Akhirnya mereka makan bersama, walau tentu saja ada rasa canggung dan tak nyaman diantara mereka berdua. Hanya Queen yang menikmati makanannya dengan lahap.
Nicko tak selera makan, walau ia telah memesan makanan yang ada di restoran tersebut. Hal ini jelas berbeda saat Nicko tengah menggunakan jasa Giara saat berlibur ke Bali.
Rasa canggungnya tak seperti ini, karena pada saat itu Nicko membayarnya, dan hal itupun jelas telah direncanakan. Berbeda dengan kali ini, yang terjadi karena ketidaksengajaan dan keteledoran Nicko sebagai orang tua.
"Kakak baik namanya siapa? Kenalin, aku Queen, aku masih sekolah TK Kakak," Queen menyapa Giara begitu lembut.
"Ah, halo Queen, kenalin nama Kakak Giara, kamu bisa panggil Kak Ara aja kalau kepanjangan," Giara menyapa Queen begitu lembut.
"Hai Kak Ara, tah gak, kalau Kakak itu cantik sekali. Daritadi aku pandangin, Kakak itu saaaaaangaaat cantik. Bener kan Ayah?" tanya Queen pada Nicko.
"Hah? A-Apa?" Nicko benar-benar tak fokus.
"Kakak Ara cantik banget kan Ayah? Kayak Queen ya cantik?" tanya Queen begitu polos.
"Ah, i-iya, cantik," Nicko tak mampu lagi berkata-kata.
Lagi-Lagi anak kecil sepolos Queen bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu pada Giara. Hal itu tentu saja membuat Giara jadi canggung dan gugup. Apalagi Nicko, yang ditanya oleh Queen tentang cantik atau tidaknya Giara.
Queen hari ini membuat Nicko mati kutu. Ingin rasanya Nicko segera pulang dan terpisah dari Giara. Giara dan Nicko kini sama-sama seperti patung, tak berani berbicara ataupun sekadar basa-basi.
Selang beberapa menit kemudian, makanan mereka hampir habis. Ini adalah yang Nicko tunggu-tunggu sejak tadi, yaitu mengajak Queen pulang. Saat Nicko membereskan beberapa barang belanjaannya ,hal yang tak diduga dan disangka oleh mereka pun terjadi.
"Hai, Nicko ... kebetulan banget ketemu di sini. Lagi makan siang ya ...," sapa Anna, teman Nicko yang kebetulan lewat bersama anak dan suaminya.
"Hai, Na ... ah, i-iya, lagi makan siang." jawab Nicko kikuk.
Nicko sangat kaget, ia tak menyangka jika Anna, teman reuni di Bali kemarin melihatnya dan menyapanya. Apalagi, dengan keadaan tak diinginkan seperti ini.
Nicko tengah bersama Giara dan putrinya. Hal ini tentu saja membuat Anna semakin yakin, jika hubungan Nicko dan Giara itu memang serius. Bahkan,tak ada yang mengiranya sama sekali, jika Giara hanyalah seorang wanita bayaran yang disewa oleh Nicko kala itu.
"Aduuuuh, makin romantis aja nih pasangan ini. Apalagi, sekarang udah jalan-jalan bareng sama anak nih. Ciye, kapan ngundang jadinya?" Anna terus me-lobby Nicko dan Giara.
"Ah, kamu ini Na," wajah Nicko memerah.
Ternyata, anak Anna dan Nicko pun saling mengenal.
"Hai, Queen," sapa anak Anna, yang bernama Chelsea.
"Hai, Sea, kamu jadi beli barbie baru?" tanya Queen.
"Jadi Queen, aku beli yang warna pink lho!"
Rupanya, anak Anna dan anak Nicko adalah teman satu sekolahan. Pantas saja mereka saling kenal dan saling menyapa. Giara hanya bisa tersenyum manis seakan ia kembali lagi pada aktingnya saat di Bali tempo hari.
Terlihat sekali jika wajah Nicko begitu gugup dan bingung, karena kehadiran Anna. Anna dan Nicko basa-basi, dan berbicara sekenanya agar tak membuat Anna curiga.
Pertemuan dengan Anna akhirnya bisa dihentikan begitu Nicko meminta izin pamit pada Anna dan suaminya. Rupanya, Anna dan keluarganya pun memang akan makan di restoran tempat Giara dan Nicko makan saat ini.
"Anna, kita pamit dulu ya, sudah lama sekali kami di sini," ucap Nicko.
