Pulih

Arya terkejut dengan sosok yang dilihatnya saat matanya baru saja terbuka. Seorang pria yang sudah tua dengan jenggot panjang yang seluruhnya sudah berwarna putih. Yang membuat Arya terkejut bukan hanya itu saja, sosok yang dilihatnya ini pernah bertemu dengannya sebelumnya.

"Bu... "

Arya mencoba membuka mulutnya untuk bersuara, namun kerongkongannya terasa sangat kering. Ia sampai harus memejamkan matanya saat menahan rasa perih dari kerongkongannya itu.

Pria tua itu mengerti. Bagaimanapun anak kecil yang baru sadar ini sudah pingsan selama tiga hari. Dia menegakkan kepala Arya sedikit dan menyodorkan air dengan gelas yang terbuat dari bambu "Kerongkonganmu pasti kering, ini minumlah."

Awalnya sedikit sulit baginya untuk menelan air tersebut. Namun, saat air sudah membasahi seluruh kerongkongannya, Arya dengan cepat menghabiskan air di gelas itu. Dia menyadari dirinya saat ini sangat kehausan.

"Pelan-pelan saja" Kata pria tua itu, saat melihat air di gelas itu kosong dengan cepat. Lalu dia merebahkan kepala Arya untuk mengisi gelas dan kembali membantu Arya minum.

Setelah menghabiskan empat gelas, setengah dari gelas yang ke lima, Arya merasa dahaganya sudah hilang. Dia tidak meneruskan untuk meneguk air itu.

"Sudah?" Tanya laki-laki itu, dengan senyum yang menenangkan.

Arya menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan pria tua itu. " Dimana aku?" Tanya Arya setelahnya.

"Kau berada di rumahku, tapi sekarang istirahatlah sebentar. Aku akan membuakanmu makanan." Kata pria tua itu sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Arya.

"Tapi—"

"Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti, sekarang tubuhmu masih sangat lemah. Kita akan bicara saat kau telah mengisi perutmu dan memiliki sedikit tenaga." Kata pria tua itu dari sebalik dinding di ruangan sebelah.

Arya tidak bersuara lagi. Dia menatap sekeliling ruangan itu. Rumah ini lebih terlihat seperti gubuk. karena, bangunan ini hanya berdinding bambu dan beratap jerami. Dia penasaran bagaimana dia bisa sampai di sini.

Arya teringat kembali tentang Naga itu. Namun Arya berfikir, Naga yang baru saja dia lihat pasti hanya dalam mimpi. Kemudian ingatan tentang keluarganya kembali terlintas di kepalanya. Dia mencoba berdiri, namun tidak ada satupun anggota tubuhnya yang mampu dia gerakkan, meski itu hanya ujung jarinya saja. Bahkan, dia sebenarnya tidak bisa merasakan seluruh anggota tubuh dari leher hingga ke ujung kakinya.

Air mata Arya mengalir menyesali keadaannya. Dia yakin bahwa seluruh keluarganya sudah meninggal. Kini dirinya tinggal sendiri. Dan tubuhnya juga sudah seperti orang mati.

Tidak begitu lama, pria tua itu kembali dengan sebuah mangkok yang terbuat dari batok kelapa. Arya bisa mencium aroma rempah-rempah yang mencuat dari uap panas dari isi yang ada di dalam mangkok tersebut. Seketika perutnya terasa sangat lapar.

Arya hanya bisa pasrah saat pria tua itu meninggikan kepalanya dengan menambahkan bantalan di belakang kepala.

Pria itu sedikit terkejut dengan rasa lapar Arya. Meski sup yang dia buat cukup banyak, namun porsi makan Arya sangat menakjubkan untuk ukuran tubuhnya. Sup yang dia buat tersebut seharusnya bisa untuk empat orang. Dia sengaja melebihkan sup itu untuk kedua muridnya. Namun, sekarang telah habis masuk kedalam perut bocah ini.

Tak lama setelah perutnya terisi, Arya diserang rasa kantuk yang hebat. Saat matanya terpejam, Arya langsung tertidur pulas.

Melihat Arya langsung tidur, pria tua itu ingin beranjak pergi meninggalkannya. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara menggeretak di sekujur tubuh Arya. Terdengar seperti bunyi tulang-tulang yang bergeser hampir di sekujur tubuh Arya. Setiap inci tubuh Arya bergerak seolah ada sesuatu yang terjadi di sebalik kulitnya.

