Pak Jemari lalu mengetuk ngetuk pintu kamar tersebut. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat sosok Angga di balik pintu. Pak Jemari lalu berjalan cepat menuju ke hapenya yang sedang dicas.
“Kok tidak terisi batere nya.” Gumam Pak Jemari saat melihat hapenya baterenya masih kosong.
“Mungkin stop kontaknya rusak Pak.” Ucap Angga yang mendengar gumaman Pak Jemari.
“Minta tolong mas Budi saja sekalian benerin lampu agar tidak mati mati lagi nanti malam.” Ucap Angga kemudian.
“Haduh keburu berita hoax tersebar di seluruh desa, hape malah mati.” Ucap pak Jemari dengan nada gundah.
“Bisa bahaya kalau sampai ke orang tuaku.. “ Gumam Pak Jemari selanjutnya.
“Ada apa Pak?” tanya Angga sambil menoleh menatap pak Jemari
“Berita yang tersebar saya menemani tidur mbak Angga.” Jawab pak Jemari dengan wajah sedih.
“Hem..” Angga hanya tersenyum sedikit hanya satu sisi ujung bibirnya yang terangkat.
Pak Jemari lalu mencabut hapenya dan berjalan setengah berlari meninggalkan kamar tujuannya mencari mas Budi.
Sementara pak Jemari meninggalkan kamar, Angga asyik dengan hapenya sedang chattingan dengan Papi nya. Angga sangat bahagia sebab jarang sekali Papinya punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan Angga. Angga lebih senang bisa chattingan berjam jam daripada ditelpon hanya sepuluh menit. Meskipun Papinya melakukan chatingan sambil bekerja.
Beberapa menit kemudian Pak Jemari dan Mas Budi memasuki kamar.
“Mas Angga ini mau diperbaiki listriknya. Kalau Mas Angga merasa terganggu bisa ke ruang perpustakaan dulu.” Ucap Mas Budi.
“Baik Mas.” Ucap Angga lalu dia berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruang perpustakaan.
Saat di ruang perpustakaan terlihat ada Marginah dan Nesya sedang berada di depan komputer yang berada di ruang perpustakaan tersebut. Mereka berdua menghadap pada satu komputer yang sama duduk berdekatan di dua kursi. Di ruang perpustakaan tersebut memang hanya ada satu komputer.
“Ini sudah Nes..” Ucap Marginah
“Disimpan Nah, buat file kamu.” Ucap Nesya.
“Gimana caranya?” tanya Marginah. Lalu tangan Nesya memegang tetikus dan mengajari Marginah.
“Kamu kok sudah pinter sih Nes.” Ucap Marginah memuji Nesya
“Diajari kak Fatima, cuma sayangnya hanya ada satu komputer saja.” Ucap Nesya sambil tangannya mengajari Marginah.
“Jadi aku belum mahir hanya bisa nulis seadanya saja.. tapi lumayan buat latihan besok kalau komputer nganggur dan kak Fatima pas ada waktu mau diajari lagi buat kolom kolom dan lain lainnya.” Ucap Nesya selanjutnya.
“Emang harus ada berapa komputer Nes?” tanya Angga yang mendengar pembicaraan Marginah dan Nesya.
“E... eh... ada empat komputer saja sudah bagus sangat membantu.” Jawab Nesya sedikit gagap sebab kaget dengan suara Angga yang menanggapi pembicaraannya.
“Kalau sedang ada tugas kakak kakak pergi ke tempat rental kalau yang di perpus sudah ada yang pakai.” Ucap Nesya selanjutnya.
“Aku bisa belajar komputer kalau sedang sepi saja kayak seperti sekarang ini. Komputer ibu Sari khusus untuk ibu Sari saja.” Ucap Nesya lagi
“Nah cara ngetikmu itu jangan hanya pakai telunjuk saja, lucu lihatnya.” Ucap Angga saat melihat cara mengetik Marginah.
“Ah kamu sama saja kayak Nesya, jangan banyak komentar dulu, aku kan lagi belajar.. biasa nya kalau ngetik pakai hape hanya jempolku saja yang ngetik.” Jawab Marginah masih sibuk ngetik dengan kedua telunjuk jarinya.
“Aku bawa lap top kalian bisa pakai lap top ku untuk belajar.” Ucap Angga
“Aku belum pernah pegang lap top.” Ucap Nesya.
“Apalagi aku.” Ucap Marginah sambil kedua telunjuknya masih memencet mencet tuts.
