"Dasar bodoh, aku bilang tidak perlu sekuat itu! Kau menyia-nyiakan tenagamu hanya untuk keluar dari sana."
"Maaf! Sudah kubilang aku belum terlalu mahir mengendalikannya."
"Ah, sebaiknya kau disana saja satu tahun la... "
Amia terdiam dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kekesalannya pada Arya membuatnya tidak memperhatikan sekitarnya saat baru saja keluar dari ledakan yang di sebabkan Arya.
Namun kini dia menyadari dua makhluk berbahaya sedang menatap mata Arya dengan tatapan tak suka. Arya yang berada dalam fikiran Arya bisa merasakan kemarahan dua makhluk itu.
Arya juga baru menyadari itu. Barusaja dia merasa lega karena telah berhasil keluar dari Goa yang mengurungnya selama setahun ini, Kini insting bertahan hidupnya menyatakan lebih baik tetap berada di sana persis seperti apa yang barusaja dikatakan oleh Amia si Roh Air.
Arya kini berada di tengah-tengah antara Rewanda dan Krama dalam kondisi terkuat mereka. Kabar buruknya adalah, keduanya tidak memiliki kesadaran selain insting menghancurkan. Salah satu kutukan yang mereka terima setelah menjadi Iblis Langit.
"Ah sudahlah! ... Semoga dirimu tidak mati!" kata Amia sebelum menghilang dari kepala Arya.
Arya hanya bisa menggerutu sebelum dia menoleh pada Rewanda dan Krama.
"Halo?!" sapa Arya ragu saat kedua raksasa itu menatap Arya.
Malangnya sapaan Arya seperti aba-aba untuk memperbolehkan keduanya untuk menghancurkannya.
Arya seperti menjadi kutu pengganggu pertarungan Sakral Iblis Langit yang berlangsung hanya seribu tahun sekali itu.
Dengan ukuran tubuhnya yang kecil, sangat sulit bagi Arya untuk menghindari amukan keduanya.
Arya melompat antara dahan satu kedahan lainnya lalu berlari sekencang mungkin saat menginjak tanah.
Ini adalah kejadian terburuk sepanjang hidup Arya. Jika insting bertahan hidupnya tidak terasah sangat tajam, mungkin nyawanya sudah melayang saat pertama kali ekor Rewanda melibas ke arahnya. Beruntung dengan seluruh kekuatannya, Arya bisa melompat dan menghindar.
Belum lagi terkaman dari cakar Krama yang hampir saja menghancurkan tubuhnya. Arya seperti tikus kecil yang menjadi permainan bagi kedua Iblis itu.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, Arya mengabaikan segalanya. Nalurinya hanya memerintahkan setiap inci dari tubuhnya harus bisa menghindari dampak dari amukan kedua iblis itu.
Arya melompati jurang yang biasanya mustahil bagi Krama dalam mode biasa melewatinya. Atau Arya berlari vertikal di atas pohon yang berdiri tegak. Arya tidak sadar apakah gravitasi itu berefek atau tidak pada tubuhnya saat ini. Karena, di kepalanya hanya satu, dia harus tetap hidup.
Sesekali Arya bisa beristirahat karena Krama dan Rewanda yang akhirnya saling menyerang. Namun, dia harus tetap waspada. Dengan ukuran tubuh keduanya, sangat mudah bagi Krama atau Rewanda menerbangkan bongkahan batu besar atau menyapu hutan dengan kekuatannya.
Bukit yang besar itu kini terasa sangat kecil bagi Arya. Seharusnya dia bisa menemukan tempat bersembunyi dari keduanya. Tapi semua itu jadi terlihat mustahil saat akhirnya keduanya sama-sama mengeluarkan bayangan yang berjumlah lebih dari seratus dari masing-masing mereka.
Pertarungan itu kini seolah berubah menjadi perang antara Ras Rewanda Melawan Ras Krama. Tidak ada lagi tempat yang aman di bukit itu.
Hampir di setiap tempat yang ada di sana menjadi medan pertempuran. Batu-batu dan batang-batang pohon yang terbakar bertebangan dari segala penjuru. Sebagian besar hutan itu terbakar oleh Rewanda. Dibagian yang tidak menyala di punggung bukit itu seekor bayangan Krama berdiri di sana. Ini benar-benar mimpi terburuk yang bisa di saksikan oleh seorang manusia.
Dan malangnya manusia itu adalah Arya, seorang anak muda yang bertekad untuk hidup selama mungkin demi membuat pengorbanan keluarganya tidak sia-sia.
Sampai sepertiga malam tersisa, Arya mulai kehabisan tenaganya. Dan belum ada tanda-tanda dari keduanya akan menyelesaikan pertarungan mereka.
Bukit yang tadinya subur itu sudah nyaris terbakar semuanya. Arya menyadari tidak ada tempat baginya untuk kabur. Karena di pinggir bukit tersebut, beberapa kali tubuhnya membentur dinding tak kasat mata.
Obskura sendiri juga tau Arya yang tiba-tiba muncul di sana. Namun, sekarang tidak ada yang bisa dilakukannya. Rewanda dan Krama sedang berada dalam mode terkuatnya.
