Amia membawa Arya menelusuri goa itu, saat berjalan di belakang Amia, Arya melihat sosok Amia ternyata melangkah di udara. Jejak yang di tinggalkannya hanya tetesan air di lantai goa.
Arya merasakan perasaannya berubah ketika mendekati sebuah ruangan yang luas. Ruangan tersebut terlihat sangat terang. Dari kejauhan Arya bisa melihat sebuah benda yang mengeluarkan cahaya melayang di tengah ruangan tersebut.
Amia berhenti dan berbalik pada Arya. Dia merentangkan tangannya. Seolah menunjuk ke segala arah.
"Inilah yang membuatku membawamu kesini." seru Amia dengan bangga.
Arya mencoba memahami maksud Amia tapi Arya tidak bisa menemukan jawaban apapun di kepalanya. Arya mencoba memandangi seluruh isi goa tersebut. Dan kembali menatap Amia.
Selain benda melayang berbentuk batu yang bertindak sebagai lentera penerang ruangan tersebut, Arya tidak menemukan apapun yang bisa dia jadikan petunjuk.
"Ruangan ini ... "
"Ya, ruangan ini!" sambut Amia menyangka Arya sudah mengerti.
"Terasa akrab."
Amia melayang semakin tinggi mengelilingi benda berukuran sebesar kepala Arya yang memancarkan cahaya putih kebiruan tersebut.
"Berkah Air!" kata Amia.
Arya mengerti sekarang. Amia ingin menunjukkan padanya batu yang melayang yang sebelumnya Arya sangka hanya berguna sebagai penerang ruangan.
"Berkah Air?"
"Ya! Berkah air ini tidak pernah menyala sebelumnya. Namun, sesuatu telah memicunya. Aku langsung mencari keberadaanmu saat Berkah Air mengatakan padaku bahwa kau dalam bahaya."
"Tapi, apa hubungan diriku dengan Berkah Air itu? Dan batu ini bisa berbicara denganmu?" tanya Arya penasaran.
"Hmm ... Aku juga tidak tau. Tapi, batu ini memiliki kekuatan Air yang sangat besar. Dan tentu saja aku bisa berbicara dengannya, aku adalah Roh Air." jawab Amia agak ketus.
Arya tidak terlalu memperdulikannya. Karena banyaknya kejadian yang sudah terjadi padanya selama ini, Arya tidak mudah lagi terpengaruh dengan banyak hal. Apalagi hal tersebut terasa tidak mengancam nyawanya sama sekali.
Batu yang melayang itu kini mulai bergerak mendekati Arya, semakin Berkah Air mendekat, semakin terang pula cahayanya. Seharusnya bagi manusia biasa, Cahaya itu sudah cukup untuk membutakan mata seseorang. Namun, Arya sama sekali tidak merasakan cahaya itu menyakiti matanya.
Saat Berkah Air sudah berjarak dalam jangkauan Arya. Arya merasakan kehangatan di hatinya. Seolah dia melihat batu itu bagaikan seseorang dan Arya merasa sudah mengenal Berkah Air cukup lama.
Arya secara naluri menyentuh batu tersebut. Saat telapak tangannya bersentuhan dengan permukaan batu itu, ribuan kilatan bayangan merasuki fikiran Arya.
Arya mencoba melepaskan tangannya dari Berkah Air namun tidak berhasil. Batu itu kini semakin mengecil seiring banyaknya bayangan yang masuk ke dalam kepala Arya.
Arya terkulai lemas saat seluruh Berkah Air menghilang. Arya mencoba mengerjapkan matanya. Dia tidak bisa melihat apapun. Seluruh ruangan itu kini menjadi sangat gelap. Atau, Arya kini telah buta.
"Apa yang terjadi?! Aku tidak bisa melihat!"
Hampir saja Arya panik memikirkan bahwa dia telah buta jika tidak karna melihat munculnya titik-titik bercahaya memenuhi dinding goa.
"Kau telah menyerap seluruh Berkah Air." Kata Amia.
"Maksudmu?"
"Coba gunakan ingatanmu, dan cari ingatan tentang Berkah Air di dalam sana."
Arya mencoba mengikuti saran dari Amia. Lalu beberapa bayang muncul di kepala Arya. Arya seperti melihat gerakan dasar pengendalian air. Dan beberapa gerakan lainnya.
Arya mencoba melihat lebih banyak, namun itu membuat kepalanya sakit.
"Itu adalah teknik yang bisa kau gunakan untuk mengrndalikan Air. Namun, saat ini tubuhmu masih sangat lemah. Semakin banyak yang kau lihat disana, maka semakin besar pula tenaga yang harus kau kerahkan."
"Tapi, aku tidak punya tenaga dalam!"
" Hmm... Justru ini mengejutkanku, kaulah satu-satunya manusia yang memiliki tenaga yang berasal dari dalam dirimu sendiri."
Arya tidak mengerti apa yang dikatakan Amia padanya. Arya ingin menatap Amia Untuk bertanya lebih jelas. Arya mencoba menyapu pandangannya kembali. Dia tidak bisa menemukan keberadaan Amia si Roh Air di manapun.
Tiba-tiba Arya benar-benar panik. "Sebentar ... Apakah kau sedang berbicara di dalam kepalaku?!"
"Hahaha! Benar-benar anak yang lucu. Kekuatanmu yang besar juga sampai menarikku kedalam tubuhmu."
"Aku tidak mengerti ... "
"Pelajarilah ingatan Berkah air itu secara bertahap. Kelak saat kekuatanmu telah cukup kita akan berbicara lagi." kata Amia.
"Sebentar, kenapa kau ingin meninggalkanku? Bagaimana cara aku keluar dari sini?"
"Berarti, kau harus berlatih disini. Saat kekuatanmu sudah cukup kuat melawan arus air itu, maka kau akan menemukan jalan keluar dari sini. Jika tidak, kau mungkin akan mati atau selamanya di sini."
"Nanti dulu, apa maksudmu dengan mati... Hei!"
Suara Amia tidak lagi menjawab pertanyaan Arya, meski Arya telah memanggil beberapa kali.
Kematian. Hal yang paling di takuti Arya di hidupnya. Bukan karena takut mengalaminya. Kematian adalah bentuk kegagalan Arya menjaga apa yang telah dijaga oleh keluarganya sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk membuat Arya tetap hidup.
Kondisi yang lebih buruk. Dari pada kematian itu sendiri.
Arya tidak ingin menghabiskan waktunya dan berujung mati disana. Arya mencari dan mulai mempelajari teknik pengendalian Berkah Air dari tingkat terlemah.
****
Di atas sebuah bukit, Obskura menyadari fenomena itu. "Hahahaha! Bocah itu akhirnya, menemukannya!"
Nyaris Setahun sudah Arya menghilang dari hutan Obskura. Rewanda dan Krama sempat merasa diri mereka telah gagal. Namun, Obskura mengatakan pada mereka bahwa Arya masih hidup.
Keduanya tidak menanyakan lagi keberadaan Arya. Nyatanya, bahwa Arya masih hidup saja sudah membuat mereka puas. Setidaknya, bocah itu masih bertahan, seperti biasanya.
Dan seperti biasanya pula, sekali dalam setahun Rewanda dan Krama akan kembali bertarung untuk menentukan siapa yang terhebat diantara keduanya.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini Obskura berdiri di sebuah bukit yang cukup besar untuk membantu persiapan pertarungan mereka.
Seluruh isi hutan merasakan pancaran tenaga dalam dari keduanya meningkat sangat signifikan. Membuat penghuni-penghuni hutan tersebut terpaksa mengungsi menjauhi bukit yang akan di pakai keduanya untuk bertarung.
Menjelang tengah malam, keduanya berdiri di antara dua jurang yang tinggi saling berhadapan.
"Hei Kera bodoh, kusarankan kau tidak setengah-setengah. Jika tidak, aku yakin pertarungan kali ini akan membuatmu mati!"
"Hahahah! Kau mencuri kata-kataku! Tapi tentu saja aku tidak akan ragu untuk membunuhmu! Kau cukup kuat untuk menjadi Raja. Sayangnya, aku sekarang sudah jauh lebih kuat dari dirimu."
Pertarungan kali ini benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya. Ini adalah masa dimana Obskura sendiri tidak akan mampu mengendalikan kekuatan Rewanda dan Krama. Jadi, Obskura memilih untuk menyegel bukit tersebut agar dampak pertempuran dua Iblis langit ini tidak terlalu parah.
Pada awal sepertiga malam, tubuh Rewanda dan Krama membesar. Uap panas mulai keluar dari tubuh Rewanda dan suara gesekan logam mulai terdengar dari tubuh Krama.
Tanah yang mereka injak mulai retak seiring peningkatan bobot tubuh Krama, dan pepohonan yang berada di sekitar Rewanda mulai melayu.
Tepat saat Bulan Purnama penuh berwarna Merah menyala muncul di sebalik awan, Rewanda dan Krama telah berubah sempurna menjadi sosok asli mereka.
Api yang sangat panas berkibar di sekujur tubuhnya. Rambut Rewanda kini panjang. Terpaan angin dari rambutnya membuat lidah api membakar hutan yang ada di sekitarnya nya.
Krama tidak kurang menakutkannya. Seluruh tubuhnya sudah berubah menjadi logam berwarna perak bercahaya. Kedua tanduknya yang runcing kini semakin besar dan memanjang.
Keduanya siap saling menyerang dan mengeluarkan seluruh kekuatan untuk pertempuran yang hanya terjadi seribu tahun sekali ini. Pertempuran kutukan antara dua Iblis Langit. Rewanda melawan Krama.
Kedua mata mereka kini saling awas. Menunggu salah satunya mulai bergerak atau saling berfikir mencari celah untuk memulai serangan pertama.
Lama mereka diam sebelum akhir nya memutuskan akan sama-sama menyerang. Saat keduanya mengambil kuda-kuda untuk menerkam lawannya, tanah tempat kaki mereka berpijak mulai bergetar.
Sebuah tekanan tenaga yang sangat besar dapat mereka rasakan berasal jauh dari bawah sungai yang ada di dasar jurang tempat mereka berdiri dan tekanan itu terasa semakin dekat.
"BOOOOOMMM......!
Sesuatu meledak di dasar jurang sana, menciptakan sembuaran air besar yang lebih tinggi dari jurang dimana Rewanda dan Krama dalam Mode Iblis mereka berada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
,next
2024-06-10
1
Arull My one
imajinasi jenius,...
2024-01-22
1
Abigail Chavali
iyesssss
2022-10-08
2