15. Salah Paham

Setelah selesai makan pagi, Marginah , Nesya dan Angga menghadap pada ibu Sari. Ketiga anak tersebut sudah rapi memakai seragam sekolah mereka akan menuju ke SMP tempat mereka akan melanjutkan sekolahnya.

“Angga berangkat dengan saya naik motor, Marginah dengan Nesya diantar mas Budi ya" ucap Ibu Sari sambil mengunci pintu kamarnya yang sekaligus ruang kerjanya. Terlihat ibu Sari membawa tas kerja yang berisi dua map dokumen Angga dan Marginah. Dokumen Nesya sudah diserahkan lebih dulu. Nesya sekarang datang ke sekolah hanya untuk menemani Marginah.

“Ayo Nah.. “ ucap Nesya sambil menarik tangan Marginah. Lalu mereka berjalan menuju ke becak mas Budi yang sudah menunggu di dekat pintu gerbang panti.

Namun saat mereka berdua sudah di dekat becak nampak Pak Jemari berlari lari sambil memanggil manggil anaknya.

“Nah... nah.... tunggu...”teriak pak Jemari. Marginah lalu menoleh dan menghentikan langkahnya.

“Apa tho Pak?" tanya Marginah setelah pak Jemari berada di dekatnya

“Hapeku baterenya habis sedang aku cas, kamu sering sering cek hape mu ya, nunggu kabar dari Pak Kades apa Mak mu sudah dapat orang untuk ngurus tanaman dan sapi belum. Meskipun aku dapat uang sepuluh juta hatiku belum tenang sebelum tanaman dan sapiku ada yang ngurus, kamu langsung angkat ya kalau pak Kades menghubungi" ucap pak Jemari dengan serius

“Bapak dapat uang sepuluh juta dari mana, bapak tidak mengkhayal kan?” tanya Marginah

“Rahasia, sudah sana berangkat itu ibu Sari dan mas Angga sudah berangkat" ucap pak Jemari sambil tersenyum jenaka

“Sini salim dulu sama bapak" ucap pak Jemari, dan terlihat lalu Marginah menjabat tangan pak Jemari kemudian menciuminya.

“Aku juga salim Pak" ucap Nesya lalu mendekat ke pak Jemari dan melakukan hal yang sama dilakukan oleh Marginah. Nesya merasakan hal yang dirasakan luar biasa terasa nyaman merasuki sanubarinya. Dia tidak pernah merasakan salim tangan dan mencium tangan bapaknya. Nesya terlihat tersenyum bahagia. Mereka berdua lalu naik ke dalam becak mas Budi yang sudah siap mengantar mereka ke sekolah.

“Besok kita kalau ke sekolah bagaimana Nes?” tanya Marginah saat sudah di dalam perjalanan

“Kalau jalan kaki sebenarnya juga tidak jauh Nah, tapi di panti juga ada sepeda kita bisa boncengan naik sepeda. Sebab tidak cukup sepedanya kalau sendiri sendiri" jawab Nesya

“Aku belum begitu lihai naik sepedanya Nes, kalau boncengkan masih tidak imbang jalan sepedanya, takutnya nanti jatuh" ucap Marginah

“Aku yang boncengkan kamu" jawab Nesya

“Tapi bisa juga nanti kita belajar bisa muter muter di halaman panti belajarnya, kamu kalau bisa boncengkan bapakmu berarti kamu sudah lihai ha...ha...” ucap Nesya lalu tertawa.

Nesya dan Marginah terus saja berbincang bincang di dalam becak sesekali mas Budi ikut menimpali perbincangan dan candaan mereka. Hingga tidak terasa becak sudah memasuki halaman sekolah menengah pertama yang merupakan satu yayasan dengan yayasan yang mengelola panti asuhan.

