17. Kedatangan Papinya Angga

Pak Jemari lalu mengetuk ngetuk pintu kamar tersebut. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat sosok Angga di balik pintu. Pak Jemari lalu berjalan cepat menuju ke hapenya yang sedang dicas.

“Kok tidak terisi batere nya.” Gumam Pak Jemari saat melihat hapenya baterenya masih kosong.

“Mungkin stop kontaknya rusak Pak.” Ucap Angga yang mendengar gumaman Pak Jemari.

“Minta tolong mas Budi saja sekalian benerin lampu agar tidak mati mati lagi nanti malam.” Ucap Angga kemudian.

“Haduh keburu berita hoax tersebar di seluruh desa, hape malah mati.” Ucap pak Jemari dengan nada gundah.

“Bisa bahaya kalau sampai ke orang tuaku.. “ Gumam Pak Jemari selanjutnya.

“Ada apa Pak?” tanya Angga sambil menoleh menatap pak Jemari

“Berita yang tersebar saya menemani tidur mbak Angga.” Jawab pak Jemari dengan wajah sedih.

“Hem..” Angga hanya tersenyum sedikit hanya satu sisi ujung bibirnya yang terangkat.

Pak Jemari lalu mencabut hapenya dan berjalan setengah berlari meninggalkan kamar tujuannya mencari mas Budi.

Sementara pak Jemari meninggalkan kamar, Angga asyik dengan hapenya sedang chattingan dengan Papi nya. Angga sangat bahagia sebab jarang sekali Papinya punya banyak waktu untuk berkomunikasi dengan Angga. Angga lebih senang bisa chattingan berjam jam daripada ditelpon hanya sepuluh menit. Meskipun Papinya melakukan chatingan sambil bekerja.

Beberapa menit kemudian Pak Jemari dan Mas Budi memasuki kamar.

“Mas Angga ini mau diperbaiki listriknya. Kalau Mas Angga merasa terganggu bisa ke ruang perpustakaan dulu.” Ucap Mas Budi.

“Baik Mas.” Ucap Angga lalu dia berjalan meninggalkan kamar menuju ke ruang perpustakaan.

Saat di ruang perpustakaan terlihat ada Marginah dan Nesya sedang berada di depan komputer yang berada di ruang perpustakaan tersebut. Mereka berdua menghadap pada satu komputer yang sama duduk berdekatan di dua kursi. Di ruang perpustakaan tersebut memang hanya ada satu komputer.

“Ini sudah Nes..” Ucap Marginah

“Disimpan Nah, buat file kamu.” Ucap Nesya.

“Gimana caranya?” tanya Marginah. Lalu tangan Nesya memegang tetikus dan mengajari Marginah.

“Kamu kok sudah pinter sih Nes.” Ucap Marginah memuji Nesya

“Diajari kak Fatima, cuma sayangnya hanya ada satu komputer saja.” Ucap Nesya sambil tangannya mengajari Marginah.

“Jadi aku belum mahir hanya bisa nulis seadanya saja.. tapi lumayan buat latihan besok kalau komputer nganggur dan kak Fatima pas ada waktu mau diajari lagi buat kolom kolom dan lain lainnya.” Ucap Nesya selanjutnya.

“Emang harus ada berapa komputer Nes?” tanya Angga yang mendengar pembicaraan Marginah dan Nesya.

“E... eh... ada empat komputer saja sudah bagus sangat membantu.” Jawab Nesya sedikit gagap sebab kaget dengan suara Angga yang menanggapi pembicaraannya.

“Kalau sedang ada tugas kakak kakak pergi ke tempat rental kalau yang di perpus sudah ada yang pakai.” Ucap Nesya selanjutnya.

“Aku bisa belajar komputer kalau sedang sepi saja kayak seperti sekarang ini. Komputer ibu Sari khusus untuk ibu Sari saja.” Ucap Nesya lagi

“Nah cara ngetikmu itu jangan hanya pakai telunjuk saja, lucu lihatnya.” Ucap Angga saat melihat cara mengetik Marginah.

“Ah kamu sama saja kayak Nesya, jangan banyak komentar dulu, aku kan lagi belajar.. biasa nya kalau ngetik pakai hape hanya jempolku saja yang ngetik.” Jawab Marginah masih sibuk ngetik dengan kedua telunjuk jarinya.

“Aku bawa lap top kalian bisa pakai lap top ku untuk belajar.” Ucap Angga

“Aku belum pernah pegang lap top.” Ucap Nesya.

“Apalagi aku.” Ucap Marginah sambil kedua telunjuknya masih memencet mencet tuts.

“Ya kalau mau belajar kalau tidak mau ya sudah aku tidak maksa.” Ucap Angga santai lalu kembali sibuk dengan hapenya membalas chattingan Papinya.

