Setelah selesai makan pagi, Marginah , Nesya dan Angga menghadap pada ibu Sari. Ketiga anak tersebut sudah rapi memakai seragam sekolah mereka akan menuju ke SMP tempat mereka akan melanjutkan sekolahnya.
“Angga berangkat dengan saya naik motor, Marginah dengan Nesya diantar mas Budi ya" ucap Ibu Sari sambil mengunci pintu kamarnya yang sekaligus ruang kerjanya. Terlihat ibu Sari membawa tas kerja yang berisi dua map dokumen Angga dan Marginah. Dokumen Nesya sudah diserahkan lebih dulu. Nesya sekarang datang ke sekolah hanya untuk menemani Marginah.
“Ayo Nah.. “ ucap Nesya sambil menarik tangan Marginah. Lalu mereka berjalan menuju ke becak mas Budi yang sudah menunggu di dekat pintu gerbang panti.
Namun saat mereka berdua sudah di dekat becak nampak Pak Jemari berlari lari sambil memanggil manggil anaknya.
“Nah... nah.... tunggu...”teriak pak Jemari. Marginah lalu menoleh dan menghentikan langkahnya.
“Apa tho Pak?" tanya Marginah setelah pak Jemari berada di dekatnya
“Hapeku baterenya habis sedang aku cas, kamu sering sering cek hape mu ya, nunggu kabar dari Pak Kades apa Mak mu sudah dapat orang untuk ngurus tanaman dan sapi belum. Meskipun aku dapat uang sepuluh juta hatiku belum tenang sebelum tanaman dan sapiku ada yang ngurus, kamu langsung angkat ya kalau pak Kades menghubungi" ucap pak Jemari dengan serius
“Bapak dapat uang sepuluh juta dari mana, bapak tidak mengkhayal kan?” tanya Marginah
“Rahasia, sudah sana berangkat itu ibu Sari dan mas Angga sudah berangkat" ucap pak Jemari sambil tersenyum jenaka
“Sini salim dulu sama bapak" ucap pak Jemari, dan terlihat lalu Marginah menjabat tangan pak Jemari kemudian menciuminya.
“Aku juga salim Pak" ucap Nesya lalu mendekat ke pak Jemari dan melakukan hal yang sama dilakukan oleh Marginah. Nesya merasakan hal yang dirasakan luar biasa terasa nyaman merasuki sanubarinya. Dia tidak pernah merasakan salim tangan dan mencium tangan bapaknya. Nesya terlihat tersenyum bahagia. Mereka berdua lalu naik ke dalam becak mas Budi yang sudah siap mengantar mereka ke sekolah.
“Besok kita kalau ke sekolah bagaimana Nes?” tanya Marginah saat sudah di dalam perjalanan
“Kalau jalan kaki sebenarnya juga tidak jauh Nah, tapi di panti juga ada sepeda kita bisa boncengan naik sepeda. Sebab tidak cukup sepedanya kalau sendiri sendiri" jawab Nesya
“Aku belum begitu lihai naik sepedanya Nes, kalau boncengkan masih tidak imbang jalan sepedanya, takutnya nanti jatuh" ucap Marginah
“Aku yang boncengkan kamu" jawab Nesya
“Tapi bisa juga nanti kita belajar bisa muter muter di halaman panti belajarnya, kamu kalau bisa boncengkan bapakmu berarti kamu sudah lihai ha...ha...” ucap Nesya lalu tertawa.
Nesya dan Marginah terus saja berbincang bincang di dalam becak sesekali mas Budi ikut menimpali perbincangan dan candaan mereka. Hingga tidak terasa becak sudah memasuki halaman sekolah menengah pertama yang merupakan satu yayasan dengan yayasan yang mengelola panti asuhan.
Marginah menatap kagum dan haru gedung sekolah tersebut. Gedung sekolahnya lumayan megah meskipun merupakan sekolah yang berlokasi di suatu desa, Marginah merasa senang dan bahagia akhirnya impiannya untuk bisa bersekolah tinggi jalannya terbentang di depan mata. Terlihat Ibu Sari dan Angga sudah berada di depan ruangan guru.
“Kalian jalan kaki menuju ke sana, becak tidak boleh sampai ke sana" ucap Mas Budi yang sudah menghentikan laju becaknya. Marginah dan Nesya lalu meloncat dari becak mas Budi.
“Hati hati kalian itu, jangan loncat loncat kayak anak anak saja sudah mulai jadi gadis kalian" ucap mas Budi sedikit berteriak memberi peringatan kepada mereka berdua. Terlihat mereka berdua hanya menoleh sambil tersenyum lebar dan terus berjalan kaki dengan cepat menuju ke arah ibu Sari.
“Ayo masuk ke ruang kepala sekolah" ajak Ibu Sari setelah mereka berdua sudah mendekat
“Bu, Nesya kan sudah mendaftar apa masuk lagi?” tanya Nesya
“Iya tidak apa apa, biar kepala sekolah lebih mengenal anak anak Ibu" ucap Ibu Sari sambil tersenyum lalu merangkul bahu Nesya .
Mereka berempat lalu memasuki ruang kepala sekolah SMP tersebut, ibu Sari sudah berteman baik dengan ibu kepala sekolah. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang kepala sekolah. Setelah menyerahkan dokumen milik Angga dan Marginah, terlihat Ibu kepala sekolah membuka dan mengecek semua dokumen dokumen tersebut. Sesekali ibu kepala sekolah menanyakan data data Angga dan Marginah untuk memperjelas.
Ibu Kepala sekolah terlihat tersenyum saat melihat daftar nilai yang ada di dokumen milik Marginah. Marginah memang memiliki nilai nilai yang bagus bahkan dia selalu memegang ranking tiga besar selama enam tahun berturut turut dia tidak pernah terlempar keluar dari rangking 3.
“Marginah ikut les les tidak selama ini?” tanya ibu kepala sekolah sambil menatap Marginah, Terlihat Marginah menjawab dengan menggeleng gelengkan kepalanya dengan takut takut.
“Bapak dan Mak tidak punya uang untuk biaya les Bu, karena harus bayar ojek juga kalau mau les, sebab tempat les nya jauh di kota kecamatan, jadi harus keluar uang banyak" ucap Marginah kemudian dengan suara pelan.
“Iya tidak apa apa, nanti kalau di panti ada les, nilai kamu bisa semakin baik" ucap Ibu Sari sambil menatap Marginah
“Kalau Angga bagaimana ikut les?” tanya ibu kepala sekolah sambil menatap Angga dengan tatapan mata yang lembut. Terlihat Angga menganggukkan kepalanya
“Ada les privat Bu, tapi saya sering malas” jawab Angga sambil tertunduk
“Besok lagi tidak boleh malas ya" ucap Ibu kepala sekolah sambil tersenyum
“Di panti ada les, tapi bersama sama ya bukan les privat" ucap ibu Sari sambil menatap Angga terlihat Angga menganggukkan kepalanya.
“Yang ngelesi siapa Bu?” tanya Marginah kepo
“Kakak kakak yang kelasnya lebih tinggi, atau kakak kakak pendamping kakak kakak tenaga sukarela atau istilahnya volunteer" jawab Ibu Sari
“Iya Nah, kadang banyak kakak kakak volunteer nya mereka kadang mahasiswa kadang sarjana, pinter pinter mereka" ucap Nesya dengan tatapan mata berbinar binar
“Aku besok pengen seperti mereka" ucapnya lagi.
Mereka melanjutkan berbincang bincang mengenai hal hal informasi yang dibutuhkan oleh Ibu kepala sekolah. Setelah dikira cukup, ibu Sari dan anak anak asuhnya mohon diri.
Namun tiba tiba terdengar suara dering hape Marginah berbunyi. Marginah lalu mengambil hapenya yang ditaruh di dalam tas slempangnya. Terlihat ada deretan nomer yang sedang menghuhunginya.
“Kok nomer asing, bukan nomer pak kades" ucap Marginah sambil menatap layar hapenya.
Ibu Sari terlihat mendengar apa yang diucapkan Marginah.
“Ada apa Nah?” tanya ibu Sari
“Tadi bapak pesan kalau pak Kades menghubungi biar saya angkat, tapi kok ini nomer asing" gumam Marginah
“Ya sudah diangkat saja, atau dispeaker kalau kamu takut, biar ibu bisa mendengar" ucap Ibu sari
Marginah lalu menggeser tombol hijau.
“Nah mana bapakmu, disuruh ngantar anaknya kok malah nemeni tidur perempuan lain, kurang ajar bapakmu itu" suara keras dari dalam hape Marginah sampai Marginah kaget lalu menjauhkan hape yang dipegang nya
“Hape juga dimatikan takut ya kalau aku hubungi" teriaknya lagi
“Mak ya?” tanya Marginah
“Iya, aku pinjam hape tetangga, bapakmu mana aku pengen bicara langsung maunya itu gimana" teriakan Mak Dinah lagi
“Mak jangan teriak teriak, aku sedang di sekolah lagi daftar, bapak masih di panti" jawab Marginah
“Bapak tadi pesan apa sudah mendapatkan orang untuk ngurus tanaman dan sapi?” tanya Marginah
“Biar tanaman dan sapi nya mati aku tidak peduli, orang mau enak enakan tidur dengan perempuan lain dapat uang banyak, sapi dan tanaman suruh orang lain yang ngurus" ucap Mak Dinah
“Bilang bapakmu gitu biar saja tanaman dan sapinya mati" ucap Mak Dinah lagi lalu menutup sambungan telponnya
Marginah terlihat menaruh kembali hapenya namun terlihat dia sangat bingung.
“Ayo Nes, segera ke panti nemuin bapak, sepeti nya sedang gawat darurat” ucap Marginah langsung menarik tangan Nesya untuk berlari menuju ke becak mas Budi, sampai sampai dia tidak mendengarkan panggilan dari ibu Sari dan Angga
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Nit_Nit
weh pak Jemari kena marah mak dinah
2022-04-08
16