13. Pak Jemari jangan pulang

"Oma...jangan sakit Oma..Oma jangan pergi... Oma jangan tinggalkan Angga... Oma jangan pergi... Papi... Angga kangen Papi.. Papi jangan pergi.. papi jangan tinggalin Angga... Papi jangan pergi" Angga terus merancau dalam igauanmya. Tidak terasa air mata pak Jemari juga ikut mengalir dan membasahi pipinya.

Pak Jemari masih memgusap air mata Angga sesekali mengelus elus rambutnya. Namun tiba tiba mata Angga terbuka dan masih terisak isak.

"Pak kenapa di sini?" tanya Angga

"Maaf tadi saya lihat mas Angga menangis terus saya hapus air matanya" jawab pak Jemari takut takut.

"Saya bermimpi Pak" ucap Angga sambil mengusap air mata dan ingusnya.

"Pak Jemari kok juga ikut menangis?" tanya Angga

"Maaf mas Angga bermimpi apa?" tanya pak Jemari dengan hati hati sambil mengusap air matanya sendiri yang meleleh di kedua pipinya.

"Mimpi Oma seperti Oma mau pergi meninggalkan Angga... terus berganti mimpinya kayak papi datang tapi juga akan pergi ninggalin Angga.. hiks..hiks.. Angga sedih.. tinggal sendiri.. dan sekarang ternyata Angga juga sendiri di sini.. hiks..hiks..." jawab Angga dengan berlinangan air matanya.

Pak Jemari menghapus air mata Angga, lalu secara reflek tangannya memeluk tubuh Angga, karena teringat saat Nesya yang ingin dipeluknya. Namun tiba tiba Angga menjauhkan tubuhnya dari pelukan pak Jemari. Pak Jemari merasa ada penolakan dari Angga lalu pak Jemari mengurai pelukannya dan sedikit menjauh.

"Maaf" ucap pak Jemari sambil kembali duduk di tepi ranjang Angga.

"Pak Jemari bau" ucap Angga dengan suara pelan sebenarnya tidak sampai hati mengatakan.

"Padahal pak Jemari sudah mandi" ucap pak Jemari sambil mengangkat tangannya dan mencium keteknya sendiri

"Ha...Ha... Iya bau" ucap pak Jemari sambil tertawa

"Kepalanya juga" ucap Angga lagi

"Wow saya sudah lama belum keramas mas Angga" ucap pak Jemari sambil tersenyum malu malu.

"Dan tadi banyak keringatan kepala saya karena manjat pohon rambutan dan jatuh lagi" ucap pak Jemari selanjutnya namun Angga nampak hanya diam saja.

"Oma mas Angga sakit apa?" tanya pak Jemari hati hati

"Gagal ginjal Pak" jawab Angga dengan mata menerawang

"Sepertinya harus transpalansi ginjal" ucap Angga selanjutnya

"Apa itu Mas?" tanya pak Jemari

"Ginjal Oma harus diganti ginjal orang lain Pak, agar bertahan hidup" jawab Angga dengan tatapan sedih

"Wah bagaimana itu, diganti ginjal dari orang mati apa orang hidup Mas, bingung saya" tanya pak Jemari lagi.

"Ga tahu Pak, sepertinya ginjal orang hidup harus cari orang yang mau mendonorkan ginjalnya Pak" jawab Angga

"Terus yang mendonorkan ginjal gimana Mas ga punya ginjal apa bisa hidup?" tanya pak Jemari lagi

"Kan ginjal kita dua Pak, kiri dan kanan, kalau yang donor orang hidup diambil satu, terus pendonor hidup dengan satu ginjal" jawab Angga

"Kadang pendonor dari anggota keluarga, atau kalau orang lain mungkin dibayar Pak, dan harus dicek dulu kecocokannya. Begitu kata Oma" ucap Angga lagi. Nampak Pak Jemari mengangguk angguk kan kepala nya.

Namun tiba tiba lampu kamar mendadak mati. Pak Jemari dan Angga spontan kaget. Angga langsung memeluk pak Jemari dengan eratnya, sudah lupa dengan bau tubuh dan bau kepala pak Jemari.

"Pak, saya takut gelap" ucap Angga yang masih memeluk erat pak Jemari dengan nada suara kuatir ketakutan.

"Tenang mas Angga, ini instalasi listrik yang rusak" ucap pak Jemari menenangkan Angga, padahal dia sendiri juga takut.

"Besok mas Budi harus benerin lampu ini, bikin orang takut saja" gumam pak Jemari menenangkan Angga dan dirinya sendiri.

Nampak Angga meraba raba tempat tidur dengan salah satu tangannya untuk mencari hape. Namun tangannya malah mengenai pantat pak Jemari, pak Jemari yang ketakutan merasa pantatnya ada yang menyentuh dia langsung terlonjak kaget.

"Hiii" teriak pak Jemari sambil bangkit berdiri secara mendadak dan menjauh dari Angga.

Angga yang ketakutan mendengar pak Jemari menjerit, berdiri dan menjauh Angga juga spontan berdiri mencari keberadaan pak Jemari di dalam gelap.

"Pak jangan tinggalkan Angga, Angga takut" teriak Angga.

"Saya di sini Mas" ucap pak Jemari sambil bertepuk tangan agar Angga mendengar dan mengetahui dia masih di dalam kamar.

"Saya berjalan menuju saklar Mas" ucap Pak Jemari kemudian. Tidak lama kemudian Pak Jemari sudah menemukan dinding tembok tempat saklar berada. Kemudian Pak Jemari meraba raba dinding untuk mencari letak saklar. Setelah mendapatkan letak saklar pak Jemari memencet mencet dan tidak lama kemudian lampu menyala lagi.

"Ah untung tidak memegang cicak lagi" gumam pak Jemari di dalam hati.

Terlihat Angga masih berdiri mematung dengan wajah yang memucat karena ketakutan. Angga lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya dan mengambil hapenya. Lalu membaringkan tubuhnya sambil memegang hapenya. Agar sewaktu waktu lampu kembali mati dia bisa menyalakan lampu hape nya.

Pak Jemaripun kembali berjalan menuju ke tempat tidurnya. Lalu juga merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.

"Pak" ucap Angga pelan

"Ya Mas" jawab pak Jemari

"Pak Jemari jangan pulang dulu ya" pinta Angga

"Saya takut di kamar ini sendiri Pak, dan belum nyaman tidur bersama sama di kamar anak anak yang lain" ucap Angga selanjutnya

"Tapi saya harus kerja Mas, gimana tanaman saya, bisa mati tidak panen Mas, terus kami makan apa" ucap pak Jemari

"Istrinya pak Jemari apa tidak bisa mengerjakan Pak?" tanya Angga

"Kalau yang berat berat tidak bisa Mas" jawab pak Jemari sambil berpikir pikir kasihan juga dengan nasib Angga tapi dia juga mikir nasib tanamannya.

"Kalau saya punya uang banyak bisa bayar orang Mas, bisa pergi lama lama tidak kepikiran tanaman" ucap pak Jemari kemudian

"Saya punya uang banyak Pak, tabungan saya dikirimi uang Papi terus banyak Pak, nanti bisa saya transfer ke rekening pak Jemari" ucap Angga dengan nada serius

"Saya dan istri saya tidak punya rekening Mas" jawab pak Jemari

"Terus gimana kalau mau bayar orang?" tanya Angga

"Saya besok telpon pak Kades saja, saya tanya nomer rekening pak Kades terus minta tolong pak Kades mencarikan orang untuk merawat tanaman saya" jawab pak Jemari

"Juga untuk ngabari istri saya Mas, nanti takutnya dikira saya menyeleweng" ucap pak Jemari kemudian

"Baiklah Pak, besok saya juga bilang pada Bu Dewi" ucap Angga

"Tapi Pak Jemari besok keramas ya, dan saya kasih deodorant" ucap Angga selanjutnya

"He..He.. iya Mas" jawab pak Jemari.

Suasana akhirnya hening mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing masing. Lama lama mata Angga terpejam, Angga tertidur lebih dulu, dia sudah tidak mengigau lagi. Setelah melihat Angga bisa terlelap baru kemudian Pak Jemari bisa memejamkan matanya.

Terpopuler

Comments

345瓦蒂

345瓦蒂

ngakak

2022-09-25

1

Nurmalina Gn

Nurmalina Gn

asli lucu berasa kehidupan nya...

2022-09-08

1

Aumy Re

Aumy Re

mampir lagi thor 🖐🖐
tetep semangat

2022-04-30

0

lihat semua
Episodes
1 1. Celoteh di persiapan pagi hari
2 2. Pesan Nenek
3 3. Emosi Pak Jemari
4 4. Toko Mekar
5 5. Panti asuhan Budi Luhur
6 6. Kamar Tamu yang horor
7 7. Teman sekamar
8 8 Sedikit cerita Nesya
9 9 Cerita Nesya
10 10 Gebrakan di meja pak Jemari
11 11. Sedikit cerita tentang Angga
12 12. Igauan Angga
13 13. Pak Jemari jangan pulang
14 14. Sepuluh juta
15 15. Salah Paham
16 16. Salah Paham 2
17 17. Kedatangan Papinya Angga
18 18. Keputusan Papinya Angga
19 19. Bantuan
20 20. Sabar
21 Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22 Bab. 22. Bersyukur
23 Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24 Bab. 24. Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26 Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27 Bab. 27. Waspada
28 Bab. 28. Menjemput Angga
29 Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30 Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31 Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32 Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33 Bab. 33. Belajar Bela Diri
34 Bab. 34. Berbinar Binar
35 Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36 Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37 Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38 Bab. 38. Semangat Belajar
39 Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40 Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41 Bab. 41. Malam Perpisahan
42 Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43 Bab. 43. Penghuni Baru
44 Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45 Bab. 45. Kalimat yang Viral
46 Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47 Bab. 47. Terlambat
48 Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49 Bab. 49. Ada itu Berkah
50 Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51 Bab. 51. Penasaran
52 Bab. 52. Doa Ibu Sari
53 Bab. 53. Nesya Histeris
54 Bab. 54. Ancaman Nesya
55 Bab. 55. Ide Angga
56 Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57 Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58 Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59 Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60 Bab. 60. Tangisan
61 Bab. 61. Curiga
62 Bab. 62. Waspada
63 Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64 Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65 Bab. 65. Emak Baru
66 Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67 Bab. 67. Rencana Emak Baru
68 Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69 Bab. 69. Diambil Alih
70 Bab. 70. Tekad Emak Baru
71 Bab. 71. Tidak Sendiri
72 Bab. 72. Emak Baru Kepo
73 Bab. 73. Ujian Hidup
74 Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75 Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76 Bab. 76. Anomali
77 Bab. 77. Menunggu
78 Bab. 78. Kedatangan Tamu
79 Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80 Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81 Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82 Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83 Bab. 83. Dilema
84 Bab. 84. Kecewa?
85 Bab. 85. Akhirnya Asyik
86 Bab. 86. Hujan Badai
87 Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88 Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89 Bab. 89. Berita Menggelegar
90 Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91 Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92 Bab. 92. Bantuan Sandra
93 Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94 Bab. 94. Rahasia
95 Bab. 95. Izin
96 PROMO NOVEL BARU
97 PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Celoteh di persiapan pagi hari
2
2. Pesan Nenek
3
3. Emosi Pak Jemari
4
4. Toko Mekar
5
5. Panti asuhan Budi Luhur
6
6. Kamar Tamu yang horor
7
7. Teman sekamar
8
8 Sedikit cerita Nesya
9
9 Cerita Nesya
10
10 Gebrakan di meja pak Jemari
11
11. Sedikit cerita tentang Angga
12
12. Igauan Angga
13
13. Pak Jemari jangan pulang
14
14. Sepuluh juta
15
15. Salah Paham
16
16. Salah Paham 2
17
17. Kedatangan Papinya Angga
18
18. Keputusan Papinya Angga
19
19. Bantuan
20
20. Sabar
21
Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22
Bab. 22. Bersyukur
23
Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24
Bab. 24. Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26
Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27
Bab. 27. Waspada
28
Bab. 28. Menjemput Angga
29
Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30
Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31
Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33
Bab. 33. Belajar Bela Diri
34
Bab. 34. Berbinar Binar
35
Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36
Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37
Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38
Bab. 38. Semangat Belajar
39
Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41
Bab. 41. Malam Perpisahan
42
Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43
Bab. 43. Penghuni Baru
44
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45
Bab. 45. Kalimat yang Viral
46
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47
Bab. 47. Terlambat
48
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49
Bab. 49. Ada itu Berkah
50
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51
Bab. 51. Penasaran
52
Bab. 52. Doa Ibu Sari
53
Bab. 53. Nesya Histeris
54
Bab. 54. Ancaman Nesya
55
Bab. 55. Ide Angga
56
Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58
Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59
Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60
Bab. 60. Tangisan
61
Bab. 61. Curiga
62
Bab. 62. Waspada
63
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65
Bab. 65. Emak Baru
66
Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67
Bab. 67. Rencana Emak Baru
68
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69
Bab. 69. Diambil Alih
70
Bab. 70. Tekad Emak Baru
71
Bab. 71. Tidak Sendiri
72
Bab. 72. Emak Baru Kepo
73
Bab. 73. Ujian Hidup
74
Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75
Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76
Bab. 76. Anomali
77
Bab. 77. Menunggu
78
Bab. 78. Kedatangan Tamu
79
Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80
Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81
Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82
Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83
Bab. 83. Dilema
84
Bab. 84. Kecewa?
85
Bab. 85. Akhirnya Asyik
86
Bab. 86. Hujan Badai
87
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88
Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89
Bab. 89. Berita Menggelegar
90
Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92
Bab. 92. Bantuan Sandra
93
Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94
Bab. 94. Rahasia
95
Bab. 95. Izin
96
PROMO NOVEL BARU
97
PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!