3343 tahun setelah perang besar.
Teluk Barula. Nama desa yang berada di Daratan Timur kerajaan Swarna. Desa ini tidak terlalu mendapat perhatian dari kerajaan, karena jarak wilayahnya yang jauh dari pusat pemerintahan. Penduduk di sini hidup hanya dengan mengandalkan hasil bumi dan ternak mereka saja.
Pada siang menjelang sore hari, balai desa selalu ramai. Di sana merupakan tempat berkumpulnya anak-anak dari semua penduduk Desa. Jika tidak sedang membantu orang tua, mereka akan menghabiskan waktu untuk belajar. Baik belajar ilmu beladiri ataupun ilmu pengetahuan dasar lainnya.
Seorang anak laki-laki tampak sedang serius membaca sebuah buku yang telah usang di saung di pinggir lapangan yang sedang digunakan untuk latihan beladiri oleh anak-anak lainnya. Anak laki-laki lain yang baru saja tiba langsung menghampiri dan ikut duduk di sana.
"Arya. kau laki-laki, seharusnya kau ikut belajar beladiri bukan malah terus membaca buku-buku yang tidak berguna itu!"
Arya yang sedang larut dalam bacaannya sedikit terkejut dengan suara yang tiba-tiba itu, dengan senyum masam dia menjawab dengan nada sedikit ketus. "Kak, kau tau aku tidak memiliki tubuh yang kuat seperti kalian. Aku akan mati saat aku di suruh berdiri di lapangan saat terik seperti ini"
Keduanya menatap sekumpulan anak-anak yang berusia antara delapan sampai sepuluh tahun yang sedang berlatih ketahanan tubuh di tengah lapangan.
"Kau hanya tidak mau melatih tubuhmu. Setidaknya, jika kau mau memulai sekarang, kau masih akan bisa diterima sebagai prajurit penjaga."
Arya kembali menatap kakaknya. "Aku tidak ingin bekerja sebagai prajurit, aku hanya ingin belajar ilmu bercocok tanam. Aku akan membuka ladang yang besar, agar keluarga kita kelak tidak akan kesulitan seperti sekarang ini."
Sebenarnya, Arsa hanya mencoba menghibur hati adiknya. Karna sejak lahir, Arya memang memiliki tubuh yang lemah. Disaat semua anak laki-laki seumurannya sudah berhasil membuka setidaknya sepuluh titik cakra, Arya sampai sekarang tidak bisa membuka satupun titik cakranya. Sehingga, untuk mengangkat satu ember air saja, Arya sangat kesulitan.
"Baiklah, aku akan melanjutkan latihanku. Teruslah membaca" Setelah mengatakan itu, Arsa kembali bergabung dengan teman-teman sebayanya.
Arya menatap kumpulan anak laki-laki yang berumur tidak jauh di atasnya itu. Di antara mereka, Arya tau bahwa Arsa lah yang terkuat. Arsa memiliki bakat beladiri yang luar biasa. Saat berumur 12 tahun, Arsa sudah berhasil membuka 60 titik cakra. Itu sudah sebanding dengan kekuatan pendekar dasar tingkat 1. Sekarang saat dia berumur 14 tahun Arsa sudah membuka 90 titik cakra. Jika Arsa berhasil mendapatkan kekuatan tulang perunggu, Arsya sekarang sebanding dengan pendekar dasar tingkat 3. Itu adalah hal luar biasa bagi penduduk desa terpencil yang terlupakan di ujung kerajaan Swarna ini.
Arya yakin, suatu saat Arsa akan menjadi pendekar tingkat mahir bahkan mungkin sampai ke tingkat ahli. Apapun itu, Arya sangat bangga bahwa Arsa adalah kakaknya.
Jauh di dalam lubuk hati Arya, dia sedikit kecewa dengan keadaan tubuhnya yang tidak mampu membuka satupun titik cakra. Bahkan sekarang dia lebih lemah dari anak perempuan yang seumuran dengannya.
Jika Arya bukan adik Arsa, sudah pasti dia akan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Mereka tau bagaimana Arsa sangat menyayangi adiknya tersebut.
Pernah ada salah satu temannya mengejek Arya cacat karna tidak bisa membuka titik cakra, Anak itu berakhir dengan keadaan pingsan saat satu pukulan Arsa mendarat tepat di mulutnya. Beberapa gigi anak itu rontok.
Sebagai karma, sampai sekarang gelar ompong melekat pada dirinya. Tentu saja anak-anak lain tidak mau bernasib serupa.
Tapi rasa kecewa itu tidak terlalu mengganggunya. Setidaknya, di keluarganya ada Arsa yang bisa dibanggakan. Selain itu, Arya berniat mempelajari ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kehidupan yang sedikit lebih baik di masa depan.
Dimasa sekarang ini, ilmu beladiri memang dianggap sebagai tolak ukur hampir segala hal. Semakin kuat seseorang, maka akan semakin disegani pula dirinya dan akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan saat dewasa nanti.
Semua itu hanya bisa di ukur oleh jumlah titik Cakra yang terbuka untuk menampung tenaga dalam mereka. Hal yang tidak dimiliki oleh Arya. Arya mengetahui bahwa masa depannya akan suram jika mengikuti jalur kependekaran.
Akan tetapi, jika Arya bisa ikut ujian di Kota Basaka, ada kemungkinan dia akan bisa mendapat pekerjaan lain di kerajaan sebagai pejabat atau bisa melamar kerja di tempat-tempat yang membutuhkan keahlian surat-menyurat dan keahlian lainnya.
