16. Salah Paham 2

“Mas... jalan cepet ya" ucap Marginah saat sudah duduk di dalam becak

“Kalau perlu aku bantu ngenjot" ucap Marginah lagi

“Emang kamu bisa Nah?” tanya Nesya yang juga sudah duduk di samping Marginah

“Jelas enggak bisa Nes" saut mas Budi yang sudah mulai ngenjot becaknya

“Mas, besok lagi dikasih mesin saja becaknya, jadi ga usah ngenjot" ucap Marginah memberi saran, sebab saat ini rasanya dia tidak sabar dengan jalannya becak yang berjalan dengan tenaga manusia. Dia rasa seperti lebih cepat lari saja daripada naik becak.

“Usul yang bagus Nah" jawab Mas Budi

“Ada apa sih Nah, gawat darurat apa?” tanya Nesya

“Aku tidak begitu paham masalah orang tua Nes, kok Mak bilang bapak nemeni tidur perempuan terus Mak marah marah katanya biar saja tanaman dan sapi mati. Kalau tanaman dan sapi mati bagaimana keluargaku bisa makan Nes" ucap Marginah.

“Kalau tadi kamu pengen cepat pulang kan bisa bonceng bu Sari, tuh mereka sudah mendahului kita" ucap mas Budi saat melihat motor ibu Sari sudah melewati mereka.

“Jangan Mas, aku ga nyaman lah duduk satu becak dengan Angga, paling Cuma diem diem an aja” protes Nesya.

“Ya kamu jalan kaki he ...he... “ jawab mas Budi sambil tertawa kecil

Tidak lama kemudian becak sudah memasuki halaman panti. Marginah melihat di halaman panti bapaknya sedang jongkok di depan taman yang berada di halaman tersebut.

“Bapak sedang apa kok jongkok di taman, tidak tahu kalau Mak sedang marah marah" gumam Marginah yang di dengar oleh Nesya.

“Mas, langsung jalan antar Marginah sampai di depan pak Jemari itu" ucap Nesya sambil menunjuk pak Jemari. Mas Budi lalu terus menjalankan becaknya hingga sampai di depan pak Jemari berjongkok. Marginah pun langsung loncat dari becak dan mendekati bapaknya. Sementara mas Budi langsung menjalankan becaknya lagi untuk parkir di tempatnya, sedangkan Nesya berjalan menuju ke kamarnya.

Terlihat pak Jemari sedang berjongkok sambil membersihkan rumput rumput di taman.

“Bapak sedang apa sih,gawat Pak, Mak marah marah" ucap Marginah dengan suara yang agak keras.

“Opo to Nah, datang datang kok teriak teriak" ucap pak Jemari lalu bangkit berdiri menatap anaknya yang baru datang.

“Ini aku sedang membersihkan rumput sekalian olah raga, biar badan ga sakit, gimana Mak sudah dapat orang untuk ngurus tanaman dan sapi" ucap pak Jemari selanjutnya dan bertanya tentang orang yang mengurus tanaman dan sapi nya.

“Bapak telpon Mak saja, dia sedang di tetangga tadi pinjem telpon buat nelpon aku, Mak marah marah katanya tanaman dan sapi akan di biarin mati" ucap Marginah sambil mengulurkan hapenya .

“Waduh... piye to Nah, disuruh gitu saja kok tidak beres" ucap pak Jemari lalu menerima hape Marginah

“Bagaimana ini caranya aku tidak bisa pakai hape seperti ini" ucap pak Jemari selanjutnya sambil menyodorkan lagi hape Marginah.

“Sini" ucap Marginah lalu mengambil hapenya lagi dan melakukan panggilan video pada nomer tetangganya yang menghubungi tadi. Dan tidak lama kemudian sambungan panggilan video sudah terhubung. Di layar hape Marginah tampak wajah tetangganya.

“Lik, Mak mana?” tanya Marginah dan terlihat pak Jemari ikut melihat layar hape mencari cari wajah istri nya

“Sudah pulang Nah" jawab tetangga Mak Dinah.

“Lari sana ke rumahku" ucap pak Jemari

“Iya ... iya... “ jawabnya dan terlihat sambungan telpon belum terputus dan tetangganya lari menuju ke rumah Mak Dinah

“Yu... Yu... iki ditelpon bojomu karo anakmu (Mbak.. Mbak.. ini ditelpon suami dan anakmu" terdengar suara tetangga Mak Dinah dari hape Marginah

Dan tidak lama kemudian terlihat Mak Dinah sudah nampak di layar hape Marginah dengan wajah yang terlihat habis menangis.