"Ah, iya baik Nick, aku baru saja mau makan di sini. Jika saja aku lebih cepat, mungkin saja kita bisa makan bersama." jawab Anna.
Nicko refleks membawakan belanjaan Giara. Giara kaget, karena Nicko tak izin dulu padanya sedikitpun. Hal ini sungguh diluar nalar. Pertemuan ini, sekaligus pertemuan dengan teman Nicko, sangat-sangat mencengangkan.
Nicko pun sekaligus membayarkan pesanan milik Giara. Akting tetaplah akting, Nicko malu, jika ketahuan oleh Anna bahwa ia berbohong. Mau tak mau, Nicko meneruskan perbuatan yang sama seperti saat di Bali.
Mereka bertiga berjalan sampai gerbang utama Mall ini. Giara akhirnya memegang tangan Queen karena melihat Nicko sibuk membawakan barang belanjaan miliknya. Giara jadi tak enak akan hal ini, karena ia terkesan membuat Nicko repot.
"Pak, sudah, sampai sini saja. Biar saya yang membawanya, terima kasih banyak ..." pinta Giara saat mereka berada di depan pintu Mall.
"Apa yang kamu beli hingga belanjaanmu seberat ini? Ckck, dasar wanita, berat sekali jinjingan ini," Nicko masih memegang belanjaan tersebut.
"Ini kebutuhan di rumah selama beberapa minggu. Kebetulan kuliah sedang libur, jadi aku menyempatkan diri untuk membeli kebutuhanku. Sini, biar aku yang bawa. Ngomong-Ngomong, berapa yang harus aku bayar? Makanan di restoran tadi? Biar aku bayar sekarang," ucap Giara ketus.
"Tunggu di sini, biar aku antar kamu pulang. Bahaya jika ada mata yang mengenal kita lagi. Aku akan mengambil mobil, tunggu di sini bersama anakku," tegas Nicko.
"Ha? A-apa?" Giara kaget bukan main.
"Queen, tunggu di sini sama Kak Giara ya, Ayah ngambil mobil dulu di parkiran. Nanti Ayah ke sini lagi, gak akan lama, kok ..." pinta Nicko pada Queen.
"Yeay, asyik ... aku pulang bareng sama Kakak baik ..." terlihat sekali jika Queen begitu senang.
Giara pasrah. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti keinginan Nicko. Lagi-Lagi, harus bersama Nicko. Lagi-Lagi, ada pertemuan tak diduga seperti ini. Sungguh bingung, dan membuat Giara merasa tak nyaman.
Akhirnya, Giara pun naik ke mobil Nicko. Nicko akan mengantar Giara. Nicko meminta alamat rumah Giara, agar tak perlu terus bertanya. Padahal, menurut Giara hal ini terlalu berlebihan. Nicko tak seharusnya mengantarkannya seperti ini, karena Anna pun di dalam tak akan mungkin melihat mereka lagi.
"Kamu tak perlu membayar makanan tadi, anggap saja itu sebagai rasa terima kasihku karena kamu telah menjaga anakku." ucap Nicko tiba-tiba.
"Tapi ini juga terlalu berlebihan, turunkan saja aku di sini, Pak, aku bisa pulang sendiri kok.". Giara tak nyaman karena berada satu mobil dengan Nicko dan anaknya.
"Anggap saja ini juga bagian dari rasa terima kasihku. Tak perlu menolak. Aku tahu, kamu bisa pulang sendiri, hanya saja, menurutku ... belanjaanmu itu terlalu berat. Kasihan jika jamu membawanya seorang diri. Apalagi naik angkutan umum, yang tentunya harus turun naik sembari membawa barang belanjaan sendiri. Aku saja sudah berat membawanya, apalagi kamu, yang tentunya seorang wanita ..." Ucapan Nicko kali ini benar-benar sangat menyentuh.
"Ayah perhatian banget ya sama Kakak baik ... Ayah pasti sayang ya sama Kakak baik. Aku juga sayang kok sama Kakak Ara ..." ucap Queen refleks sembari memegang tangan Giara, karena mereka duduk di belakang kemudi Nicko.
"Astaga, Queen, tidak seperti itu maksud Ayah ..." Nicko jadi tak fokus mengemudi.
Ya Tuhan anak ini ... kenapa lama-lama menyebalkan sekali? Ucap Giara dalam hati.
*Bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Rhina sri
buka hatimu... untuk pak nicko
2022-01-17
0
Hafid Nadhif
mulai buka hati
2022-01-15
0
Imas Komariah
giara buka hatilah buat pa nicko
2022-01-14
0