Seminggu sudah Arya dan keluarganya bersama ki Cokro meninggalkan teluk Barula. Meski masih berumur 8 tahun, Arya yakin ada hal yang tidak beres sedang terjadi.
Arya menduga ini ada hubungannya dengan buku yang dia baca. Sebelumnya, Arya memang mencoba mempraktekkan petunjuk dari buku itu tanpa sepengetahuan orang lain. Namun, tidak ada apapun yang terjadi. Tapi, melihat Ki Cokro langsung membakar buku itu, dugaan Arya sepertinya benar.
Mereka terus berjalan menuju Desa Paganti. Desa yang berada di ujung semenanjung Daratan Timur. Jalan menuju desa tersebut seharusnya tidak melewati jalur yang sedang mereka lalui saat ini. Entah kenapa Ayahnya, Natungga dan Ki Cokro memutuskan untuk memilih jalan memutar menerobos hutan yang sangat lebat ini.
Pada malam hari mereka akan beristirahat. Ki Cokro dan ayahnya akan berjaga bergantian. Namun pagi-pagi sekali mereka akan mulai berjalan lagi.
Berjalan selama seminggu lebih, setiap harinya Arya merasa akan pingsan karna sangat kelelahan. Biasanya ki Cokro dan Ayahnya akan bergantian menggendongnya agar mereka tetap bisa melanjutkan perjalanan.
Namun hari ini tidak hanya Arya yang kelelahan. Ibunya juga sudah mencapai batasnya, karena juga harus menggendong Alya adik Arya yang baru berumur 3 tahun. Melihat itu, ki Cokro dan Ayahnya akhirnya memutuskan menghentikan perjalanan mereka untuk beristirahat sejenak.
Ada banyak alasan kenapa mereka harus tetap berjalan pada siang hari. Di hutan yang lebat ini, terlalu banyak binatang buas yang aktif pada siang hari, jika itu hanya binatang buas biasa, Arsa saja bisa menghentikannya. Masalahnya di hutan ini banyak binatang yang sudah berubah menjadi siluman. Itu yang membuat ki Cokro dan Ayahnya tetap waspada saat mereka beristirahat seperti sekarang ini.
Arya merebahkan badannya di sebelah Alya adiknya yang sedang terlelap. Ibunya, duduk dengan menyelonjorkan kaki untuk meregangkan otot-ototnya yang sudah kelelahan. Arsa berdiri di dekat mereka juga tampak siaga.
Melihat ibunya yang sedang memijat-mijat kakinya, Arya menanyakan hal yang sudah beberapa hari ini menjadi buah pikirannya. "Bu, kenapa kita tiba-tiba meninggalkan desa?"
Ibunya tersenyum yang tampak dipaksakan "Kita akan ke desa Paganti, di sana tanahnya lebih subur dari Barula."
"Oh, nanti disana—"
Kata-kata Arya terputus karna tiba-tiba Arsa membekap mulut nya. Arya melotot berniat protes pada Arsa, namun Arsa membalasnya dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya tanda menyuruh Arya diam.
"Grrrrrrrr!! ... Grrrrrrr!!"
Mereka mendengar suara eraman binatang buas seperti sedang mendekat ke tempat mereka sedang beristirahat. Arsa, ki Cikro, dan Ayahnya berdiri beberapa langkah di sekeliling mereka untuk berjaga-jaga. Binatang itu bisa muncul dari Arah mana saja.
Terdengar suara sesuatu dari semak-semak di depan Arsa. Suara itu membuat pandangan mereka beralih pada asal suara tersebut. Tak lama, seekor harimau menampakan dirinya dari balik semak.
Arsa mengambil kuda-kuda. Harimau tentu saja belum bisa ditaklukkannya sendiri. Tapi, dengan dibantu oleh ki Cokro dan Ayahnya, Arsa yakin mereka mampu membunuh harimau di depannya ini.
Saat mereka yakin harimau itu akan segera menerkam ke arah Arsa. Tiba-tiba saja harimau itu menunduk lalu berbalik dan berlari. Arsa merasa heran kenapa harimau itu malah berlari menjauh.
Pertanyaan itu langsung terjawab. Karna tiba-tiba saja dari arah berlawanan muncul siluman kelabang berwarna hitam pekat sepanjang 5 meter. Tubuhnya setinggi dada Ayah mereka. Siluman itu langsung menyerang ki Cokro.
Ki Cokro yang sudah menduga bahwa ada sesuatu yang membuat harimau tadi lari. Sudah bersiap dengan kuda-kuda untuk berjaga-jaga dari serangan kejutan tersebut. Ki Cokro langsung menarik pedangnya dan menghunuskannya pada bagian bawah kepala siluman kelabang tersebut.
Pedang yang sudah dialiri tenaga dalam tersebut langsung menembus kepala siluman itu. Tidak bisa banyak bergerak setelah kepalanya terkoyak karena tarikan pedang Ki Cokro, siluman kelabang itu tergeletak di tanah tak bernyawa.
Mereka semua merasa lega. Arya dan Arsa terpana melihat kecepatan ki Cokro dalam merespon serangan siluman yang sudah mati itu. Dari pancaran energinya, siluman itu sudah berumur 100 tahun lebih. Itu manandakan sudah ada inti energi terpadatkan di dalam tubuh siluman tersebut.
Kelegaan mereka benar-benar hanya sebentar. Tak lama, ada sekitar belasan ekor siluman kelabang dengan ukuran yang hampir sama keluar dari tempat di mana siluman yang sudah mati tadi keluar. Kini mereka menyadari bahwa mereka sudah salah memilih tempat untuk beristirahat. Mereka sedang berada di dekat sarang siluman kelabang.
"Arsa! ... Lindungi Ibu dan adik-adikmu!" Teriak ayah mereka.
Mendengar itu Arsa langsung berdiri di depan Arya, ibu dan adik mereka Alya.
Meski Arya ketakutan, namun Arya masih memberanikan diri untuk membuka matanya, dia melihat ki Cokro dan Ayahnya sedang mengambil kuda-kuda. Dengan gerakan yang selaras keduanya menghasilkan panas dari tangan mereka. Tak lama tangan-tangan itu memerah sebelum akhirnya muncul bola api yang menyala di atas kedua telapak tangan ki Cokro dan Ayahnya.
Ki Cokro dan Ayahnya melemparkan bola api itu pada siluman yang pertama kali mendekat untuk menyerang. Api itu dengan cepat membakar seluruh tubuhnya. Dengan mengulang gerakan yang sama, ki Cokro dan Ayahnya terus menembakkan lagi bola-bola api itu pada semua siluman kelabang yang terus bermunculan.
Arya dan Arsa baru menyadari bahwa ayah mereka adalah salah satu pengendali elemen, yaitu elemen api. Tidak hanya itu, Ayah mereka terlihat sangat ahli, bahkan sepertinya lebih ahli daripada Ki Cokro yang merupakan pelatih ilmu beladiri di desa mereka.
Sebelumnya Arya juga sudah bisa menebak bahwa ki Cokro juga seorang pengendali elemen seperti yang dia ketahui dari beberapa buku yang dibacanya. Ki Cokro menggunakan pengendalian apinya untuk membakar buku yang dibacanya tepat sehari sebelum mereka pergi meninggalkan desa.
"Arsa! Bawa mereka menjauh!"
Tiba-tiba Ayah mereka meneriakkan agar Arsa membawa keluarganya untuk segera menjauh. Teriakan itu membuyarkan kekaguman Arya dan Arsa pada ayah mereka. Mereka langsung berlari menjauh.
Saat Arya berlari, dia sempat melirik kebelakang. Arya melihat kemunculan siluman kelabang yang sangat besar. Tidak perlu diragukan lagi, siluman yang baru muncul itu pasti berumur lebih dari 300 tahun.
Mereka berempat bersembunyi sekitar 50 meter dari ki Cokro dan Ayahnya. Dari sebalik pohon, mereka semua melihat usaha ki Cokro dan ayah mereka melawan Induk dari Siluman Kelabang itu.
Hal yang lebih mengejutkan terjadi, ternyata Ayah mereka tidak hanya pengendali elemen api. Sekarang dengan gerakan berbeda, pusaran angin tampak melingkari tubuhnya. Itu menandakan bahwa ayah mereka juga pengendali udara.
Lingkaran udara yang tadinya berbentuk angin itu tiba-tiba mengecil. Natungga, Ayah mereka bukan memperkecil pusaran itu melainkan memadatkannya. Udara itu semakin padat hingga menjadi bola yang melayang di antara kedua telapak tangannya. Kemudian dia melemparkan bola udara yang sudah dipadatkan itu ke kepala siluman kelabang. Tak cukup sampai disitu, saat bola udara nyaris mengenai kepala siluman, ki Cokro menembakkan api dengan kecepatan tinggi pada bola udara itu. Seperti pemicu, saat api mengenai bola udara itu, seketika bola itu meledak.
Ledakan itu sangat kuat, hingga membuat kepala siluman itu hancur berkeping-keping. Induk siluman yang diperkirakan sudah berumur lebih dari 300 tahun itu juga bukan tandingan keduanya.
Kerja sama antara ki Cokro dan ayah mereka, membuat Arya dan Arsa meragukan latar belakang kedua orang itu. Tidak, sebenarnya mereka mulai meragukan latar belakang keluarga mereka sendiri. Jika ayah mereka sehebat ini, kenapa malah memilih jadi petani?.
Ki Cokro dan Ayahnya, tidak mengambil inti energi dari semua siluman yang telah mati itu. Alih-alih mengambil inti energi, mereka sekarang berlari ke tempat persembunyian Arya dan keluarganya.
"Kita harus pergi dari sini, secepatnya!" Teriak Ki Cokro pada mereka.
Mendengar itu semuanya mulai berlari lagi. Arya tidak tau kenapa mereka malah lari setelah ayahnya dan ki Cokro berhasil mengalahkan kawanan siluman itu.
Jika Ayahnya dan Ki Cokro bisa mengalahkan siluman yang sudah tua itu, seharusnya mereka tidak perlu takut dengan apapun lagi di hutan ini.
Akan tetapi, melihat ekspresi keduanya saat itu, Naluri Arya mengatakan bahwa dia memang harus berlari sekencang-kencangnya. Pasti sesuatu yang lebih mengerikan sedang mengincar mereka.
Mereka terus berlari hampir sekitar dua jam lamanya. Nafas Arya sangat sesak dan Jantungnya seolah-olah akan meledak sebentar lagi. Namun dia tetap memaksakan diri untuk terus berlari bersama yang lainnnya.
Tidak jauh di depan, mereka melihat ada seseorang sedang berdiri. Semuanya memelankan laju lari mereka dan berhenti beberapa meter di depan orang tersebut.
Ki Cokro dan Ayahnya langsung berdiri di depan mereka. Dengan nafas yang masih sesak dan jatung berdetak cepat, Arya memiringkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang berdiri di depan mereka itu dari sebalik tubuh Ayahnya yang berdiri membelakangi mereka. Orang itu tersenyum menyeringai saat menatap Arya, membuat Arya langsung memalingkan wajahnya karena takut dengan tatapan orang itu.
"Akhirnya, ... Kau kutemukan ... Natungga!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-06-08
1
ZERO
siapa yah orangnya?
2024-01-07
1
Abigail Chavali
Huhftttt seruuu thorrr
maaf baru mampir
dr kmrn fokus di Worl Order 😍
2022-10-08
1