Arya terkejut dengan sosok yang dilihatnya saat matanya baru saja terbuka. Seorang pria yang sudah tua dengan jenggot panjang yang seluruhnya sudah berwarna putih. Yang membuat Arya terkejut bukan hanya itu saja, sosok yang dilihatnya ini pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Bu... "
Arya mencoba membuka mulutnya untuk bersuara, namun kerongkongannya terasa sangat kering. Ia sampai harus memejamkan matanya saat menahan rasa perih dari kerongkongannya itu.
Pria tua itu mengerti. Bagaimanapun anak kecil yang baru sadar ini sudah pingsan selama tiga hari. Dia menegakkan kepala Arya sedikit dan menyodorkan air dengan gelas yang terbuat dari bambu "Kerongkonganmu pasti kering, ini minumlah."
Awalnya sedikit sulit baginya untuk menelan air tersebut. Namun, saat air sudah membasahi seluruh kerongkongannya, Arya dengan cepat menghabiskan air di gelas itu. Dia menyadari dirinya saat ini sangat kehausan.
"Pelan-pelan saja" Kata pria tua itu, saat melihat air di gelas itu kosong dengan cepat. Lalu dia merebahkan kepala Arya untuk mengisi gelas dan kembali membantu Arya minum.
Setelah menghabiskan empat gelas, setengah dari gelas yang ke lima, Arya merasa dahaganya sudah hilang. Dia tidak meneruskan untuk meneguk air itu.
"Sudah?" Tanya laki-laki itu, dengan senyum yang menenangkan.
Arya menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan pria tua itu. " Dimana aku?" Tanya Arya setelahnya.
"Kau berada di rumahku, tapi sekarang istirahatlah sebentar. Aku akan membuakanmu makanan." Kata pria tua itu sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Arya.
"Tapi—"
"Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti, sekarang tubuhmu masih sangat lemah. Kita akan bicara saat kau telah mengisi perutmu dan memiliki sedikit tenaga." Kata pria tua itu dari sebalik dinding di ruangan sebelah.
Arya tidak bersuara lagi. Dia menatap sekeliling ruangan itu. Rumah ini lebih terlihat seperti gubuk. karena, bangunan ini hanya berdinding bambu dan beratap jerami. Dia penasaran bagaimana dia bisa sampai di sini.
Arya teringat kembali tentang Naga itu. Namun Arya berfikir, Naga yang baru saja dia lihat pasti hanya dalam mimpi. Kemudian ingatan tentang keluarganya kembali terlintas di kepalanya. Dia mencoba berdiri, namun tidak ada satupun anggota tubuhnya yang mampu dia gerakkan, meski itu hanya ujung jarinya saja. Bahkan, dia sebenarnya tidak bisa merasakan seluruh anggota tubuh dari leher hingga ke ujung kakinya.
Air mata Arya mengalir menyesali keadaannya. Dia yakin bahwa seluruh keluarganya sudah meninggal. Kini dirinya tinggal sendiri. Dan tubuhnya juga sudah seperti orang mati.
Tidak begitu lama, pria tua itu kembali dengan sebuah mangkok yang terbuat dari batok kelapa. Arya bisa mencium aroma rempah-rempah yang mencuat dari uap panas dari isi yang ada di dalam mangkok tersebut. Seketika perutnya terasa sangat lapar.
Arya hanya bisa pasrah saat pria tua itu meninggikan kepalanya dengan menambahkan bantalan di belakang kepala.
Pria itu sedikit terkejut dengan rasa lapar Arya. Meski sup yang dia buat cukup banyak, namun porsi makan Arya sangat menakjubkan untuk ukuran tubuhnya. Sup yang dia buat tersebut seharusnya bisa untuk empat orang. Dia sengaja melebihkan sup itu untuk kedua muridnya. Namun, sekarang telah habis masuk kedalam perut bocah ini.
Tak lama setelah perutnya terisi, Arya diserang rasa kantuk yang hebat. Saat matanya terpejam, Arya langsung tertidur pulas.
