Sementara itu pak Jemari yang masuk ke dalam kamar tamu panti asuhan tersebut sangat terkejut dengan kamar yang begitu besar dengan jendela jendela kayu yang sangat lebar.
"Ini seperti bangunan jaman Belanda" gumam pak Jemari.
Namun betapa terkejutnya pak Jemari lampu kamar tersebut mendadak padam, sedangkan pak Jemari belum tahu letak saklarnya. Pak Jemari lalu berlari keluar kamar, dia berjalan menuju kamar mas Budi.
"Mas Budi" teriak pak Jemari di balik pintu kamar mas Budi
"Apa Pak" jawab mas Budi sambil membuka pintu
"Lampu kamar mati, saya tidak tahu letak saklarnya" ucap pak Jemari. Kemudian mas Budi melangkahkan kaki menuju ke kamar tamu. Pak Jemari mengikuti dari belakang. Mas Budi kemudian masuk ke kamar yang pintunya masih terbuka kemudian berjalan menuju ke letak saklar dan menekannya seketika lampu menyala.
"Ini Pak letak saklarnya" ucap mas Budi sambil menunjuk letak saklarnya. Kemudian mas Budi ber jalan keluar meninggalkan kamar
Pak Jemari mendekat ke tempat saklar tersebut dan mencoba menekan kembali lalu lampu mati dan mencoba menekan kembali lampu nyala. Senang hati pak Jemari sudah tidak ada masalah dengan lampu, namun saat dia membalikkan badannya betapa terkejutnya dia..
Namun seketika dia lega karena yang muncul di kamarnya adalah sosok Marginah dan Nesya.
"Kamu itu bikin kaget, masuk kamar ga bilang bilang" ucap pak Jemari sambil memegang dadanya
"Pintu sudah terbuka pak, ini baju bapak dan handuknya" ucap Marginah sambil menyerahkan baju pak Jemari terbungkus tas kresek
"Tadi lampunya mendadak mati, terus mas Budi ke sini" ucap pak Jemari
"Ooo mungkin lampunya eror pak, jarang di pakai" ucap Nesya.
"Ya sudah bapak mandi dulu nanti ikut ke ruang ibadah" ucap Marginah lalu pergi meninggalkan bapaknya berjalan keluar kamar bersama Nesya.
Pak Jemari lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut, dia bisa melihat letak saklar lampu di kamar mandi karena sinar lampu kamar bisa masuk ke dalam kamar mandi lewat pintu kamar mandi. Pak Jemari lalu menekan saklar tersebut dan lampu menyala, terlihat ada sabun mandi yang masih terbungkus juga ada handuk yang terlihat bersih. Pak Jemari kemudian menutup pintu kamar mandi selanjutnya dia mandi.
Setelah selesai pak Jemari mematikan lampu kamar mandi, kemudian dia membuka pintu kamar mandi. Tetapi betapa terkejutnya dia keadaan gelap gulita lampu kamar kembali padam.
Dengan berjalan pelan pelan menuju dinding tempat saklar lampu berada, pak Jemari meraba raba dinding untuk mencari saklar, namun dia terlonjak kaget saat tangannya meraba benda kenyal kenyal dingin di dinding
"Auuuu" teriak pak Jemari kemudian dia berhenti sambil memegang dadanya yang jantungnya berdetak lebih kencang.
Namun seketika ada suara ccckkk ccccckkkkk
"Owalahhhhh cecak tho" ucap pak Jemari lega
Kemudian Pak Jemari melanjutkan meraba raba dinding dan akhirnya menemukan letak saklar kemudian menekannya dan lampu kembali nyala. Setelahnya pak Jemari memakai bajunya, sebab dia baru memakai celananya di kamar mandi tadi, bajunya masih tertinggal di kamar. Setelah memakai baju lengkap pak Jemari menyisir rambutnya, kemudian berjalan keluar kamar menuju ruang doa.
