Seseorang yang memakai jubah hitam tebal yang lusuh sedang menelusuri hutan di mana terakhir kali Arya berada.
Dengan ilmu yang dia kuasai, orang itu melintasi hutan dengan cara melompat antara dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lainnya.
Semakin dekat dengan ledakan Energi itu, dia melihat semakin banyak jasad siluman tergeletak di tanah tak benyawa.
Ledakan Energi yang menjulang sampai ke langit itu jugalah yang mengundangnya ke sini.
"Sial, Aku terlambat!" Gumamnya, dan semakin mempercepat langkahnya.
Meski sudah menggunakan kecepatan tertingginya. Tapi jarak yang di tempuhnya untuk sampai ke hutan ini lebih dari sekitar seratus dua puluh kilometer dari tempatnya. Walaupun menguasai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, butuh setidaknya dua puluh menit hingga dia mencapai hutan ini.
Tak berapa lama berselang, sampailah dia di area pusat ledakan. Di sana, pemandangan yang sangat mengerikan menantinya. Dia melihat banyak mayat manusia terbaring dengan semua titik cara dan pembuluh darah yang sudah rusak dan pecah.
Melihat itu, dia yakin tidak ada satupun dari orang-orang ini yang selamat. Wajah penuh penyesalan terukir di wajahnya.
"Lagi-lagi aku gagal!" gumamnya lirih.
Dia berjalan memperhatikan keadaan, mencoba mempelajari apa yang terjadi. Tampak bekas perkelahian terjadi sebelum ledakan itu. Setelah memahami situasinya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hal seperti ini sudah dia saksikan puluhan kali.
Saat berjalan semakin dekat, matanya melebar. Dia merasakan hawa kehidupan yang sangat tipis masih memancar dari salah satu jasad di sana. Segera dia mendekat.
"Anak ini, ... Bagaimana dia masih bisa hidup?!"
Menyadari itu, dia memusatkan tenaga dalam ke tangan untuk memberikan pertolongan pada tubuh anak kecil itu. Namun, saat meletakkan tangannya pada dada kiri anak itu, dia merasakan usahanya sia-sia. Tenaga dalamnya tidak berpengaruh sedikit pun. Itu membuatnya heran.
"Apa yang terjadi?!"
Tidak jauh dari posisi nya, dia mendengar kedatangan dua sosok yang tadi dia tinggalkan di belakang. Kini mereka semakin mendekat. Keduanya melihat keadaan sekitar persis seperti apa yang dia lakukan sebelumnya.
"Guru, apa yang terjadi? "
"Sama seperti sebelumnya, salah satu pihak dari mereka pasti ingin memanfaatkan tubuh seperti ini." Jawabnya sambil mencoba sekali lagi mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyelamatkan tubuh kecil yang kini di pangkuannya. Namun, tetap gagal.
"Anak ini masih hidup?" tanya sosok satu lagi yang baru saja melompat dari atas pohon.
"Ya, dia masih hidup ... "
"Tapi, bagaimana bisa?"
Orang itu berfikir sejenak, ini memang sangat aneh. Ledakan seperti ini biasanya sudah membuat tubuh seseorang hancur. Namun, tubuh kecil ini mampu bertahan dan masih hidup.
"Rewanda, Krama... Kumpulkan semua Inti Energi yang tersebar di hutan ini. Aku akan membawanya pulang. Aku rasa kita masih bisa menyelamatkannya! "
"Baik!"
"Baik!"
Jawab mereka serempak dan langsung berpencar mengumpulkan Inti Energi yang tersebar di hutan dari semua siluman yang mati karena peristiwa ini.
Orang itu segera menyelimuti dan mengangkat tubuh kecil yang sudah di ambang kematian itu sebelum membawanya pergi, kembali ketempatnya.
***
Arya berusaha membuka matanya yang berat. Barusaja sedikit kelopak matanya terangkat, sebuah cahaya silau langsung menyambutnya. Iya kembali memejamkan matanya.
Butuh beberapa kali usaha baginya untuk bisa membuka matanya kembali secara utuh, Setelah dia mendapati kesadarannya yang sebelumnya menghilang.
Saat telah berhasil membuka mata, Arya dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang sangat asing. Di depannya, ada sebuah gerbang raksasa berjarak puluhan meter melayang di udara dari tempat dia berada. Gerbang megah itu bersinar terang.
Arya merasa heran, kenapa dia bisa berada di tempat ini. Dia mencoba mengingat kembali hal terakhir yang terjadi saat sebelum dia kehilangan ke sadarannya.
Berbagai macam ingatan dalam sekejap melintas di dalam kepala. Dia mengingat bagaimana Natungga Ayahnya dan Ki Cokro mati. Bayangan tentang Ibunya dan adiknya dihujani ratusan anak panah, dan terakhir, bayangan Arsa kakaknya terbakar oleh jurus pengendalian api dari sosok yang dia ketahui bernama Wiratama. Rasa sedih langsung memenuhi hatinya.
Senyum Wiratama juga terlintas di ingatannya, senyum dari orang yang bertanggung jawab atas kematian seluruh anggota keluarganya. Kemudian rasa marah dan dendam menambah rasa sedih yang dia rasakan. Namun, hanya sampai di sana hal terakhir yang mampu dia ingat.
'Apakah aku juga sudah mati?'
Tentu saja Arya berfikir seperti itu, karena tidak ada rasa belas kasihan yang ditunjukkan oleh Wiratama dan orang-orang yang ternyata mengejar keluarganya nya itu.
Melihat yang lainnya sudah kehilangan nyawa mereka, walaupun Arya tidak tau tepatnya bagaimana, Arya yakin Wiratama pasti juga sudah membunuhnya.
Arya kembali menatap gerbang di depannya. Dia berfikir mungkin ini gerbang ke alam setelah kematian. setelah ini, mungkin dia akan berkumpul kembali dengan keluarganya. Arya berniat melangkahkan kakinya mendekat pada gerbang itu.
Saat pertama kakinya hendak melangkah, Arya tersadar bahwa dia tidak sedang menginjak sesuatu. Di bawahnya hanya ada kehampaan. Dia tersadar bahwa dia tidak sedang berdiri melainkan melayang.
Arya kembali memperhatikan gerbang itu. Kini gerbang itu semakin besar. Arya tidak tau apakah gerbang itu sedang mendekat atau tubuhnya yang sedang mendekati gerbang tersebut. Dia sama sekali tidak bisa membedakannya.
Saat sudah cukup dekat, Arya mencoba menyentuhnya. Namun saat sebelum tangannya berhasil menggapai gerbang itu, kedua pintu di depannya itu segera terbuka. Cahaya yang menyilaukan menyeruak sehingga Arya harus menutup matanya sekali lagi dibantu salah satu lengannya.
Tak lama, Arya mengintip dari sebalik lengan. Pemandangan mengerikan terhampar di depan matanya. Kini dia yakin dia sedang berdiri di atas tepi jurang yang sanga tinggi. Hanya saja, di depannya sejauh mata memandang hanya ada lembah di penuhi bebatuan hitam dan aliran sungai-sungai lahar yang merah menyala. Saat dia menatap ke atas, langit di penuhi oleh guntur dan awan hitam. Arya berbalik dan menyadari Gerbang yang membawanya kesini tadi sudah menghilang.
"Hahaahaha!"
Arya tiba-tiba dikejutkan oleh suara tawa yang menggelegar di udara. Suara yang memenuhi segala penjuru itu sangat keras hingga rasanya bisa meledakkan jantung dan menghancurkan gendang telinganya.
Arya menunduk dan menutupi kedua telinga sambil mencari asal suara tersebut. Namun, matanya segera melebar saat sebuah siluet besar muncul di balik awan hitam di langit.
Sebuah kepala naga sebesar gunung menampakkan dari sebalik awan. Matanya langsung menatap tajam ke arah Arya.
"Arangga! Akhirnya ... Kau menepati janjimu!"
Arya semakin terkejut karna makhluk itu bisa berbicara. Arya hanya terdiam dan mematung di tempatnya berdiri. Ingin sekali rasanya dia lari. Tapi bagaimana cara kabur dari makhluk sebesar ini.
Naga itu terdiam sejenak. Seolah menunggu tanggapan Arya. Namun, Arya sama sekali tidak tau apa yang harus dia ucapkan.
"Tubuhmu ... Apa yang terjadi dengan tubuhmu?" tiba-tiba Naga itu bertanya.
Meski itu bukan tawa, tapi suaranya tetap besar dan menggema hingga menggetarkan tanah.