“Takut rusak nanti kalau aku pakai he... he...” Ucap Marginah sambil tertawa

“Tapi mau Ang aku belajar pakai lap top, ya Nes.” Ucap Marginah sambil menyikut tubuh Nesya.

“Kalau rusak gimana?” tanya Nesya pelan.

“Uang Angga kan banyak bisa beli lagi yang baru, mumpung dia lagi mau nawarin kita belajar. Jangan lewatkan kesempatan emas.” Ucap Marginah dengan pelan pula.

Sedangkan Angga masih sibuk chatingan dengan Papinya. Namun tiba tiba...

“Asyikkkk" Teriak Angga sambil mengepalkan tangannya. Lalu dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang perpustakaan.

Marginah dan Nesya yang mendengar teriakan Angga lalu menoleh ke arah Angga.

“Orang aneh, mendadak datang, mendadak baik, mendadak bahagia, mendadak pergi.” Gumam Marginah

“Mungkin habis chatting dengan pacarnya.” Ucap Nesya.

“Bisa juga, orang kaya mah bebas..” Ucap Marginah lalu dia sibuk lagi, telunjuk jarinya memencet mencet tuts.

Sementara itu Angga berjalan cepat menuju ke ruangan ibu Sari. Angga mengetuk ngetuk pintu kamar ibu Sari.

“Ada apa Nga?” Tanya Ibu Sari saat melihat Angga di depan pintu.

“Bu, Papi saya nanti mau datang ke sini.” Jawab Angga dengan senyum mengembang.

“Wah.. senang sekali Nga.. Baiklah nanti Ibu temui beliau.” Jawab Ibu Sari sambil tersenyum

“Terimakasih Bu.” Ucap Angga masih dengan bibir tersenyum.

“Sama sama. Angga kamu mulai nanti makan siang masuk di meja makan kelompokmu ya..” Ucap Ibu Sari.

“Baik Bu, saya ikut kelompok siapa Bu.” Jawab Angga.

“Ikut kelompoknya kak Fadli, nanti Ibu tunjukkan saat makan siang.” Ucap Ibu Sari.

“Kamu juga bisa tanya tanya ke kak Fadli dia sudah kelas dua belas.” Ucap Ibu Sari kemudian.

“Baik Bu.” Ucap Angga dengan sopan lalu dia pamit undur diri. Ibu Sari terlihat tersenyum bahagia melihat Angga yang sepertinya bahagia dan sudah mulai mau mencoba beradaptasi.

Sore harinya Angga sudah berdandan rapi termasuk Pak Jemari. Pak Jemari sudah memakai kemeja dan celana panjang bagus yang didapat dari mas Budi. Di panti banyak baju baju pantas pakai yang masih bagus bagus sumbangan dari donatur. Sudah dibersihkan petugas panti dan disimpan rapi di dalam lemari lemari.

“Aku sudah tidak sabar pengen kenalan dengan Papi nya mas Angga.” Ucap Pak Jemari sambil menyisir rambutnya yang sekarang sudah wangi.

“Iya Pak, saya juga sudah tidak sabar pengen ketemu Papi.” Ucap Angga sambil tersenyum kemudian dia kembali sibuk dengan hape nya. Mengecek Papinya sudah sampai mana.

“Ayo Pak kita keluar.. Papi sudah sampai toko Mekar.” Ucap Angga lalu melangkah menuju ke pintu kamar.

Pak Jemari lalu mengikuti langkah kaki Angga. Mereka berdua berjalan beriringan tampak keduanya sangat bahagia.

“Kita tunggu di pintu gerbang saja Mas.” Ucap Pak Jemari. Dan Angga pun menyetujuinya. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke pintu gerbang.

Marginah dan Nesya yang sudah berpakaian rapi melihat pak Jemari dan Angga berjalan menuju ke pintu gerbang, lalu mereka berdua mengikuti. Dan tidak lama kemudian anak anak panti lainnya juga menyusul mereka. Mereka semua akan menyambut kedatangan Papinya Angga. Melihat teman teman yang lain juga menyambut kedatangannya Papinya, Angga tersenyum sekaligus terharu karena solidaritas nya teman teman panti.

“Terima kasih.” Ucap Angga menatap mereka semua.

“Sama sama.” Ucap mereka semua

***

Bersambung

Terpopuler

Comments

Nit_Nit

Nit_Nit

akhirnya up date juga 😍

2022-06-09

2

lihat semua
Episodes
1 1. Celoteh di persiapan pagi hari
2 2. Pesan Nenek
3 3. Emosi Pak Jemari
4 4. Toko Mekar
5 5. Panti asuhan Budi Luhur
6 6. Kamar Tamu yang horor
7 7. Teman sekamar
8 8 Sedikit cerita Nesya
9 9 Cerita Nesya
10 10 Gebrakan di meja pak Jemari
11 11. Sedikit cerita tentang Angga
12 12. Igauan Angga
13 13. Pak Jemari jangan pulang
14 14. Sepuluh juta
15 15. Salah Paham
16 16. Salah Paham 2
17 17. Kedatangan Papinya Angga
18 18. Keputusan Papinya Angga
19 19. Bantuan
20 20. Sabar
21 Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22 Bab. 22. Bersyukur
23 Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24 Bab. 24. Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26 Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27 Bab. 27. Waspada
28 Bab. 28. Menjemput Angga
29 Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30 Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31 Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32 Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33 Bab. 33. Belajar Bela Diri
34 Bab. 34. Berbinar Binar
35 Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36 Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37 Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38 Bab. 38. Semangat Belajar
39 Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40 Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41 Bab. 41. Malam Perpisahan
42 Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43 Bab. 43. Penghuni Baru
44 Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45 Bab. 45. Kalimat yang Viral
46 Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47 Bab. 47. Terlambat
48 Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49 Bab. 49. Ada itu Berkah
50 Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51 Bab. 51. Penasaran
52 Bab. 52. Doa Ibu Sari
53 Bab. 53. Nesya Histeris
54 Bab. 54. Ancaman Nesya
55 Bab. 55. Ide Angga
56 Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57 Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58 Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59 Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60 Bab. 60. Tangisan
61 Bab. 61. Curiga
62 Bab. 62. Waspada
63 Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64 Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65 Bab. 65. Emak Baru
66 Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67 Bab. 67. Rencana Emak Baru
68 Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69 Bab. 69. Diambil Alih
70 Bab. 70. Tekad Emak Baru
71 Bab. 71. Tidak Sendiri
72 Bab. 72. Emak Baru Kepo
73 Bab. 73. Ujian Hidup
74 Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75 Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76 Bab. 76. Anomali
77 Bab. 77. Menunggu
78 Bab. 78. Kedatangan Tamu
79 Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80 Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81 Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82 Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83 Bab. 83. Dilema
84 Bab. 84. Kecewa?
85 Bab. 85. Akhirnya Asyik
86 Bab. 86. Hujan Badai
87 Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88 Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89 Bab. 89. Berita Menggelegar
90 Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91 Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92 Bab. 92. Bantuan Sandra
93 Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94 Bab. 94. Rahasia
95 Bab. 95. Izin
96 PROMO NOVEL BARU
97 PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Celoteh di persiapan pagi hari
2
2. Pesan Nenek
3
3. Emosi Pak Jemari
4
4. Toko Mekar
5
5. Panti asuhan Budi Luhur
6
6. Kamar Tamu yang horor
7
7. Teman sekamar
8
8 Sedikit cerita Nesya
9
9 Cerita Nesya
10
10 Gebrakan di meja pak Jemari
11
11. Sedikit cerita tentang Angga
12
12. Igauan Angga
13
13. Pak Jemari jangan pulang
14
14. Sepuluh juta
15
15. Salah Paham
16
16. Salah Paham 2
17
17. Kedatangan Papinya Angga
18
18. Keputusan Papinya Angga
19
19. Bantuan
20
20. Sabar
21
Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22
Bab. 22. Bersyukur
23
Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24
Bab. 24. Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26
Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27
Bab. 27. Waspada
28
Bab. 28. Menjemput Angga
29
Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30
Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31
Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33
Bab. 33. Belajar Bela Diri
34
Bab. 34. Berbinar Binar
35
Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36
Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37
Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38
Bab. 38. Semangat Belajar
39
Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41
Bab. 41. Malam Perpisahan
42
Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43
Bab. 43. Penghuni Baru
44
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45
Bab. 45. Kalimat yang Viral
46
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47
Bab. 47. Terlambat
48
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49
Bab. 49. Ada itu Berkah
50
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51
Bab. 51. Penasaran
52
Bab. 52. Doa Ibu Sari
53
Bab. 53. Nesya Histeris
54
Bab. 54. Ancaman Nesya
55
Bab. 55. Ide Angga
56
Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58
Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59
Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60
Bab. 60. Tangisan
61
Bab. 61. Curiga
62
Bab. 62. Waspada
63
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65
Bab. 65. Emak Baru
66
Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67
Bab. 67. Rencana Emak Baru
68
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69
Bab. 69. Diambil Alih
70
Bab. 70. Tekad Emak Baru
71
Bab. 71. Tidak Sendiri
72
Bab. 72. Emak Baru Kepo
73
Bab. 73. Ujian Hidup
74
Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75
Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76
Bab. 76. Anomali
77
Bab. 77. Menunggu
78
Bab. 78. Kedatangan Tamu
79
Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80
Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81
Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82
Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83
Bab. 83. Dilema
84
Bab. 84. Kecewa?
85
Bab. 85. Akhirnya Asyik
86
Bab. 86. Hujan Badai
87
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88
Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89
Bab. 89. Berita Menggelegar
90
Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92
Bab. 92. Bantuan Sandra
93
Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94
Bab. 94. Rahasia
95
Bab. 95. Izin
96
PROMO NOVEL BARU
97
PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!