Pagi harinya Papinya Angga pamit akan langsung menuju bandara dan selanjutnya akan menuju ke Singapore untuk ke rumah sakit. Omanya Angga sudah harus segera operasi.
“Nak, jaga diri baik baik. Papi pamit doakan semua berjalan lancar.” ucap Papinya Angga sambil memeluk erat tubuh Angga. Angga terlihat mengangguk dan membalas pelukan Papinya.
“Papi nanti kabari aku ya. Apapun beritanya.” ucap Angga. Karena sampai saat ini belum ada kabar dari rumah tentang adanya calon donor yang cocok. Dan jika sampai nanti malam tidak ada, berarti Papinya Angga yang harus menjadi donor ginjal untuk Oma.
“Iya Sayang.” ucap Papinya Angga lalu melepas pelukannya. Dan tidak lama kemudian Pak Jemari yang selalu mengikuti mereka menjabat erat tangan Papinya Angga.
“Kita doakan saja Pak, semoga segera ada donor yang cocok. Mujijat dari Allah selalu ada bagi kita yang percaya.” ucap Pak Jemari. Papinya Angga lalu masuk ke dalam mobil beliau sudah pamit dengan semua pengurus Panti. Ibu Sari yang sedang ada keperluan ke luar tidak bisa mengantar kepulangan Papinya Angga. Marginah dan teman teman lainnya ikut berdiri di belakang Pak Jemari. Mereka semua sudah menjabat tangan Papinya Angga. Sekarang mereka semua melambai lambaikan tangannya mengantar mobilnya Papinya Angga yang berjalan keluar dari halaman panti asuhan.
Saat siang hari. Ada mobil box masuk ke halaman panti. Anak anak yang sedang istirahat selesai makan siang berlarian menuju ke mobil box yang sudah terparkir di halaman panti. Tadi saat makan siang Ibu Sari sudah mengumumkan kalau komputer bantuan dari Papinya Angga sudah di dalam perjalan menuju ke panti. Anak anak terlihat sangat senang.
“Mas Budi aku bantu bawanya.” ucap Pak Jemari sambil berjalan di samping Mas Budi.
“Iya Pak, tapi bawanya hati hati ya jangan disamakan bawa karung pupuk.” ucap Mas Budi sambil tersenyum dan terus berjalan menuju ke mobil box. Terlihat sopir mobil box sudah turun dari mobil sambil tangannya memegang note dan bolpen.
“Aku ya tahu tho Mas, aku bawanya akan kayak bawa bayi merah. Hati hati pokoke.”ucap Pak Jemari dengan wajah serius. Mas Budi hanya tersenyum lalu mempercepat jalannya menghampiri sopir mobil box tersebut. Mas Budi yang sudah diberi kepercayaan oleh Ibu Sari lalu menerima note yang disodorkan oleh sopir mobil box tersebut. Mas Budi membaca isi note tersebut tanda terima kiriman barang di situ tertulis ada 10 unit komputer. Mata Mas Budi terbelalak kaget. Tidak menyangka tiba tiba mendapat bantuan komputer 10 unit. Mas Budi lalu menandatangani note tersebut.
Mas Budi dan Pak Sopir mengeluarkan komputer komputer tersebut dibantu oleh Pak Jemari dan anak anak panti. Wajah mereka terlihat bahagia dan ceria. Kecuali Angga. Wajah Angga hanya datar datar saja. Bukan karena dia kecewa orang tuanya sudah menyumbangkan banyak komputer. Tetapi dia masih memikirkan nasib Oma dan Papinya. Dua orang yang sangat dia sayangi.
Angga berdiri di depan perpustakaan melihat orang orang yang membawa masuk komputer ke dalam ruang perpustakaan. Dilihatnya Pak Jemari membawa keyboard komputer dengan sangat hati hati benar benar dia membawanya bagai mengendong bayi. Pak Jemari juga berjalan sangat pelan pelan. Angga tersenyum tipis melihat tingkah Pak Jemari.
“Cara bawanya bener begini kan Mas Angga?” tanya Pak Jemari saat berada di dekat Angga. Dia tahu Angga memperhatikan dirinya.
“Bapak lebay, ga perlu begitu begitu amat kali Pak.” teriak Marginah yang dengan cekatan membawa masuk bagian bagian komouter bersama Nesya.
“Lebay apa. Kata Mas Budi harus bawa hati hati kayak bawa bayi merah. Aku dulu gendong kamu saat bayi ya gini hati hati jalan pelan pelan takut tersandung dan jatuh.” ucap Pak Jemari masih menggendong keyboard. Namun tiba tiba Marginah menepuk pundak Pak Jemari lumayan keras. Hingga Pak Jemari sangat kaget dan hampir saja keyboard yang digendong akan terlepas dari tangannya. Pak Jemari yang kaget lalu memarahi Marginah.
“Maaf Pak, habis Bapak bener bener lebay. Kalau bawanya kayak Bapak semua sampai besok pagi tidak selesai. Aku dan Nesya sudah bolak balik bawa. Bapak bawa satu keyboard aja belum selesai.” ucap Marginah. Pak Jemari terlihat hanya tersenyum. Angga yang melihat tingkah laku anak bapak itu tersenyum. Pak Jemari memang bisa menghibur dirinya di saat sedang susah.
“Ayo masuk Mas Angga.” ucap Pak Jemari dan Angga pun mengikuti Pak Jemari. Terlihat Mas Budi dan anak anak menata komputer komputer di dalam ruangan perpustakaan.
“Mas Angga bisa bantu memasangkan, yang lain tidak bisa.” ucap Mas Budi sambil menatap Angga.
“Iya Nga dibantu Mas Budi, kalau aku yang masang malah bjsa jadi meledak nanti komputernya.” ucap Marginah sambil tersenyum. Angga menganggukkan kepala lalu dia mulai bekerja membantu Mas Budi. Tidak lama kemudian semua sudsh beres. Semua komputer sudah bisa dipakai. Terlihat anak anak sudah mulai menggunakan komputer tersebut. Saking senangnya mereka rela tidak tidur siang. Dan Ibu Sari sudah mengijinkan hari ini mereka tidak tidur siang tetapi mereka berada di ruang perpustakaan. Mereka bergilir untuk mencoba komputer barunya.
“Bagaimana kabar Papi dan Oma, Mas?” tanya Pak Jemari sambil menatap Angga yang duduk membuka buka sebuah majalah sekolah.
“Papi sudah sampai rumah sakit. Belum ada donor yang cocok sampai saat ini Pak.” jawab Angga lalu menutup majalah yang dibuka buka tadi.
“Sabar ya Mas... Kita berdoa semoga segera dapat donor yang cocok. Masih ada waktu beberapa jam.” ucap Pak Jemari memberi semangat pada Angga.
“Terimakasih Pak. Kasihan Papi kalau hidup dengan satu ginjal, Papi pekerja keras, dia harus memikirkan perusahaan. Memikirkan Oma memikirkan aku, juga memikirkan keluarga barunya. Kata Oma, Mami Angga juga masih sering meminta uang Papi, alasannya Papi sudah mendapatkan saya. Kayak menjual aku saja Mami itu.” ucap Angga dengan wajah sendu. Pak Jemari ikut sedih mendengarkan cerita Angga.
“Mas Angga terakhir bertemu Mami kapan?” tanya Pak Jemari.
“Sudah lama Pak, sejak kasus cerai itu aku umur dua tahun. Habis itu Mami keluar negeri, meneruskan karirnya sebagai model. Katanya kalau punya anak membuat karirnya tidak berkembang. Setelah Angga punya hape saja kadang kadang video call an tetapi sangat jarang. Katanya sibuk.” jawab Angga.
“Mas Angga sejak cerai ikut Oma?” tanya Pak Jemari.
“Iya Pak. Dulu ikut Papi dan Oma. Tetapi saat Angga TK, Papi nikah lagi. Tetapi Tante, Mami baru itu tidak mau menerima Angga. Katanya tidak mau merawat anak tiri takut bermasalah atau apalah. Akhirnya Papi beli rumah lagi untuk keluarga barunya. Dari Mami baru Papi punya dua anak perempuan dan laki laki. Gitu Pak ... ceritanya...” ucap Angga. Marginah yang duduk di dekat mereka terlihat asyik mengoperasikan komputer dia diajari oleh Fatima. Tetapi telinganya mendengarkan omongan Angga. Dia merasa kasihan dengan Angga yang tidak dikehendaki oleh kedua Ibunya. Ibu kandung dan Ibu tiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments