"Mbok ? Sudah berapa lama bekerja pada Henrick? " Tanya Sita sambil memakan buah mangga yang telah dikupasnya.
Pagi itu Sita pergi ke rumah mbok Karti untuk sekedar berkunjung. Karena hari itu Henrick sedang sibuk maka dirinya tidak menemani Sita.
"Sudah sejak Tuan Muda datang kesini non" mbok Karti mencoba mengingat - ingat.
"Kala itu tahun 1937 Tuan Muda datang dan bertemu saya lalu mempekerjakan saya. Dirinya termasuk Londo yang baik" ujar mbok Karti .
"Berarti sudah lumayan lama" ujar Sita.
"Ya begitulah non"
"Mbok apa hari ini tidak ke pasar?" Tanya Sita.
"tidak non, tapi saya akan pergi ke rumah teman saya sebentar" jawab mbok Karti
"Apa aku boleh ikut ?" tanya Sita.
"Tentu saja non" jawab mbok karti.
Mereka pun menuju pemukiman yang agak jauh dari kampung tempat tinggal mbok Karti. Di pemukiman inilah sita melihat kenyataan pahit yang dialami oleh bangsanya sendiri , bahkan rumah dipemukiman ini sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal .
“Maaf jika membuat non lelah” mbok Karti merasa kasihan melihat Sita yang terengah-engah.
“Sudahlah, jangan pedulikan aku” Sita meyakinkan mbok Karti.
"Tunggu ya non, saya mau panggil teman saya" ujar mbok Karti.
Seorang wanita tua yang umurnya tidak jauh dari mbok karti , keluar dari gubuknya bahkan walaupun usianya tidak cukup muda namun dilihat dari cara berjalannya tetap masih sehat dibandingkan dengan nenek Sita di kampungnya.
"Ini aku bawakan singkong rebus" ujar mbok Karti.
"Jangan repot - repot, wong sampean juga nduwe anak” wanita tua itu kini merasa canggung menerima pemberian mbok Karti.
"Yowes rapopo ojo isin” ujar mbok Karti.
Perempuan itu kini melihat sita yang berdiri tersenyum malu sambil melihat mereka.
"Ini siapa ?"
"Sita, teman dari Meneer” ujar mbok Karti.
"Halo nona Sita, saya mbok Ayu" wanita itu memperkenalkan dirinya .
"Nggih mbok " ujar Sita.
"Maaf jika rumah saya hanya gubuk, silahkan duduk pasti nona lelah" ujar mbok Ayu.
"Justru tidak apa-apa mbok" ujar Sita.
"Gendis ayo keluar, enek tamu ki" panggil mbok Ayu.
“Nggih” munculah dari balik pintu seorang bocah dengan usia kurang lebih tujuh tahun.
Gendis adalah cucu satu-satunya bahkan orang yang hanya dimiliki mbok Ayu kini, dikarenakan anak dan menantunya telah meninggal dunia sehingga menitipkan cucunya.
"Ini Gendis, cucu saya" ujar mbok Ayu.
“Cantik sekali gendis” Sita memuji Gendis.
“Terima kasih” jawab Gendis sambil malu-malu.
Gendis memiliki warna mata yang hitam pekat serta kulit yang sawo matang, tubuhnya juga terlihat kurus, hal ini membuat Sita merasa iba.
Untunglah saat itu Sita membawa lima gulden yang diberikan Henrick sehingga ia dapat gunakan untuk membantu mbok Ayu.
"Ini ada sedikit rezeki buat mbok Ayu" ujar Sita.
"Tidak usah, jangan berlebihan" ujar mbok ayu.
"Jangan menolak mbok , ini juga untuk gendis " Sita mencoba meyakinkan mbok Ayu.
“Apa nona bersungguh-sungguh?” Mbok Ayu merasa ragu.
“Saya sangat bersungguh-sungguh dan senang hati apabila Mbok Ayu menerimanya” jawabnya.
"baiklah saya ambil, terima kasih"ujar mbok Ayu.
Sita senang bahwa mbok ayu dapat menerima pemberiannya. Dari kejauhan Sita melihat beberapa orang berseragam tentara yang membuat dirinya sedikit heran.
"Mbok ayu, kenapa ada orang - orang itu ?" Sita mengadahkan telunjuknya pada sekelompok tentara.
