Sudah tiga bulan berlalu setelah Arya ditingalkan Obskura untuh berlatih menguatkan tubuhnya bersama Rewanda dan Krama.
Jauh dari tempatnya kini berada, sebuah rombongan besar terdiri dari banyak kereta kencana dan pasukan berkuda tak kurang dari lima ribu orang, sedang menelusuri Daratan Timur kerajaan Swarna.
Di dalam kereta kencana termewah, diisi oleh keluarga bangsawan. Saat ini dua orang pria sedang berbicara di dalamnya.
"Aku tidak menyangka keadaan di Daratan Timur ini sangat jauh tertinggal."
"Ya, selain punya sejarah panjang. Daratan ini tidak begitu menarik sebelum nya. Hanya saja aku heran pada titah baginda Maharaja hingga mengutus Putranya sendiri ke sini."
"Ya, bagaimanapun sebagai putra mahkota, aku rasa aku harus mulai belajar memimpin mulai dari sekarang."
"Tapi Pangeran ... alih-alih membangun Daratan Timur ini, bukankah seharusnya anda belajar memimpin di Istana Malka saja?."
"Kenapa paman masih bicara seperti itu padaku, sekarang di sini hanya ada kita dan keluarga. Kita tidak sedang di istana Barus." Protes orang yang di panggil pangeran tersebut.
"Hahaha! Aku takut terbiasa, Nanti orang-orang berfikir aku tidak menghormatimu!"
"Hmm ... Sebelumnya aku juga berfikir persis seperti paman. Tapi, lihatlah Daerah ini paman Darmu. Sudah dua hari sejak kita meningalkan Pelabuhan di Kota Parinan, kita belum melewati satu kota pun sebelum sampai di Kota Basaka."
Darmuraji menyapu pandangannya pada hutan lebat yang sedang dilewati rombongan mereka. Hanya ada pepohonan yang besar tinggi menjulang. Meski saat itu siang hari, namun jalan yang mereka lewati sedikit gelap disebabkan rimbunnya daun pepohonan di hutan tersebut.
Seperti kata lawan bicaranya, mereka memang tidak menemukan kota kecil manapun sejak dua hari mereka meninggalkan kota Parinan. Hanya desa-desa kecil dan beberapa sekte yang letaknya sangat berjauhan antara satu dan lainnya. Beberapa tempat sempat mereka singgahi untuk beristirahat dalam perjalanan mereka itu.
Darmuraji mengangguk menyetujui pendapat keponakannya ini. "Aku rasa kau benar Aditya, ada baiknya kau membangun dan memajukan daratan ini. Penduduk di Daratan Timur ini juga adalah rakyat yang akan kau pimpin saat kau mewarisi tahkta dari Ayahmu nanti."
Aditya ikut mengangguk dan tersenyum puas dengan perkataan Darmuraji. Seperti apa yang diharapkan oleh Aditya, pamannya ini adalah orang yang paling bijak yang pernah dia temui. Sosok tenang yang mengajarkannya banyak hal, mulai dari ilmu beladiri hingga ilmu pengetahuan. Bahkan, Darmuraji sudah mengajarkan Aditya bagaimana bersikap layaknya putra mahkota kerajaan Swarna sejak masih kecil.
"Paman, aku masih tidak habis fikir, kenapa dulu paman tidak tertarik mewarisi kerajaan?."
Darmuraji adalah Kakak dari Maharaja kerajaan Swarna, orang yang seharusnya menjadi Maharaja kerajaan tersebut. Namun saat Ayahnya ingin mewariskan kerajaan padanya, Darmuraji menolak dan meminta Ayahnya untuk mewariskan Tahta tersebut untuk adiknya.
Darmuraji sendiri diangkat oleh adiknya beberapa hari setelah dia menjadi Maharaja Swarna sebagai penasehat tertinggi Maharaja. Yang menyebabkan kerajaan Swarna seolah memiliki Maharaja dan wakilnya yang hebat.
Tapi, saat Aditya putra pertama sang Maharaja tumbuh, Darmuraji memilih untuk mendampingi dan mengajarkan berbagai macam ilmu untuk calon Maharaja kerajaan Swarna di masa depan tersebut.
"Hahahahaha! ... Kau sama seperti Ayah dan Kakekmu. Mereka menayakan hal yang sama terus menerus padaku."
"Dan mereka mengatakan bahwa kau tak pernah memberi jawaban yang memuaskan mereka! Setidaknya begitulah kata Ayahku." sambung Aditya menatap Darmuraji.
Beberapa saat mereka serempak tertawa. Memang keputusan Darmuraji saat itu sempat membuat heboh seluruh Kerajaan Swarna.
Namun, itu juga melegakan karena tidak ada terjadi perebutan Tahta seperti yang biasa terjadi pada banyak kerajaan. Hal yang sering menyebabkan perpecahan dan kerugian besar pada kerajaan tersebut.
Hal itu juga menandakan bahwa Darmuraji adalah orang yang mendahulukan kebaikan bagi orang banyak alih-alih dirinya sendiri. Hal yang membuat dirinya sangat dipercayai oleh Maharaja dan Rakyat Swarna. Bagaimana tidak, kedudukan tertinggi di Swarna saja dia tolak, jadi tidak ada alasan untuk Damuraji untuk mengkhianati kerajaan Swarna.
Putra mahkota Kerajaan Swarna tersebut datang ke Daratan Timur atas titah Maharaja Swarna. Aditya ditugaskan untuk memajukan dan membuka jalur perdagangan di wilayah tersebut. Namun dibelakangnya, sang Maharaja memiliki maksud tertentu.
Tampaknya Daratan Timur itu akan mengalami kemajuan yang sangat pesat mulai dari sekarang Karena Aditya datang dengan membawa banyak harta dan banyak ahli dalam rombongan mereka guna untuk memajukan daerah tersebut.
Karena antara Basaka dan Kota Barus pusat kerjaan Swarna terbilang sangat jauh, Aditya dan Darmuraji terpaksa harus membawa seluruh anggota keluarga mereka demi misi jangka panjang ini. Aditya sendiri sebenarnya masih kebingungan oleh maksud ayahnya yang tiba-tiba memberikan tanggung jawab itu padanya. Padahal sepanjang yang ia ketahui, Daratan Timur tidak terlalu diperhatikan sebelumnya.
Akan tetapi tidak untuk Darmuraji. Dia sangat mengetahui maksud dan tujuan dari keputusan adiknya tersebut. Sebagai mantan putra mahkota, dia sebenarnya tau rahasia Daratan Timur ini lebih dari siapapun, termasuk adiknya sendiri.
Karena itu, saat Maharaja Swarna memberikan perintah tersebut pada Aditya, dia mengajukan diri untuk mendampingi putra mahkota. Sebuah permintaan yang sulit ditolak bahkan oleh Maharaja itu sendiri.
Setelah melewati satu hari lagi, akhirnya mereka memasuki kawasan kota Basaka. Memang mereka belum sampai masuk ke Pusat Kota tersebut. Tapi, saat ini di jalan mereka sudah mulai banyak melihat penduduk berlalu lalang menandakan bahwa mereka sudah berada dekat dengan daerah keramaian.
Sebelum sampai di pintu gerbang Kota Basaka, beberapa jam sebelumnya mereka sempat melihat sekte-sekte besar yang sudah menyerupai sebuah kota kecil. Ada yang berdiri di lereng gunung dan ada juga yang berada di dalam sebuah lembah.
Sekte-sekte itu sendiri seperti memiliki aturan terpisah dari peraturan pemerintah Kota Basaka. Meski mereka mengakui keberadaan pemerintahan kerajaan Swarna, Namun mereka memilih untuk memisahkan diri dan tunduk pada peraturan sekte mereka masing-masing. Hal yang biasa terjadi pada sekte-sekte besar. Namun, saat Negara membutuhkan bantuan mereka, biasanya sekte-sekte ini akan membantu karena sekte-sekte terbuka seperti mereka, merupakan sekte golongan putih.
Namun sebaliknya, Sekte-sekte aliran hitam akan menyembunyikan keberadaan sekte mereka. Karena pergerakan mereka yang biasanya merugikan banyak pihak. Baik kerajaan maupun sekte-sekte aliran putih memerangi mereka. Sehingga membuat mereka harus bersembunyi dan berusaha bergerak tanpa diketahui pihak-pihak tersebut.
Kota Basaka, kota terbesar di Daratan Timur dikelilingi tembok batu setinggi dua puluh meter. Di atas tembok itu sendiri tampak prajurit berlalu lalang menjaga keamanan kota tersebut. Kota Tertua di kerajaan Swarna yang dihuni setidaknya dua juta jiwa ini, dahulu kala adalah kota yang menjadi ibu kota kerajaan SwarnaDwipa.
Namun, sejak ledakan Energi besar yang memporak porandakan kerajaan SwarnaDwipa hingga daratan yang tadinya adalah Benua terbesar di Dunia tersebut terbelah menjadi tiga bagian pada perang Dua Dunia lebih dari tiga ribu tahun yang lalu.
Daratan Timur mengalami kehancuran terparah. Karena, ledakan tersebut terjadi di Timur Daratan ini. Pusakan Ledakan itu sendiri kini telah menjadi sebuah teluk yang sangat besar.
Di depan pintu gerbang, rombongan Aditya sudah ditunggu oleh ratusan perajurit. Dari sana puluhan ribu masyarakat kita Basaka sudah menunggu sejak pagi buta. Berita tentang kedatangan Aditya sudah beredar sejak surat pemberitahuan diterima Walikota Basaka dua bulan yang lalu.
Dari pintu gerbang sampai pintu gedung terbesar di kita Basaka tersebut, di pinggir jalan sudah dipenuhi manusia, sehinga para perajurit sedikit kewalahan menahan desakan-desakan lautan manusia itu saat melihat rombongan Putra Mahkota kerajaan Swarna melewati mereka.
Di ujung jalan, tepat nya di sebuah bangunan terbesar di kota itu, Walikota Basaka, Seorang pria paruh baya berumur lebih dari delapan puluh tahun bernama Wisang Geni, sedang menunggu dengan gugup arak-arakan Putra Mahkota tersebut.
Berita kedatangan putra mahkota sendiri membuat Wisang Geni sedikit kelabakan. Dia harus mengirim setidaknya sepuluh tilik sandi untuk melaporkan perjalanan orang yang sangat penting itu padanya secara rutin.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Wisang Geni menatap sebuah kereta kencana yang yang paling mewah berhenti tepat di depannya.
Pintu kereta terbuka, kemudian seorang pria yang sangat gagah dan berwibawa turun dari kereta tersebut. Saat kedua kaki nya tercecah ke tanah, seluruh manusia yang ada di sana segera berlutut.
"Gusti PANGERAN!"
Suara penghormatan itu menggema ke seantero Kota Basaka.
Entah kapan terakhir kalinya sosok penting seperti ini menginjakkan kaki di Kota ini. Atau lebih tepatnya, Daratan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-06-09
1
Arull My one
cerita ginian yg mantap author
2024-01-22
1
Firapu Roki
keren cok.
2023-01-03
1