Tak hanya itu, pria tua ini juga merasa heran saat melihat seluruh titik cakra Arya yang sudah pecah, kini seperti sedang memulihkan diri. Pria itu mencoba menyentuh tangan kanan Arya untuk memastikan.

Matanya melebar, tidak hanya titik cakra. Tapi, tulang-tulang Arya yang remuk dan organ-organ yang luka serta urat-urat darahnya nya pecah karna ledakan energi tubunya, berangsur pulih dengan kecepatan tinggi. Hal yang gagal dia lakukan dengan menggunakan tenaga dalam saat mencoba menyembuhkan Arya.

"Bagaimana bisa?" Gumamnya heran.

Dia tau bahwa sup yang dia buat memiliki efek yang baik untuk kesehatan dan memulihkan tenaga dalam seseorang dengan cepat. Tapi, yang pasti efeknya tidak sampai membuat tubuh orang bisa pulih sendiri. Apalagi dengan luka yang sangat parah seperti yang terjadi pada tubuh anak ini.

Pria itu terus memperhatikan semua proses itu hingga selesai. Saat ini dia yakin bahwa seluruh tubuh Arya sudah pulih. Meskipun sudah hidup sangat lama, baru kali ini dia melihat tubuh manusia bisa memulihkan diri dengan kecepatan seperti ini.

Sekarang, dia melihat Arya tertidur pulas seperti anak yang kelelahan dan butuh istirahat. Setelah memastikan tidak ada kejadian lain lagi, dia meninggalkan Arya sendiri dengan penuh tanda tanya.

Arya terbangun keesokan harinya. Saat kedua matanya terbuka, dia tidak melihat orang tua itu di sana.

Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya. walaupun awalnya terasa sakit, setelah itu dia berhasil menggenggamkan kedua telapak tangannya. Dengan bersusah payah dia mencoba duduk. Dalam prosesnya, seluruh tulang punggungnya mengekuarkan suara gemelutuk. Saat berhasil duduk, Arya bisa merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat pegal.

Arya mendengar suara keributan kecil yang berasal dari luar sana. Setelah beberapa kali gagal, Akhirnya Arya bisa berdiri. Dia berjalan tertatih ke arah pintu gubuk yang berlantaikan tanah itu.

Di luar pintu, Arya menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Gubuk itu ternyata berdiri di puncak sebuah gunung yang sangat tinggi. Dari ketinggian itu, Arya bisa melihat hutan yang sangat luas sejauh matanya memandang.

Arya mencoba berjalan mencari suara yang tadi di dengarnya. Namun sekarang suara itu sudah menghilang. Arya merasa suara itu tidak jauh dari gubuk itu. Dia berusaha melangkahkan kakinya kesana.

Hampir saja dia terjatuh karna tersandung sebuah batu, jika saja seseorang terlambat menangkapnya.

"Kau ... Bagaimana kau sudah bisa berdiri!"

Suara itu mengejutkannya. Arya menoleh pada orang yang telah menangkap tubuhnya.

"Aku ... " Arya berfikir untuk menjawab, tapi dia juga tidak tau harus berkata apa.

Melihat Arya yang kebingungan, orang itu mengerti. "Sudahlah, duduk dulu disini "

Orang tua itu memapah Arya untuk duduk di bangku yang mengelilingi sebuah meja kayu yang ada di halaman depan gubuk tersebut.

Arya memperhatikan sekali lagi wajah kakek tua itu untuk memastikan, sebelum dia bertanya "Kakek, kau adalah orang yang memberikanku sebuah buku waktu itu, kan? "

Pria tua itu tersenyum dan menjawab "Ya, aku yang memberimu buku beberapa waktu yang lalu." katanya sambil mengangguk, "Apakah kau sudah membaca nya?."

Mendengar jawaban itu, perasaan Arya berubah. Muncul rasa marah di hatinya "Buku itu yang dicari oleh orang-orang yang membunuh keluargaku, kenapa kakek memberikannya padaku?" Tanya Arya marah dan menatap orang tua itu tajam.

Orang tua itu, menghela nafas panjang dan melepaskannya, kemudian dia menggeleng. "Bukan, buku itu kuberikan untukmu. Aku berharap kau bisa mengendalikan prana mu. Dan ... " Orang tua itu berbalik menatap Arya dengan pandangan yang tak kalah tajamnya "Sebaliknya, orang-orang itu, mengincar tubuhmu."

Mendengar perkataan orang tua itu, beberapa ingatan kembali melintas di kepala Arya. Dia mengingat saat Wiratama mengatakan pada Natungga Ayah Arya, bahwa dia menginginkan Arya. Sama sekali tidak mengungkit masalah buku.

Pandangan Arya melemah, dia juga mengingat saat Ki Cokro berpesan pada Arsa agar melindungi Arya walaupun harus mengorbankan nyawanya, yang menandakan bahwa perkataan orang tua di depannya ini bukanlah sebuah kebohongan.

Arya menunduk, nafasnya terasa sesak. Rasa bersalah muncul di hatinya "Kenapa orang-orang itu menginginkan tubuhku?" tanya Arya dengan nada bergetar menahan tangis.

"Hmm, ceritanya sangat panjang. Aku akan memberi tau semuanya padamu. Tapi, pulihkan dirimu terlebih dahulu."

"Tolong beritahu aku, Kek... Aku ingin tau, kenapa semua orang melindungiku dengan mempertaruhkan nyawa mereka untukku?" paksa Arya.

Orangtua itu menggelengkan kepala dan mengelus puncak kepala Arya "Karna mereka keluargamu." kata orangtua itu "Dan keluarga tidak butuh alasan untuk saling melindungi." lanjutnya.

"Tapi ... jika ... mereka menyerahkanku— "

"Mereka lebih memilih mati daripada menyerahkanmu... " potong orang tua itu. " Dan kematian mereka tidak sia-sia. Kau selamat! Itu yang harus kau ingat sekarang."

Tubuh Arya bergetar. Arya menutup kedua mata dengan lengan kanannya, kini dia benar-benar menangis. Rasa sedih ditinggal mati oleh seluruh keluarganya kini ditambah dengan rasa sesal karna dialah alasan kenapa seluruh keluarganya mati.

Orang tua itu merasa iba denga Arya. Namun, inilah saat dia harus menerima kenyataannya. Jika anak kecil di depannya ini sanggup bertahan, maka dia akan menceritakan yang sebenarnya pada Arya.

Sesuai harapan orang tersebut. Arya tidak larut dalam tangisnya. Saat tangis Arya sudah mereda orang tua itu kembali bertanya "Aku tak bertanya saat kita bertemu sebelumnya. Jadi, siapa namamu?"

"Namaku, Arya ... Arya Mahesa!."

"Mahesa?!"

"Ya!"

Dia menatap Arya untuk memastikan sekali lagi. Sebelum akhirnya dia mengangguk seperti telah memahami sesuatu. Tiba-tiba dia berdiri. Membuat Arya sedikit terkejut dan menatapnya heran.

"Arya! ... Aku tidak begitu yakin jika ini takdir ... Tapi, kita telah bertemu. Aku ... Obskura!"

Mendengar nama itu, mata Arya langsung melebar kemudian keningnya mengernyit, Heran. Arya ingat bahwa dia pernah membacanya di sebuah buku. Namun, Arya tidak yakin bahwa kakek tua di depannya ini, adalah orang yang sama.

"Obskura? ... Maksud Kakek, Dewa Obskura?!" tanya Arya Ragu.

"Ya!"

