“Mas... jalan cepet ya" ucap Marginah saat sudah duduk di dalam becak
“Kalau perlu aku bantu ngenjot" ucap Marginah lagi
“Emang kamu bisa Nah?” tanya Nesya yang juga sudah duduk di samping Marginah
“Jelas enggak bisa Nes" saut mas Budi yang sudah mulai ngenjot becaknya
“Mas, besok lagi dikasih mesin saja becaknya, jadi ga usah ngenjot" ucap Marginah memberi saran, sebab saat ini rasanya dia tidak sabar dengan jalannya becak yang berjalan dengan tenaga manusia. Dia rasa seperti lebih cepat lari saja daripada naik becak.
“Usul yang bagus Nah" jawab Mas Budi
“Ada apa sih Nah, gawat darurat apa?” tanya Nesya
“Aku tidak begitu paham masalah orang tua Nes, kok Mak bilang bapak nemeni tidur perempuan terus Mak marah marah katanya biar saja tanaman dan sapi mati. Kalau tanaman dan sapi mati bagaimana keluargaku bisa makan Nes" ucap Marginah.
“Kalau tadi kamu pengen cepat pulang kan bisa bonceng bu Sari, tuh mereka sudah mendahului kita" ucap mas Budi saat melihat motor ibu Sari sudah melewati mereka.
“Jangan Mas, aku ga nyaman lah duduk satu becak dengan Angga, paling Cuma diem diem an aja” protes Nesya.
“Ya kamu jalan kaki he ...he... “ jawab mas Budi sambil tertawa kecil
Tidak lama kemudian becak sudah memasuki halaman panti. Marginah melihat di halaman panti bapaknya sedang jongkok di depan taman yang berada di halaman tersebut.
“Bapak sedang apa kok jongkok di taman, tidak tahu kalau Mak sedang marah marah" gumam Marginah yang di dengar oleh Nesya.
“Mas, langsung jalan antar Marginah sampai di depan pak Jemari itu" ucap Nesya sambil menunjuk pak Jemari. Mas Budi lalu terus menjalankan becaknya hingga sampai di depan pak Jemari berjongkok. Marginah pun langsung loncat dari becak dan mendekati bapaknya. Sementara mas Budi langsung menjalankan becaknya lagi untuk parkir di tempatnya, sedangkan Nesya berjalan menuju ke kamarnya.
Terlihat pak Jemari sedang berjongkok sambil membersihkan rumput rumput di taman.
“Bapak sedang apa sih,gawat Pak, Mak marah marah" ucap Marginah dengan suara yang agak keras.
“Opo to Nah, datang datang kok teriak teriak" ucap pak Jemari lalu bangkit berdiri menatap anaknya yang baru datang.
“Ini aku sedang membersihkan rumput sekalian olah raga, biar badan ga sakit, gimana Mak sudah dapat orang untuk ngurus tanaman dan sapi" ucap pak Jemari selanjutnya dan bertanya tentang orang yang mengurus tanaman dan sapi nya.
“Bapak telpon Mak saja, dia sedang di tetangga tadi pinjem telpon buat nelpon aku, Mak marah marah katanya tanaman dan sapi akan di biarin mati" ucap Marginah sambil mengulurkan hapenya .
“Waduh... piye to Nah, disuruh gitu saja kok tidak beres" ucap pak Jemari lalu menerima hape Marginah
“Bagaimana ini caranya aku tidak bisa pakai hape seperti ini" ucap pak Jemari selanjutnya sambil menyodorkan lagi hape Marginah.
“Sini" ucap Marginah lalu mengambil hapenya lagi dan melakukan panggilan video pada nomer tetangganya yang menghubungi tadi. Dan tidak lama kemudian sambungan panggilan video sudah terhubung. Di layar hape Marginah tampak wajah tetangganya.
“Lik, Mak mana?” tanya Marginah dan terlihat pak Jemari ikut melihat layar hape mencari cari wajah istri nya
“Sudah pulang Nah" jawab tetangga Mak Dinah.
“Lari sana ke rumahku" ucap pak Jemari
“Iya ... iya... “ jawabnya dan terlihat sambungan telpon belum terputus dan tetangganya lari menuju ke rumah Mak Dinah
“Yu... Yu... iki ditelpon bojomu karo anakmu (Mbak.. Mbak.. ini ditelpon suami dan anakmu" terdengar suara tetangga Mak Dinah dari hape Marginah
Dan tidak lama kemudian terlihat Mak Dinah sudah nampak di layar hape Marginah dengan wajah yang terlihat habis menangis.
“Salahku itu apa to Pak, kok kamu tega selingkuh tidur dengan perempuan lain... hiks...hiks... “ ucap Mak Dinah sambil terisak. Dan tentu saja ucapan Mak Dinah membuat pak Jemari bingung.
“Tidur dengan perempuan piye tho?” tanya pak Jemari dengan ekspresi wajah antara bingung dan kasihan melihat istrinya menangis tersedu sedu
“Ya perempuan yang ngasih uang 10 juta, aku baru dikasih pak Kades 1 juta katanya biar tidak cepet habis, tapi aku ogah ambil sepeser pun uang itu tuh masih utuh, aku juga ogah mencarikan orang buat ngurus tanaman dan sapi biar semua mati, aku masih bisa cari uang dengan nyari kayu atau buruh buruh buat makan” ucap Mak Dinah.
“Siapa yang bilang uang sepuluh juta dari perempuan?” tanya pak Jemari.
“Pasti enggak ngaku toh, pembantu pak Kades yang bilang katanya bapak menemani tidur mbak Angga" jawab Mak Dinah dengan lantang namun pak Jemari dan Marginah malah tertawa terbahak bahak.
“Senang kalian semua di situ dapat uang banyak” ucap Mak Dinah dengan emosi.
“Mak, Angga itu laki laki temenku, anak donatur di panti ini" saut Marginah , dia tidak ingin kesalahan paham berlarut larut.
“Ha? Jadi Angga itu anak anak dan laki laki?” tanya Mak Dinah.
“Iya" jawab Pak Jemari dan Marginah bersamaan.
“Yo wis, aku segera cari orang buat ngurus tanaman dan sapi” ucap Mak Dinah sambil menyerahkan hape kepada tetangganya. Dan langsung berlari mencari orang buat ngurus tanaman dan sapi.
“Nah ucapkan terimakasih buat Lik Lastri” ucap Pak Jemari yang sekarang sudah lega istrinya sudah akan mencari orang untuk ngurus tanaman dan sapi nya. Marginah lalu melihat layar hapenya.
“Sudah putus Pak, sambungan telponnya, aku kirim lewat chatting saja aku ucapkan terimakasih" jawab Marginah lalu dia terlihat mengetik pesan teks untuk mengucapkan terimakasih kepada tetangga yang sudah meminjami telpon dan sudah berlari lari ke rumahnya.
“Sudah Pak" ucap Marginah lalu menaruh hapenya lagi ke dalam tas nya.
“Nanti aku tanya pak Kades, dan biar pembantunya dijewer sudah menyebar hoax" ucap pak Jemari lalu kembali membersihkan rumput taman.
“Pasti berita sudah menyebar satu desa Pak, bapak tidur dengan mbak Angga Ha....Ha....” ucap Marginah sambil tertawa lalu berjalan meninggalkan pak Jemari
“Wah .. iya itu Nah, tidak bisa dibiarkan, pak Kades harus bertanggung jawab" ucap pak Jemari lalu bangkit berdiri dan selanjutnya berjalan menuju ke kamarnya. Tujuannya adalah akan menelpon pak Kades agar beliau meluruskan berita. Pak Jemari terus berjalan sesampai di depan pintu kamar dia membuka pelan pelan handel pintu tetapi tidak bisa terbuka.
“Padahal tadi tidak kukunci kenapa susah dibuka sih" gumam pak Jemari dalam hati.
"Apa mas Angga sudah di dalam kamar apa ya?" tanya pak Jemari pada dirinya sendiri. Pak Jemari lalu mengetuk ngetuk pintu kamar tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Aumy Re
hadir lagi thor 🖐
melanjutkan bacaan kemarin ✌
lanjut....
2022-05-03
0
Duyung kesayangan
lanjut kak
2022-04-23
0
🎐Tsubaki
tandain lagi ya thoorr..
2022-04-14
2