Gadis itu masih saja memperhatikan Henrick yang sedang sibuk melatih pasukan, dirinya sebenarnya tidak suka pergi ke tempat seperti ini namun hal itu ia lakukan untuk bertemu Henrick.
Sesekali Henrick melihatnya namun dirinya tampak begitu risih saat Emma terus memandanginya dan Henrick selalu bersikap dingin bila berbicara dengannya. Henrick sempat berpikir bahwa seharusnya yang memperhatikan dirinya adalah gadis pribumi yang tidak lain adalah Sita.
Disaat para tentara sedang beristirahat, Henrick menghampiri Emma yang terlihat sudah menunggunya sejak tadi.
"Apa kabarmu? Kau tahu bahwa aku menunggumu" tanya Emma.
"Aku baik, bagaimana denganmu ?" Henrick sesekali menoleh sekitarnya.
"Seperti yang kau lihat, apa kau setiap hari melatih pasukan itu?" tanya Emma.
"Tentu saja namun terkadang aku harus pergi ke kantor gubernur untuk sekedar mengurus hal penting" jawab Henrick.
"Oh ya apa paman Albert di rumah?" Timpalnya lagi.
"Dirinya sedang berkuda hari ini jika kau ingin menemuinya, datanglah besok atau nanti malam" Emma tersenyum pada Henrick.
Henrick hanya diam sembari menyeruput kopinya.
"Apa kau suka berkuda juga ?" tanya Emma.
"Ada apa?" Henrick berbicara dengan ekspresi datar.
"Aku hanya ingin tahu kegemaranmu" ujar Emma yang menunduk malu.
"Aku suka sekali berkuda di Rotterdam sana, aku belajar berkuda dengan ayahku"
"Lantas bagaimana denganmu?" Tanya henrick.
"Umm aku tidak suka kegiatan seperti itu, aku lebih suka pergi belanja dan mengambil barang apapun yang aku sukai" gadis itu langsung menjawab pertanyaan Henrick seolah menunjukan bahwa dirinya adalah gadis eropa yang berkelas hingga Emma tidak sadar bahwa Henrick bukanlah pria yang hidup dengan kemewahan, semua ia dapatkan dengan hasil usahanya ia sendiri.
"Astaga aku lupa jika hari ini ada janji bersama teman-temanku, maaf aku harus pergi dahulu" ujar Emma.
"Tentu saja , silahkan Emma" Henrick mempersihlahkan emma untuk pergi walaupun dengan berat hati sebenarnya emma ingin berbincang bersama Henrick dalam waktu yang lama.
“Henrick? Apakah kau tidak keberatan jika kita berkencan sambil melihat kota Batavia?” Emma begitu agresif untuk mendapatkan Henrick.
“Akan aku pikirkan kembali” jawabnya dengan nada yang dingin.
Jam istirahat saat itu juga telah usai, para pasukan kembali dilatih dengan baik untuk menjaga apabila terjadi pemberontakan. Sebenarnya tidak semua tentara profesional yang ikut di kirim ke Batavia, sebagian besar adalah para kaum pemuda Belanda yang menganut kebijakan pemerintah untuk wajib mengikuti militer walaupun tidak sedikit dari mereka yang sebenarnya berat hati meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak memiliki kemampuan yang cukup handal tentang kemiliteran.
\*\*\*\*\*\*
"Air di sungai ini masih segar sangat berbeda dengan jakarta sekarang" ujarnya dalam hati.
Siang hari Sita pergi mengambil air dari sungai untuk ia gunakan mandi, maklum saja di rumah mbok karti tidak ada saluran pipa air seperti keran bahkan di sunga itu terlihat jelas banyak anak - anak yang sedang asik mandi dan bermain.
"Butuh bantuanku nona ?"
Sita terkejut melihat Larry yang sudah duduk di pinggiran sungai seolah sedang menunggu Sita sedari tadi.
"Kau lagi? Aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu seperti hantu" sita mengerutkan keningnya.
"Aku baru saja hendak pergi setelah mandi disini dan tanpa sengaja aku melihatmu" ujar Larry .
Kini Larry beranjak dari pinggiran sungai lalu membantu Sita membawakan kendi yang terlihat cukup berat untuk Sita bawa sendirian.
“Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu” Sita begitu ketus
“Benarkah? Lihatlah kau begitu kesulitan” Larry segera merebut kendi yang dibawa Sita.
“Hati-hati atau kau bisa memecahkan kendinya” Sita sangat kesal.
“Aku selalu bertindak hati-hati”
Ditengah perjalanan, Larry menyuruh Sita untuk berhenti sementara.
"Sita, maukah kau berteman denganku ?" tanya Larry.
Pertanyaan yang dilontarkan Larry membuat Sita tidak bergeming untuk sesaat.
"Berikan alasanmu kenapa kau mau berteman denganku ? Bukankah aku pribumi" pertanyaan tersebut membalik pertanyaan Larry.
"Apa maksudmu? Bukankah kita sama saja manusia "ujar Larry.
"Yah sebenarnya kau tidak perlu meminta izin untuk itu" celetuk Sita .
"Dankjewel"
(Terima kasih)
Sita tidak membalas ucapan Larry dan tetap melanjutkan perjalanan pulang.
****
"Non Sita darimana saja?" Tanya mbok Karti.
"Tadi aku sedang pergi untuk mengambil air disungai" jawab Sita.
Disamping itu, mbok Karti mempersilahkan Larry untuk duduk di kursi bambu.
"Silahkan duduk meneer" ujar mbok Karti.
Dewi membawakan segelas air untuk Larry dan Sita, sekilas tatapan Dewi sedikit tidak biasa pada Larry.
"Dewi, kemarilah dan duduk bersama kami" ujar Sita.
"Umm tidak, aku akan pergi
ke pasar" Dewi menolak ajakan Sita dan tampak dari gelagatnya kelihatan ragu.
"Owh, berhati - hatilah" ujar Sita.
Kemudian Dewi pergi meninggalkan mereka berdua yang tampak asik mengobrol. Tidak berapa lama kemudian setelah dewi pergi, Larry izin untuk pamit.
"Sita sepertinya aku juga tidak bisa berdiam lama disini" ujar Larry.
"Kenapa?" tanya Sita
"Masih banyak yang harus aku kerjakan" jawab Larry .
Sita akhirnya mempersilahkan larry untuk pergi namun sebelum Larry pergi, ia menawarkan Sita untuk datang ke acara hiburan yang tidak jauh dari tempatnya.
"Bisakah besok kita pergi ke sebuah acara hiburan" ujar Larry.
"Hiburan seperti apa?" tanya Sita .
"Panjat pinang, kau tahu bukan? Untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina" jawab Larry.
"Oh ya, tentu saja aku tahu" Ujar Sita ketus pada Larry.
"Jadi kau akan ikut?" Larry mengharapkan persetujuan Sita.
"Iya, aku akan ikut" tanpa pikir panjang, Sita mengiyakan ajakan Larry.
Wajah yang sumringah tampaknya menghiasi Larry ketika dirinya berhasil mengajak gadis itu untuk datang. Sita masih memasang wajahnya yang dingin, sangat berbanding terbalik dengan Larry.
“Sudah sana pergilah”
“Terima kasih nona Sita” Larry mengedipkan matanya kemudian segera pergi.
\*\*\*\*\*\*
Henrick tampak serius membaca surat kabar hingga tidak sadar, satu jam telah ia gunakan hanya untuk membaca. Sesekali melirik jam dinding lalu melepaskan kacamata yang ia gunakan untuk membiarkan matanya beristirahat sembari jemarinya memijat daerah pelipisnya, kemudian Henrick beranjak dari kursinya lalu meletakan surat kabar itu di rak bukunya dan tanpa sengaja dirinya melihat buku "kisah Oddyseus dan Penelope" kenangan itu kembali lagi dalam pikirannya saat Sita memaksa dirinya untuk menceritakan kisah itu, kini Henrick merindukan rengekan Sita yang terlihat konyol lalu merindukan gaya bicaranya yang berbeda dari wanita lainnya yang ditemuinya, pemikiran Sita juga sangat kritis dan cerdas, terlihat dari sorot matanya serta caranya berbicara sangat jauh lebih berwawasan dibandingkan dengan wanita eropa kebanyakan yang bersikap angkuh serta kurang pandai dalam wawasan. Henrick berpikir bahwa untuk seorang pribumi sepertinya, Sita patut dikagumi.
“Sita, kau seperti gadis dari masa depan saja” gumam Henrick.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Rayvano Xaviero Chandrapratama
Emma... kamu pick me girl ya ternyata
2022-05-31
1