Arya tidak menyangka bahwa kehidupan baru yang dikatakan Obskura sebelumnya bukanlah istilah. Tapi mungkin dalam makna sesungguhnya.
Arya sedang bersembunyi di belakang Obskura. Tangannya mengenggam erat jubah Obskura saking takutnya.
Seekor siluman srigala yang tinggi tubuhnya hampir sama dengan tinggi bahu Obskura. Siluman Srigala berbulu tebal dan panjang berwana perak tersebut memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Taring nya yang panjang hampir sama besarnya dengan dengan lengan Arya.
Arya yakin, Obskura-lah yang memanggilnya kesini. Dengan mata yang berwarna kuning dan garis hitam runcing berdiri di tengah pupilnya, siluman itu menatap Arya tajam. Siluman ini pasti akan memakannya.
"Wooo... Hoooo!"
Sebuah teriakan suara terdengar mendekat dari atas pepohonan besar nan lebat. Burung-burung yang bertengger di dahan pohon di jalur kedatangan suara itu beterbangan.
Tak lama Arya melihat di kejauahan sosok berwarna keemasan sedang bergerak di antara cabang pohon satu kecabang pohon lainnya. Di cabang pohon terakhir sosok itu berputar sebelum akhirnya melambungkan tubuh nya berputar-putar tinggi di udara.
"Wooo... Hooo! "
Gerakan berputar di Udara yang di lakukannya itu sangat menabjubkan hingga akhirnya sosok itu mendarat tepat di sebelah Siluman Srigala.
Seekor Siluman Kera besar yang tak kalah menyeramkan dari siluman srigala perak baru saja tiba.
Siluman itu memiliki bulu berwarna emas, meski matanya tidak memiliki perbedaan dengan Kera biasa pada umumnya, namun taringnya tetap membuat wajahnya menjadi sangat menyeramkan. Belum lagi tingginya lebih dari dua meter dan tubuhnya yang berotot berdiri tegap.
Tak terasa Arya terkencing di celananya. Kehadiran dua sosok ini sangat menakutkan baginya. Arya merasa seperti bocah malang yang akan di tumbalkan oleh Obskura pada dua siluman penunggu hutan yang berada di depan mereka ini.
"Guru!"
"Guru!"
Keduanya serentak menunduk dan menyapa Obskura.
"Guru?" Arya bergumam, meski seluruh tubuhnya masih menggigil karna ketakutan.
"Rewanda! Krama! ini, Arya!" kata Obskura sambil memegang kepala Arya yang kini menutupi wajahnya dengan jubah Obskura.
Kedua siluman itu kini menatap Arya heran.
"Arya, jangan takut mereka tidak akan menyakitimu." Obskura mencoba menenangkan Arya yang semakin ketakutan setiap Obskura menyebut namanya.
"Jadi kau sudah sadar?."
Suara siluman tersebut meski seram tapi terdengar ramah oleh Arya. Arya kemudian memberanikan diri menurunkan jubah Obskura yang menutupi wajahnya dan mengangguk.
"Aku Rewanda!" Kata siluman Kera tersebut memperkenalkan diri "Raja hutan ini." sambungnya sambil menyentuh dadanya.
"Raja lamban!" Ejek siluman Srigala memandang Rewanda lalu menatap Arya. "Aku Krama, Raja sesungguhnya"
"Jangan dengarkan anjing bodoh ini. Dia hanya mempercepat larinya agar bisa kabur dari pertarungan! Hahaha."
"Bukankah, kau memanjat pohon karna ingin kabur dariku?."
Kedua siluman itu saling mengejek dan akhirnya meributkan siapa yang terkuat diantara keduanya.
Obskura hanya mengelengkan kepalanya. Sudah puluhan ribu tahun mereka hidup bersama tapi hingga sekarang tidak pernah akur sama sekali.
"Rewanda!, Krama!" panggil Obskura pada keduanya. "Tenang dan duduklah!"
"Ya guru!"
Kata keduanya serempak. Setelah itu mereka duduk. Walaupun Arya tidak melihat bagaimana wajah Obskura saat ini, tapi itu pasti sangat tidak bersahabat. Karena, sekarang Arya bisa melihat wajah takut mereka pada Obskura.
"Aku ingin kalian berdua melatih Arya menjadi lebih kuat."
Keduanya terkejut mendengar perkataan Obskura. Bagaimana mungkin mereka melatih makhluk lemah dan kecil seperti yang berdiri di belakang guru mereka ini.
Keduanya ingin protes, tapi tidak ada yang punya nyali melakukannya. Mereka hanya bisa diam.
"Bukankah kalian ingin membuktikan siapa yang terhebat di antara kalian berdua?" Pancing Obskura.
Telinga keduanya berdiri. Setelah mencoba ribuan macam cara. Sampai saat ini Rewanda dan Krama tidak pernah benar-benar bisa mengklaim diri mereka yang terkuat diantara keduanya.
"Tentu saja! Biar anjing pengecut ini sadar."
"Ya, aku ingin membuktikan pada kera bodoh ini"
Obskura tersenyum. Menghadapi kedua muridnya ini bukan hal yang sulit baginya. "Jika begitu, Arya akan tau siapa di antara kalian berdua yang terhebat setelah kalian berhasil mengajarkan semua yang kalian punya padanya. Saat itu tiba, Raja sesungguhnya akan terbukti."
"Auuuu, Au Au Auuuuuu!"
"Wooo Hoooo!"
Keduanya bersemangat. Mereka bertekad menunjukkan pada Arya bahwa salah satu dari merekalah yang terkuat.
Obskura tersenyum puas. "Baiklah, aku rasa kalian sudah paham apa yang harus kalian lakukan. Aku mempercayakan Arya pada kalian."
Perasaan Arya langsung semakin kacau. Dia bisa merasakan bahwa Obskura akan meninggalkannya dengan dua Siluman yang menyeramkan ini.
Apalagi saat ini Arya melihat kedua tatapan siluman itu padanya semakin menyeramkan. Arya yakin begitu Obskura pergi, keduanya akan berebut merobek tubuh Arya dan memakannya.
Obskura menyadari ketakutan anak kecil itu. Dia berjongkok dan memandangi Adya dengan senyuman. "Arya, mereka tidak akan membunuhmu jika kau berusaha keras untuk menjadi lebih kuat."
Dewa Obskura merasa kata-katanya menyemangati Arya. Dia tidak sadar bahwa Arya menyimpulkan bahwa jika kedua siluman ini merasa Arya tidak berusaha dengan keras, maka keduanya akan membunuhnya.
"Arya, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Keluargamu sudah tidak ada lagi. Sekarang saatnya untukmu membuktikan pada mereka bahwa pengorbanan mereka untukmu, tidak sia-sia."
Setelah mendengar perkataan Obskura itu. Tiba-tiba tubuh Arya menjadi tenang. Dia menoleh pada Rewanda dan Krama. Tatapannya kini penuh dengan tekad.
"Aku, tak akan pernah mati!." Gumamnya.
Pandangan manusia kecil itu pada Rewanda dan Krama sempat membuat jantung keduanya berhenti sepersekian detik. Keduanya sekilas merasa ketakutan yang lebih besar dibandingan ketakutan mereka pada Obskura.
"Baiklah, jika begitu aku berharap kau bisa menjadi sangat kuat."
Kemudian Obskura menatap Rewanda dan Krama. "Aku akan kembali saat salah satu dari kalian semua menjadi Raja."
"Baik Guru, aku meminta Buah Naga sebagai hadiah."
"Aku akan menjadi Raja dan membuatmu bangga. Ya aku meminta hadiah yang sama."
"Hahaha! Tentu saja, Hanya Raja yang pantas memakan Buah Naga."
Obskura kemudian meninggalkan mereka bertiga disana. Selama Arya berlatih, dia berniat untuk mempelajari tentang tubuh Arya tersebut.
Satu hal lainnya yang sedikit mengusik Obskura adalah, bagaimana Arya bisa mengetahui Arangga. Seharusnya Nama tersebut sudah menghilang sejak dua ribu tahun yang lalu.
Sebagai Dewa yang bertanggung jawab atas perubahan Dunia. Obskura selalu memantau perkembangan manusia dan makhluk hidup yang ada di Bumi.
Setelah pintu langit disegel Oleh Anhur, Obskura memang tidak pernah lagi kesana. Itu bukan karna dia tidak bisa. Tapi, itu karna dia tidak mau.
Namun, pertemuannya dengan Arya membuat Obskura sedikit penasaran. Hal yang sudah lama tak dirasakannya. Bagaimanapun, Obskura sangat menyukai manusia. Ada banyak alasan kenapa Obskura membawa Kitab Dunia dari langit bersamanya. Salah satunya karena Obskura merasa manusia berhak atas ilmu di dalamnya.
Akan tetapi, Disisi lain sebenarnya Obskura sedikit menyesal. Karena akhirnya Obskura menyadari bahwa tidak semua manusia pantas mendapatkan apa yang diberikannya. Hal serupa sebenarnya juga terjadi di Langit. Mungkin, jauh lebih buruk lagi.
Ada banyak rencana yang kini ada di kepalanya. Tapi, sekarang tubuh Arya adalah prioritasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
sri sunartun
yesss...mulai seru.
2024-08-31
0
Ali B.U
next.
2024-06-09
1
mulyadi nara
buah naga vs buah dewa
2023-08-15
1