Melihat Arya langsung tidur, pria tua itu ingin beranjak pergi meninggalkannya. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara menggeretak di sekujur tubuh Arya. Terdengar seperti bunyi tulang-tulang yang bergeser hampir di sekujur tubuh Arya. Setiap inci tubuh Arya bergerak seolah ada sesuatu yang terjadi di sebalik kulitnya.
Tak hanya itu, pria tua ini juga merasa heran saat melihat seluruh titik cakra Arya yang sudah pecah, kini seperti sedang memulihkan diri. Pria itu mencoba menyentuh tangan kanan Arya untuk memastikan.
Matanya melebar, tidak hanya titik cakra. Tapi, tulang-tulang Arya yang remuk dan organ-organ yang luka serta urat-urat darahnya nya pecah karna ledakan energi tubunya, berangsur pulih dengan kecepatan tinggi. Hal yang gagal dia lakukan dengan menggunakan tenaga dalam saat mencoba menyembuhkan Arya.
"Bagaimana bisa?" Gumamnya heran.
Dia tau bahwa sup yang dia buat memiliki efek yang baik untuk kesehatan dan memulihkan tenaga dalam seseorang dengan cepat. Tapi, yang pasti efeknya tidak sampai membuat tubuh orang bisa pulih sendiri. Apalagi dengan luka yang sangat parah seperti yang terjadi pada tubuh anak ini.
Pria itu terus memperhatikan semua proses itu hingga selesai. Saat ini dia yakin bahwa seluruh tubuh Arya sudah pulih. Meskipun sudah hidup sangat lama, baru kali ini dia melihat tubuh manusia bisa memulihkan diri dengan kecepatan seperti ini.
Sekarang, dia melihat Arya tertidur pulas seperti anak yang kelelahan dan butuh istirahat. Setelah memastikan tidak ada kejadian lain lagi, dia meninggalkan Arya sendiri dengan penuh tanda tanya.
Arya terbangun keesokan harinya. Saat kedua matanya terbuka, dia tidak melihat orang tua itu di sana.
Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya. walaupun awalnya terasa sakit, setelah itu dia berhasil menggenggamkan kedua telapak tangannya. Dengan bersusah payah dia mencoba duduk. Dalam prosesnya, seluruh tulang punggungnya mengekuarkan suara gemelutuk. Saat berhasil duduk, Arya bisa merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat pegal.
Arya mendengar suara keributan kecil yang berasal dari luar sana. Setelah beberapa kali gagal, Akhirnya Arya bisa berdiri. Dia berjalan tertatih ke arah pintu gubuk yang berlantaikan tanah itu.
Di luar pintu, Arya menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Gubuk itu ternyata berdiri di puncak sebuah gunung yang sangat tinggi. Dari ketinggian itu, Arya bisa melihat hutan yang sangat luas sejauh matanya memandang.
Arya mencoba berjalan mencari suara yang tadi di dengarnya. Namun sekarang suara itu sudah menghilang. Arya merasa suara itu tidak jauh dari gubuk itu. Dia berusaha melangkahkan kakinya kesana.
Hampir saja dia terjatuh karna tersandung sebuah batu, jika saja seseorang terlambat menangkapnya.
"Kau ... Bagaimana kau sudah bisa berdiri!"
Suara itu mengejutkannya. Arya menoleh pada orang yang telah menangkap tubuhnya.
"Aku ... " Arya berfikir untuk menjawab, tapi dia juga tidak tau harus berkata apa.
Melihat Arya yang kebingungan, orang itu mengerti. "Sudahlah, duduk dulu disini "
Orang tua itu memapah Arya untuk duduk di bangku yang mengelilingi sebuah meja kayu yang ada di halaman depan gubuk tersebut.
Arya memperhatikan sekali lagi wajah kakek tua itu untuk memastikan, sebelum dia bertanya "Kakek, kau adalah orang yang memberikanku sebuah buku waktu itu, kan? "
Pria tua itu tersenyum dan menjawab "Ya, aku yang memberimu buku beberapa waktu yang lalu." katanya sambil mengangguk, "Apakah kau sudah membaca nya?."
Mendengar jawaban itu, perasaan Arya berubah. Muncul rasa marah di hatinya "Buku itu yang dicari oleh orang-orang yang membunuh keluargaku, kenapa kakek memberikannya padaku?" Tanya Arya marah dan menatap orang tua itu tajam.
Orang tua itu, menghela nafas panjang dan melepaskannya, kemudian dia menggeleng. "Bukan, buku itu kuberikan untukmu. Aku berharap kau bisa mengendalikan prana mu. Dan ... " Orang tua itu berbalik menatap Arya dengan pandangan yang tak kalah tajamnya "Sebaliknya, orang-orang itu, mengincar tubuhmu."
Mendengar perkataan orang tua itu, beberapa ingatan kembali melintas di kepala Arya. Dia mengingat saat Wiratama mengatakan pada Natungga Ayah Arya, bahwa dia menginginkan Arya. Sama sekali tidak mengungkit masalah buku.
Pandangan Arya melemah, dia juga mengingat saat Ki Cokro berpesan pada Arsa agar melindungi Arya walaupun harus mengorbankan nyawanya, yang menandakan bahwa perkataan orang tua di depannya ini bukanlah sebuah kebohongan.
Arya menunduk, nafasnya terasa sesak. Rasa bersalah muncul di hatinya "Kenapa orang-orang itu menginginkan tubuhku?" tanya Arya dengan nada bergetar menahan tangis.
"Hmm, ceritanya sangat panjang. Aku akan memberi tau semuanya padamu. Tapi, pulihkan dirimu terlebih dahulu."
"Tolong beritahu aku, Kek... Aku ingin tau, kenapa semua orang melindungiku dengan mempertaruhkan nyawa mereka untukku?" paksa Arya.
Orangtua itu menggelengkan kepala dan mengelus puncak kepala Arya "Karna mereka keluargamu." kata orangtua itu "Dan keluarga tidak butuh alasan untuk saling melindungi." lanjutnya.
"Tapi ... jika ... mereka menyerahkanku— "
"Mereka lebih memilih mati daripada menyerahkanmu... " potong orang tua itu. " Dan kematian mereka tidak sia-sia. Kau selamat! Itu yang harus kau ingat sekarang."
Tubuh Arya bergetar. Arya menutup kedua mata dengan lengan kanannya, kini dia benar-benar menangis. Rasa sedih ditinggal mati oleh seluruh keluarganya kini ditambah dengan rasa sesal karna dialah alasan kenapa seluruh keluarganya mati.
Orang tua itu merasa iba denga Arya. Namun, inilah saat dia harus menerima kenyataannya. Jika anak kecil di depannya ini sanggup bertahan, maka dia akan menceritakan yang sebenarnya pada Arya.
Sesuai harapan orang tersebut. Arya tidak larut dalam tangisnya. Saat tangis Arya sudah mereda orang tua itu kembali bertanya "Aku tak bertanya saat kita bertemu sebelumnya. Jadi, siapa namamu?"
"Namaku, Arya ... Arya Mahesa!."
"Mahesa?!"
"Ya!"
Dia menatap Arya untuk memastikan sekali lagi. Sebelum akhirnya dia mengangguk seperti telah memahami sesuatu. Tiba-tiba dia berdiri. Membuat Arya sedikit terkejut dan menatapnya heran.
"Arya! ... Aku tidak begitu yakin jika ini takdir ... Tapi, kita telah bertemu. Aku ... Obskura!"
Mendengar nama itu, mata Arya langsung melebar kemudian keningnya mengernyit, Heran. Arya ingat bahwa dia pernah membacanya di sebuah buku. Namun, Arya tidak yakin bahwa kakek tua di depannya ini, adalah orang yang sama.
"Obskura? ... Maksud Kakek, Dewa Obskura?!" tanya Arya Ragu.
"Ya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-06-08
1
Firapu Roki
lah kocak. haha
2023-01-03
1
Abigail Chavali
Mantappppppp
semangat thorrr
2022-10-08
1