“Salahku itu apa to Pak, kok kamu tega selingkuh tidur dengan perempuan lain... hiks...hiks... “ ucap Mak Dinah sambil terisak. Dan tentu saja ucapan Mak Dinah membuat pak Jemari bingung.

“Tidur dengan perempuan piye tho?” tanya pak Jemari dengan ekspresi wajah antara bingung dan kasihan melihat istrinya menangis tersedu sedu

“Ya perempuan yang ngasih uang 10 juta, aku baru dikasih pak Kades 1 juta katanya biar tidak cepet habis, tapi aku ogah ambil sepeser pun uang itu tuh masih utuh, aku juga ogah mencarikan orang buat ngurus tanaman dan sapi biar semua mati, aku masih bisa cari uang dengan nyari kayu atau buruh buruh buat makan” ucap Mak Dinah.

“Siapa yang bilang uang sepuluh juta dari perempuan?” tanya pak Jemari.

“Pasti enggak ngaku toh, pembantu pak Kades yang bilang katanya bapak menemani tidur mbak Angga" jawab Mak Dinah dengan lantang namun pak Jemari dan Marginah malah tertawa terbahak bahak.

“Senang kalian semua di situ dapat uang banyak” ucap Mak Dinah dengan emosi.

“Mak, Angga itu laki laki temenku, anak donatur di panti ini" saut Marginah , dia tidak ingin kesalahan paham berlarut larut.

“Ha? Jadi Angga itu anak anak dan laki laki?” tanya Mak Dinah.

“Iya" jawab Pak Jemari dan Marginah bersamaan.

“Yo wis, aku segera cari orang buat ngurus tanaman dan sapi” ucap Mak Dinah sambil menyerahkan hape kepada tetangganya. Dan langsung berlari mencari orang buat ngurus tanaman dan sapi.

“Nah ucapkan terimakasih buat Lik Lastri” ucap Pak Jemari yang sekarang sudah lega istrinya sudah akan mencari orang untuk ngurus tanaman dan sapi nya. Marginah lalu melihat layar hapenya.

“Sudah putus Pak, sambungan telponnya, aku kirim lewat chatting saja aku ucapkan terimakasih" jawab Marginah lalu dia terlihat mengetik pesan teks untuk mengucapkan terimakasih kepada tetangga yang sudah meminjami telpon dan sudah berlari lari ke rumahnya.

“Sudah Pak" ucap Marginah lalu menaruh hapenya lagi ke dalam tas nya.

“Nanti aku tanya pak Kades, dan biar pembantunya dijewer sudah menyebar hoax" ucap pak Jemari lalu kembali membersihkan rumput taman.

“Pasti berita sudah menyebar satu desa Pak, bapak tidur dengan mbak Angga Ha....Ha....” ucap Marginah sambil tertawa lalu berjalan meninggalkan pak Jemari

“Wah .. iya itu Nah, tidak bisa dibiarkan, pak Kades harus bertanggung jawab" ucap pak Jemari lalu bangkit berdiri dan selanjutnya berjalan menuju ke kamarnya. Tujuannya adalah akan menelpon pak Kades agar beliau meluruskan berita. Pak Jemari terus berjalan sesampai di depan pintu kamar dia membuka pelan pelan handel pintu tetapi tidak bisa terbuka.

“Padahal tadi tidak kukunci kenapa susah dibuka sih" gumam pak Jemari dalam hati.

"Apa mas Angga sudah di dalam kamar apa ya?" tanya pak Jemari pada dirinya sendiri. Pak Jemari lalu mengetuk ngetuk pintu kamar tersebut.

Terpopuler

Comments

Aumy Re

Aumy Re

hadir lagi thor 🖐
melanjutkan bacaan kemarin ✌
lanjut....

2022-05-03

0

Duyung kesayangan

Duyung kesayangan

lanjut kak

2022-04-23

0

🎐Tsubaki

🎐Tsubaki

tandain lagi ya thoorr..

2022-04-14

2

lihat semua
Episodes
1 1. Celoteh di persiapan pagi hari
2 2. Pesan Nenek
3 3. Emosi Pak Jemari
4 4. Toko Mekar
5 5. Panti asuhan Budi Luhur
6 6. Kamar Tamu yang horor
7 7. Teman sekamar
8 8 Sedikit cerita Nesya
9 9 Cerita Nesya
10 10 Gebrakan di meja pak Jemari
11 11. Sedikit cerita tentang Angga
12 12. Igauan Angga
13 13. Pak Jemari jangan pulang
14 14. Sepuluh juta
15 15. Salah Paham
16 16. Salah Paham 2
17 17. Kedatangan Papinya Angga
18 18. Keputusan Papinya Angga
19 19. Bantuan
20 20. Sabar
21 Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22 Bab. 22. Bersyukur
23 Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24 Bab. 24. Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26 Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27 Bab. 27. Waspada
28 Bab. 28. Menjemput Angga
29 Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30 Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31 Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32 Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33 Bab. 33. Belajar Bela Diri
34 Bab. 34. Berbinar Binar
35 Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36 Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37 Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38 Bab. 38. Semangat Belajar
39 Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40 Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41 Bab. 41. Malam Perpisahan
42 Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43 Bab. 43. Penghuni Baru
44 Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45 Bab. 45. Kalimat yang Viral
46 Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47 Bab. 47. Terlambat
48 Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49 Bab. 49. Ada itu Berkah
50 Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51 Bab. 51. Penasaran
52 Bab. 52. Doa Ibu Sari
53 Bab. 53. Nesya Histeris
54 Bab. 54. Ancaman Nesya
55 Bab. 55. Ide Angga
56 Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57 Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58 Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59 Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60 Bab. 60. Tangisan
61 Bab. 61. Curiga
62 Bab. 62. Waspada
63 Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64 Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65 Bab. 65. Emak Baru
66 Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67 Bab. 67. Rencana Emak Baru
68 Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69 Bab. 69. Diambil Alih
70 Bab. 70. Tekad Emak Baru
71 Bab. 71. Tidak Sendiri
72 Bab. 72. Emak Baru Kepo
73 Bab. 73. Ujian Hidup
74 Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75 Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76 Bab. 76. Anomali
77 Bab. 77. Menunggu
78 Bab. 78. Kedatangan Tamu
79 Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80 Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81 Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82 Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83 Bab. 83. Dilema
84 Bab. 84. Kecewa?
85 Bab. 85. Akhirnya Asyik
86 Bab. 86. Hujan Badai
87 Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88 Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89 Bab. 89. Berita Menggelegar
90 Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91 Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92 Bab. 92. Bantuan Sandra
93 Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94 Bab. 94. Rahasia
95 Bab. 95. Izin
96 PROMO NOVEL BARU
97 PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Celoteh di persiapan pagi hari
2
2. Pesan Nenek
3
3. Emosi Pak Jemari
4
4. Toko Mekar
5
5. Panti asuhan Budi Luhur
6
6. Kamar Tamu yang horor
7
7. Teman sekamar
8
8 Sedikit cerita Nesya
9
9 Cerita Nesya
10
10 Gebrakan di meja pak Jemari
11
11. Sedikit cerita tentang Angga
12
12. Igauan Angga
13
13. Pak Jemari jangan pulang
14
14. Sepuluh juta
15
15. Salah Paham
16
16. Salah Paham 2
17
17. Kedatangan Papinya Angga
18
18. Keputusan Papinya Angga
19
19. Bantuan
20
20. Sabar
21
Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22
Bab. 22. Bersyukur
23
Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24
Bab. 24. Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26
Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27
Bab. 27. Waspada
28
Bab. 28. Menjemput Angga
29
Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30
Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31
Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33
Bab. 33. Belajar Bela Diri
34
Bab. 34. Berbinar Binar
35
Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36
Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37
Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38
Bab. 38. Semangat Belajar
39
Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41
Bab. 41. Malam Perpisahan
42
Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43
Bab. 43. Penghuni Baru
44
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45
Bab. 45. Kalimat yang Viral
46
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47
Bab. 47. Terlambat
48
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49
Bab. 49. Ada itu Berkah
50
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51
Bab. 51. Penasaran
52
Bab. 52. Doa Ibu Sari
53
Bab. 53. Nesya Histeris
54
Bab. 54. Ancaman Nesya
55
Bab. 55. Ide Angga
56
Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58
Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59
Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60
Bab. 60. Tangisan
61
Bab. 61. Curiga
62
Bab. 62. Waspada
63
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65
Bab. 65. Emak Baru
66
Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67
Bab. 67. Rencana Emak Baru
68
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69
Bab. 69. Diambil Alih
70
Bab. 70. Tekad Emak Baru
71
Bab. 71. Tidak Sendiri
72
Bab. 72. Emak Baru Kepo
73
Bab. 73. Ujian Hidup
74
Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75
Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76
Bab. 76. Anomali
77
Bab. 77. Menunggu
78
Bab. 78. Kedatangan Tamu
79
Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80
Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81
Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82
Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83
Bab. 83. Dilema
84
Bab. 84. Kecewa?
85
Bab. 85. Akhirnya Asyik
86
Bab. 86. Hujan Badai
87
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88
Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89
Bab. 89. Berita Menggelegar
90
Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92
Bab. 92. Bantuan Sandra
93
Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94
Bab. 94. Rahasia
95
Bab. 95. Izin
96
PROMO NOVEL BARU
97
PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!