Mas Budi terlihat membantu pak Jemari bangun dari jatuhnya.
"Sakit tidak pak?" tanya mas Budi
"Ya sakit tho Mas, wong jatuh di tanah keras seperti ini" jawab pak Jemari sambil mengibas ngibaskan celana dan bajunya dari tanah yang nempel
"Kita ke rumah sakit apa Pak" ajak mas Budi
"Ngapain ke rumah sakit siapa yang sakit?"
"Ya ngantar pak Jemari periksa"
"Ya tidak perlu sepet itu tho Mas" ucap pak Jemari. Mas Budi hanya tersenyum lalu berdiri dan melangkahkan kaki untuk membenarkan posisi becaknya. Terlihat Marginah dan Nesya datang mendekat.
"Mas mau ke kebun kapan?" tanya Nesya
"Kami mau ikut mas, sudah dapat ijin Bu Sari"
"Ke kebun mana?" tanya pak Jemari
"Ke kebun rambutan, sekarang mau berangkat, yuk " ucap mas Budi sambil naik di jok kemudi becak. Nesya dan Marginah lalu naik ke dalam becak
"Aku juga ikut" teriak pak Jemari lalu juga naik ke dalam becak. Marginah duduk di tengah diapit pak Jemari dan Nesya.
Becak berjalan keluar dari halaman panti lalu belok ke kiri. Becak terus berjalan melewati beberapa rumah warga dan beberapa perkebunan warga, tidak berapa lama becak sampai di kebun panti, terlihat di depan ada papan nama.
"Nes buka pagarnya" perintah mas Budi yang masih duduk di jok kemudi becak. Nesya kemudian turun dari becak. Sesaat Marginah juga mau turun dari becak.
"Kamu tidak usah turun Nah" ucap Nesya lalu dia berjalan membuka pagar. Setelah pagar sudah terbuka lebar, mas Budi menjalankan becaknya lagi untuk memasuki kebun. Terlihat Nesya menutup pintu pagar lagi, kemudian dia naik lagi ke dalam becak yang terlihat berhenti menunggu Nesya. Becak kemudian berjalan lagi di dalam kebun
"Luas ya Nes kebunnya" ucap Marginah
"Siapa yang bekerja di sini Mas?" tanya pak Jemari
"Lebih banyak dibiarkan pak, kalau ada panenan aja kita kerja" jawab Mas Budi. Becak kemudian berhenti di bawah salah satu pohon rambutan yang buahnya sangat banyak dan merah merah.
"Pak Jemari bisa manjat pohon?" tanya mas Budi
"Bisa" jawab pak Jemari
"Ya sudah kita yang manjat, biar Marginah dan Nesya manen yang di ranting ranting bawah yang tidak perlu memanjat" ucap Mas Budi
"Aku manjat juga bisa Mas" ucap Marginah
"Iya tapi kamu pakai rok, mengko dirubung semut kowe (nanti dikerumuni semut kamu)" ucap pak Jemari melarang anaknya
"Iya Mar, itu yang ranting ranting di bawah banyak yang sudah matang juga" ucap Mas Budi. Mereka berempat kemudian akan memulai memanen rambutan. Mas Budi berjalan menuju ke becaknya kemudian mengambil peralatan untuk memanen.
Marginah dan Nesya mengambili rambutan di ranting ranting bawah yang tidak perlu memanjat juga mengambili rambutan yang dijatuhkan dari atas pohon yang dipanen pak Jemari dan Mas Budi. Tidak terasa sudah banyak buah rambutan yang di dapat. Mas Budi kemudian turun dari pohon.
"Sebagian aku bawa dulu ke panti dengan becak, kalian tunggu di sini" ucap mas Budi
"iya" jawab Marginah dan Nesya bersamaan. Mereka bertiga menaruh rambutan ke dalam becak sampai penuh. Sedangkan pak Jemari masih berada di atas pohon rambutan.
Mas Budi terlihat berjalan dan menaiki jok kemudi becak nya.
"Ingat Nes jangan kemana mana, jangan jauh jauh dari pak Jemari" pesan mas Budi lagi
"Iya mas" ucap Nesya masih mengumpulkan rambutan. Mas Budi kemudian berlalu dengan becaknya.
"Ada apa Nes, kok sepertinya mas Budi dan Bu Sari sangat kuatir" tanya Marginah kepo
"Ada penculik Nah" jawab Nesya
"Benarkah?"
"Iya, orang orang suruhan bapakku" ucap Nesya dengan nada sedih
"Kok bisa Nes?"