Marginah menatap kagum dan haru gedung sekolah tersebut. Gedung sekolahnya lumayan megah meskipun merupakan sekolah yang berlokasi di suatu desa, Marginah merasa senang dan bahagia akhirnya impiannya untuk bisa bersekolah tinggi jalannya terbentang di depan mata. Terlihat Ibu Sari dan Angga sudah berada di depan ruangan guru.

“Kalian jalan kaki menuju ke sana, becak tidak boleh sampai ke sana" ucap Mas Budi yang sudah menghentikan laju becaknya. Marginah dan Nesya lalu meloncat dari becak mas Budi.

“Hati hati kalian itu, jangan loncat loncat kayak anak anak saja sudah mulai jadi gadis kalian" ucap mas Budi sedikit berteriak memberi peringatan kepada mereka berdua. Terlihat mereka berdua hanya menoleh sambil tersenyum lebar dan terus berjalan kaki dengan cepat menuju ke arah ibu Sari.

“Ayo masuk ke ruang kepala sekolah" ajak Ibu Sari setelah mereka berdua sudah mendekat

“Bu, Nesya kan sudah mendaftar apa masuk lagi?” tanya Nesya

“Iya tidak apa apa, biar kepala sekolah lebih mengenal anak anak Ibu" ucap Ibu Sari sambil tersenyum lalu merangkul bahu Nesya .

Mereka berempat lalu memasuki ruang kepala sekolah SMP tersebut, ibu Sari sudah berteman baik dengan ibu kepala sekolah. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang kepala sekolah. Setelah menyerahkan dokumen milik Angga dan Marginah, terlihat Ibu kepala sekolah membuka dan mengecek semua dokumen dokumen tersebut. Sesekali ibu kepala sekolah menanyakan data data Angga dan Marginah untuk memperjelas.

Ibu Kepala sekolah terlihat tersenyum saat melihat daftar nilai yang ada di dokumen milik Marginah. Marginah memang memiliki nilai nilai yang bagus bahkan dia selalu memegang ranking tiga besar selama enam tahun berturut turut dia tidak pernah terlempar keluar dari rangking 3.

“Marginah ikut les les tidak selama ini?” tanya ibu kepala sekolah sambil menatap Marginah, Terlihat Marginah menjawab dengan menggeleng gelengkan kepalanya dengan takut takut.

“Bapak dan Mak tidak punya uang untuk biaya les Bu, karena harus bayar ojek juga kalau mau les, sebab tempat les nya jauh di kota kecamatan, jadi harus keluar uang banyak" ucap Marginah kemudian dengan suara pelan.

“Iya tidak apa apa, nanti kalau di panti ada les, nilai kamu bisa semakin baik" ucap Ibu Sari sambil menatap Marginah

“Kalau Angga bagaimana ikut les?” tanya ibu kepala sekolah sambil menatap Angga dengan tatapan mata yang lembut. Terlihat Angga menganggukkan kepalanya

“Ada les privat Bu, tapi saya sering malas” jawab Angga sambil tertunduk

“Besok lagi tidak boleh malas ya" ucap Ibu kepala sekolah sambil tersenyum

“Di panti ada les, tapi bersama sama ya bukan les privat" ucap ibu Sari sambil menatap Angga terlihat Angga menganggukkan kepalanya.

“Yang ngelesi siapa Bu?” tanya Marginah kepo

“Kakak kakak yang kelasnya lebih tinggi, atau kakak kakak pendamping kakak kakak tenaga sukarela atau istilahnya volunteer" jawab Ibu Sari

“Iya Nah, kadang banyak kakak kakak volunteer nya mereka kadang mahasiswa kadang sarjana, pinter pinter mereka" ucap Nesya dengan tatapan mata berbinar binar

“Aku besok pengen seperti mereka" ucapnya lagi.

Mereka melanjutkan berbincang bincang mengenai hal hal informasi yang dibutuhkan oleh Ibu kepala sekolah. Setelah dikira cukup, ibu Sari dan anak anak asuhnya mohon diri.

