11

"Kita akan pergi kemana ?" Henrick mengajak Sita untuk mengunjungi rumah paman Albert.

"Aku akan mengajakmu ke rumah paman Albert yang merupakan teman ayahku" ujar Henrick.

Mereka akhirnya segera berangkat menuju kediaman paman Albert. Sita sedikit merasa canggung akibat yang terjadi saat di pesta, dan hari ini Henrick mengajaknya untuk bertemu seniornya yang membuat ingatan itu kembali.

\*\*\*\*\*\*\*

Jarak rumah Henrick dan paman Albert tidak begitu jauh sehingga memungkinkan sampai dalam waktu yang cukup singkat. Setelah mereka sampai disana, paman Albert dan Emma menyambut kedatangan mereka bahkan terlihat senyum sinis dari bibir Emma pada Sita.

"Aku sudah yakin bahwa kau akan datang" ujar paman Albert terkekeh.

paman Albert yang melihat kehadiran Sita lalu bertanya pada Henrick.

"Siapa dia? " tanya paman Albert.

"Perkenalkan dia adalah Sita, temanku" ujar Henrick.

"Kau sangat manis" puji paman Albert.

"Terima kasih meneer" jawab Sita.

Paman Albert mempersilahkan mereka duduk dan menyuruh emma membawakan teh untuk Henrick dan Sita.

"Bagimana dengan tugasmu Henrick?" Paman Albert mempertanyakan keamanan di Batavia.

"Sekarang masih terpantau aman, namun anda sudah tahu bukan? Bahwa Nippon sudah menginvasi sebagian asia tenggara" Henrick tampak begitu serius.

Sekilas Sita berpikir bahwa Henrick terlihat lebih mempesona apabila serius seperti ini.

"Aku ingin lebih perketat keamanan selema beberapa bulan kedepan" ujar paman Albert .

"Akan aku laksanakan" tegas Henrick.

Tidak berselang lama, Emma datang membawakan teh untuk mereka. Sita hanya memperhatikannya dan berpikir dari perawakan Emma sepertinya ia begitu digandrungi kaum adam, memiliki rambut pirang dan warna mata hazel serta kulit yang putih bersih.

"Jadi sejak kapan kalian saling mengenal ? Dan darimana asalmu?" Tanya Emma .

Dua pertanyaan sekaligus membuat Sita terlihat bingung untuk menjawabnya .

"Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu dan ia juga berasal dari batavia" jawab Henrick .

Spontan Sita menghela nafas namun tidak berhenti disitu, Emma sepertinya terlihat ingin memojokan Sita sehingga dirinya memberikan pertanyaan lagi pada Sita.

"Dimana kau mengenyam pendidikan?" Emma tahu bahwa jarang sekali ada pribumi yang bisa bersekolah sehingga ia yakin bahwa Sita tidak akan bisa menjawabnya.

"Sita adalah pelajar dari STOVIA" ujar Henrick.

Sontak Sita terkejut karena Henrick berbohong didepan Emma, lalu Emma hanya menatap sinis Sita.

"Maafkan aku nona emma tapi Sita sangat pemalu" ujar Henrick.

"Baiklah tidak apa-apa" Emma tersenyum pada Henrick.

Sita teringat bahwa hari ini, ia akan pergi ke rumah mbok Ayu. Sita berpikir bahwa dirinya merasa sungkan apabila  meninggalkan Henrick namun Sita sudah berjanji pada mbok Ayu untuk menjenguk Gendis sehingga sita memberanikan diri untuk berbicara.

"Saya harus pergi sekarang, mengingat bahwa saya ada janji" ujar Sita.

"Pergi kemana ? " tanya Henrick.

Sita berpikir bahwa tidak mungkin dirinya memberitahu tempat yang akan ia datangi, mungkin saja Henrick tidak akan membiarkannya.

"Bukankah tidak sopan apabila tamu pergi seperti itu ?" ketus Emma. paman Albert menatap Emma sembari menggelengkan kepalanya.

"Maafkan aku nona Emma dan paman Albert" sebenarnya Sita sudah geram pada Emma namun ia harus menahan emosinya hari ini

"Jangan dipikirkan ucapan Emma" ujar paman Albert.

Sita hanya mengangguk dan segera pergi, sekilas ia menatap Henrick namun sepertinya Henrick merasa sedikit curiga akibat Sita tidak menjawab pertanyaannya.

"Dasar inlander !" ujar Emma

Sita mencoba menghela nafas sedalam mungkin lalu melanjutkan langkahnya tanpa memikirkan ucapan Emma.

\*\*\*\*\*

Sita berjalan dengan tergesa - gesa guna memastikan dirinya tidak terlambat untuk menjenguk gendis hingga di tengah perjalanan, Sita menoleh kanan kiri karena dirinya merasakan seseorang mengikutinya. Ia kemudian berlari dengan cepat lalu sampai pada kediaman mbok Ayu.

"Tok tok "

Sita mengetuk pintu kayu tersebut dan mbok Ayu segera membukanya .

"bagaimana dengan Gendis ?” tanya Sita dengan khawatir .

"Gendis sedang tidur" jawab mbok Ayu.

"Syukurlah kalau begitu" ujar Sita.

"Silahkan duduk non, biar saya bawakan air"

"Tidak perlu mbok" Sita menolak tawaran mbok Ayu karena dirinya merasa sungkan.

"Jangan ditolak non, tunggu sebentar" ujar mbok Ayu.

Mbok Ayu akhirnya masuk ke dalam rumah untuk membawakan air namun tidak berselang lama kemudian terdengar teriakan mbok Ayu, Sita yang terkejut sontak segera berlari mencari mbok ayu.

"Mbok ada apa??!" Sita terlihat panik pada mbok Ayu

"Gendiss non" mbok Ayu memeluk cucunya dengan erat.

"Ada apa mbok??" Tanya Sita.

"Gendis sudah meninggal " ujar mbok Ayu dengan tangisan yang tidak bisa dibendung lagi tatapan kesedihan dan kasih sayang terlihat dari mata mbok Ayu.

"Apa?! Tidak mungkin" bagai petir di siang bolong , Sita begitu tidak percaya pada ucapan mbok Ayu dan segera memeriksa nadi dan karotis gendis, Sita menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya dari balik pintu, munculah Henrick yang tersadar melihat Sita menangis langsung memeluknya.

Sita yang terkejut melihat Henrick memeluk dirinya , sontak melepaskan pelukannya. Ia begitu kesal pada Henrick dan bangsanya yang sudah membuat penderitaan pada pribumi.

"Kenapa kau mengikutiku?!" Teriak Sita.

"Aku khawatir padamu" jawab Henrick.

"Lihat Henrick ! Karena ulah bangsamu, kau memisahkan seorang nenek dan cucunya !" ucapan sita meninggi yang membuat Henrick tidak bisa melawan.

"Sudah non, jangan" mbok Ayu melerai Sita walaupun dalam dirinya begitu sedih atas kepergian sang cucu.

"Astagfirullah Sita" ujar mbok karti yang entah datang darimana.

Sita pergi ke pelukan mbok Karti lalu menangis sejadi-jadinya.

"Kau lihat bukan? Bangsamu memisahkan pemukiman antara pribumi dan eropa lalu lihat sekarang? Banyak pribumi yang sakit akibat tinggal di lingkungan yang kumuh " ujar Sita .

Ucapan Sita seperti pisau yang menghujam Henrick.

"Sudah Sita, jangan seperti itu pada tuan muda" ujar mbok Karti.

"Yang dikatakan Sita memang benar mbok Karti , bangsaku memang kejam sepertiku " ujar Henrick .

"Pergilah Henrick " ujar Sita sembari menangis .

"Aku mohon Sita" pinta Henrick .

"Sekali lagi aku katakan tolong pergi" ujar Sita

Entah apa yang dipikirkan sita saat itu, dirinya merasa sangat kalut. Henrick yang pasrah akhirnya meninggalkan sita dalam wajah yang tenggelam dalam kesedihan.

Sore itu warga berkumpul lalu segera memakamkan gendis. Mbok Ayu yang tidak berdaya jatuh tersungkur, ia begitu rapuh akan kepergian cucu kesayangannya.

"Mbok Ayu yang sabar" lirih Sita sembari merangkul mbok Ayu.

"Sabar yo" ujar mbok Karti menghela nafasnya.

******

Akhirnya satu persatu warga pulang dari pemakaman termasuk Sita, mbok Ayu dan mbok Karti.

"Kamu tidak pulang ?" tanya mbok Karti.

"Tidak mbok, Sita mau disini temani mbok Ayu" ujar Sita.

"Kamu yakin? Apa tidak kasihan sama tuan muda ?" tanya mbok Karti.

"Aku tidak peduli mbok" jawab Sita.

"Dengar nak, semua yang terjadi di dunia adalah takdir dari yang maha kuasa. Tidak sepantasnya kamu menyalahkan seseorang. Kamu memang membenci wong londo akan tetapi tidak semua dari mereka bersikap jahat, sebagian adalah dari paksaan" ujar mbok Karti

Sita hanya terdiam dan mengangguk.

"Aku tetap tidak ingin pulang" Sita berujar dengan tatapan yang kosong.

"Baiklah, saya tidak akan memaksa non Sita" ujar mbok Karti.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!