Obkura bisa saja membuka segel itu dan menyelamatkan Arya. Tapi dengan kekuatan Rewanda dan Krama saat ini. Keduanya berpotensi menghancurkan seluruh Daratan ini.
Obskura hanya bisa pasrah saat ini. Berharap sebuah keajaiban yang entah bagaimana bisa membuat Arya selamat melewati kurungan bersama Iblis Langit di saat Bulan Purnama Merah Darah ini. Saat dimana dua iblis langit itu sedang berada di puncak kekuatannya.
Luka robekan dan lebam serta lepuhan kulit bekas terbakar di sekujur tubuh Arya, sudah menjelaskan bahwa memang tidak ada kemungkinan selamat baginya jika terus berlari dan menghindar. Nafasnya sudah terasa sesak karena kekurangan udara.
Arya menatap seluruh bayangan Krama dan Rewanda yang masih saling menyerang. Arya memejamkan matanya saat dua bayangan Krama dan Rewanda yang bertarung berguling ke arahnya. Arya tau tidak ada tempat untuk dirinya menghindar lagi. Jangankan melompat untuk menghindar tenaga untuk melangkah saja dia sudah tidak ada.
'Apakah berakhir seperti ini?' Batinnya tepat saat kedua bayangan itu akan menimpanya. Arya merasa benar-benar akan mati.
"Apa yang cecunguk-cecunguk ini coba pamerkan, Hah?!"
Sebuah suara melintas di kepala Arya sebelum kesadarannya menghilang.
"WUZZZZ...!!" Badai angin menyapu seluruh bukit itu.
Api di bukit itu padam seketika. Seluruh bayangan Rewanda dan Krama juga ikut menghilang. Di sana, sebuah tekanan tiba-tiba muncul. Gravitasi di bukit itu tiba-tiba bertambah kuat ribuan kali.
Segel kasat mata yang dibuat Obskura pecah. Rewanda dan Krama tidak bisa bergerak dari tempat mereka berdiri. Keduanya kini merasa di himpit oleh sesuatu yang sangat berat.
Sebuah bayangan besar menyeruak dan menutupi langit. Itu bukan bayangan biasa. Itu adalah Energi yang sangat besar membetuk sebuah wujud makhluk. Saking besarnya Energi yang muncul itu membuat tekanan yang sangat besar pula.
Tekanan itu membuat seluruh penunggu hutan yang terdiri dari ratusan gunung dan ribuan bukit itu kehilangan kesadarannya.
Obskura yang menyadari segelnya telah rusak, juga menyaksikan kemunculan Aura yang membentuk siluet yang sangat besar itu.
Dengan tubuh Dewa-nya, Obskura merasakan tekanan itu belum cukup untuk membuatnya pingsan. Namun, bukan berarti dia tidak takut.
Obskura tau betul itu adalah bayangan dari makhluk apa. Seluruh Dewa tetap akan takut jika tiba-tiba makhluk ini muncul lagi di dunia tak terkecuali dirinya ataupun Anhur bahkan Kaisar Langit sekalipun.
Satu-satu nya makhluk yang berada di seluruh puncak kekuatan. Makhluk yang menghilang bersama Arangga lebih dari tiga ribu tahun yang lalu ini, Akhirnya untuk pertama kalinya menunjukkan hawa keberadaannya.
Walaupun tidak sampai dari 0.0000001 persen dari kekuatannya, Namun energi yang muncul dari dalam tubuh Arya itu, sudah dipastikan oleh Obskura bahwa itu hanya dimiliki oleh makhluk terkuat yang pernah ada di Dunia, Kulkan.
Kejadian itu hanya terjadi beberapa detik. Namun, itu cukup membuat Iblis Rewanda dan Krama kehilangan seluruh kekuatannya hingga membuat mereka pingsan.
Setelah Aura itu hilang, Obskura segera berlari menuju tempat keberadaan Arya. Sebuah fikiran melintas di kepalanya. Mungkin saja saat ini tubuh Arya sudah terkoyak karna kekuatan itu.
Namun, saat Obskura sampai di sana, Tubuh Arya masih berdiri utuh. Hal yang sepatutnya menyenangkan namun Obskura belum bisa tersenyum sebelum memastikan keadaan Arya.
Saat dia mendekati Arya, Obskura melihat tubuh Arya dalam proses penyembuhan. Namun kali ini berbeda dari terakhir kali yang di lihat Obskura.
Sebuah lapisan Air setebal satu inci menyelimuti seluruh tubuh Arya. Yang kini melayang beberapa jengkal di udara.
"Apakah memang begini cara kerja Berkah Air seharusnya?"
Obskura memperhatikan seluruh proses penyembuhan itu sampai akhirnya seluruh tubuh Arya kembali menjadi normal seperti sedia kala. Saat proses itu berakhir, Arya sempat membuka matanya dan pandangan mereka pun bertemu. Arya tersenyum sekilas.
"Kakek Dewa ... "
Arya kembali kehilangan kesadarannya. Obskura reflek menyambut tubuh Arya sebelum jatuh ketanah.
"Sesuai dugaanku ... Tubuh anak ini... " gumam Obskura langsung membawa Arya dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-06-10
1
Andry Lenny
Arya punya tubuh "wadah" nya para dewa kah?
2024-02-13
0
Arull My one
lanjutkan
2024-01-22
1