Namun tiba tiba terdengar suara dering hape Marginah berbunyi. Marginah lalu mengambil hapenya yang ditaruh di dalam tas slempangnya. Terlihat ada deretan nomer yang sedang menghuhunginya.

“Kok nomer asing, bukan nomer pak kades" ucap Marginah sambil menatap layar hapenya.

Ibu Sari terlihat mendengar apa yang diucapkan Marginah.

“Ada apa Nah?” tanya ibu Sari

“Tadi bapak pesan kalau pak Kades menghubungi biar saya angkat, tapi kok ini nomer asing" gumam Marginah

“Ya sudah diangkat saja, atau dispeaker kalau kamu takut, biar ibu bisa mendengar" ucap Ibu sari

Marginah lalu menggeser tombol hijau.

“Nah mana bapakmu, disuruh ngantar anaknya kok malah nemeni tidur perempuan lain, kurang ajar bapakmu itu" suara keras dari dalam hape Marginah sampai Marginah kaget lalu menjauhkan hape yang dipegang nya

“Hape juga dimatikan takut ya kalau aku hubungi" teriaknya lagi

“Mak ya?” tanya Marginah

“Iya, aku pinjam hape tetangga, bapakmu mana aku pengen bicara langsung maunya itu gimana" teriakan Mak Dinah lagi

“Mak jangan teriak teriak, aku sedang di sekolah lagi daftar, bapak masih di panti" jawab Marginah

“Bapak tadi pesan apa sudah mendapatkan orang untuk ngurus tanaman dan sapi?” tanya Marginah

“Biar tanaman dan sapi nya mati aku tidak peduli, orang mau enak enakan tidur dengan perempuan lain dapat uang banyak, sapi dan tanaman suruh orang lain yang ngurus" ucap Mak Dinah

“Bilang bapakmu gitu biar saja tanaman dan sapinya mati" ucap Mak Dinah lagi lalu menutup sambungan telponnya

Marginah terlihat menaruh kembali hapenya namun terlihat dia sangat bingung.

“Ayo Nes, segera ke panti nemuin bapak, sepeti nya sedang gawat darurat” ucap Marginah langsung menarik tangan Nesya untuk berlari menuju ke becak mas Budi, sampai sampai dia tidak mendengarkan panggilan dari ibu Sari dan Angga

