis tadi terkejut karena Rafa memang mengenal Nabila.
"Rasakan itu, hahahah." Nabila tertawa puas dalam hatinya sambil melipat kedua tangannya. Dia melihat resepsionis itu yang terkejut dan melihat kearahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
silviaanugrah
hai thor, aku datang bawa 15like.
smngt up & smg ceritanya sukses ya, aku tunggu feedback-nya. 😉✨
2021-02-18
0
Sept September
semangat
2020-08-23
0
Aisy Hilyah
aku juga ikut tertawa hahaha rasain... like Thor semangat
2020-08-16
0