Terpopuler

Comments

Ali B.U

Ali B.U

next

2024-06-08

1

Firapu Roki

Firapu Roki

lah kocak. haha

2023-01-03

1

Abigail Chavali

Abigail Chavali

Mantappppppp
semangat thorrr

2022-10-08

1

lihat semua
Episodes
1 PERANG DUA DUNIA
2 LEDAKAN TERAKHIR
3 ARYA
4 Pengendali Elemen
5 Terdesak
6 Rahasia Natungga
7 Sadar
8 Pulih
9 Tubuh Yang Unik
10 Buah Yang Hanya Berhak Dimakan Oleh Raja
11 Rewanda Dan Krama
12 Utusan Dari Daratan Utara
13 Hampir Mati 1000 kali
14 Amia
15 Berkah Air
16 Kekuatan Iblis Langit Yang Sesungguhnya
17 Terhubung
18 Kerajaan Hutan Pegunungan Obskura
19 Keputusan Arya
20 Perubahan
21 Ciel dan Luna
22 Siluman Manusia
23 Penipu
24 Pendekar Awan Senja
25 Bukan Dewa
26 Ilmu Untuk Menghadapi Orang Bodoh
27 Kelabang Hitam
28 Baju Yang Kotor
29 Ketahuan
30 Jamuan Makan Malam
31 Karena Ini Pemberian Guruku
32 Penjinak Siluman.
33 Perkenalan
34 Bermain
35 Di Mana Darya
36 Jenis Tubuh Darya
37 Berburu
38 Dia Adikku
39 Pemilik
40 Keluarga Tidak Akan Saling Meninggalkan
41 Rahasia Sekte Awan Senja
42 Kunci
43 Kitab
44 Sekte Kecil
45 Tarian Dewi Angin
46 Rumah Untuk Kembali
47 Makanan Seharga Ratusan Ribu Arta
48 Kota Arsa
49 Penginapan Bulan Fajar
50 Harga Sebuah Informasi
51 Kemanusiaan
52 Salah Faham
53 Pengangkut
54 Harga Seseorang
55 Berburu Pemburu
56 Mulutmu
57 Makanan
58 Sisi Kelam Kota Arsa
59 Rencana
60 Kelompok Lain
61 Strategi
62 Kalah Sebelum Memulai
63 Keraguan
64 Hukum
65 Kekacauan Yang Tidak Direncanakan
66 Arya Ditawan
67 Kubu Lain
68 Aku Bukan Pendekar
69 Gagak Dan Elang
70 Sebaiknya Kalian Memang Di Dalam Saja
71 Godam
72 Keahlian Bertarung Ciel
73 Pendekar Sadis. Si Pembelah Batu, Jabara!
74 Serangan Terakhir
75 Pendekar Gagal
76 Tawanan
77 Nyaris
78 Satu Nyawa
79 Agenda Nurmageda
80 Bai Hua
81 Senjata Pusaka Dunia
82 Aku Tetap Akan Pergi
83 Wu Guo
84 Menerobos Lembah
85 Huh! Jangan Bermimpi
86 Api dan Air
87 Amukan Bai Fan
88 Pedang Mati
89 Musuh Terburuk
90 Diam
91 Masa Depan Kota Arsa
92 Yang Bertanggung Jawab
93 Keberangkatan
94 Dua Hari Pertama
95 Jubah Hitam dan Topeng
96 Sekte Lembah Hantu
97 Serikat Oldenbar
98 Pil Zulu
99 Perubahan Rencana
100 Pertemuan Empat Sekte
101 Mata-mata Oldenbar
102 Penyelamatan
103 Senjata Sihir
104 Amarah
105 Perkumpulan Orang Bodoh
106 Petempuran Di Bukit Tengkorak
107 Pertempuran Di Bukit Tengkorak 2
108 Pertempuran Di Bukit Tengkorak 3
109 Pertempuran Di Bukit Tengkorak 4
110 Pertempuran Di Bukit Tengkorak 5 (End)