"Entahlah katanya aku mau dijual" ucap Nesya dengan mata berkaca kaca
"Sudah beberapa kali Nah , bapakku atau orang orang suruhannya memgintaiku, pernah aku dibawa. Dulu awalnya aku tidak tahu aku dikasih banyak jajanan lalu aku diajak pergi aku dibawa ke kota, ditaruh dalam rumah petak yang pengap, rumahnya masuk masuk gang aku sendiri bingung" cerita Nesya terhenti Nesya sedikit terdiam air matanya pelan pelan mengalir
"Terus gimana kamu bisa kembali?"
"Bu Sari lapor polisi" jawab Nesya
"Itu kejadian yang terakhir yang menakutkan yang aku ingat, kata tetangga sejak aku bayi bapakku berusaha mengambil aku untuk dijual"
"Yang kejadian itu kamu kelas berapa?" tanya Marginah
"Kelas dua SD yang sampai di bawa ke kota itu" jawab Nssya
"Kalau kamu sudah dikasih tahu kalau bapakmu mau menculik kenapa kalau mau dikasih jajanan" ucap Marginah
"Itu yang ngasih seorang perempuan dia bilang temen ibuku, awal katanya ibu nitip jajanan ke dia, beberapa kali aku dikasih tidak apa apa, terus dia bilang dia mau ngasih jajan tapi tertinggal di parkiran motor terus aku diajak ke parkiran motornya terus disekap aku dibawa pergi" jelas Nesya
"Ooo kamu ga tanya ibumu saat dapat jajan jajan"
"Namanya juga masih kecil Nah, dulu paling ya cuma bilang aku dikasih jajan temen ibu, ibu mikir ya temennya beneran yang ngasih"
"Ooo"
"Terus sekarang masih Nes"
"Iya mencari lengah ku dan orang orang yang menjagaku" ucap Nesya
"Pernah saat aku pulang sekolah seorang diri ada yang menabrakku dari belakang, aku terjatuh lalu aku digendong"
"Terus"
"Ada ibu guru pas lewat lalu teriak teriak, orang orang lalu mengejarnya dan terkejar, itu aku kelas 5 kemarin" ucap Nesya
"Belum lama ya Nes?" tanya Marginah
"Iya, belum kejadian kejar kejaran Nah, untung aku bila lari cepat terus masuk ke rumah tetangga ato masuk ke panti pokoknya kalau di kejar aku berusaha minta tolong orang" ucap Nesya
"Bapakmu kok seperti itu sih?" tanya Marginah lagi
"Iya aku juga sedih Nah, katanya bapakku tukang mabok maka ibu ku minta cerai" ucap Nesya
"Aku capek sebenarnya Nah, seperti tidak bebas aku pengen hidup damai bersatu dengan ibuku" ucap Nesya lagi dengan isak tangis dan deraian air matanya.
"Sabar Nes" ucap Marginah sambil memeluk Nesya
"Apa bapakmu saat dilaporkan polisi tidak dipenjara?"
"Hanya beberapa bulan" jawab Nesya
"Ooo" gumam Margjnah
Namun saat Nesya masih curhat dan Marginah memberi dukungan pada Nesya tiba tiba ada suara benda jatuh dan teriakan..
"Aduhhhhh aduhhhh aduhhhh" suara pak Jemari yang meloncat dari pohon rambutan sambil mengibas ngibaskan baju dan celananya. Tidak sampai di situ pak Jemari melepas baju dan celana panjangnya untung masih memakai celana lolos.
"Bapak kenapa lagi?" teriak Marginah bangkit berdiri dan berlari ke arah bapaknya
"Dikeroyok semut Nah" jawab pak Jemari masih mengibas ngibas mengusir semut dari tubuhnya
"Kok bisa sih pak?" ucap Marginah ikut mengibas ngibaskan baju pak Jemari agar semut nya pergi
"Mungkin ada sarang semut keinjak" jawab pak Jemari
"Bapak ga hati hati sih" ucap Marginah
"Ga terlihat tho Nah" jawab pak Jemari
"Ada apa Nah?" tanya Nesya yang datang belakangan karena dia mengusap air matanya dulu dan berusaha menetralkan wajahnya, namun masih terlihat matanya yang memerah dan wajahnya yang sembab
"Kamu kenapa Nesya?" tanya pak Jemari dengan lembut saat melihat wajah sembab Nesya. Pertanyaan pak Jemari justru membuat Nesya malah terisak. Marginah lalu mendekati Nesya dan memeluk sambil mengusap usap punggung Nesya. Pak Jemari yang melihat malah bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Mari ani
mampir sampai sini dulu nanti di cicil lagi ya bacanya
2022-02-27
1
Ninik H.
aku mampir kak,
salam dari TIGA PULUH HARI BERSAMAMU kak
2022-01-12
1
Ninik H.
like
2022-01-12
1