"Wiratama, kenapa kau memilih jalan ini?"
"Hahahaha! Setelah semua ini kau masih menanyakan itu, padaku?!" Wiratama tertawa sombong mendengar pertanyaan dari Natungga, lalu menunjuk ke arah mereka "Tentu saja alasannya adalah anak yang ada di belakangmu itu!"
"Bajingan! Aku akan membunuhmu hari ini ... Pengkhianat!" Ki Cokro langsung berlari menerjang Wiratama.
Mereka langsung bertukar serangan dengan tangan kosong. Setelah beberapa saat mereka memulai pertarungan yang awalnya terlihat berimbang, Wiratama kini bergerak semakin cepat hingga membuat Ki Cokro kewalahan.
Akhirnya satu serangan dari Wiratama berhasil mengenai dada Ki Cokro dan langsung membuat ki Cokro mundur beberapa langkah.
Wiratama menikmati keterkejutan Ki Cokro atas serangannya. "Maafkan aku guru, Aku tidak lagi selemah dulu. Kau bukan lagi tandingan ku!" katanya dengan tatapan meremehkan Ki Cokro.
Natungga melihat peningkatan kekuatan Wiratama yang sangat cepat. sekitar sepuluh tahun yang lalu, Wiratama tidak mampu mengimbangi kecepatan Ki Cokro yang sebenarnya gurunya ini.
Natungga langsung mengambil kuda-kuda. "Kalau begitu, Aku yang akan membunuhmu!"
Setelah mengatakan itu, dua bola api sudah menyala di atas kedua telapak tangannya. Saat itu juga Wiratama mengeluarkan jurus yang sama. Namun, Natungga lebih dahulu menembakkan bola api itu padanya.
Wiratama melompat tinggi untuk menghindari serangan Natungga, kemudian melepaskan serangan yang sama. Namun, serangan itu dengan mudah dihalau oleh teknik pengendalian udara Natungga. Api Wirata padam tak bersisa.
Saat Wiratama hampir mendaratkan kakinya di tanah, Natungga langsung menembakkan bola api lagi padanya. Kali ini Wiratama tidak memiliki kesempatan untuk mengelak. Hampir saja bola api itu mengenainya jika tidak ada seseorang yang baru saja tiba langsung membentenginya dengan pagar tanah yang muncul tepat di depannya.
Ki Cokro dan Natungga terkejut dengan kedatangan orang yang bisa mengendalikan tanah tersebut. Meski sebenarnya mereka juga sudah merasakan keberadaan pendekar lain yang sedang mendekat, tapi mereka tidak menyangka yang akan muncul adalah orang ini.
"Cih ... Seperti dugaanku, pasti kau yang meracuni muridku!" Ki Cokro menatap orang itu tajam.
Orang itu menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan tuduhan Ki Cokro padanya. "Cokropati, ketahuilah! Muridmu ini yang datang kepadaku dan menceritakan semuanya, aku hanya membantunya saja" Setelah menjawab, orang itu melipat tangannya di dada seolah meremehkan keduanya.
Natungga juga merasa kesal dengan orang barusaja tiba ini, sudah beberapa kali Natungga mencoba membunuhnya di masa lalu namun selalu gagal karena orang ini sangat licik.
"Baguslah kalian berdua disini. Aku akan membunuh kalian berdua hari ini!"
Natungga langsung mengambil kuda-kuda pengendalian api. Kali ini teknik yang dia ambil sedikit berbeda. Tangannya mengeluarkan hawa yang sangat panas hingga api menyala seperti membakar tapak tangannya.
Wiratama membesarkan matanya terkejut melihat jurus yang dikeluarkan oleh Natungga. "Tinju Api" Gumamnya.
"Hahahah! ... Sayang sekali, Natungga! Tentu saja kami tidak sebodoh itu. Aku sadar dengan siapa kami berhadapan. Hanya orang tolol yang akan menghadapi orang terkuat di Basaka secara langsung" Ucap orang itu, bangga.
Ki Cokro juga tidak yakin bahwa mereka datang hanya berdua. Karna baik Ki Cokro dan Natungga juga sudah merasakan hawa keberadaan pendekar lainnya, walaupun pancaran energi terasa lemah, tapi jumlah pendekar-pendekar itu sangat banyak.
"Kudra, kau memang pengecut!" Ejek Ki Cokro.
"Omong kosong! ... Ini bukan pengecut Cokropati. Ini yang dinamakan sebuah taktik!" Kudra kembali tertawa bangga.
Tak lama setelah itu, sekitar 20 orang pendekar barusaja tiba. Mereka langsung mengepung semua orang di sana.
Ki Cokro langsung menatap Natungga. Tatapan itu dijawab dengan anggukan oleh Natungga. Cokropati langsung mendekat pada Arsa.
"Arsa! apapun yang terjadi, lindungi Arya adikmu, walaupun kau harus mengorbankan nyawamu, mengerti?!"
Arya yang mendengar itu, tentu saja terkejut. kenapa hanya dirinya? Di sini masih ada Alya dan Ibunya.
"Baik Ki, percayakan padaku" jawab Arsa disertai anggukan mengerti apa yang di sampaikan Ki Cokro padanya.
Natungga dan Cokropati menyadari posisi mereka sangat tidak diuntungkan saat ini. walaupun mereka berdua cukup kuat, tapi bertarung sambil melindungi orang lain adalah sesuatu yang sulit dilakukan.
Apalagi saat ini mereka sedang berhadapan dengan salah satu tetua dari sekte tanah hitam. Sekte Aliran Hitam yang sudah puluhan tahun meresahkan Kota Basaka dan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Tingkat kemampuannya kini hampir mendekati Cokropati yang merupakan pendekar Ahli tingkat satu. Dengan pancaran tenaga dalamnya, Setidaknya Kudra juga baru mencapai level pendekar Ahli tingkat satu awal.
Tidak hanya itu, mereka juga merasakan bahwa semua pendekar dari sekte tanah hitam yang baru saja datang ini setidaknya memiliki kemampuan pendekar dasar tingkat enam. Dan bisa dipastikan beberapa dari mereka juga pengendali elemen tanah, walaupun sepertinya masih berada di level terendah.
Namun sebagai pengendali api, pengendali elemen tanah adalah elemen yang sulit di hadapi oleh pengendali api. Butuh pengalaman yang banyak dan taktik yang cerdas untuk mengalahkan mereka. Tapi jumlah mereka yang banyak ini sepertinya akan membuat itu semakin sulit.
Natungga langsung menyerang Wiratama dan Kudra. Mereka bertiga langsung bertukar serangan. Tinju api bisa langsung menghancurkan perisai tanah yang diciptakan oleh Kudra. Itu bukan hal yang sulit baginya.
Natungga sendiri memang berada di level berbeda. Dengan membuka lebih dari 800 titik cakra di tubuhnya disertai tulang baja dan otot besi, Natungga berada di level pendekar Ahli tingkat tiga.
Namun, Natungga juga harus menangkis beberapa serangan bola api yang di lepaskan Wiratama padanya.
Sementara itu, di belakang mereka, Cokropati membangun benteng kayu mengelilingi Arsa, Arya, Ibu dan adik mereka Alya.
Dinding tersebut mampu menahan serangan dari para pengendali tanah. Cokropati melawan pendekar yang berjumlah lebih dari 20 orang itu seorang diri.
Cokropati memang bisa mengendalikan dua elemen seperti Natungga, hanya saja kedua elemen yang bisa dia kendalikan tidak saling mendukung untuk melakukan serangan bersamaan.
Cokropati dan Natungga memang sudah sering bertempur bersama. Jadi kerja sama antara keduanya tidak perlu diragukan lagi.
Natungga bisa mendesak Kudra dan Wiratama, juga memberikan mereka beberapa luka. Walaupun Natungga juga mendapatkan beberapa pukulan tapi itu tidak terlalu fatal.
Pertarungan ini bisa mereka menangkan. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Natungga sebelum suara teriakan dari Cokropati membuyarkan konsentrasi nya.
"Arrrgghh!"
Natungga menoleh pada Cokropati. Beberapa anak panah sudah berhasil menembus tubuhnya.
Mata Natungga melebar melihat rekannya dikalahkan dengan cara seperti itu. Natungga baru menyadari beberapa pemanah juga sudah dipersiapkan untuk menyerang mereka.
Perhatian Natungga teralihkan. Kudra dan Wiratama tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lantas memberikan pukulan terbaik mereka pada Natungga. Seketika Natungga terpental sekitar beberapa meter. Luka yang dia terima saat ini cukup serius.
Wiratama sudah berada di level pendekar ahli tingkat dua, baik Wiratama maupun Kudra juga sudah mememiliki tulang baja meski masih dibalut oleh otot perunggu. serangan keduanya yang telak tentu saja berhasil melukai Natungga.
Ratusan anak panah kini juga menghujam pada Natungga, namun semua itu berhasil ditangkis olehnya. Dengan pengendalian elemen anginnya, Natungga membalikkan anak panah itu pada pendekar yang bersembunyi di atas pohon. Serangan itu berhasil mengenai sebagian dari mereka dan membuat mereka terjatuh ke tanah.
Akan tetapi saat Natungga disibukkan oleh serangan tersebut, Kudra mengambil kuda-kuda bersiap melepaskan salah satu jurus terkuatnya.
"Penjara Hitam!"
Seketika di sekitar Natungga muncul lapisan batu hitam yang dengan cepat menyelubungi dirinya. Natungga pun terkurung di dalamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Ali B.U
next.
2024-06-08
1
Arull My one
lanjut
2024-01-22
1
ZERO
nyimak
2024-01-07
1