Sementara itu pak Jemari bingung, dia sebenarnya takut tidur di kamar tamu, tapi tidak enak menolak permintaan Ibu Sari untuk menemani Angga tidur.
Pak Jemari berjalan mondar mandir dari kamar kamu ke kamar mas Budi. Mas Budi mengamati sejak tadi. Saat pak Jemari berada di depan pintu kamarnya, mas Budi keluar dan mendekati pak Jemari.
"Pak Jemari gelisah akan meninggalkan Marginah besuk?" tanya mas Budi pada pak Jemari
"Tidak Mas, saya tenang Marginah tinggal di sini" jawab pak Jemari
"Terus kenapa Pak Jemari mondar mandir kayak setrika?" tanya mas Budi sambil tersenyum
"Itu Mas, Angga mau tidur di kamar tamu, katanya belum mau tinggal di kamar anak anak" jawab pak Jemari
"Terus kenapa Pak Jemari yang gelisah?" tanya mas Budi lagi.
"Setahu Ibu Sari saya tidur di kamar tamu, jadi diminta menemani Angga" jawab pak Jemari
"Jujur Mas, saya takut" ucap pak Jemari dengan jujur
"Tidak apa apa lho Pak, lampu mati mati mungkin karena instalasi eror" ucap mas Budi
"Kenapa tidak dibeneri kalau rusak, bikin takut tamu itu namanya?" tanya pak Jemari.
"Belum sempat Pak" jawab mas Budi.
Tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki menuju ke kamar tamu. Pak Jemari yang sudah menduga itu langkah kaki ibu Sari dan Angga, lalu pak Jemari meninggalkan mas Budi berjalan menuju ke kamar tamu. Benar terlihat Ibu Sari dan Angga sampai di depan pintu kamar tamu.
"Pak Jemari, ini saya ngantar Angga" ucap Ibu Sari pada pak Jemari sambil merangkul pundak Angga. Pak Jemari menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala dengan sopan.
"Angga, ini pak Jemari kamu tidur dengan pak Jemari ya?" ucap Ibu Sari sambil menatap Angga. Teihat Angga hanya diam saja.
"Jangan kuatir ada dua tempat tidur di dalam kamar ini, ayo masuk" ucap Ibu Sari.
Terlihat ibu Sari membuka pintu kamar tamu tersebut. Lalu ibu Sari melangkah masuk ke dalam diikuti oleh Angga dan pak Jemari. Lampu kamar sudah menyala tadi pak Jemari sudah menyalakan meskipun dengan rasa takut takut. Dia tadi saat menyalakan lalu segera bergegas berlari dan menutup pintunya lagi.
Terlihat Angga mengedarkan pandangannya mengamati amati seluruh isi kamar tamu tersebut. Lalu pandangannya tertuju pada seonggok tas plastik berisi baju pak Jemari di atas tempat tidur.
"Mas Angga, tidur di tempat tidur yang sana" ucap pak Jemari saat melihat tas plastik nya di tatap oleh Angga.
"Sprai bersih" ucap Ibu Sari menimpali
"Tas kamu bisa di taruh ke dalam lemari itu" ucap Ibu Sari selanjutnya.
Teihat Angga berjalan menuju ke lemari dan menaruh tasnya, lalu terlihat dia berjalan menuju ke kamar mandi, tidak masuk hanya melongokkan kepalanya melihat dalam kamar mandi dari pintu kamar mandi.
"Bagaimana, Angga mau kan tidur di sini?" tanya Ibu Sari saat Angga sudah membalikkan tubuhnya dari pintu kamar mandi. Terlihat Angga hanya mengangguk pelan.
"Ibu tinggal ya?" tanya ibu Sari lagi
"Ibu masih ada pekerjaan, menyiapkan dokumen murid yang akan mendaftar sekolah" jelas ibu Sari kemudian. Terlihat Angga hanya menganggukkan kepalanya lagi.
"Pak, saya tinggal ya, tolong temani Angga" ucap Ibu Sari
"Baik Bu" jawab pak Jemari sambil tersenyum. Ibu Sari kemudian terlihat melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kamar tamu meninggalkan pak Jemari dan Angga.
Pak Jemari berjalan menuju ke pintu, lalu menutup pintu tersebut. Terlihat Angga berjalan menuju ke lemari, membuka lemari tersebut lalu mengambil tas ranselnya yang lumayan besar. Angga membuka retsleting nya, lalu mengeluarkan satu kantong paper bag setelahnya mengeluarkan handuk, beberpa helai pakaian dan satu tempat perlengkapan mandinya. Kemudian terlihat dia mengembalikan tas besarnya ke dalam lemari.
Dia membuka isi paper bag Angga mengambil dua batang coklat. Lalu berjalan ke arah bapak Jemari yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Pak, ini untuk bapak" ucap Angga menyerahkan dua batang coklat. Pak Jemari menerima dengan senang hati.
"Terimakasih mas Angga" ucap pak Jemari. Angga hanya mengangguk lalu berjalan mengambil handuk dan perlengkapan menuju ke kamar mandi.
"Mas Angga belum mandi tadi?" tanya pak Jemari. Angga hanya menganggukkan kepala.
"Jangan sering mandi malam malam Mas" ucap pak Jemari sedikit keras, karena pintu kamar mandi sudah tertutup. Sebelum menutup pintu terlihat Angga tadi menyalakan lampu kamar mandi dan sukses menyala.
Sekarang pak Jemari serasa berada di dalam kamar itu seorang diri, mau menyuruh Angga tidak menutup pintu kamar mandi jelas tidak mungkin. Pak Jemari melihat lihat coklat pemberian Angga. Sepertinya coklat mahal ini kayaknya di toko toko tidak ada apalagi di warung desa.
"Mungkin coklat dari luar negeri" gumam Pak Jemari seorang diri.
"Satu untuk Marginah satu dibawa pulang untuk oleh oleh" gumam pak Jemari lagi sambil senyum senyum. Namun tiba tiba lampu kamar tersebut mati. Pak Jemari spontan berteriak karena kaget. Angga yang di kamar mandi mendengar teriakan Pak Jemari, namun menyelesaikan dulu mandinya.
Pak Jemari bangkit berdiri menuju ke saklar lampu namun sebelum sampai ke tempat saklar lampu sudah menyala lagi bersamaan dengan pintu kamar mandi yang sudah dibuka Angga.
Pak Jemari teihat mengelus elus dadanya.
"Sakit Pak?" tanya Angga dengan ekspresi wajah kuatir kalau pak Jemari sakit jantung.
"Tidak Mas" jawab pak Jemari
"Tadi lampu mendadak mati" ucap pak Jemari lagi. Angga hanya diam lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya dan merebahkan badannya.
Pak Jemaripun ikut melakukan yang sama pergi ke tempat tidurnya dan merebahkan badan, keinginan nya hanya satu lampu tidak menggodanya lagi dan bisa tidur dengan nyenyak, sehingga besuk bisa bangun pagi pagi dan kembali ke desanya.
Terlihat Angga sudah memejamkan matanya, lama lama terdengar suara denguran halus dari tempat tidur Angga. Angga sudah tertidur mungkin karena lelah dan kenyang nasi goreng atau karena badan sudah segar setelah mandi.
Pak Jemari mengamati wajah tampan Angga yang sedang tidur nyenyak, namun tiba tiba...
"Oma.. Oma... Jangan sakit Oma, Angga dengan siapa kalau Oma sakit.. Oma.. lihat Angga .. Oma..." suara dari mulut Angga namun mata Angga terlihat terpejam erat, ekspresi wajahnya nampak sedih .. lama lama terlihat linangan air matanya dari mata Angga yang terpejam.
Pak Jemari yang melihat dan mendengar suara igauan Angga ikut berlinangan air matanya
Pelan pelan pak Jemari bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya, masih mengamati wajah Angga, air mata mereka berdua sama sama berlinangan bedanya Angga di alam mimpi dan pak Jemari di alam sadarnya
"Oma... Oma...hiks..hiks.." suara igauan Angga.
Pak Jemari tidak tega, lalu bangkit berdiri berjalan menuju ke arah tempat tidur Angga lalu duduk di tepi tempat tidur Angga. Secara tidak sadar pak Jemari mengulurkan tangannya dan mengusap lembut air mata Angga di pipi mulus laki laki yang menginjak usia remaja tersebut.
"Oma...Jangan tinggalkan Angga" igauan Angga sambil tangannya memegang tangan pak Jemari yang mengusap air matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Mari ani
lanjut kaka semangat , di tunggu upnya lagi verita yang bagus
2022-03-11
2
Nit_Nit
lanjut
2022-03-02
1