Tidak jauh dari Arya, ada seseorang yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka. Orang ini adalah orang yang mengetahui alasan kenapa Arya tidak bisa membuka satupun titik cakra ditubuhnya.
"Aku berharap kau tidak pernah berusaha membuka titik cakramu lagi!."
Arya menoleh pada orang itu. Meski kata-kata seperti ini sering dia dengar keluar dari laki-laki tua itu, tetap saja Arya tidak mengerti kenapa ada orang yang sama sekali tidak ingin dia memiliki sedikit saja kekuatan.
"Ki Cokro, aku tidak mengerti kenapa Aki tidak suka jika aku memiliki cakra?" Tanya Arya sedikit ketus.
"Arya, ketahuilah! Mungkin kau membenciku karna selalu mengatakan ini pada mu. Tapi, demi kebaikanmu, jangan lagi berusaha membuka titik cakra di tubuhmu"
Mendengar peringatan ki Cokro, Arya tertunduk. Setiap kali dia berusaha membuka titik cakra di tubuhnya, maka dia akan langsung jatuh sakit selama berhari-hari karenanya. Ki Cokro ini lah yang selalu mengobatinya.
Sejak kedatangannya ke desa Teluk Barula, penduduk di sana mendaulat dirinya menjadi tabib sekaligus pelatih beladiri bagi anak-anak desa. Karna sebelumnya ki Cokro mengaku bekerja menjadi pengawal seorang tabib di kota Basaka. Jadi, perkataan ki Cokro tadi bukan bermaksud untuk meremehkannya.
"Aku mengerti" jawab Arya.
Ki Cokro, menatap anak laki-laki ini dengan rasa iba. Bagaimanapun dia mencoba menjelaskan pada Arya, saat ini Arya tidak akan mengerti. Kadang dia berpikir kata-katanya akan membuat anak ini kehilangan kepercayaan dirinya. Tapi, ini memang untuk kebaikannya.
"Sukurlah kau mengerti" kata Ki Cokro sambil tersenyum. Tapi tak lama tiba-tiba senyumnya menghilang.
Pandangan ki Cokro terpaku pada buku tua yang sedang dibaca oleh Arya. Dia yakin buku itu bukan salah satu buku yang dibawanya ke desa ini. Secara tak sadar dia langsung menarik buku itu dari hadapan Arya untuk memastikan.
Seketika tangan ki Cokro gemetar saat memegang buku itu. Tidak ada satupun kata yang ada di dalam buku itu yang bisa dimengerti olehnya.
Ki Cokro yakin, meski buku itu sangat tipis dan kecil, apa yang terkandung di dalamnya pasti merupakan salinan bagian dari salah satu pecahan Kitab Dunia.
"Arya, sejak kapan kau membaca ini?!"
Arya yang terkejut saat tiba-tiba ki Cokro merampas buku yang sedang dibacanya, kini merasa heran melihat ki Cokro yang gemetar melihat buku itu.
Arya menjadi gugup melihat ki Cokro yang berubah menjadi ketakutan seperti itu. "Seseorang memberikannya padaku beberapa hari yang lalu, aku sudah membacanya beberapa kali. Aku rasa bahkan aku sudah menghapal isi nya" jawab Arya jujur.
Arya tidak tau apa yang membuat ki Cokro menjadi seperti itu. Tapi, entah mengapa dia menjadi merasa bersalah karenanya. Ki Cokro adalah orang yang mengajarkannya membaca dan menulis. Ki Cokro juga yang memberikan banyak buku agar Arya membacanya.
Jawaban Arya membuat ki Cokro panik. Seketika tangan yang memegang buku itu mengeluarkan hawa panas, dan tak lama hawa itu mengalir pada buku tersebut hingga membuat buku itu terbakar sampai menjadi debu.
Arya yang tidak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya langsung terkejut. Dengan jelas Arya melihat bahwa api yang membakar buku itu berasal dari hawa panas tangan ki Cokro. Karna keterpanaannya, Arya kehilangan kata-kata. Sampai tiba-tiba ki Cokro menatapnya dengan tajam.
"Arya, di mana Ayahmu sekarang?!"
Arya tidak menjawab. Dia masih terkejut dengan yang baru saja dia saksikan.
Melihat Arya yang diam tak menjawabnya, Ki Cokro langsung mendatangi Arsa. Dia meminta Arsa untuk memanggil seluruh keluarganya agar segera pulang kerumah dan menunggunya disana.
Arsa langsung berlari menuju arah perbukitan tempat dimana ladang ayahnya berada.
Beberapa waktu yang lalu, ki Cokro memang merasakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di teluk Barula. Hanya saja, dia merasa itu hanya fenomena alam biasa.
Gempa kecil seharusnya bukan apa-apa. Tapi Ki Cokro baru menyadarinya. Di teluk ini tidak pernah terjadi gempa sebelumnya.
Ki Cokro kembali ke saung tempat Arya yang masih terlihat bingung. "Arya, katakan padaku apa yang tertulis di dalam buku itu?" tanya ki Cokro sambil memegang kedua bahu kecil anak laki-laki itu.
Arya tersentak dengan pertanyaan ki Cokro "A-Aku ... Ti-tidak terlalu mengerti ... Ta-Tapi ... di sana tertulis bagaimana cara mengendalikan ... sesuatu!, ... Prana" jawab arya terbata karna gugup.
"Apa?! ... Prana?!"
Arya menggangukan kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
,next
2024-06-07
1
Dedy Swandi
teluk balura kayak teluk bayur om 😁
2023-08-01
1
Dedy Swandi
teluk barula kayak teluk bayur kah
2023-08-01
0