111 Pasca Perang
112 Topeng
113 Ruang Penyimpanan Harta Oldenbar
114 Sekte Besar
115 Perjalanan Baru
116 Kota Gomba
117 Nama Kitab dan Jurus Arya
118 Dua Saudara Yang Mengerikan
119 Serikat Petualang
120 Tiga Kelompok Besar
121 Memasuki Reruntuhan
122 Darsapati
123 Takdir
124 BAHURAKSA
125 Tiga Wujud
126 Pahlawan Terbesar Umat Manusia, Arangga
127 Segel Ingatan
128 Manusia Biasa
129 Terimakasih
130 Pedang Di Tengah Aula Besar
131 Jiwa Seorang Pendekar
132 Pertarungan Di Mulai
133 Terulang Lagi!
134 Kemunculan Arya
135 Tenang! Aku Punya Rencana
136 Silahkan Nikmati Pertunjukkannya
137 Meteor
138 Guru dan Murid
139 Kondisi Sekte Singa Emas
140 Sekteku Sendiri
141 Pegunungan Singa Emas
142 Pemuda Yang Mempesona
143 Sesuai Rencana
144 Mangsaku
145 Tamu Yang Sangat Berbahaya
146 Rahasia Besar Edward
147 Racun
148 Master
149 Ulang! Rencana Sebenarnya
150 Kekayaan
151 Tiga Murid
152 Latihan dan Perubahan
153 Pendekar Suci Tingkat Empat
154 Kacang Tanah
155 Putri Raja
156 Juru Masak
157 Pergerakan Serta Peningkatan Kekuatan
158 Pengakuann Angus
159 Tidak Ada Yang Normal
160 Melampaui Para Dewa
161 Riak
162 Rencana Darmuraji
163 Menuju Basaka
164 Kereta dan Jalanan
165 Sang Alchemist
166 Tanah Leluhur
167 Rencana Tiga Arah
168 Misi Terakhir Bai Hua
169 Tenang Sebelum Badai
170 Di Balik Layar
171 Sekte Tanah Hitam
172 Perubahan Rencana
173 Pengiriman
174 Hilang
175 Harga Daratan Timur
176 ADAMANTINE
177 Penculikan
178 Restoran Keluarga Bai
179 Lembah Tonda
180 Pergerakan Sekte Aliran Hitam
181 Kalian Semua Akan Mati Hari Ini
182 Langkah Seribu Bintang
183 Iblis Langit dan Manusia
184 Seorang Putra
185 Tinju Api
186 Pendekar Terhormat
187 Akhir dan Awal
188 Daga
189 Gelombang Pertama
190 Sebuah Pesan
191 Keberangkatan Bai Fan
192 Gelombang Kedua
193 Awasi Punggungmu
194 Makan Siang
195 Malam Penuh Penyesalan
196 Pelindung
197 Gelombang Ketiga
198 Arah Oldenbar
199 Kembali
200 Gelombang Terakhir
201 Perusak Rencana
202 Berunding
203 Pertemuan Yang Tak Terduga
204 Setan Gila
205 Pasukan Yang Sangat Kuat
206 Tekad dan Kehormatan
207 Menuju Medan Tempur
208 Pertempuran Daratan Timur
209 Pertempuran Daratan Timur II
210 Pertempuran Daratan Timur III
211 Pertempuran Daratan Timur IV
212 Pertempuran Daratan Timur V
213 Pertempuran Daratan Timur VI
214 Pertempuran Daratan Timur VII
215 Pertempuran Daratan Timur VIII
216 Pertempuran Daratan Timur IX
217 Petempuran Daratan Timur X
