"Oma...jangan sakit Oma..Oma jangan pergi... Oma jangan tinggalkan Angga... Oma jangan pergi... Papi... Angga kangen Papi.. Papi jangan pergi.. papi jangan tinggalin Angga... Papi jangan pergi" Angga terus merancau dalam igauanmya. Tidak terasa air mata pak Jemari juga ikut mengalir dan membasahi pipinya.
Pak Jemari masih memgusap air mata Angga sesekali mengelus elus rambutnya. Namun tiba tiba mata Angga terbuka dan masih terisak isak.
"Pak kenapa di sini?" tanya Angga
"Maaf tadi saya lihat mas Angga menangis terus saya hapus air matanya" jawab pak Jemari takut takut.
"Saya bermimpi Pak" ucap Angga sambil mengusap air mata dan ingusnya.
"Pak Jemari kok juga ikut menangis?" tanya Angga
"Maaf mas Angga bermimpi apa?" tanya pak Jemari dengan hati hati sambil mengusap air matanya sendiri yang meleleh di kedua pipinya.
"Mimpi Oma seperti Oma mau pergi meninggalkan Angga... terus berganti mimpinya kayak papi datang tapi juga akan pergi ninggalin Angga.. hiks..hiks.. Angga sedih.. tinggal sendiri.. dan sekarang ternyata Angga juga sendiri di sini.. hiks..hiks..." jawab Angga dengan berlinangan air matanya.
Pak Jemari menghapus air mata Angga, lalu secara reflek tangannya memeluk tubuh Angga, karena teringat saat Nesya yang ingin dipeluknya. Namun tiba tiba Angga menjauhkan tubuhnya dari pelukan pak Jemari. Pak Jemari merasa ada penolakan dari Angga lalu pak Jemari mengurai pelukannya dan sedikit menjauh.
"Maaf" ucap pak Jemari sambil kembali duduk di tepi ranjang Angga.
"Pak Jemari bau" ucap Angga dengan suara pelan sebenarnya tidak sampai hati mengatakan.
"Padahal pak Jemari sudah mandi" ucap pak Jemari sambil mengangkat tangannya dan mencium keteknya sendiri
"Ha...Ha... Iya bau" ucap pak Jemari sambil tertawa
"Kepalanya juga" ucap Angga lagi
"Wow saya sudah lama belum keramas mas Angga" ucap pak Jemari sambil tersenyum malu malu.
"Dan tadi banyak keringatan kepala saya karena manjat pohon rambutan dan jatuh lagi" ucap pak Jemari selanjutnya namun Angga nampak hanya diam saja.
"Oma mas Angga sakit apa?" tanya pak Jemari hati hati
"Gagal ginjal Pak" jawab Angga dengan mata menerawang
"Sepertinya harus transpalansi ginjal" ucap Angga selanjutnya
"Apa itu Mas?" tanya pak Jemari
"Ginjal Oma harus diganti ginjal orang lain Pak, agar bertahan hidup" jawab Angga dengan tatapan sedih
"Wah bagaimana itu, diganti ginjal dari orang mati apa orang hidup Mas, bingung saya" tanya pak Jemari lagi.
"Ga tahu Pak, sepertinya ginjal orang hidup harus cari orang yang mau mendonorkan ginjalnya Pak" jawab Angga
"Terus yang mendonorkan ginjal gimana Mas ga punya ginjal apa bisa hidup?" tanya pak Jemari lagi
"Kan ginjal kita dua Pak, kiri dan kanan, kalau yang donor orang hidup diambil satu, terus pendonor hidup dengan satu ginjal" jawab Angga
"Kadang pendonor dari anggota keluarga, atau kalau orang lain mungkin dibayar Pak, dan harus dicek dulu kecocokannya. Begitu kata Oma" ucap Angga lagi. Nampak Pak Jemari mengangguk angguk kan kepala nya.
Namun tiba tiba lampu kamar mendadak mati. Pak Jemari dan Angga spontan kaget. Angga langsung memeluk pak Jemari dengan eratnya, sudah lupa dengan bau tubuh dan bau kepala pak Jemari.
"Pak, saya takut gelap" ucap Angga yang masih memeluk erat pak Jemari dengan nada suara kuatir ketakutan.
"Tenang mas Angga, ini instalasi listrik yang rusak" ucap pak Jemari menenangkan Angga, padahal dia sendiri juga takut.
"Besok mas Budi harus benerin lampu ini, bikin orang takut saja" gumam pak Jemari menenangkan Angga dan dirinya sendiri.
Nampak Angga meraba raba tempat tidur dengan salah satu tangannya untuk mencari hape. Namun tangannya malah mengenai pantat pak Jemari, pak Jemari yang ketakutan merasa pantatnya ada yang menyentuh dia langsung terlonjak kaget.
"Hiii" teriak pak Jemari sambil bangkit berdiri secara mendadak dan menjauh dari Angga.
Angga yang ketakutan mendengar pak Jemari menjerit, berdiri dan menjauh Angga juga spontan berdiri mencari keberadaan pak Jemari di dalam gelap.
"Pak jangan tinggalkan Angga, Angga takut" teriak Angga.
"Saya di sini Mas" ucap pak Jemari sambil bertepuk tangan agar Angga mendengar dan mengetahui dia masih di dalam kamar.
"Saya berjalan menuju saklar Mas" ucap Pak Jemari kemudian. Tidak lama kemudian Pak Jemari sudah menemukan dinding tembok tempat saklar berada. Kemudian Pak Jemari meraba raba dinding untuk mencari letak saklar. Setelah mendapatkan letak saklar pak Jemari memencet mencet dan tidak lama kemudian lampu menyala lagi.
"Ah untung tidak memegang cicak lagi" gumam pak Jemari di dalam hati.
Terlihat Angga masih berdiri mematung dengan wajah yang memucat karena ketakutan. Angga lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya dan mengambil hapenya. Lalu membaringkan tubuhnya sambil memegang hapenya. Agar sewaktu waktu lampu kembali mati dia bisa menyalakan lampu hape nya.
Pak Jemaripun kembali berjalan menuju ke tempat tidurnya. Lalu juga merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Pak" ucap Angga pelan
"Ya Mas" jawab pak Jemari
"Pak Jemari jangan pulang dulu ya" pinta Angga
"Saya takut di kamar ini sendiri Pak, dan belum nyaman tidur bersama sama di kamar anak anak yang lain" ucap Angga selanjutnya
"Tapi saya harus kerja Mas, gimana tanaman saya, bisa mati tidak panen Mas, terus kami makan apa" ucap pak Jemari
"Istrinya pak Jemari apa tidak bisa mengerjakan Pak?" tanya Angga
"Kalau yang berat berat tidak bisa Mas" jawab pak Jemari sambil berpikir pikir kasihan juga dengan nasib Angga tapi dia juga mikir nasib tanamannya.
"Kalau saya punya uang banyak bisa bayar orang Mas, bisa pergi lama lama tidak kepikiran tanaman" ucap pak Jemari kemudian
"Saya punya uang banyak Pak, tabungan saya dikirimi uang Papi terus banyak Pak, nanti bisa saya transfer ke rekening pak Jemari" ucap Angga dengan nada serius
"Saya dan istri saya tidak punya rekening Mas" jawab pak Jemari
"Terus gimana kalau mau bayar orang?" tanya Angga
"Saya besok telpon pak Kades saja, saya tanya nomer rekening pak Kades terus minta tolong pak Kades mencarikan orang untuk merawat tanaman saya" jawab pak Jemari
"Juga untuk ngabari istri saya Mas, nanti takutnya dikira saya menyeleweng" ucap pak Jemari kemudian
"Baiklah Pak, besok saya juga bilang pada Bu Dewi" ucap Angga
"Tapi Pak Jemari besok keramas ya, dan saya kasih deodorant" ucap Angga selanjutnya
"He..He.. iya Mas" jawab pak Jemari.
Suasana akhirnya hening mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing masing. Lama lama mata Angga terpejam, Angga tertidur lebih dulu, dia sudah tidak mengigau lagi. Setelah melihat Angga bisa terlelap baru kemudian Pak Jemari bisa memejamkan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
345瓦蒂
ngakak
2022-09-25
1
Nurmalina Gn
asli lucu berasa kehidupan nya...
2022-09-08
1
Aumy Re
mampir lagi thor 🖐🖐
tetep semangat
2022-04-30
0