"Non Sita ingin apa ?" mbok Karti menawarkan jajanan tradisional yang ditawarkan oleh pedagang keliling disekitaran rumah.
"Wah kok ayu tenan" puji si pedagang
(Wah kok cantik sekali)
"Jenenge wis Sita, pasti wonge ayu" jawab Mbok Karti.
Sita hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka, walaupun sita adalah orang jawa namun dirinya tidak terlalu fasih berbahasa jawa karena di lingkungan sekitarnya tidak ada orang yang berbicara dalam bahasa jawa.
"Saya Sari dari pasuruan" pedagang itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Sita, salam kenal" ujar Sita.
"Ini ambil saja untuk kamu, jangan di bayar" ujar mbok sari.
"Loh tapi kenapa ?" tanya Sita.
"Anggap saja ini hadiah karena saya bertemu kamu " jawab mbok sari terkekeh.
"Jangan berlebihan mbok" Sita merasa sungkan.
"Sudahlah tidak kenapa nduk"
"Yasudah kalau begitu , terima kasih mbok Sari" ujar Sita.
"Iya nduk kalau begitu saya pamit mau lanjut " ujar mbok Sari.
Kemudian mbok Sari beranjak dari kursinya lalu kembali menyunggi dagangannya.
"Mbok, bagaimana jika mulai hari ini sebaiknya panggil aku dengan nama saja” ujar Sita.
"Memang kenapa non ? Apakah mbok telah melakukan kesalahan?" tanya mbok Karti.
"Karena aku menganggapmu seperti ibuku sendiri jadi mulai sekarang berhentilah memanggilku nona" jawab Sita dengan tegas.
"Yang benar saja, apa nona tidak malu? Sedangkan kita belum cukup lama bertemu" ujar mbok karti sembari memeluk Sita.
“Lalu apakah itu masalahnya? Aku tidak peduli dan tidak usah dipikirkan” Sita meyakinkan Mbok Karti
“Terima kasih, mbok senang mendengarnya”
"Oh ya, dimana Dewi? " tanya Sita.
“Mbok menyuruhnya untuk ke pasar, itu dia baru sampai" ujar mbok karti yang mengarahkan pandangannya pada dewi .
"Kenapa kamu lama sekali ?" tanya mbok Karti.
Dewi hanya menatap ibunya lalu mengabaikan pertanyaannya. Langkahnya tergesa- gesa dan menutup pintu kamarnya. Mbok Karti begitu heran dengan sikap Dewi yang tampak berbeda.
“Ada apa dengan Dewi ? Apakah sedang sakit”
"Sudahlah mbok, biar aku saja yang mengurus Dewi” Sita menenangkan Mbok Karti.
"Yasudah kalau begitu, mbok akan tinggal masak dulu”
"Iya mbok"
Sita lantas bergegas masuk ke dalam kamar dewi lalu menanyakan apa yang terjadi padanya dengan lembut, dilihatnya Dewi hanya diam saja dan mengabaikan Sita namun akhirnya ia menatap Sita kemudian mulai menangis tersedu-sedu. Sita memeluknya dengan erat sambil mencoba menenangkan dirinya
"Dewi, kamu kenapa ?" tanya Sita khawatir.
Dewi masih belum menjawab pertanyaan Sita dan tetap menangis.
"Katakan padaku Dewi"
"Sahabatku telah dibunuh oleh para anjing pirang itu !" Ujar Dewi yang bahkan tidak sanggup untuk berbicara.
"Siapa yang kau maksud ?" tanya Sita.
"Wong londo itu sangat kejam, aku Membenci perbuatan mereka !" Teriak Dewi.
Sita kembali memeluk Dewi untuk menenangkannya, lalu Sita mencium kening Dewi.
“Kau tidak akan bisa membuatku tenang” ujar Dewi.
"Astagfirullah Dewi, kamu kenapa nangis ?" Mbok Karti yang saat itu mendengar teriakan Dewi sontak terkejut melihat putrinya menangis.
“Kenapa kamu begini?” Timpalnya lagi.
"Apa ibu tahu dengan ratih ? Dia meninggal buk" tangisan dewi semakin kencang.
“Kau tahu Sita? Ratih dan aku sudah berteman sejak kecil, ia adalah teman pertamaku hingga kami menjadi sahabat”
Sita tidak dapat berbuat banyak dan sebisa mungkin mencoba membuat gadis tersebut untuk tenang.
\*\*\*\*\*\*
"Besok Jendral akan datang untuk melihat perkembangan militer disini jadi jangan buat aku malu" ujar Mayor Jensen.
"Siap, aku pastikan semuanya terlaksana dengan baik" Henrick memberi hormat pada mayor jensen.
“Pastikan tidak ada pembelot” Tegas Mayor Jensen
Setelah mayor jensen pergi, Henrick menuju salah satu ruangan untuk mengambil beberapa dokumen yang akan dibutuhkan. Ia berjalan di koridor melewati beberapa ruangan lainnya, hingga tanpa sengaja Henrick melihat seorang pria asing disalah satu ruangan tersebut namun, Henrick mencoba untuk tidak menghiraukannya dan terus berjalan karena mungkin saja ia juga memiliki kepentingan yang sama. Perasaan curiga muncul dibenaknya hingga akhirnya ia memutuskan untuk berbalik arah menuju ruangan tersebut akan tetapi, ruangan di tersebut sudah tidak ada orang, lalu Henrick segera meninggalkannya dan menutup rapat pintu tersebut.
"Kau sedang apa ?" Willem terlihat heran melihat Henrick yang serius membongkar laci.
"Mencari beberapa dokumen untuk mendata pasukan" jawab Henrick.
"Dokumen itu berada di mejaku" ujar Willem.
Henrick berjalan menuju meja willem untuk mengambil dokumen.
"Apakah ada orang selain kita yang dibolehkan memasuki ruangan disini ?" Henrick teringat pada kejadian yang baru ia alami.
"Siapa yang kau maksud ? Kau tahu bukan bahwa orang yang tidak berkepentingan dilarang memasuki ruangan disini" jawab Willem.
"Aku melihat seseorang namun tidak begitu jelas wajahnya, ia terlihat sedang mencari sesuatu" ujar Henrick.
"Tidak ada Henrick hanya saja tadi seorang datang kemari" Willem mencoba mengingat sesuatu sembari mengerutkan alisnya.
"Siapa? Untuk apa ia datang ?" tanya Henrick.
"Dia berkata bahwa seniornya memintanya untuk mengambil keperluan di barak" jawab Willem.
Henrick merasa kurang puas pada jawaban willem namun ia tidak ingin Willem merasa curiga padanya dan mencoba untuk segera pergi.
“Baiklah kalau hanya itu saja” jawab Henrick lalu pergi. Disaat Henrick sudah berada di ambang pintu, Willem sedikit berteriak.
"Rambutnya sedikit bergelombang dan berwarna coklat gelap! begitulah yang aku ingat" ujar Willem.
"Deg"
*****
"Apa dia sudah tidur ?" Tanya mbok Karti.
"Sudah mbok " jawab Sita.
Tidak lama setelah Dewi menangis, ia tertidur saat Sita sedang mengusap kepalanya.
"Mbok masak apa hari ini?" Tanya Sita.
"Masak botok, kesukaan Dewi" jawab mbok Karti dengan tersenyum.
"Botok ?" Sita tidak pernah mendengar makanan itu sebelumnya.
"Botok adalah makanan terbuat dari ampas kelapa yang diambil sarinya"
"Kamu pernah makan botok?" Tanya mbok Karti.
Sita hanya menggeleng - gelengkan kepalanya lalu memasang wajah konyol.
"Kalau begitu kamu coba botok buatan mbok Karti nanti" ujar mbok Karti.
Sita kemudian membantu mbok karti untuk memasak botok, Sita memang kurang pandai untuk memasak makanan seperti ini namun ia adalah tipikal yang selalu ingin mencoba. Mereka tampak sibuk di dapur untuk memasak, dengan arahan dari mbok karti kini ia berhasil membuat hidangan khas jawa satu ini.
"Nah sudah jadi, ayo makan" ujar mbok Karti.
"Iya mbok" Sita mencicipi botok buatannya sendiri.
"Gimana ? Itu buatan kamu loh" mbok Karti terkekeh.
"Enak mbok, Sita suka" ujar Sita.
"Apa dewi tidak dibangunkan saja?" Tanya Sita
"Biarlah dia bangun dengan sendirinya, mbok khawatir ia akan menangis lagi" ujar mbok Karti.
"Ayo habiskan " ujar mbok Karti.
"Jika mbok butuh bantuan, panggil aku saja. Aku juga ingin belajar memasak" ujar Sita sembari mengunyah makanannya.
Mbok Karti menganggukan kepalanya sembari tersenyum pertanda bahwa ia menyetujui Sita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments