20. Sabar

Pagi harinya Papinya Angga pamit akan langsung menuju bandara dan selanjutnya akan menuju ke Singapore untuk ke rumah sakit. Omanya Angga sudah harus segera operasi.

“Nak, jaga diri baik baik. Papi pamit doakan semua berjalan lancar.” ucap Papinya Angga sambil memeluk erat tubuh Angga. Angga terlihat mengangguk dan membalas pelukan Papinya.

“Papi nanti kabari aku ya. Apapun beritanya.” ucap Angga. Karena sampai saat ini belum ada kabar dari rumah tentang adanya calon donor yang cocok. Dan jika sampai nanti malam tidak ada, berarti Papinya Angga yang harus menjadi donor ginjal untuk Oma.

“Iya Sayang.” ucap Papinya Angga lalu melepas pelukannya. Dan tidak lama kemudian Pak Jemari yang selalu mengikuti mereka menjabat erat tangan Papinya Angga.

“Kita doakan saja Pak, semoga segera ada donor yang cocok. Mujijat dari Allah selalu ada bagi kita yang percaya.” ucap Pak Jemari. Papinya Angga lalu masuk ke dalam mobil beliau sudah pamit dengan semua pengurus Panti. Ibu Sari yang sedang ada keperluan ke luar tidak bisa mengantar kepulangan Papinya Angga. Marginah dan teman teman lainnya ikut berdiri di belakang Pak Jemari. Mereka semua sudah menjabat tangan Papinya Angga. Sekarang mereka semua melambai lambaikan tangannya mengantar mobilnya Papinya Angga yang berjalan keluar dari halaman panti asuhan.

Saat siang hari. Ada mobil box masuk ke halaman panti. Anak anak yang sedang istirahat selesai makan siang berlarian menuju ke mobil box yang sudah terparkir di halaman panti. Tadi saat makan siang Ibu Sari sudah mengumumkan kalau komputer bantuan dari Papinya Angga sudah di dalam perjalan menuju ke panti. Anak anak terlihat sangat senang.

“Mas Budi aku bantu bawanya.” ucap Pak Jemari sambil berjalan di samping Mas Budi.

“Iya Pak, tapi bawanya hati hati ya jangan disamakan bawa karung pupuk.” ucap Mas Budi sambil tersenyum dan terus berjalan menuju ke mobil box. Terlihat sopir mobil box sudah turun dari mobil sambil tangannya memegang note dan bolpen.

“Aku ya tahu tho Mas, aku bawanya akan kayak bawa bayi merah. Hati hati pokoke.”ucap Pak Jemari dengan wajah serius. Mas Budi hanya tersenyum lalu mempercepat jalannya menghampiri sopir mobil box tersebut. Mas Budi yang sudah diberi kepercayaan oleh Ibu Sari lalu menerima note yang disodorkan oleh sopir mobil box tersebut. Mas Budi membaca isi note tersebut tanda terima kiriman barang di situ tertulis ada 10 unit komputer. Mata Mas Budi terbelalak kaget. Tidak menyangka tiba tiba mendapat bantuan komputer 10 unit. Mas Budi lalu menandatangani note tersebut.

Mas Budi dan Pak Sopir mengeluarkan komputer komputer tersebut dibantu oleh Pak Jemari dan anak anak panti. Wajah mereka terlihat bahagia dan ceria. Kecuali Angga. Wajah Angga hanya datar datar saja. Bukan karena dia kecewa orang tuanya sudah menyumbangkan banyak komputer. Tetapi dia masih memikirkan nasib Oma dan Papinya. Dua orang yang sangat dia sayangi.

Angga berdiri di depan perpustakaan melihat orang orang yang membawa masuk komputer ke dalam ruang perpustakaan. Dilihatnya Pak Jemari membawa keyboard komputer dengan sangat hati hati benar benar dia membawanya bagai mengendong bayi. Pak Jemari juga berjalan sangat pelan pelan. Angga tersenyum tipis melihat tingkah Pak Jemari.

“Cara bawanya bener begini kan Mas Angga?” tanya Pak Jemari saat berada di dekat Angga. Dia tahu Angga memperhatikan dirinya.

“Bapak lebay, ga perlu begitu begitu amat kali Pak.” teriak Marginah yang dengan cekatan membawa masuk bagian bagian komouter bersama Nesya.

“Lebay apa. Kata Mas Budi harus bawa hati hati kayak bawa bayi merah. Aku dulu gendong kamu saat bayi ya gini hati hati jalan pelan pelan takut tersandung dan jatuh.” ucap Pak Jemari masih menggendong keyboard. Namun tiba tiba Marginah menepuk pundak Pak Jemari lumayan keras. Hingga Pak Jemari sangat kaget dan hampir saja keyboard yang digendong akan terlepas dari tangannya. Pak Jemari yang kaget lalu memarahi Marginah.

“Maaf Pak, habis Bapak bener bener lebay. Kalau bawanya kayak Bapak semua sampai besok pagi tidak selesai. Aku dan Nesya sudah bolak balik bawa. Bapak bawa satu keyboard aja belum selesai.” ucap Marginah. Pak Jemari terlihat hanya tersenyum. Angga yang melihat tingkah laku anak bapak itu tersenyum. Pak Jemari memang bisa menghibur dirinya di saat sedang susah.

“Ayo masuk Mas Angga.” ucap Pak Jemari dan Angga pun mengikuti Pak Jemari. Terlihat Mas Budi dan anak anak menata komputer komputer di dalam ruangan perpustakaan.

“Mas Angga bisa bantu memasangkan, yang lain tidak bisa.” ucap Mas Budi sambil menatap Angga.

“Iya Nga dibantu Mas Budi, kalau aku yang masang malah bjsa jadi meledak nanti komputernya.” ucap Marginah sambil tersenyum. Angga menganggukkan kepala lalu dia mulai bekerja membantu Mas Budi. Tidak lama kemudian semua sudsh beres. Semua komputer sudah bisa dipakai. Terlihat anak anak sudah mulai menggunakan komputer tersebut. Saking senangnya mereka rela tidak tidur siang. Dan Ibu Sari sudah mengijinkan hari ini mereka tidak tidur siang tetapi mereka berada di ruang perpustakaan. Mereka bergilir untuk mencoba komputer barunya.

“Bagaimana kabar Papi dan Oma, Mas?” tanya Pak Jemari sambil menatap Angga yang duduk membuka buka sebuah majalah sekolah.

“Papi sudah sampai rumah sakit. Belum ada donor yang cocok sampai saat ini Pak.” jawab Angga lalu menutup majalah yang dibuka buka tadi.

“Sabar ya Mas... Kita berdoa semoga segera dapat donor yang cocok. Masih ada waktu beberapa jam.” ucap Pak Jemari memberi semangat pada Angga.

“Terimakasih Pak. Kasihan Papi kalau hidup dengan satu ginjal, Papi pekerja keras, dia harus memikirkan perusahaan. Memikirkan Oma memikirkan aku, juga memikirkan keluarga barunya. Kata Oma, Mami Angga juga masih sering meminta uang Papi, alasannya Papi sudah mendapatkan saya. Kayak menjual aku saja Mami itu.” ucap Angga dengan wajah sendu. Pak Jemari ikut sedih mendengarkan cerita Angga.

“Mas Angga terakhir bertemu Mami kapan?” tanya Pak Jemari.

“Sudah lama Pak, sejak kasus cerai itu aku umur dua tahun. Habis itu Mami keluar negeri, meneruskan karirnya sebagai model. Katanya kalau punya anak membuat karirnya tidak berkembang. Setelah Angga punya hape saja kadang kadang video call an tetapi sangat jarang. Katanya sibuk.” jawab Angga.

“Mas Angga sejak cerai ikut Oma?” tanya Pak Jemari.

“Iya Pak. Dulu ikut Papi dan Oma. Tetapi saat Angga TK, Papi nikah lagi. Tetapi Tante, Mami baru itu tidak mau menerima Angga. Katanya tidak mau merawat anak tiri takut bermasalah atau apalah. Akhirnya Papi beli rumah lagi untuk keluarga barunya. Dari Mami baru Papi punya dua anak perempuan dan laki laki. Gitu Pak ... ceritanya...” ucap Angga. Marginah yang duduk di dekat mereka terlihat asyik mengoperasikan komputer dia diajari oleh Fatima. Tetapi telinganya mendengarkan omongan Angga. Dia merasa kasihan dengan Angga yang tidak dikehendaki oleh kedua Ibunya. Ibu kandung dan Ibu tiri.

Episodes
1 1. Celoteh di persiapan pagi hari
2 2. Pesan Nenek
3 3. Emosi Pak Jemari
4 4. Toko Mekar
5 5. Panti asuhan Budi Luhur
6 6. Kamar Tamu yang horor
7 7. Teman sekamar
8 8 Sedikit cerita Nesya
9 9 Cerita Nesya
10 10 Gebrakan di meja pak Jemari
11 11. Sedikit cerita tentang Angga
12 12. Igauan Angga
13 13. Pak Jemari jangan pulang
14 14. Sepuluh juta
15 15. Salah Paham
16 16. Salah Paham 2
17 17. Kedatangan Papinya Angga
18 18. Keputusan Papinya Angga
19 19. Bantuan
20 20. Sabar
21 Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22 Bab. 22. Bersyukur
23 Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24 Bab. 24. Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26 Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27 Bab. 27. Waspada
28 Bab. 28. Menjemput Angga
29 Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30 Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31 Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32 Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33 Bab. 33. Belajar Bela Diri
34 Bab. 34. Berbinar Binar
35 Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36 Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37 Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38 Bab. 38. Semangat Belajar
39 Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40 Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41 Bab. 41. Malam Perpisahan
42 Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43 Bab. 43. Penghuni Baru
44 Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45 Bab. 45. Kalimat yang Viral
46 Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47 Bab. 47. Terlambat
48 Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49 Bab. 49. Ada itu Berkah
50 Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51 Bab. 51. Penasaran
52 Bab. 52. Doa Ibu Sari
53 Bab. 53. Nesya Histeris
54 Bab. 54. Ancaman Nesya
55 Bab. 55. Ide Angga
56 Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57 Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58 Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59 Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60 Bab. 60. Tangisan
61 Bab. 61. Curiga
62 Bab. 62. Waspada
63 Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64 Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65 Bab. 65. Emak Baru
66 Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67 Bab. 67. Rencana Emak Baru
68 Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69 Bab. 69. Diambil Alih
70 Bab. 70. Tekad Emak Baru
71 Bab. 71. Tidak Sendiri
72 Bab. 72. Emak Baru Kepo
73 Bab. 73. Ujian Hidup
74 Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75 Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76 Bab. 76. Anomali
77 Bab. 77. Menunggu
78 Bab. 78. Kedatangan Tamu
79 Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80 Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81 Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82 Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83 Bab. 83. Dilema
84 Bab. 84. Kecewa?
85 Bab. 85. Akhirnya Asyik
86 Bab. 86. Hujan Badai
87 Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88 Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89 Bab. 89. Berita Menggelegar
90 Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91 Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92 Bab. 92. Bantuan Sandra
93 Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94 Bab. 94. Rahasia
95 Bab. 95. Izin
96 PROMO NOVEL BARU
97 PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Celoteh di persiapan pagi hari
2
2. Pesan Nenek
3
3. Emosi Pak Jemari
4
4. Toko Mekar
5
5. Panti asuhan Budi Luhur
6
6. Kamar Tamu yang horor
7
7. Teman sekamar
8
8 Sedikit cerita Nesya
9
9 Cerita Nesya
10
10 Gebrakan di meja pak Jemari
11
11. Sedikit cerita tentang Angga
12
12. Igauan Angga
13
13. Pak Jemari jangan pulang
14
14. Sepuluh juta
15
15. Salah Paham
16
16. Salah Paham 2
17
17. Kedatangan Papinya Angga
18
18. Keputusan Papinya Angga
19
19. Bantuan
20
20. Sabar
21
Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22
Bab. 22. Bersyukur
23
Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24
Bab. 24. Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26
Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27
Bab. 27. Waspada
28
Bab. 28. Menjemput Angga
29
Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30
Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31
Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33
Bab. 33. Belajar Bela Diri
34
Bab. 34. Berbinar Binar
35
Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36
Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37
Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38
Bab. 38. Semangat Belajar
39
Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41
Bab. 41. Malam Perpisahan
42
Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43
Bab. 43. Penghuni Baru
44
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45
Bab. 45. Kalimat yang Viral
46
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47
Bab. 47. Terlambat
48
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49
Bab. 49. Ada itu Berkah
50
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51
Bab. 51. Penasaran
52
Bab. 52. Doa Ibu Sari
53
Bab. 53. Nesya Histeris
54
Bab. 54. Ancaman Nesya
55
Bab. 55. Ide Angga
56
Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58
Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59
Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60
Bab. 60. Tangisan
61
Bab. 61. Curiga
62
Bab. 62. Waspada
63
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65
Bab. 65. Emak Baru
66
Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67
Bab. 67. Rencana Emak Baru
68
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69
Bab. 69. Diambil Alih
70
Bab. 70. Tekad Emak Baru
71
Bab. 71. Tidak Sendiri
72
Bab. 72. Emak Baru Kepo
73
Bab. 73. Ujian Hidup
74
Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75
Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76
Bab. 76. Anomali
77
Bab. 77. Menunggu
78
Bab. 78. Kedatangan Tamu
79
Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80
Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81
Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82
Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83
Bab. 83. Dilema
84
Bab. 84. Kecewa?
85
Bab. 85. Akhirnya Asyik
86
Bab. 86. Hujan Badai
87
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88
Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89
Bab. 89. Berita Menggelegar
90
Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92
Bab. 92. Bantuan Sandra
93
Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94
Bab. 94. Rahasia
95
Bab. 95. Izin
96
PROMO NOVEL BARU
97
PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!