"Henrick bisakah kau ceritakan aku tentang kisah Odysseus dan Penelope" ujar sita .
"Kenapa ?" tanya Henrick .
"Karena sepertinya itu kisah yang menarik dan terlebih lagi aku ingin sesekali kau menjadi pendongengku" Sita memasang raut wajah datar.
“Bagaimana jika setelah aku pulang nanti? Aku janji akan menceritakannya hingga kau tertidur lelap”
“Aku menolak penawaranmu Meneer” ujar Sita.
Henrick yang tidak tega apabila menolak permintaan Sita, akhirnya menceritakannya sambil mengikat tali pantopel .
"Dikisahkan ratu Penelope adalah istri dari raja Odysseus namun suatu hari terjadi sebuah perang troya yang mengharuskan Odysseus pergi dan ikut berperang, Penelope akhirnya mengiklaskan kepergian suaminya dan dirinya sangatlah setia walau sudah menunggu selama dua puluh tahun bersama putranya yang ia lahirkan sesaat Odysseus pergi berperang"
"Lalu ? Bagaimana selanjutnya" Sita semakin penasaran .
"Semenjak kepergian Odysseus banyak sekali para pelamar yang ingin menikahi ratu Penelope namun dirinya tidak akan menghianati cinta Odysseus , akhirnya penantian penelope berbuah manis, mereka dipertemukan kembali setelah dua puluh tahun lamanya dan mereka bersatu" ujar Henrick yang telah selesai bercerita.
"Itu pasti sangat sulit" ujar Sita.
"Tentu saja, namun tidak ada kata sulit bagi kesetiaan seperti Romeo dan Juliet" balas Henrick .
“Aku sudah mencoba Setia, namun seseorang meninggalkanku” celetuk Sita.
“Orang itu sangat bodoh jika harus meninggalkan gadis baik sepertimu” Henrick tersenyum kepada Sita.
"Ngomong-ngomong kenapa kau ingin aku menceritakan mereka? Bukankah banyak kisah seperti Romeo dan Juliet ?" tanya Henrick .
"Itu sudah sering aku dengar lagipula aku menemukan buku kisah Odysseus dan Penelope di rak bukumu" ujar sita terkekeh .
"Pantas saja, rupanya kau mengerjaiku ?" tanya Henrick .
"Itu tidak benar Henrick" jawab Sita sembari tertawa. Henrick ikut tertawa melihat tingkah konyol Sita.
"Sudahlah jika memang begitu, aku akan pergi ke barak" ujar Henrick tersenyum.
"Tunggu, kapan kau kembali ?" tanya Sita .
"Mungkin sore nanti, ada apa?" Henrick sedikit heran.
"Hanya bertanya saja, karena aku selalu suka ketika kau berada disini" jawab Sita yang menyunggingkan senyuman.
“Benarkah? Aku juga begitu” Kemudian Henrick pun pergi setelah pamit pada Sita.
"Hari ini aku akan kemana ?" Gumam Sita.
Sita berpikir sebaiknya ia menuju pasar yang tidak jauh disini untuk menikmati jajanan dimasa lampau. Untung saja Sita tidak ragu untuk bertanya dimana arah pasar terdekat. jika tidak, mungkin saja ia akan tersesat.
\*\*\*\*\*
Sesampainya di pasar, yang pertama kali ia lihat adalah pedagang gethuk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Gethuk adalah jajanan khas yang sudah ada sejak jaman penjajahan yaitu kue yang berbahan singkong kemudian diberi parutan kelapa diatasnya. Sita pun memesan gethuk dan ia menyantap gethuk dengan lahapnya.
“Rasanya memang sama seperti gethuk pada umumnya” gumamnya.
"Lalu rasa apa yang kau inginkan?"
Suara itu muncul ketika Sita menelan gethuknya dan kini ia melihat larry disampingnya, sontak Sita tersedak karena terkejut.
"Uhuk uhuk " Sita memukul - mukul dadanya memastikan makanan itu segera keluar dari kerongkongannya.
"Hey kau tidak apa - apa? " Larry yang panik kemudian membawakan air untuknya. Hal ini menarik perhatian pembeli dipasar.
Akhirnya setelah bersusah payah makanan itu keluar dari kerongkongan Sita.
"Bagaimana?" tanya Larry.
Sita mengangguk tanda bahwa dirinya sudah merasa baikan dan meminum air yang Larry bawakan .
"Apa kau mengikutiku ? Dasar bodoh! Kau hampir membuatku mati konyol” Dimanapun aku selalu bertemu denganmu " celoteh Sita.
"Kenapa kau menuduhku? Aku hanya kebetulan disini " ujar Larry
Sita hanya diam dan memutuskan untuk tidak berdebat pada Larry yang datang hanya membuatnya untuk kesal.
"Sepertinya kau suka jalan-jalan, ayo ku tunjukan tempat disini" ujar Larry.
Sita menatap Larry dan tanpa sadar menyetujui ajakannya.
Mereka menuju sebuah lapangan yang cukup luas, tempat dimana anak-anak berkumpul untuk bermain.
"Disinilah tempat pribumi ini menghabiskan waktu" ujar Larry.
"Setidaknya mereka bisa bahagia walaupun sedang terjajah" celetuk Sita.
"Menjajah bukanlah keinginan diriku melainkan perintah dari pemerintah Netherland" ujar Larry.
"Kau lihat pria tua disana?" Sita menunjuk pedagang yang terlihat sangat kurus.
"Itu ulah bangsamu" ujar Sita dengan serius
"Ini sudah takdir, bangsa kami harus bertahan pada perang dunia ini" balas Larry .
"Pada akhirnya Hindia Belanda akan merdeka" Sita tanpa sadar mengucapkan kalimat yang membuat Larry keheranan .
"Apa kau bilang? Darimana kau tahu?" Tanya Larry .
"Tidak ada" Sita yang waswas pada larry pun segera mengganti topik .
Diantara keheningan setelah berdebat sebuah bola menggelinding ke arah Larry dan ia memberikan kembali pada anak - anak yang sedang bermain dan ikut bergabung dalam permainan. Larry mengajarkan anak-anak itu menendang bola dengan benar, terlihat senyum ceria terpancar dari wajah anak - anak pribumi.
Hingga tanpa terasa matahari sudah berada di barat, sore itu mereka menyelesaikan permainan. Sita yang sudah bosan mengajak Larry untuk kembali.
"Kau tadi tertidur di bawah pohon bukan ?" tanya Larry .
"Itu tidak benar" tegas Sita .
"Kau berbohong" ujar larry menjahili Sita.
"Kau yang menuduhku !" geram Sita
\*\*\*\*\*
Akhirnya mereka sampai di rumah Henrick sore itu.
"Terima kasih larry" ujar Sita.
"Tentu saja" jawab Larry.
Tidak berselang lama, Henrick muncul dari arah pintu dan berjalan ke arah mereka.
"Henrick , ini temanku Larry" Sita memperkenalkan Larry pada Henrick.
"Aku Henrick" ujarnya dengan memasang raut wajah datar.
"Aku larry seorang tentara
sepertimu" ujar Larry yang sedikit kikuk.
"Baiklah aku harus segera pergi, sampai jumpa lain waktu" Larry segera meninggalkan mereka berdua .
Kemudian Sita dan Henrick masuk ke dalam rumah, pikiran Henrick dibuat kacau oleh Sita karena kemarin Sita terlihat sangat marah pada Larry sedangkan kini mereka tampak sangat akrab.
Ingin rasanya Henrick bertanya pada sita untuk menjawab rasa penasaran dirinya namun ia sadar bahwa Henrick tidak memiliki hak.
"Aku pikir dirimu belum pulang" ujar Sita.
"Dan aku pikir dirimu sedang menungguku disini" balas Henrick.
"Aku memang sedang menunggumu jadi aku menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan" ujar Sita.
"Bersama pria itu ?" entah mengapa Henrick merasa kesal melihat sita bersama pria lain.
"Larry namanya memang kenapa?" Tanya Sita.
"Karena aku mengkhawatirkanmu" jawab Henrick.
"DEG" sontak Sita sedikit terkejut dan jantungnya mulai berdegup kencang, ia hanya menunduk dan memastikan agar dirinya tidak salah tingkah.
"Beberapa hari yang lalu aku melihatmu kesal padanya namun hari ini kau terlihat akrab dengannya. Aku bingung dan memastikan bahwa dirimu baik-baik saja" ujar Henrick menatap Sita.
"Aku baik - baik saja Henrick" Sita mendongakan wajahnya pada Henrick .
"Apa itu benar ?" tanya Henrick sekali lagi.
"Aku bersungguh - sungguh" senyum mengembang dari sudut bibir Sita.
Walaupun ada kekecewaan oleh rasa penasarannya akhirnya Henrick memutuskan untuk tidak melanjutkan topik ini dan bersikap seperti biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
sya
lah marganya sama kirain Larry sama Henrick sekeluarga
2022-06-15
0