"Oh itu mereka sedang bermain dengan anak-anak kampung sini, biasanya mereka sehabis tugas memang seperti itu untuk menghilangkan penat" ujar mbok Ayu.
Ada salah satu dari mereka yang mendekat ke arah Sita, sontak ia terkejut melihat seseorang yang tidak asing dimatanya yaitu Larry.
"Hai nona " ujar Larry yang menyapa dengan lantang
Sita sama sekali tidak membalas sapanya dan memalingkan pandangannya karena dirinya sedikit geram atas ucapan Larry.
“Ah itu adalah temanku, tunggu sebentar” Sita meminta izin mbok Karti untuk berbicara kepada Larry.
Kemudian Sita datang menghampiri Larry, bahkan tentara lainnya mencoba menggoda mereka berdua.
“Dapatkan dia Larry!” Teriak salah satu tentara yang membuat sedikit kesal.
"Aku tahu kau masih marah padaku bukan? Aku minta maaf " ujar Larry.
Sita masih tidak bergeming dan enggan menatap Larry.
"Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi" ujar Larry.
Sita berpikir daripada dirinya dihantui oleh Larry sebaiknya ia memaafkan Larry.
"Aku terima maafmu, selesai bukan? " ujar Sita tegas.
"Benarkah nona? Dankjewel"
(Terima kasih)
Kemudian mbok Karti mengajak Sita untuk kembali pulang setelah berpamit pada mbok Ayu dan Gendis. Larry hanya menatap Sita yang tanpa pamit meninggalkan dirinya.
*****
"Mbok karti, apa londo itu selalu kesana ?" tanya Sita.
"Tidak juga non , jika mereka sedang sibuk biasanya tidak datang" ujar mbok Karti sembari memotong seledri di dapur.
“Apakah nona merasa terganggu dengan mereka?”
“Ah tidak mbok”
Sita melirik jam dinding yang berada tidak jauh dari ruang tamu, jam itu membunyikan loncengnya menunjukan pukul 18.00, Dirinya terus menerus menunggu kedatangan Henrick namun seperti yang diucapkan henrick tadi pagi bahwa dirinya akan pulang mungkin larut malam.
Seperti biasa untuk menghabiskan waktunya, Sita membaca buku milik henrick yang tertata rapi di raknya. Henrick sangat menyukai buku pengetahuan seperti perjalanan Colombus ataupun Max Havelaar dari Edward Douwes Dekker. Namun sepertinya Sita menemukan sebuah novel yang menarik perhatiannya yaitu romansa diantara buku pengetahuan yang lain, berjudul "Odysseus dan Penelope" tidak dirinya sangka, Henrick menyukai kisah klasik seperti ini sedangkan henrick sepertinya tidak terlalu suka untuk berurusan dengan cinta karena baginya cinta sangatlah rumit.
"Non, saya pamit pulang dulu" ujar mbok Karti .
"Iya silahkan mbok, hati -hati " balas Sita.
Mbok Karti adalah seorang pembantu di rumah henrick sejak tahun 1937. Dirinya saat itu sedang membutuhkan biaya untuk kesembuhan putrinya rela bekerja pada perwira belanda walaupun menuai kontra dari tetangganya. Sebenarnya dirinya bisa saja kembali ke kampungnya di wonosobo namun karena biaya dan jarak yang ditempuh cukup jauh sehingga dirinya menetap di Batavia. Untunglah Henrick adalah londo yang baik hati sehingga ia membantu kesembuhan putri mbok Karti dan dengan rasa balas budi, mbok Karti pun mengabdi pada henrick hingga saat ini. Hari sudah semakin larut malam, sang fajar pun telah kembali tenggelam. Semakin lama sita membaca buku maka semakin besar rasa kantuknya, ia terlihat kelelahan dan matanya mulai terpejam. Disaat sita sudah tertidur cukup lama, henrick datang dan menjumpai Sita yang tertidur pulas disofa, lalu dirinya menggendong sita dengan hati-hati agar Sita tidak terbangun, dibawanya Sita dikasur lalu diselimuti dirinya oleh Henrick.
"zoete dromen van mijn koningin, goede nacht"
(Mimpi indah ratuku , selamat malam) ujar Henrick berbisik di telinga Sita sembari mengusap rambutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments