17

"Hei inlander brengsek ! Berikan pajak

kalian. Kami memintanya sekarang!" Ujar salah satu tentara dengan wajah beringas.

"Kalian harus segera membayar pajak bodoh!"

"Ampun meneer , penghasilan saya belum cukup" pria paruh baya itu bersujud memohon rasa iba .

"Kau seharusnya mematuhi peraturan!"

Duggg !!” Suara tendangan yang cukup keras.

Mereka menendang pria paruh baya itu dengan sekali tendangan yang mampu membuat pria itu tersungkur sembari menahan sakit pada dadanya.

“Maafkan saya, Meneer”

"Saat lusa kau harus membayar segera membayar pajak ! Jika tidak, kau akan tahu akibatnya sendiri" kemudian mereka meninggalkan pria tua tersebut.

"Aku sangat membenci inlander! Mereka sangat menjijikan bahkan aku lebih rela membagi jatah makananku dengan anjing dibandingkan mereka" Ujar salah satu tentara.

Mereka hanya tertawa dan pergi tanpa merasa bersalah.

"Kau tampak beringas juga saat menendang inlander itu"

Tentara itu mencoba untuk memuji temannya namun tidak ada reaksi apapun yang terlihat .

"Kenapa kau melamun ?"

"Tidak ada, kau selalu saja ingin tahu"

"Lusa kau akan ikut datang ke rumah inlander itu?"

"Kita lihat saja nanti"

"Kau pasti tidak akan mengecewakan diriku, terlebih lagi saat kau menendangnya"

"Aku kagum padamu"

Kemudian tentara tersebut berjalan meninggalkan temannya yang sedang memuji dirinya.

"Hey Kau mau pergi kemana? Kita masih memiliki beberapa tugas"

"Ke suatu tempat dimana aku memulai permainan"

\*\*\*\*\*\*\*

"breng groet!!" Suara yang cukup lantang oleh para pasukan.

Semua pasukan memberi hormat pada jendral yang terlihat sudah datang. Ia adalah Jendral Gubernur tjarda van starkenborg seorang pemimpin dengan pangkat tinggi di Batavia.

"buitengewoon" ujar Jendral sembari

Bertepuk tangan.

"Kau melatih pasukan dengan hebat, aku bangga terhadapmu nak"

"Dank u geneeral "ujar Henrick.

Terik matahari di tanah lapang membuat kulit para tentara berwarna merah namun mereka diharuskan untuk tetap gigih, karena semakin lama Nippon mulai mencoba untuk masuk ke Hindia Belanda.

*******

"Larry ? Rupanya kau datang lagi" ujar Sita

"Memang kenapa? Apa kau memiliki masalah terhadapku nona yang cantik?" Tanya Larry.

"Aku tidak berkata seperti itu, kau selalu bertingkah lebih tahu" jawab Sita.

"Apa kau sendirian? Dimana mbok Karti ?” Larry menoleh di sekelilingnya.

"Ia sedang bekerja di kediaman Henrick"

"Sita ? Ayo ikut denganku " ujar Larry.

"Kemana ?" tanya Sita.

"Sudah ikuti saja aku"

Larry menarik pergelangan sita lalu mengajaknya ke suatu tempat yang sita belum pernah melihatnya. 

Berdiri sebuah gereja dengan pilarnya yang berwarna putih lalu dihias dengan ukiran.

"Kenapa kau mengajak diriku

kesini ?" Sita yang sebelumnya tidak pernah diajak ke gereja terlihat heran .

"Hari ini temanku mengadakan pernikahan " jawab Larry.

Di gereja tersebut sudah banyak tamu undangan yang hadir lalu pengantin pria yang sudah menunggu di altar.

"Aku pikir kita akan terlambat" ujar Larry yang sudah mencari kursinya.

Datanglah mempelai perempuan dengan rambut yang digerai lalu mengenakan gaun putih dengan gaya khas eropa. Sembari tersenyum, ia mengarahkan wajahnya kepada calon suaminya itu, iringan piano dan biola menambah suasana yang romantis.

\*\*\*\*\*\*

"Sudah lama sekali aku tidak makan bersama " ujar jendral.

"Ini adalah pertama kalinya kami bisa makan denganmu" ujar Henrick .

"Tentu saja, aku sangat sibuk sekali. Semakin hari banyak sekali orang netherland yang mulai meninggalkan hindia belanda termasuk di Batavia" ujar jendral.

"Aku sudah tahu itu, kemunculan pasukan jepang sudah mulai merebak ke seluruh penjuru" Henrick memasang wajah yang amat serius.

