Seiring berjalannya waktu, manusia semakin berkembang. Hingga sekitar beberapa abad yang lalu, seseorang berhasil menemukan cara memanfaatkan Tubuh Spasial itu.
Dia mempelajari sebuah jurus yang bisa memisahkan roh dari tubuhnya dan berpindah ke Tubuh Spasial itu lalu mengambil alih tubuh tersebut.
Dia sendiri tidak sempat mendapatkan tubuh Spasial karena tubuh itu memang sangat langka. Namun, kitab yang ditulisnya itu entah bagaimana tersebar hampir keseluruh Dunia.
Menyebabkan banyak dari praktisi Ilmu beladiri mempelajari jurus tersebut dan memburu orang yang memiliki Tubuh Spasial untuk menjadi manusia terkuat.
Obskura juga berasumsi bahwa Arya di sembunyikan oleh keluarganya karena hal tersebut. Namun faktanya, tubuh Arya bukanlah Tubuh Spasial. Obskura sangat yakin tentang hal itu. Karena dia sudah bertemu dengan beberapa pemilik tubuh seperti itu sebelumnya.
Tubuh Arya bahkan menolak tenaga dalam milik Obskura. Itu sangat bertolak belakang dengan cara kerja Tubuh Spasial. Karena Tubuh Spasial akan menyerap tenaga dalam lebih cepat dari tubuh manusia normal atau tubuh unik jenis apapun.
Tidak hanya itu, tubuh Arya bisa pulih dengan sendirinya tanpa tenaga dalam. Obskura sebagai Dewa yang telah mengetahui isi Kitab Dunia, tidak pernah menemukan jenis tubuh seperti yang dimiliki Arya sebelumnya.
Arya mendengarkan semua penjelasan Obskura dengan seksama. Meski baru berusia sepuluh tahun, sebenarnya Arya anak yang sangat cerdas. Buktinya, Arya sudah bisa membaca saat berumur tiga tahun. Dan tidak pernah berhenti membaca sejak saat itu.
"Jadi, keluargaku melindungiku tanpa tau tubuhku bukan tubuh spasial?."
"Sepertinya begitu."
Arya makin merasa bersalah. Tubuhnya tidak seperti apa yang ayahnya dan Ki Cokro duga. Namun, keluarganya tetap mati untuk melindunginya.
Obskura tau bagaimana perasaan Arya saat menanyakan hal itu padanya. "Arya, ... Meski akupun tidak tau tentang tubuhmu ini, tapi aku yakin tubuhmu sama atau bahkan lebih berharga dari Tubuh Spasial."
Arya menatap Obskura "Apakah Kakek juga ingin memanfaatkan tubuh ini?."
"Hahahaha! ... Tentu saja tidak! Aku sudah abadi, tubuh Spasial atau semacam itu tidak menarik lagi bagiku untuk memilikinya."
Arya mengangguk lega. Saat Obskura mengatakan bahwa orang-orang yang membunuh keluarganya itu karena mereka mengincar tubuhnya, Arya sempat curiga orang di dekatnya ini juga menginginkan hal yang sama.
"Akan tetapi, Arya ... aku tertarik untuk mengetahui rahasia tentang tubuhmu ini." kata Obskura sambil menunjuk dada Arya.
"Bagaimana cara nya? Apakah kakek akan membunuhku dan membelah nya?."
Arya bertanya tentang hal itu, tapi nadanya sangat datar. Seolah dia hanya pasrah jika memang itu yang ingin dilakukan Obskura padanya.
Obskura tersenyum mendengar pertayaan Arya tersebut, kemudian dia menggeleng "Tidak, Arya ... Aku ingin kau tetap hidup dan mengendalikan tubuh ini. Aku tidak tau, tapi sekarang seluruh titik cakramu sudah terbuka. Aku memang tidak bisa merasakan tenaga dalammu. Namun, aku tau tubuhmu memiliki hal lain di dalamnya. Suatu saat, itu akan membahayakanmu bahkan aku rasa itu bisa membunuhmu?."
Arya ingat perkataan Ki Cokro sehari sebelum mereka keluar dari desa. Saat itu Ki Cokro mengatakan bahwa demi kebaikannya lebih baik tidak membuka titik Cakranya. Namun, saat semua titik Cakranya terbuka, Arya mendapati seluruh keluarganya sudah tiada.
"Aku ... Tidak ... Menginginkan ... Tubuh ... seperti, ... Ini." kata-kata Arya terputus di sela isak saat dia mulai menangis. Arya merasa dialah penyebab kematian seluruh keluarganya termasuk Ki Cokro.
Obskura tidak begitu mengerti tentang perasaan manusia, kematian bukanlah hal yang dipelajarinya terlalu dalam. Namun, kehilangan yang Arya rasakan, dia tau rasanya seperti apa.
"Arya, keluargamu mati memang untuk melindungimu ... " Obskura berfikir sejenak, karna dia merasa salah merangkai kalimat yang baik "Maksudku, ... Arya, jika ini bukan tubuhmu, tapi tubuh kakak atau adikmu, apakah kau akan melindungi mereka dengan nyawamu atau kau akan membiarkan tubuh mereka diambil alih oleh orang lain?."
Meski masih menangis, Arya mengerti maksud Obskura. Tentu saja dia akan melindungi Alya adiknya atau Arsa kakaknya jika mereka yang memiliki tubuh seperti dirinya.
"Arya, mereka memang sudah tiada. Tapi, ... Lihatlah dirimu. Kau hidup! Mereka mengorbankan nyawanya agar kau tetap hidup. Mereka berhasil! Jika kau terus hidup, maka pengorbanan mereka tidak sia-sia. Namun, jika kau mati, Aku rasa ... mereka akan, Kecewa."
Tangis Arya mereda. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Obskura. Keluarganya memang sudah tiada. Namun, jika tujuan mereka untuk melindunginya, maka keluarganya berhasil. Dan Arya tidak mau mengecewakan keluarganya.
Arya menatap Obskura. "Kek, maukah kakek membantuku agar aku tetap bisa hidup dengan tubuh seperti ini?."
Obskura mengangguk "Tentu saja, dengan senang hati aku akan membantumu, hahaha!"
Obskura begitu bersemangat dengan keputusan Arya yang menurutnya sangat bijak untuk ukuran anak Manusia seusianya.
Arya kini bertekad. Untuk tetap bisa hidup selama mungkin agar pengorbanan keluarganya tidak sia-sia.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan mulai dari sekarang?." Tanya Arya pada Obskura penuh tekad.
Obskura sempat berfikir sejenak. Meski tubuh Arya berbeda dengan Tubuh Spasial, selain soal tenaga dalam tubuh ini memiliki kesamaan.
"Sebaiknya, mulai dari sekarang kau harus menjadi lebih kuat. Cepat atau lambat sesuatu di dalam tubuhmu akan memenuhi seluruh titik cakramu. Mungkin akan meledak lagi jika tubuhmu tidak mampu menahannya."
"Baiklah, ajarkan aku cara menjadi lebih kuat!" Pinta Arya.
Obskura menggeleng, "Maaf, untuk itu bukan aku yang akan mengajarkanmu."
"Kenapa?, bukankah Kakek Dewa? Atau Kakek berbohong?" Cerca Arya tiba-tiba. ia mulai meragukan kembali pengakuan orangtua ini.
"Hahahaha! ... " Obskura kembali tertawa dan berdiri "Ikutlah denganku."
"Baiklah— "
Tiba-tiba perut Arya berbunyi. Rasa lapar kembali melandanya.
"Hahaha, tentu saja kau lapar lagi. Tenang saja, aku memiliki sesuatu untuk membuat perutmu kenyang seketika."
Obskura membuat lingkaran dengan telunjuknya di Udara. Seketika sebuah lobang ke sebuah dimensi lain terbuka. Obskura mengambil sesuatu dari dalam sana. Dan memberikannya pada Arya.
Mata Arya melebar saat Obskura melakukan itu di depannya. Jika Obskura menunjukkan hal ini daritadi, tentu saja Arya tidak meragukan pengakuan Obskura sebagai Dewa. Arya yakin hal ini hanya bisa dilakukan oleh dewa.
"Ini, makanlah!"
Arya tersadar dari keterpanaannya, dia menoleh pada buah yang di berikan Obskura padanya. Meski terlihat asing baginya, Arya menerima buah tersebut dengan kedua tangannya. Kini pandangan Arya pada Obskura sudah berubah.
"Te-terima ka-kasih ka-kakek Dewa!" kata Arya terbata saat mengambil buah tersebut.
Obskura mengernyit keheranan, "Kenapa tiba-tiba kau percaya bahwa aku adalah Dewa?" Kemudian Obskura menatap buah yang di tangan Arya "Oh, iya ... Itu adalah salah satu buah yang hanya ada di Langit. Buah Naga, makanan yang paling di sukai Dewa." Kata Obskura mengira buah tersebutlah yang membuat Arya percaya.
"Bukan, tapi ... Itu! " kata Arya sambil menunjuk lobang di udara yang di buat Obskura.
Obskura menatap lobang tersebut "Jadi kau percaya bahwa aku adalah Dewa hanya karna ini?" tanya Obskura sedikit kecewa.
Arya mengangguk dan matanya berbinar "Itu, sangat hebat!"
"Ini bukan hal luar biasa. Bahkan aku tak ingat pernah mempelajarinya, aku bisa karna melibat temanku sesama dewa melakukannya, nanti aku akan mengajarkannya padamu!" Kata Obskura enteng.
"Benarkah?" tanya Arya bersemangat.
"Hmm."
"Terimakasih kek!" Jawab Arya sambil menundukkan badannya.
Obskura hanya bisa menghela nafasnya karena kecewa. Jika saja anak kecil ini tau seberapa berharga buah yang bahkan Dewa sekalipun belum tentu pernah mencicipi buah yang sedang memenuhi mulutnya tersebut.
Bahkan Anhur akan muntah darah jika mengetahui buah itu diberikan Obskura pada anak manusia.
'Manusia memang tidak pernah bisa di tebak.' batinnya.
Setelah menghabiskan buah itu, Arya merasakan tubuhnya yang tadi terasa sakit dan pegal, kini terasa sangat sehat dan segar.
Benar kata Kakek Obskura. Meski ukurannya kecil dan tidak begitu menarik bagi Arya, Buah ini memang membuatnya kenyang seketika.
Obskura membawa Arya berjalan memasuki hutan menuju sebuah tempat yang dijelaskan oleh Obskura dalam perjalanan. Tempat yang akan menjadi tempat latihan Arya.
Setelah berjalan berjalan sekitar dua jam, Arya seperti mendengar suara air terjun.
Benar saja, saat tiba di sana, Sebuah Air terjun yang sangat besar dengan ketinggian yang lebih dari dua ratus meter telah menunggu Arya.
Namun, tidak hanya itu yang membuat Arya merasa kagum. Air terjun tersebut tidak lagi mengaliri sungai melainkan lansung berakhir ke sebuah danau yang sangat luas. Arya tidak bisa melihat tepian di seberangnya.
Sekarang mereka berdiri di sebuah tebing si sebelah Air terjun tersebut.
"Kakek Dewa, jadi, Aku akan berlatih disini?"
"Ya, kehidupanmu yang baru akan di mulai di sini!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
sri sunartun
othor kalo bikin cerita pasti seru2..💪💪
2024-08-31
0
Ali B.U
next
2024-06-09
1
Firapu Roki
oke fix, Obskura tokoh favoritku
2023-01-03
1