20

Kini ia sedang duduk dan memperhatikan dokumen yang sudah ia kumpulkan. Wajahnya begitu serius membaca setiap kalimat untuk mencari informasi, ia mendengus kesal sembari mengepalkan tangan lalu membuang dokumen tersebut.

"Henrick Van Roosevelt, kau harus membayar segalanya!" ujarnya.

Ia mengambil segelas bir dan meneguknya.

"Tok-tok"

Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, ia segera beranjak dari kursinya untuk membuka pintu.

"Apa yang dirimu lakukan? Apakah kau sedang sibuk?" Tanya temannya.

"Kau benar, Aku sangat sibuk sekali" sambil hendak menutup pintu dengan wajahnya yang dingin.

"Tunggu Larry ! Aku punya berita penting untukmu" Pintu itu tertahan oleh tangan temannya.

"Cepat katakan atau sebaiknya kau segera pergi" ujar Larry.

"aku mendapatkannya dari Rotterdam" temannya menyodorkan sebuah surat dibalut amplop cokelat.

"Siapa pengirimnya ?" Tanya Larry.

"Kau pasti akan tahu, buka saja suratnya" jawab temannya.

"Baiklah kawan, aku harus pergi dahulu. Sampai jumpa" sembari menepuk pundak larry dan pergi menggunakan mobil jeep.

\*\*\*\*\*\*

Henrick melamun disaat ia menatap sebuah foto dirinya dengan ibu dan ayahnya, ia merasakan kerinduan yang teramat dalam. Beberapa tahun lalu, ayahnya mendaftarkan dirinya untuk menjadi seorang tentara walaupun itu bukan kehendaknya. Ia berpikir, sebagai anak yang menghormati orang tuanya mana mungkin ia menolak keinginan ayahnya itu, terlebih lagi ayahnya juga memiliki posisi penting pada militer.

"Aku sangat merindukan kalian, tidakkah kalian merindukan diriku juga?" ujarnya dengan wajah yang murung.

Mbok Karti hanya tertegun melihat majikannya bersedih, dirinya merasa iba pada Henrick namun tidak bisa berbuat apapun. Terkadang Ingin sekali ia mencoba dekat pada majikannya namun mbok Karti merasa tidak pantas apabila bertindak lancang pada seorang Meneer karena perbedaan kasta antara kaum Belanda dan Pribumi.

"Permisi tuan, maaf apabila mengganggu" sembari mengetuk pintu secara perlahan.

"Saya pulang dahulu, semua sudah saya bersihkan”

"Tunggu sebentar, bisakah kau berikan surat ini pada Sita?" Tanya Henrick.

"Tentu saja Tuan, saya akan memberikannya" mbok Karti mengambil surat yang disodorkan Henrick untuknya.

"Hati-hati mbok, sepertinya hujan akan turun" ujar Henrick.

"Terima kasih atas perhatiannya Tuan" ujar mbok Karti tersenyun lalu pergi mengambil sepeda ontelnya yang tampak sudah menunggunya.

Wanita paruh baya tersebut mengayuh sepeda ontelnya dengan sekuat tenaga. Bisa dibilang di umurnya yang tidak cukup muda dirinya tetap bekerja begitu keras untuk menghidupi anak semata wayangnya.

                            *****

"Kring kring" suara bel mbok Karti.

Dirinya turun dari sepeda ontelnya dan tidak lupa memasangkan dongkrak. Ia memicingkan matanya sambil memperhatikan sekitarnya, tidak ada sambutan dari Sita dan Dewi. Rintik hujan mulai deras ditemani oleh gemuruh, mbok Karti segera masuk ke rumah sebelum dirinya basah kuyup.

Bahkan didalam rumah tampak gelap akibat mendung, segera mbok Karti menyalakan lampu petromax sebagai penerangan.

"Selamat hari ibu !" Ujar Sita yang membuat mbok Karti terkejut.

“Ada apa ini?” Tanya mbok Karti.

Dewi dan Sita segera memeluk mbok Karti dengan erat.

"Aku sangat menyayangi kalian berdua" ujar Sita.

"Kita memasak makanan untukmu mbok" Dewi membawa mbok karti menuju dapur.

Di atas meja sudah tersedia pepes ikan serta nasi hangat dalam bakul yang sudah siap untuk disantap terlebih lagi cuaca yang dingin begitu mendukung

"Apakah Kalian semua yang memasak ?" Tanya mbok Karti seolah tidak percaya.

"Tentu saja" jawab mereka berdua.

“Terima kasih nak” mbok Karti memeluk mereka.

“Sama-sama Mbok, aku bahkan tidak bisa membayangkan jika tidak bertemu dengan kalian disini” Sita tersenyum dengan sorot mata yang tampak sangat bahagia.

“Aku juga senang bertemu denganmu, kau seperti saudariku sendiri sehingga aku tidak merasa kesepian” ungkapan yang dilontarkan Dewi membuat Sita bersyukur dapat menjadi orang yang dibutuhkan.

"Ayo cepat dimakan nanti keburu dingin" Sita mengambil sendok kayu dan membagikan piring untuk digunakan.

Kemudian mereka makan bersama, Dewi tampak lahap menyantap pepes ikan yang dibuat Sita, dan begitu juga dengan mbok karti yang menikmatinya . Sita yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa tersenyum, ia banyak belajar dari mereka tentang bagaimana rasa bersyukur dalam hidup penuh kesederhanaan.

"Kenapa ada hari ibu?" Tanya Dewi sembari mengunyah.

"Kau tahu dewi ? Seorang ibu adalah malaikat bagi anaknya, ia mampu memberikan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk anaknya" jawab Sita

"Itu berarti perjuangan seorang ibu sungguh berat bukan? Dan karena itu sebabnya dicetuskan hari ibu" ujar Dewi.

"Iya benar sekali" Sita tersenyum pada Dewi.

Selesai mereka makan bersama, dilanjutkan mbok Karti dan Sita untuk membereskan semuanya seperti mencuci piring dan menggulung tikar.

"Dewi, sebaiknya kau tidur saja. bukankah kau bilang dirimu mengantuk?" tanya Sita.

"Tapi aku ingin membantu kalian juga" ujar Dewi dengan nada yang sedikit meninggi.

"Sebaiknya kau tidur saja Dewi, semuanya biar aku yang kerjakan" Sita mencoba meyakinkan dewi untuk segera tidur.

"Benarkah Sita? Baiklah kalau begitu" jawab Dewi yang kemudian dirinya pergi menuju kamarnya.

Hujan yang lebat hingga angin kencang dan hanyalah cahaya remang dari lampu petromax yang membantu mereka. Mbok Karti terlihat telaten menyapu serta membersihkan sisa makanan di piring, sebenarnya mbok Karti tidak memiliki perabotan rumah tangga yang elok. Semua perabotan adalah pemberian dari Henrick untuk kebutuhan mereka, Henrick yang merasa tidak tega karena melihat mbok Karti makan beralaskan daun pisang lantas memberikan beberapa perabotan untuk mbok Karti seperti piring maupun gelas.

"Tuan muda memberikan surat untukmu" ujar mbok Karti.

Sita mengerutkan sedikit alisnya, ia merasa heran karena tidak pernah Henrick memberikannya surat sehingga ia berpikir bahwa terjadi sesuatu dengan pria londo tersebut.

"Ini surat apa mbok?" Tanya Sita.

"Mbok juga tidak tahu, Sita baca saja ya" jawab mbok karti.

Sita mengambil surat dari tangan mbok karti kemudian memasuki kamarnya. saat itu hujan tengah lebat, dirinya menyempatkan untuk menutup jendela sebelum ia membaca suratnya. Setelah memastikan semua jendela tertutup rapat, Sita segera membuka surat yang henrick berikan dengan hati-hati.

"Hai Dewi ku, apa kabar ?

Seharusnya aku tidak menanyakan kabarmu karena beberapa saat yang lalu kita sudah bertemu. Namun apa daya ? Aku tidak peduli sudah beberapa kali aku melihatmu tetap saja diriku seolah tidak bertemu denganmu bertahun- tahun. Aku terkadang merasa kesepian disini tanpamu Sita, aku berharap kau menemuiku walau sebentar saja.

Tertulis "Henrick”

Surat singkat itu membuat Sita tersenyum dan hatinya begitu terenyuh, ia merasa berhutang budi pada Henrick yang telah menolongnya dalam keadaan apapun, terlebih lagi saat Henrick melindunginya beberapa hari yang lalu. Sita sangat berhutang budi pada Henrick dan dirinya berjanji akan membalas semua kebaikan Henrick padanya .

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!