218 Pertempuran Daratan Timur XI
219 Pertempuran Daratan Timur XII
220 Pertempuran Daratan Timur XIII
221 Akhir Pertempuran Daratan Timur
222 Pasca Perang
223 Pasca Perang II
224 Kemiskinan dan Kebodohan
225 PENGUMUMAN
226 Pelindung Daratan Timur
227 Masalah Baru
228 Pusaka Bumi
229 Hukum Mutlak
230 Dimana seharusnya Raja Bertahta?
231 Daratan Tujuh Negeri
232 Harga, Tawar, dan Beli
233 Rumah Tanah
234 Batu Pusaka
235 Kota Palas
236 Kebojalang
237 Kucing
238 Beri Laluan
239 Lelang
240 Legenda Daratan Barat
241 Rahasia
242 Tunjukkan Pada Mereka, Siapa Kita
243 Iblis Dari Neraka
244 Di Luar Sadar
245 Kabar Dari Timur
246 Kemungkinan Terburuk
247 Raja Malka
248 Sepasang
249 Adab dan Penilaian
250 Tenang, dan Mulailah Bicara
251 Penjelasan Rangkupala
252 Tanpa Ragu
253 Persiapan
254 Aku tidak apa-apa, Sungguh!
255 Teori dan Teknik Penyerapan Energi, Arya
256 Teknik Rahasia, Sekte Lubuk Bebuai
257 Mata Ciel dan Harapan Bai Hua
258 Kota Pinang Merah
259 Hutang Nyawa
260 Membebaskan Salendra
261 Permainan Usai saatnya menghancurkan
262 Benteng Nippokure
263 Baiklah, Mari kita lakukan!
264 Sama, Luar Biasanya
265 Penyelamatan
266 Penyelamatan II
267 Penyelamatan III
268 Penyelamatan IV
269 Penyelamatan V
270 Kebebasan
271 Keyakinan Dan Perasaan
272 Pemberantasan
273 Komandan Nippokure, Daisuke
274 Tiga Cara
275 Tanjung Kapal
276 Rakit Kayu Kelapa
277 Di Dalam Lautan
278 Pulau Batu
279 Penantian Ribuan Tahun
280 Nilam Sari dan Karpatandanu
281 Basava
282 Kerja Sama Dan Jalinan Yang Rumit
283 Aku Bukan Dia
284 Kau Memilikinya?
285 Waktu
286 Normal Untuk Yang Tidak Normal
287 Kekuatan Musuh
288 Diam-diam itu, Bukan Diam
289 Gerbang Kematian
290 Sedarah dan Sebuah Sumpah
291 Perang Benteng
292 Perang Benteng II
293 Perang Benteng III
294 Perang Benteng IV
295 Perang Benteng V
296 Perang Benteng VI
297 Perang Benteng VII
298 Perang Benteng VIII
299 Akhir Perang Benteng
300 Satu Nyawa, Satu Dunia
301 Alam Sadar
302 Tungkeh Aram
303 Berita dari Jampa
304 Kondisi Arya
305 Nasib Gonggo dan Bujang Paju
306 Mata
307 Seribu
308 Putra Sultan yang terlupakan
309 Antara Hulu dan Hilir
310 Seratus Tiga Belas
311 Kepercayaan Arya
312 Makanan dan Sebuah Pesan
313 Pengumuman
314 Tujuan Perang
315 Dua Hari
316 Metode
317 Bahagia
318 Salam dari Bulan Keajaiban
319 Akhirnya
320 Dari Balik Awan
321 Ini Bukan Mimpi
322 Tidak Ada Waktu Untuk Bermain
323 Bukankah Seharusnya Kalian Menyertakan Aku?
Episodes