Arya yang awalnya mematung tersentak karena suara Naga itu, kemudian reflek melihat tubuhnya sendiri. Dia mencari-cari apa yang salah dengan tubuhnya. Bahkan dia sampai meraba-raba tubuhnya seperti mencari sesuatu. Namun, dia tidak menyadari apapun.
"Dari yang kuingat, Kau terlihat sedikit lebih kecil!"
Arya langsung berhenti. Dia menyadari bahwa Naga ini salah mengenalinya. Naga ini pasti menyangka bahwa dia adalah orang lain yang namanya tadi dia sebut, Arangga.
Arya mencoba memberanikan dirinya untuk menjawab. " A-aku ... Bu-bukan Arangga! " katanya terbata.
Naga itu seolah mengernyit keheranan mendengar jawaban Arya. Tidak mungkin dia salah mengenali orang yang telah mengurungnya di sini.
" Kau ... Ingin membodohiku? "
" Ti-tidak ... Na-nama k-ku, Arya! " jawab Arya mencoba meyakinkan sang Naga.
" Hahahahah! ... Aku tidak peduli! Sekarang kau sudah disini. Hanya dengan tubuhmu aku bisa keluar. Sekarang, bersiaplah! " setelah mengatakan itu, Naga tersebut segera membalikkan kepalanya.
Satu kibasan dari ekornya, mampu menyapu sebagian besar awan yang menutup langit. Tak lama seluruh wujudnya terlihat.
Mata Arya terbelalak. Di angkasa, Arya melihat makhluk yang luar biasa besarnya sedang melayang di udara. Dari gerakannya, Arya yakin makhluk itu seperti akan melakukan sesuatu. Apapun itu, Arya menjadi cemas.
Seluruh tubuh Naga itu kini mulai mengeluarkan cahaya. Arya memperhatikan dengan rasa takut memikirkan yang akan di lakukan Naga itu padanya.
Tak lama, seluruh tubuh Naga itu sudah sepenuhnya menyala berwarna emas. Arya seolah sedang melihat matahari dari dekat. Namun cahaya yang di pancarkan Naga tersebut tidak menyakitkan matanya.
Kini, Arya mulai merasakan tubuhnya juga mengeluarkan cahaya yang sama. Dan tak lama, Arya melihat tubuh Naga itu sudah berubah menjadi bola cahaya.
"Arangga! ... Aku akan mengambil alih tubuhmu! Hahahaha!"
Setelah mendengar itu, Arya melihat bola cahaya itu kini melesat dengan cepat ke Arahnya. Namun semakin dekat cahaya itu semakin mengecil ukurannya. Arya yang cemas dan tidak tau harus berbuat apa, hanya bisa pasrah menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Arya bisa merasakan sesuatu telah menghantam dadanya. Namun, rasanya tidak begitu menyakitkan. Arya segera membuka matanya, heran.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya sambil mengelus dadanya.
Tak lama, rasa yang mula-mula hangat menjalar memenuhi tubuhnya. Namun, lama kelamaan rasa itu menjadi panas. Arya mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Rasa sakit itu semakin parah.
Arya terjatuh dari tempat dia berdiri. Arya mencoba menahan rasa sakit yang kini mulai menyiksanya. Matanya terpejam, tubuhnya berguling-guling dan sesekali mengejang melawan rasa sakit itu. Seluruh organ dalamnya terasa terbakar. Saking sakitnya, Arya berharap bisa mati secepatnya.
Namun bagaimana bisa orang yang sudah mati mengalami kematian lagi?, Arya putus asa dengan pemikiran yang barusaja melintas di kepalanya.
Kejadian yang menyiksanya itu berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya rasa sakit itu kian berkurang dan tak lama setelahnya, sakit itu mulai menghilang.
Setelah rasa sakit itu benar-benar menghilang, dengan tubuh yang terasa sangat lemah dan lelah, Arya kembali mencoba membuka matanya. Namun, hal aneh kembali terjadi. Saat matanya sepenuhnya terbuka, dia melihat sosok laki-laki tua sedang duduk di sebelah dan menatapnya.
"Akhirnya ... Kau sadar juga!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
,next
2024-06-08
1
Arull My one
cerita dewasa yang mantap,... lanjut author
2024-01-22
1
Abigail Chavali
waoww Amazinggggggg thor
2022-10-08
2