Pak Jemari berjalan di sepanjang lorong teras, kamar tamu terletak di bangunan yang terletak agak jauh dari bangunan yang tadi pak Jemari masuki. Tetapi letaknya dekat dengan kamar mas Budi juga bangunan untuk kamar kamar anak panti berjenis kelamin laki laki. Sekarang pak Jemari sudah berada di depan ruang doa, terlihat sandal sandal anak panti berada di luar ruangan dengan terletak rapi. Pak Jemari kemudian meletakkan sandalnya dengan rapi seperti yang lain. Kemudian masuk ke dalam ruang doa tersebut, mata pak Jemari melihat punggung mas Budi kemudian pak Jemari mengambil tempat di sebelah mas Budi.
Mereka semua berdoa dengan khusuk sampai selesai. Akhirnya setelah selesai mereka keluar dengan teratur tidak ada keributan.
Terlihat beberapa anak berjalan menuju ruang perpustakaan yang terletak di dekat ruang tamu. Pak Jemari melihat Marginah dan Nesya juga berjalan menuju ke ruang perpustakaan.
Pak Jemari masih berdiri di luar ruangan tersebut. Terlihat ibu Sari dan beberapa orang masih berada di dalam. Tidak berapa lama mas Budi keluar dari ruang doa.
"Ayo pak" ajak mas Budi pada pak Jemari karena arah ke kamarnya yang sama. Kemudian Pak Jemari berjalan di belakang mas Budi melewati lorong teras.
Mas Budi kemudian duduk di teras di depan kamar tamu dan pak Jemari juga ikut duduk di sebelahnya.
"Ruangan yang di sini sepi ya mas?" tanya pak Jemari
"Iya Pak, kebanyakan aktifitas di gedung sebelah sana" ucap mas Budi sambil menunjuk gedung di seberang tempat perpustakaan dan ruang tamu
"Di sebelah perpustakaan itu ruangan ibu Sari, kamar tidur sekaligus ruang kerjanya" ucap mas Budi
"Anak anak habis doa jadwalnya belajar Pak, sore juga ada jadwal belajar yang tidak bertugas menyiapkan makan" ucap mas Budi lagi
"Ooo, bagus banyak waktu belajarnya, mas Budi sudah lama di sini?" tanya pak Jemari
"Sudah pak seumur saya, saya di sini" jawab mas Budi sambil tersenyum
"Sejak bayi?" tanya pak Jemari memastikan
"Iya Pak, kata bu Sari saya dulu ditemukan di depan pintu ruang tamu tadi yang pak Jemari masuki" ucap mas Budi
"Saya tidak tahu orang tua saya Pak, Bu Sari sudah seperti ibu saya" ucap mas Budi lagi
Pak Jemari mendengarkan dengan seksama dengan wajah yang ikut prihatin.
"Lalu sama ibu Sari saya diberi nama Budi Luhur sama seperti nama panti, haaa...ha... besuk saat saya sudah tua mungkin saya dikira pendiri panti ini" ucap mas Budi sambil tertawa
"Mas Budi sudah selesai sekolahnya?" tanya pak Jemari
"SMK sudah selesai pak, baru daftar kuliah tapi sekarang juga sudah kerja di panti ini pak, membantu ibu Sari. jadi cari kuliah yang bisa disambi sambi" ucap mas Budi
"Ooo" ucap pak Jemari
Mereka lalu berbincang bincang segala macam topik. Pak Jemari menceritakan daerah asalnya keluarga dan pekerjaannya. Tak terasa waktu sudah larut malam. Anak anak panti sudah beberapa jam lalu keluar dari perpustakaan dan sudah masuk ke kamarnya masing masing. Tengkuk pak Jemari terasa meremang. Akhirnya pak Jemari memberanikan diri.
"Mas.."
"Apa pak"
"Kalau saya tidur di kamar mas Budi saja gimana?" tanya pak Jemari
"Tempat tidur saya kecil Pak" jawab mas Budi
"Saya tidur di bawah tidak apa apa mas dari pada..." ucap pak Jemari tidak dilanjutkan tapi pundaknya terangkat ke atas hiiiiii begitu dalam hati pak Jemari
"Ya sudah ada kasur lipat Pak" ucap mas Budi dan pak Jemari lega
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Fenti
🔥🔥
2022-03-24
2
Syafitri kurniasih
semangat thor
2022-03-23
1