6

Dua minggu sudah sita berada disini. Sejak kejadian di pesta. ia merasakan perasaan yang asing baginya dan disinilah Sita harus bersikap tegas untuk melindungi harga dirinya agar tidak terinjak-injak oleh kaum Belanda disaat dirinya sedang berpikir, ia terlihat serius sehingga tidak melihat bahwa Henrick memperhatikan dirinya sedari tadi .

"Halo nona cantik, kau sedang apa?” Henrick melambaikan tangannya di hadapan Sita. Sita yang terkejut membuat mimik wajah yang lucu sehingga membuat henrick tertawa .

"Jangan begitu, aku terkejut" sita tampak sebal .

"Itu tadi lucu sekali" Henrick tertawa terbahak - bahak .

"Untuk seukuran tentara, kau sangat berbeda”celetuk sita .

Henrick mengerutkan alisnya lalu mendekatkan wajahnya pada sita, kini sita yang gugup merasakan panas pada pipinya dan jantungnya berdegup kencang .

"Katakan, apa yang membuatku berbeda bagimu?" tanya Henrick .

"Sebelum aku memberikan jawaban, mundurlah lima sentimeter dariku karena kau membuatku sedikit canggung" jawab Sita .

Henrick hanya tersenyum melihat reaksi Sita.

"intinya kau berbeda dan kau juga memperlakukan diriku seperti seorang ratu untuk aku yang hanya seorang pribumi" ujar Sita .

"Hanya itu saja? Apakah tidak ada hal lain? Bisa saja karena aku menyukaimu nona" Henrick tersenyum seolah menggoda.

“A a apa?” Sita sedikit terbata-bata

"Baiklah Lupakan, hari ini waktuku sedang senggang jadi bisa kau temani aku berkeliling? Sesuai dengan janjiku padamu" tanya Henrick.

"Tentu saja" mata sita berbinar-binar lalu melompat kegirangan.

"Hati-hati, kau baru sembuh" ujar Henrick .

"Kau wanita pribumi dengan seribu tingkah " celetuk Henrick.

"Dan kau tentara belanda di seribu masa" balas Sita.

\*\*\*\*\*\*

Mulanya mereka pergi ke pertokoan di daerah Batavia, disana dirinya melihat toko pakaian, bahkan kios makanan berjejer dengan rapi yang dipastikan si penjual adalah seorang tionghoa ataupun timur tengah. Ada satu hal yang menarik perhatiannya yaitu pria tua renta yang berjualan buah keliling dengan anak kecil yang mungkin cucunya.

Sita yang merasa iba datang pada mereka untuk sekedar membeli beberapa buah.

"Saya ambil buah mangga dan jeruknya, berapa?" ujar sita sambil tersenyum.

“Hanya satu gulden, neng”

Sita memberikan uang lebih tersebut tanpa meminta kembaliannya lagi.

Henrick hanya memperhatikan sita dari kejauhan walaupun dirinya adalah kaum belanda yang terkadang bersifat arogan namun melihat pemandangan ini, ia berpikir bagaimana bisa negaranya sendiri berperilaku buruk dengan para pribumi.

"Hey kenapa melamun? Aku sudah selesai" ujar Sita.

"Ikutlah denganku" henrick menarik tangan Sita.

“Apa aku menghabiskan uangmu terlalu banyak?” Sita merasa takut.

“Ahh tidak usah khawatir untuk itu, aku senang” Henrick menggandeng tangan Sita.

Sita berpikir jika Henrick hidup dimasanya mungkin saja akan menjadi idaman para wanita dan tidak mungkin Henrick menyukai orang yang sepanjang hidupnya membosakan sepertinya.

\*\*\*\*\*\*

"wah ini indah sekali" Sita belum pernah melihat Ancol yang masih bersih bahkan dirinya merasa pangling ketika datang. Di zamannya ia hanya bisa melihat pantai bahkan sungai yang sudah tertutup polusi, Jakarta bukanlah Batavia seperti dahulu .

“Setidaknya dulu tidak perlu membayar untuk datang kesini” gumamnya.

Sita menapakan kakinya di tepi pantai dan berjalan sembari menikmati deburan ombak pantai serta suara angin di sekitarnya, rambutnya tersisir angin yang membuat Henrick terpesona. Mereka mencari tempat yang terletak disekitar pohon kelapa untuk berbincang sembari menikmati waktu sang fajar tenggelam.

