Rewanda berjalan mondar mandir di depan Krama. Itu membuat Krama Semakin kesal.
Sama dengan yang dirasakan Rewanda, Krama juga merasakan kecemasan. Namun, dia tidak akan bersikap konyol seperti kera bodoh yang ada di depannya ini.
"Eh, Kera Bodoh! Kenapa kau mondar mandir seperti itu?"
"Apakah otakmu juga terbuat dari logam dan sekarang sudah berkarat? Bagaimana kau tidak menyadarinya selama ini?" Rewanda tidak berhenti malah gerakannya semakin cepat saja.
"Jangan hanya menyalahkanku, bahkan guru juga tidak tau!"
"Ah! Ini bahaya ... Ini sangat ... Sangat ... Bahaya!"
"Sebaiknya bersikap sopanlah saat dia sadar, kebodohanmu bisa membuat kita berdua celaka!"
Sementara itu di gubuk Obskura, Arya keluar dan mendapati dewa itu sedang duduk di bangku yang ada di depan gubuk itu. seolah sedang menunggunya.
"Kakek Dewa!"
Obskura monoleh pada Arya, senyumnya terkembang "Oh kau sudah bangun, baguslah."
"Hmm, ya!"
Arya berjalan kesana dan duduk di bangku tepat di seberang Obskura.
Obskura menatap mata Arya seolah mencari sesuatu dari sebalik fikiran Arya "Arya ? Atau ... Bagaimana aku memanggilnya?."
Arya mengelengkan kepalanya dan tersenyum "Dia tidak bisa mengambil alih tubuhku, dan tidak ... Sekarang ini hanya aku, tidak ada Kulkan di sini."
Mata Obskura melebar, sebelumnya dia juga sudah menyadari namun Obskura hanya ingin memastikan perkiraannya. "Jadi, ternyata di dalam tubuhmu ... Ada dia?."
Arya mengernyit keheranan. Sekarang Obskura tadi Amia. Kenapa Roh Air dan bahkan Dewa sangat enggan menyebut namanya.
"Kenapa kalian tidak mau menyebut namanya?"
"Ah, kalian manusia memang sangat tidak sopan! Aku sudah katakan padamu sebelumnya, ada beberapa rahasia di Dunia yang bahkan kami para Dewa sekalipun tidak mampu mengungkapnya."
Arya mengganguk mengerti. Bagaimana cara Amia sebelumnya, Obskura juga pasti punya alasan yang sama untuk takut menyebut nama Kulkan. Arya sendiri sedikit tau tentang itu.
"Baiklah Kek, katakan padaku apa yang terjadi sebelum aku pingsan. Apakah kakek membuka segel bukit dan menyelamatkanku?."
"Hahahahaha! Menyelamatkanmu? Jangan bercanda! Dengan kekuatan itu, justru Krama dan Rewanda sangat beruntung masih hidup saat ini!."
"Hah? Maksud Kakek?"
Obskura menghentikan tawanya. 'Benarkah anak ini tidak mengingatnya?'
"Hmm ... Arya kau tidak mengingatnya?"
Arya menggeleng meyakinkan Obskura.
Obskura menarik nafas dalam. Ini lebih berbahaya daripada apa yang dia duga. Kebangkitan makhluk terkuat ini akan menjadi sumber malapetaka di dunia bahkan hingga ke langit.
"Arya, aku sudah mempelajari tubuhmu, sebelumnya aku mencoba kembali ke langit. Di sana, aku menemukan beberapa petunjuk."
Arya mengangguk. "Jadi, bisakah tubuhku disembuhkan? Aku ingin hidup layaknya manusia normal" Kata Arya bersemangat.
Obskura heran dengan pertanyaan anak muda di depannya ini "Sembuh?! ... Normal? Ide darimana itu?."
"Bukankah kakek ingin menyembuhkanku, agar aku tetap bisa hidup?".Tanya Arya ragu.
"Haaaaah... Arya tubuhmu bukan sebuah penyakit dan tidak ada obat untuk itu dan soal normal, tidak ada tubuh yang normal di dunia ini."
Arya terdiam mendengar perkataan Obskura. Namun, dia tetap penasaran dengan petunjuk yang dikatakan Obskura sebelumnya "Jadi, apa petunjuk yang kakek dapatkan?."
"Oh soal itu, sebentar ... "
Obskura lalu membuat lingkaran di udara dan mengeluarkan tumpukan kitab lalu meletakkan semuanya di atas meja.
Melihat banyaknya kitab yang ada di depannya, Arya sedikit bersemangat, sudah delapan tahun dia tidak membaca. Hal yang dulu sangat di gemarinya.
"Ini semua untukku?"
"Ya, aku membawa semuanya untuk kau pelajari." kata Obskura.
"Apakah semua ini mengandung petunjuk menyangkut tubuhku?" Arya mencoba membuka salah satu Kitab tersebut.
"Hmm... Sebenarnya tidak ada yang langsung menyangkut tubuhmu. Tapi, semua kitab ini akan berguna bagi tubuhmu dan ... "
Obskura tampak ragu untuk mengatakannya namun hal itu segera di ketahui Arya.
"Dan apa? ... Kek, ... Katakan saja padaku!"
"Arya, aku yakin kau manusia yang baik. Kedepan, apapun yang terjadi, berjanjilah untuk selalu menjadi manusia yang baik."
Arya langsung mengangguk dan menyetujuinya "Baiklah kek, aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin."
"Sukurlah, dengar Arya ... Tubuhmu ini bisa dikatakan tubuh Jenis Matra."
"Matra? kerutan langsung terbentuk di kening Arya "Apa itu Matra?"
"Bagini, berbeda denga Tubuh Spasial, kau memiliki keadaan yang jauh lebih unik. Aku, ... Hmm ... Bahkan di dunia ini aku rasa tidak ada yang tau pasti tentang rahasia tubuhmu. Tapi, dari yang sudah aku pelajari dalam delapan tahun ini adalah... "
Obskura menjelaskan panjang lebar tentang tubuh Arya, memang penjelasan Obskura tidak begitu memuaskan karna memang sebagiannya adalah asumsi Obskura. Namun, kata yang sama di sebut Obskura berulang kali dalam menjelaskan berbagai macam hal, dan kata-kata yang diulangnya tersebut adalah kata, Dimensi.
"Jadi, untuk beberapa waktu kedepan, aku akan mengajarimu beberapa hal yang mungkin bisa bermanfaat padamu di masa depan." Pangkas Obskura setelah menyelesaikan penjelasannya.
"Baiklah, Kek. Terimakasih " kata Arya.
"Sekarang, ada hal lain yang harus kau selesaikan"
"Hah? Hal yang harus aku selesaikan?"
"Ya, kita harus kembali ke tengah hutan, dimana aku pertama kali membawamu kesana untuk latihan!"
Obskura sekali lagi membawa Arya ke hutan. Arya merasakan de javu namun dengan beberapa perbedaan dibandingkan delapan tahun yang lalu saat pertama kali dirinya dibawa Obskura ke hutan ini.
Selama perjalanan mereka menelusuri hutan kali ini, Arya merasakan suasana hutan begitu sepi. Bahkan suara jangkrik dan kicau burungpun tak didengarnya. Berbeda sekali denga masa tujuh tahun yang dihabiskannya di hutan ini sebelumnya.
"Kenapa sepi sekali? Apa yang terjadi?" tanya Arya keheranan.
"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi."
Mereka terus berjalan dan akhirnya sampai pada air terjun tersebut.
Di sana Arya di tunggu dengan sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seluruh penghuni hutan ini berkumpul seolah menunggu kedatangan mereka.
Kini, di depan Arya dan Obskura telah menunggu seekor kera dan seekor anjing. Itu membuat Arya sedikit heran. Seolah anjing kecil dan kera ini terlihat sangat Akrab baginya. Namun, kedua binatang ini hanya menunduk saat kedatangannya.
Arya menatap kesekeliling area yang sudah dipenuhi semua jenis binatang yang ada di seluruh hutan tersebut. Terlepas dari jumlah binatang-binatang di sana yang sangat banyak itu, tak satupun Arya melihat kehadiran siluman.
"Kemana para siluman, juga ... Dimana Rewanda dan Krama?."
Obskura tidak menjawab, dia hanya menghentikan langkahnya dan segera di ikuti oleh Arya. Namun, Obskura menggeleng dan menyuruh Arya maju kedepan.
Arya hanya mengikuti permintaan Obskura dan maju sedikit kedepan. Saat Arya menghentikan langkahnya, seluruh binatang-binatang itu berseru dan bersujud padanya.
"RAJA!"
Satu kata yang langsung menggema keseluruh penjuru hutan itu.
Arya terdiam sejenak karena terkejut dengan seruan serta sujudnya semua binatang itu padanya. Beberapa saat Arya kembali mendapatkan kesadarannya dari keterpanaan itu dan berbalik pada Obskura meminta penjelasan.
"Raja? ... Aku?"
Obskura hanya mengangguk dan tersenyum.
"Raja, maafkan kebodohan kami selama ini. Ilmu kami yang terbatas tidak mengetahui kehadiranmu." tiba-tiba anjing di depannya berbicara.
"Kau ... Apakah kau Krama? Dan kera ini ... Rewanda?." Tanya Arya pada keduanya.
"Ya, Raja ku, ini aku Rewanda, Maaf telah bersikap kurang ajar padamu selama ini." Kata kera itu.
"Aku Arya, bukan Raja kalian. Apa yang terjadi pada tubuh kalian semua?"
"Maaf, kami tidak berani."
Obskura mendekati Arya dan berbisik menjelaskan apa yang terjadi secara singkat. Bagaimanapun, di dunia binatang yang terkuatlah yang menjadi raja. Dan Arya telah menunjukkan kekuatannya yang sangat besar. Hingga membuat mereka takut menunjukkan wujud siluman mereka di depannya.
Obskura juga menyarankan Arya untuk memerintahkan Rewanda dan Krama kembali ke wujud semula mereka. Setelah itu, semua akan menjadi lebih mudah.
"Ehemmm... " Arya kini menjadi sedikit gugup. Tiba-tiba di daulat menjadi raja tentu saja dia tidak siap "Baiklah, Jika begitu ... Rewanda, Krama! Kembalilah ke wujud asli kalian dan perintahkan hal yang sama pada semuanya!" Kata Arya memberi titah pertamanya sebagai Raja Hutan Pegunungan Obskura.
"Baik!"
Jawab keduanya serempak. Setelah itu Krama dan Rewanda kembali ke wujud iblisnya dan memerintahkan semua yang ada di sana untuk melakukan hal yang sama atas titah Arya.
Sebagai Raja Hutan Pertama Pegunungan Obskura, Arya memerintahkan seluruh makhluk di sana untuk melanjutkan kehidupan mereka seperti biasanya. Karena, Arya juga tidak tau harus berbuat apa pada mereka.
Namun, bagi Rewanda dan Krama itu tidak berjalan dengan baik. Keduanya salah tingkah saat berada di dekat Arya. Bagaimanapun, selama tujuh tahun keduanya sudah ribuan kali menyebabkan Arya yang kini menjadi Raja mutlak mereka, hampir mengalami kematian.
Keduanya selalu terkejut saat Arya memanggil nama mereka. Takut jika Arya menyuruh mereka membunuh diri mereka masing-masing. Karena, Titah Raja adalah bersifat absolut bagi keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-06-10
1
Andry Lenny
wkwkwkwkwk tkt kena karma /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-02-13
0
Firapu Roki
jadi ingat xc vs chi yue
2023-01-03
1