Updated 323 Episodes

1
PERANG DUA DUNIA
2
LEDAKAN TERAKHIR
3
ARYA
4
Pengendali Elemen
5
Terdesak
6
Rahasia Natungga
7
Sadar
8
Pulih
9
Tubuh Yang Unik
10
Buah Yang Hanya Berhak Dimakan Oleh Raja
11
Rewanda Dan Krama
12
Utusan Dari Daratan Utara
13
Hampir Mati 1000 kali
14
Amia
15
Berkah Air
16
Kekuatan Iblis Langit Yang Sesungguhnya
17
Terhubung
18
Kerajaan Hutan Pegunungan Obskura
19
Keputusan Arya
20
Perubahan
21
Ciel dan Luna
22
Siluman Manusia
23
Penipu
24
Pendekar Awan Senja
25
Bukan Dewa
26
Ilmu Untuk Menghadapi Orang Bodoh
27
Kelabang Hitam
28
Baju Yang Kotor
29
Ketahuan
30
Jamuan Makan Malam
31
Karena Ini Pemberian Guruku
32
Penjinak Siluman.
33
Perkenalan
34
Bermain
35
Di Mana Darya
36
Jenis Tubuh Darya
37
Berburu
38
Dia Adikku
39
Pemilik
40
Keluarga Tidak Akan Saling Meninggalkan
41
Rahasia Sekte Awan Senja
42
Kunci
43
Kitab
44
Sekte Kecil
45
Tarian Dewi Angin
46
Rumah Untuk Kembali
47
Makanan Seharga Ratusan Ribu Arta
48
Kota Arsa
49
Penginapan Bulan Fajar
50
Harga Sebuah Informasi
51
Kemanusiaan
52
Salah Faham
53
Pengangkut
54
Harga Seseorang
55
Berburu Pemburu
56
Mulutmu
57
Makanan
58
Sisi Kelam Kota Arsa
59
Rencana
60
Kelompok Lain
61
Strategi
62
Kalah Sebelum Memulai
63
Keraguan
64
Hukum
65
Kekacauan Yang Tidak Direncanakan
66
Arya Ditawan
67
Kubu Lain
68
Aku Bukan Pendekar
69
Gagak Dan Elang
70
Sebaiknya Kalian Memang Di Dalam Saja
71
Godam
72
Keahlian Bertarung Ciel
73
Pendekar Sadis. Si Pembelah Batu, Jabara!
74
Serangan Terakhir
75
Pendekar Gagal
76
Tawanan
77
Nyaris
78
Satu Nyawa
79
Agenda Nurmageda
80
Bai Hua
81
Senjata Pusaka Dunia
82
Aku Tetap Akan Pergi
83
Wu Guo
84
Menerobos Lembah
85
Huh! Jangan Bermimpi
86
Api dan Air
87
Amukan Bai Fan
88
Pedang Mati
89
Musuh Terburuk
90
Diam
91
Masa Depan Kota Arsa
92
Yang Bertanggung Jawab
93
Keberangkatan
94
Dua Hari Pertama
95
Jubah Hitam dan Topeng
96
Sekte Lembah Hantu
97
Serikat Oldenbar
98
Pil Zulu
99
Perubahan Rencana
100
Pertemuan Empat Sekte
101
Mata-mata Oldenbar
102
Penyelamatan
103
Senjata Sihir
104
Amarah
105
Perkumpulan Orang Bodoh
106
Petempuran Di Bukit Tengkorak
107
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 2
108
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 3
109
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 4
110
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 5 (End)
111
Pasca Perang
112
Topeng
113
Ruang Penyimpanan Harta Oldenbar
114
Sekte Besar
115
Perjalanan Baru
116
Kota Gomba
117
Nama Kitab dan Jurus Arya
118
Dua Saudara Yang Mengerikan
119
Serikat Petualang
120
Tiga Kelompok Besar
121
Memasuki Reruntuhan
122
Darsapati
123
Takdir
124
BAHURAKSA
125
Tiga Wujud
126
Pahlawan Terbesar Umat Manusia, Arangga
127
Segel Ingatan
128
Manusia Biasa
129
Terimakasih
130
Pedang Di Tengah Aula Besar
131
Jiwa Seorang Pendekar
132
Pertarungan Di Mulai
133
Terulang Lagi!
134
Kemunculan Arya
135
Tenang! Aku Punya Rencana
136
Silahkan Nikmati Pertunjukkannya
137
Meteor
138
Guru dan Murid
139
Kondisi Sekte Singa Emas
140
Sekteku Sendiri
141
Pegunungan Singa Emas
142
Pemuda Yang Mempesona
143
Sesuai Rencana
144
Mangsaku
145
Tamu Yang Sangat Berbahaya
146
Rahasia Besar Edward
147
Racun
148
Master
149
Ulang! Rencana Sebenarnya
150
Kekayaan
151
Tiga Murid
152
Latihan dan Perubahan
153
Pendekar Suci Tingkat Empat
154
Kacang Tanah
155
Putri Raja
156
Juru Masak
157
Pergerakan Serta Peningkatan Kekuatan
158
Pengakuann Angus
159
Tidak Ada Yang Normal
160
Melampaui Para Dewa
161
Riak
162
Rencana Darmuraji
163
Menuju Basaka
164
Kereta dan Jalanan
165
Sang Alchemist
166
Tanah Leluhur
167
Rencana Tiga Arah
168
Misi Terakhir Bai Hua
169
Tenang Sebelum Badai
170
Di Balik Layar
171
Sekte Tanah Hitam
172
Perubahan Rencana
173
Pengiriman
174
Hilang
175
Harga Daratan Timur
176
ADAMANTINE
177
Penculikan
178
Restoran Keluarga Bai
179
Lembah Tonda
180
Pergerakan Sekte Aliran Hitam
181
Kalian Semua Akan Mati Hari Ini
182
Langkah Seribu Bintang
183
Iblis Langit dan Manusia
184
Seorang Putra
185
Tinju Api
186
Pendekar Terhormat
187
Akhir dan Awal
188
Daga
189
Gelombang Pertama
190
Sebuah Pesan
191
Keberangkatan Bai Fan
192
Gelombang Kedua
193
Awasi Punggungmu
194
Makan Siang
195
Malam Penuh Penyesalan
196
Pelindung
197
Gelombang Ketiga
198
Arah Oldenbar
199
Kembali
200
Gelombang Terakhir
201
Perusak Rencana
202
Berunding
203
Pertemuan Yang Tak Terduga
204
Setan Gila
205
Pasukan Yang Sangat Kuat
206
Tekad dan Kehormatan
207
Menuju Medan Tempur
208
Pertempuran Daratan Timur
209
Pertempuran Daratan Timur II
210
Pertempuran Daratan Timur III
211
Pertempuran Daratan Timur IV
212
Pertempuran Daratan Timur V
213
Pertempuran Daratan Timur VI
214
Pertempuran Daratan Timur VII
215
Pertempuran Daratan Timur VIII
216
Pertempuran Daratan Timur IX
217
Petempuran Daratan Timur X
218
Pertempuran Daratan Timur XI
219
Pertempuran Daratan Timur XII
220
Pertempuran Daratan Timur XIII
221
Akhir Pertempuran Daratan Timur
222
Pasca Perang
223
Pasca Perang II
224
Kemiskinan dan Kebodohan
225
PENGUMUMAN
226
Pelindung Daratan Timur
227
Masalah Baru
228
Pusaka Bumi
229
Hukum Mutlak
230
Dimana seharusnya Raja Bertahta?
231
Daratan Tujuh Negeri
232
Harga, Tawar, dan Beli
233
Rumah Tanah
234
Batu Pusaka
235
Kota Palas
236
Kebojalang
237
Kucing
238
Beri Laluan
239
Lelang
240
Legenda Daratan Barat
241
Rahasia
242
Tunjukkan Pada Mereka, Siapa Kita
243
Iblis Dari Neraka
244
Di Luar Sadar
245
Kabar Dari Timur
246
Kemungkinan Terburuk
247
Raja Malka
248
Sepasang
249
Adab dan Penilaian
250
Tenang, dan Mulailah Bicara
251
Penjelasan Rangkupala
252
Tanpa Ragu
253
Persiapan
254
Aku tidak apa-apa, Sungguh!
255
Teori dan Teknik Penyerapan Energi, Arya
256
Teknik Rahasia, Sekte Lubuk Bebuai
257
Mata Ciel dan Harapan Bai Hua
258
Kota Pinang Merah
259
Hutang Nyawa
260
Membebaskan Salendra
261
Permainan Usai saatnya menghancurkan
262
Benteng Nippokure
263
Baiklah, Mari kita lakukan!
264
Sama, Luar Biasanya
265
Penyelamatan
266
Penyelamatan II
267
Penyelamatan III
268
Penyelamatan IV
269
Penyelamatan V
270
Kebebasan
271
Keyakinan Dan Perasaan
272
Pemberantasan
273
Komandan Nippokure, Daisuke
274
Tiga Cara
275
Tanjung Kapal
276
Rakit Kayu Kelapa
277
Di Dalam Lautan
278
Pulau Batu
279
Penantian Ribuan Tahun
280
Nilam Sari dan Karpatandanu
281
Basava
282
Kerja Sama Dan Jalinan Yang Rumit
283
Aku Bukan Dia
284
Kau Memilikinya?
285
Waktu
286
Normal Untuk Yang Tidak Normal
287
Kekuatan Musuh
288
Diam-diam itu, Bukan Diam
289
Gerbang Kematian
290
Sedarah dan Sebuah Sumpah
291
Perang Benteng
292
Perang Benteng II
293
Perang Benteng III
294
Perang Benteng IV
295
Perang Benteng V
296
Perang Benteng VI
297
Perang Benteng VII
298
Perang Benteng VIII
299
Akhir Perang Benteng
300
Satu Nyawa, Satu Dunia
301
Alam Sadar
302
Tungkeh Aram
303
Berita dari Jampa
304
Kondisi Arya
305
Nasib Gonggo dan Bujang Paju
306
Mata
307
Seribu
308
Putra Sultan yang terlupakan
309
Antara Hulu dan Hilir
310
Seratus Tiga Belas
311
Kepercayaan Arya
312
Makanan dan Sebuah Pesan
313
Pengumuman
314
Tujuan Perang
315
Dua Hari
316
Metode
317
Bahagia
318
Salam dari Bulan Keajaiban
319
Akhirnya
320
Dari Balik Awan
321
Ini Bukan Mimpi
322
Tidak Ada Waktu Untuk Bermain
323
Bukankah Seharusnya Kalian Menyertakan Aku?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!