Dikala menikmati suasana, Henrick memikirkan ucapan sahabatnya willem tentang Sita, dirinya bahkan tidak menyangka sahabatnya bisa berkata seperti kaumnya yang lain .

"Hari ini akan menjadi kenangan yang indah" ujar sita lalu menatap Henrick .

“Terima kasih sudah membawaku berkeliling Batavia” Sita dengan spontan memeluk Henrick.

Kini mereka saling memandang dengan mata yang bersinar dan mulai terukir sudah kisah sepasang manusia yang saling jatuh cinta. Henrick yang memiliki mata berwarna biru secerah langit dan rambutnya yang pirang menambah kesan elok rupanya, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sita mulai terpesona pada Henrick begitu pula dengan Henrick yang terpesona akan Sita.

"Sita? Lihatlah fajar yang sudah mulai tenggelam disana" telunjuk Henrick mengadahkan ke arah matahari terbenam.

"Ada apa Henrick?" tanya Sita.

"Aku teringat sewaktu kecil, ayah dan ibuku mengajak diriku ke pantai saat di Netherland" begitu bahagianya Henrick bercerita sehingga dirinya tidak sadar air matanya jatuh .

"Kau menangis ? Ada apa ?" Sita khawatir pada Henrick.

"Aku selalu begini sita, terkadang aku merindukan ibu dan ayah serta tanah kelahiranku" ujar Henrick .

Sita merasakan bahwa Henrick sangatlah kesepian , ia mencoba menenangkan Henrick dengan merangkulnya. Perlahan - lahan matahari mulai tenggelam bagai di telan bumi. Sita dan Henrick memutuskan kembali untuk pulang.

"Sial aku lapar" gumam Sita .

"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Henrick

"Ah tidak " jawab sita tersenyum walau sebenarnya cacing di perutnya sudah mulai berteriak .

"Apa kau lapar ? " pertanyaan dari henrick seolah menjadi penolongnya untuk mengisi kekosongan di perut .

"Iya sangat lapar, aku ingin makan sate di ujung sana" Sita menunjuk dagang sate keliling. Mereka pun memesan dua puluh tusuk sate dengan lontong. Henrick sebelumnya tidak pernah makan di tempat seperti ini sehingga dirinya menjadi sorotan orang pribumi bahkan sebagian dari mereka ada yang menatap sinis Henrick .

"Jangan terlalu dipikirkan, di mata mereka sudah tertanam istilah wong londo" ujar Sita .

Henrick merasa yang dikatakan sita ada benarnya, apabila bangsanya tidak menjajah hindia belanda dengan kejam mungkin saja mereka tidak akan seperti sekarang. Memang dulu henrick sempat bersikap angkuh pada kaum pribumi hingga suatu hari dirinya terluka akibat ikut berperang di daerah jawa yang menyisakan sebagian kecil tentaranya, disaat dirinya tidak berdaya, ia di temukan oleh seorang warga sekitar lalu Henrick disembuhkan olehnya. Karena kejadian itu yang membuat hati henrick terbuka, kini dirinya tidak seangkuh dahulu namun gelar penjajah mungkin masih kekal di hidupnya.

"Sudah lama sejak datang masa ini, aku tidak mencicipi sate" ujar Sita.

"Apa katamu ?" Henrick terlihat bingung dengan kalimat yang dilontarkan Sita.

"Maksudku adalah sejak ke Batavia aku tidak pernah mencicipi sate" Sita terlihat gugup mendengar pertanyaan Henrick.

"Aku lelah sekali” Sita mencoba mengganti topik agar suasana tidak hening.

"Habiskan makananmu lalu kita akan pulang " ujar Henrick .

******

"Akhirnya kita sampai rumah" ujar Sita yang kelelahan.

"Tidurlah sekarang Sita”

"Dirimu sendiri bagaimana ? Kau harus istirahat" Sita mengerutkan alisnya.

"Ada yang harus aku kerjakan" ujar Henrick .

"Aku akan menunggumu saja"

"Jika aku menyuruhmu tidur maka kau harus menurutinya" kali ini Henrick berbicara tegas pada Sita.

"Akan aku lakukan meneer" ujar sita yang sedikit cengengesan, daripada dirinya harus melihat wajah Henrick yang garang lebih baik dirinya menuruti perintah Genrick begitu pikir Sita.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!