Terpopuler

Comments

Nit_Nit

Nit_Nit

weh pak Jemari kena marah mak dinah

2022-04-08

16

lihat semua
Episodes
1 1. Celoteh di persiapan pagi hari
2 2. Pesan Nenek
3 3. Emosi Pak Jemari
4 4. Toko Mekar
5 5. Panti asuhan Budi Luhur
6 6. Kamar Tamu yang horor
7 7. Teman sekamar
8 8 Sedikit cerita Nesya
9 9 Cerita Nesya
10 10 Gebrakan di meja pak Jemari
11 11. Sedikit cerita tentang Angga
12 12. Igauan Angga
13 13. Pak Jemari jangan pulang
14 14. Sepuluh juta
15 15. Salah Paham
16 16. Salah Paham 2
17 17. Kedatangan Papinya Angga
18 18. Keputusan Papinya Angga
19 19. Bantuan
20 20. Sabar
21 Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22 Bab. 22. Bersyukur
23 Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24 Bab. 24. Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26 Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27 Bab. 27. Waspada
28 Bab. 28. Menjemput Angga
29 Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30 Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31 Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32 Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33 Bab. 33. Belajar Bela Diri
34 Bab. 34. Berbinar Binar
35 Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36 Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37 Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38 Bab. 38. Semangat Belajar
39 Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40 Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41 Bab. 41. Malam Perpisahan
42 Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43 Bab. 43. Penghuni Baru
44 Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45 Bab. 45. Kalimat yang Viral
46 Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47 Bab. 47. Terlambat
48 Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49 Bab. 49. Ada itu Berkah
50 Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51 Bab. 51. Penasaran
52 Bab. 52. Doa Ibu Sari
53 Bab. 53. Nesya Histeris
54 Bab. 54. Ancaman Nesya
55 Bab. 55. Ide Angga
56 Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57 Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58 Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59 Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60 Bab. 60. Tangisan
61 Bab. 61. Curiga
62 Bab. 62. Waspada
63 Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64 Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65 Bab. 65. Emak Baru
66 Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67 Bab. 67. Rencana Emak Baru
68 Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69 Bab. 69. Diambil Alih
70 Bab. 70. Tekad Emak Baru
71 Bab. 71. Tidak Sendiri
72 Bab. 72. Emak Baru Kepo
73 Bab. 73. Ujian Hidup
74 Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75 Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76 Bab. 76. Anomali
77 Bab. 77. Menunggu
78 Bab. 78. Kedatangan Tamu
79 Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80 Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81 Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82 Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83 Bab. 83. Dilema
84 Bab. 84. Kecewa?
85 Bab. 85. Akhirnya Asyik
86 Bab. 86. Hujan Badai
87 Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88 Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89 Bab. 89. Berita Menggelegar
90 Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91 Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92 Bab. 92. Bantuan Sandra
93 Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94 Bab. 94. Rahasia
95 Bab. 95. Izin
96 PROMO NOVEL BARU
97 PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Celoteh di persiapan pagi hari
2
2. Pesan Nenek
3
3. Emosi Pak Jemari
4
4. Toko Mekar
5
5. Panti asuhan Budi Luhur
6
6. Kamar Tamu yang horor
7
7. Teman sekamar
8
8 Sedikit cerita Nesya
9
9 Cerita Nesya
10
10 Gebrakan di meja pak Jemari
11
11. Sedikit cerita tentang Angga
12
12. Igauan Angga
13
13. Pak Jemari jangan pulang
14
14. Sepuluh juta
15
15. Salah Paham
16
16. Salah Paham 2
17
17. Kedatangan Papinya Angga
18
18. Keputusan Papinya Angga
19
19. Bantuan
20
20. Sabar
21
Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22
Bab. 22. Bersyukur
23
Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24
Bab. 24. Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26
Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27
Bab. 27. Waspada
28
Bab. 28. Menjemput Angga
29
Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30
Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31
Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33
Bab. 33. Belajar Bela Diri
34
Bab. 34. Berbinar Binar
35
Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36
Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37
Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38
Bab. 38. Semangat Belajar
39
Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41
Bab. 41. Malam Perpisahan
42
Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43
Bab. 43. Penghuni Baru
44
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45
Bab. 45. Kalimat yang Viral
46
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47
Bab. 47. Terlambat
48
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49
Bab. 49. Ada itu Berkah
50
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51
Bab. 51. Penasaran
52
Bab. 52. Doa Ibu Sari
53
Bab. 53. Nesya Histeris
54
Bab. 54. Ancaman Nesya
55
Bab. 55. Ide Angga
56
Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58
Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59
Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60
Bab. 60. Tangisan
61
Bab. 61. Curiga
62
Bab. 62. Waspada
63
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65
Bab. 65. Emak Baru
66
Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67
Bab. 67. Rencana Emak Baru
68
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69
Bab. 69. Diambil Alih
70
Bab. 70. Tekad Emak Baru
71
Bab. 71. Tidak Sendiri
72
Bab. 72. Emak Baru Kepo
73
Bab. 73. Ujian Hidup
74
Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75
Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76
Bab. 76. Anomali
77
Bab. 77. Menunggu
78
Bab. 78. Kedatangan Tamu
79
Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80
Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81
Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82
Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83
Bab. 83. Dilema
84
Bab. 84. Kecewa?
85
Bab. 85. Akhirnya Asyik
86
Bab. 86. Hujan Badai
87
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88
Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89
Bab. 89. Berita Menggelegar
90
Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92
Bab. 92. Bantuan Sandra
93
Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94
Bab. 94. Rahasia
95
Bab. 95. Izin
96
PROMO NOVEL BARU
97
PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!