"Aku memiliki firasat bahwa mereka pasti akan berlabuh ke daerah borneo" ujar Jendral sembari menghisap cerutunya.

"Aku dengar bahwa kau adalah salah satu perwira terbaik, beruntunglah aku"

Henrick hanya membalasnya dengan senyuman.

"Aku berharap apabila keadaan sudah darurat, kau akan memimpin pasukan di Batavia. Aku mempercayaimu"

"Terima kasih atas kepercayaan yang telah kau berikan padaku" ujar Henrick.

"Sepertinya sudah waktunya aku harus kembali" ujar jendral yang sudah beranjak dari kursinya.

"Selamat bertugas perwiraku dan tetap semangat"

"Dank u " ujar henrick .

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

"Kalian sekarang sudah resmi menjadi sepasang suami dan istri" ujar sang pendeta pada kedua mempelai.

Acara pelemparan bunga segera dimulai , para gadis berkumpul untuk mendapatkan seikat bunga .

"Ikutlah mereka " ujar larry .

"Tidak perlu " sita menolak untuk berdesak-desakan

"Kau payah sekali sita" ujar larry .

"Apa? Aku payah? Biar aku buktikan padamu bahwa akan aku dapatkan bunga itu" ujar sita .

Sita kemudian bergabung dalam kerumunan para gadis , hitungan mundur dimulai lalu bunga itu dilempar mengarah ke kerumunan .

Sita berusaha keras mendapatkan seikat bunga mawar putih tersebut dan usahanya membuahkan hasil.

"Aku mendapatkannya!" Sita sangat kegirangan karena mendapatkan seikat bunga hingga tidak sedikit menarik perhatian para tamu

"Lihatlah Larry, Sita tidak

payah" ujar Sita yang merasa puas .

"Itu hanyalah kebetulan saja" jawab Larry yang enggan untuk mengalah.

"Yang terpenting aku sudah membuktikannya padamu" ujar Sita.

Kedua pengantin tersebut datang menghampiri Sita dan Larry.

"Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu" Larry memberi salam pada temannya.

"Perkenalkan dia adalah mike dan istrinya Anne" ujar Larry pada Sita. 

"Namaku Sita Ajeng "sita tersenyum pada mereka.

"Senang berkenalan denganmu" ujar Anne .

"Jadi apakah kalian memiliki rencana setelah menikah ?" tanya Larry .

"Kami mungkin akan kembali ke Rotterdam" jawab Mike .

"Kau sudah tahu kan? Bahwa situasi kini mulai tidak aman, mungkin sebaiknya kau juga kembali kawan" mike tampak mengkhawatirkan Larry .

"Ada yang harus aku selesaikan disini" ujar Larry.

"Semoga Tuhan memberkatimu, kawanku" Mike hanya bisa tersenyum mendengar Larry.

"Sudahlah Mike jangan berbicara seperti itu. Larry, tidak perlu dipikirkan" Anne ikut menimpali.

Sita hanya bisa terdiam mendengar perbincangan mereka sembari wajahnya yang berubah menjadi pucat pasi. Ia teringat akan sejarah kelam bahwa di tahun 1942 akan datang pasukan yang memiliki tubuh pendek dan bermata sipit namun memiliki tekad yang kuat yaitu adalah Nippon .

"Sita apa kau sakit? Kenapa wajahmu pucat? " tanya Larry .

"Sepertinya aku sedikit lelah" jawab Sita yang sedikit berbohong.

"Aku akan segera mengantarkanmu pulang " ujar Larry pada Sita.

"Mike, aku pergi dahulu dan selamat menempuh hidup baru" ujar Larry.

"Terima kasih Larry"

"Tot ziens" Larry melambaikan tangannya.

\*\*\*\*\*

"Kita sudah sampai dirumah" ujar Larry menuntun Sita.

"Larry , maafkan aku"

"Maaf ? Untuk apa ?"

"Karena aku , kau jadi pergi meninggalkan temanmu"

"Tidak masalah , lagipula aku sudah datang kesana "

"Sekarang kau harus istirahat " Larry mengantar sita masuk .

Saat Larry dan Sita memasuki rumah, Dewi terlihat sedang menunggu Sita. Dewi yang melihat Larry bersama Sita tidak berkata sepatah katapun dan hanya menatap mereka dengan tatapan yang sedikit cetus.

"Sita, aku pergi dahulu dan sampaikan salamku pada mbok Karti" ujar Larry.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!