“Ya kalau mau belajar kalau tidak mau ya sudah aku tidak maksa.” Ucap Angga santai lalu kembali sibuk dengan hapenya membalas chattingan Papinya.
“Takut rusak nanti kalau aku pakai he... he...” Ucap Marginah sambil tertawa
“Tapi mau Ang aku belajar pakai lap top, ya Nes.” Ucap Marginah sambil menyikut tubuh Nesya.
“Kalau rusak gimana?” tanya Nesya pelan.
“Uang Angga kan banyak bisa beli lagi yang baru, mumpung dia lagi mau nawarin kita belajar. Jangan lewatkan kesempatan emas.” Ucap Marginah dengan pelan pula.
Sedangkan Angga masih sibuk chatingan dengan Papinya. Namun tiba tiba...
“Asyikkkk" Teriak Angga sambil mengepalkan tangannya. Lalu dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang perpustakaan.
Marginah dan Nesya yang mendengar teriakan Angga lalu menoleh ke arah Angga.
“Orang aneh, mendadak datang, mendadak baik, mendadak bahagia, mendadak pergi.” Gumam Marginah
“Mungkin habis chatting dengan pacarnya.” Ucap Nesya.
“Bisa juga, orang kaya mah bebas..” Ucap Marginah lalu dia sibuk lagi, telunjuk jarinya memencet mencet tuts.
Sementara itu Angga berjalan cepat menuju ke ruangan ibu Sari. Angga mengetuk ngetuk pintu kamar ibu Sari.
“Ada apa Nga?” Tanya Ibu Sari saat melihat Angga di depan pintu.
“Bu, Papi saya nanti mau datang ke sini.” Jawab Angga dengan senyum mengembang.
“Wah.. senang sekali Nga.. Baiklah nanti Ibu temui beliau.” Jawab Ibu Sari sambil tersenyum
“Terimakasih Bu.” Ucap Angga masih dengan bibir tersenyum.
“Sama sama. Angga kamu mulai nanti makan siang masuk di meja makan kelompokmu ya..” Ucap Ibu Sari.
“Baik Bu, saya ikut kelompok siapa Bu.” Jawab Angga.
“Ikut kelompoknya kak Fadli, nanti Ibu tunjukkan saat makan siang.” Ucap Ibu Sari.
“Kamu juga bisa tanya tanya ke kak Fadli dia sudah kelas dua belas.” Ucap Ibu Sari kemudian.
“Baik Bu.” Ucap Angga dengan sopan lalu dia pamit undur diri. Ibu Sari terlihat tersenyum bahagia melihat Angga yang sepertinya bahagia dan sudah mulai mau mencoba beradaptasi.
Sore harinya Angga sudah berdandan rapi termasuk Pak Jemari. Pak Jemari sudah memakai kemeja dan celana panjang bagus yang didapat dari mas Budi. Di panti banyak baju baju pantas pakai yang masih bagus bagus sumbangan dari donatur. Sudah dibersihkan petugas panti dan disimpan rapi di dalam lemari lemari.
“Aku sudah tidak sabar pengen kenalan dengan Papi nya mas Angga.” Ucap Pak Jemari sambil menyisir rambutnya yang sekarang sudah wangi.
“Iya Pak, saya juga sudah tidak sabar pengen ketemu Papi.” Ucap Angga sambil tersenyum kemudian dia kembali sibuk dengan hape nya. Mengecek Papinya sudah sampai mana.
“Ayo Pak kita keluar.. Papi sudah sampai toko Mekar.” Ucap Angga lalu melangkah menuju ke pintu kamar.
Pak Jemari lalu mengikuti langkah kaki Angga. Mereka berdua berjalan beriringan tampak keduanya sangat bahagia.
“Kita tunggu di pintu gerbang saja Mas.” Ucap Pak Jemari. Dan Angga pun menyetujuinya. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke pintu gerbang.
Marginah dan Nesya yang sudah berpakaian rapi melihat pak Jemari dan Angga berjalan menuju ke pintu gerbang, lalu mereka berdua mengikuti. Dan tidak lama kemudian anak anak panti lainnya juga menyusul mereka. Mereka semua akan menyambut kedatangan Papinya Angga. Melihat teman teman yang lain juga menyambut kedatangannya Papinya, Angga tersenyum sekaligus terharu karena solidaritas nya teman teman panti.
“Terima kasih.” Ucap Angga menatap mereka semua.
“Sama sama.” Ucap mereka semua
***
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Nit_Nit
akhirnya up date juga 😍
2022-06-09
2