Malam harinya setelah acara makan malam. Angga dan Papinya ikut berjalan ke ruang doa. Saat di depan pintu terlihat pak Jemari dan Mas Budi juga akan memasuki ruang doa.
“Mas Budi, kita tolong Oma nya Angga dengan doa ya.” Ucap pak Jemari sambil menatap mas Budi dan Papinya Angga secara bergantian.
“Baik Pak.” Jawab mas Budi yang nanti akan memimpin doa.
“Terimakasih.” Ucap Angga dan Papinya secara bersamaan.
“Sama sama Pak, kami hanya bisa bantu dengan doa.” Jawab mas Budi. Lalu mereka semua masuk ke dalam ruang doa.
Setelah semua penghuni panti masuk ke dalam ruang doa. Mas Budi memulai memimpin doa malam. Mereka memanjatkan doa khusus untuk kesehatan Oma nya Angga dan semoga segera mendapatkan pendonor ginjal yang cocok. Semua berdoa dengan khusuk.
Acara doa malam selesai lalu mereka keluar dari ruang doa dengan tertib.
“Pap ayo kita ke ruang perpustakaan.” ajak Angga pada Papinya. Angga ingin menunjukkan komputer panti yang hanya satu buah dan itupun sudah meruoakan komputer lama. Papinya Angga tersenyum lalu memeluk pundak Angga sambil berjalan mengikuti langkah kaki Angga.
“Kamu suka nak, tinggal di sini?” tanya Papinya Angga pelan.
“Daripada tinggal sendiri Pap, di sini banyak teman dan ada Ibu Sari yang memperhatikan.” Jawab Angga sambil terus berjalan
“Awalnya sedih... Tapi orang orang di sini baik baik dan peduli jadi akhirnya senang.” Ucap Angga kemudian sambil tersenyum.
“Maafkan Papi ya...” gumam Papinya Angga dengan suara pelan.
“Iya Pap, ga apa apa... yang penting Papi cari duit yang banyak he... he....” ucap Angga sambil tertawa kecil
“Kamu sekarang sudah bisa bercanda baru sebentar di sini.” Ucap Papinya Angga sambil kembali memeluk pundak Angga
“Tidak bercanda Pap, tapi sungguh sungguh.. Banyak anak anak di sini yang bernasib lebih buruk dari Angga. Kata ibu Sari itu si Nesya dititip sini karena ibunya cari duit di luar negeri, bapaknya malah mau menjual Nesya.” Ucap Angga
“Ha? Yang bener anaknya sendiri mau dijual?” tanya Papi nya Angga heran.
“iya Pap. Nesya tidak mendapatkan kasih sayang seorang bapak. Sedangkan aku tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu.” ucap Angga dengan nada sendu.
“Maaf...” gumam papinya Angga yang merasa bersalah karena menikah lagi dan istri nya tidak mau menerima Angga sebagai anaknya.
“Kalau Marginah?” tanya papinya Angga
“Ooo dia anaknya pak Jemari, pengen melanjutkan sekolah tapi kesulitan biaya, Marginah anaknya pintar juara terus.” jawab Angga
“Ooo bagus...” gumam papinya Angga. Mereka berdua terus melangkah menuju ke ruang perpustakaan.
“Kaak Angaaaa.” Sapa Nita dengan sangat ramah saat Angga dan Papinya melewati temoat duduk mereka.
“Nit kamu jangan centil.” bisik Vani sambil menepuk pundak Nita
“Aku ga centil Van, tapi aku ramah... aku menyapa... ih kamu itu..” ucap Nita sambil bersungut sungut.
Angga dan Papinya menoleh sambil tersenyum.
“Yang rajin belajarnya ya...” ucap Papinya Angga kemudian. Dan selanjutnya mereka berdua terus melangkah menuju ke tempat komputer.
Saat sampai di depan komputer terlihat ada dua anak SMK yang sedang sibuk mengerjakan tugas dan beberapa orang anak duduk di dekatnya membaca buku sambil menunggu giliran. Papinya Angga terlihat prihatin dengan komputer yang tampilkan sudah sangat ketinggalan jaman itu.
“Selamat malam Pak.” ucap anak anak yang menyadari kehadiran Papinya Angga
“Selamat malam. Apa kalian semua menunggu giliran untuk memakai komputer ini?” ucap Papinya Angga.
“Iya Pak. Tadi sudah ke rental tapi belum selesai, jatah uang untuk rental sudah habis.” jawab salah satu dari mereka.
“Ooooh.” gumam Papinya Angga
“Pap, Angga pinjamkan lap top Angga ya... kasihan kakak kakak.” ucap Angga lalu dia segera membalikan badan dan berlari meninggalkan ruangan tersebut tanpa menunggu persetujuan dari Papinya. Papinya Angga tersenyum datar bahagia dan terharu karena sikap empati anaknya namun prihatin dengan kondisi panti yang kekurangan sarana.
Tidak berapa lama Angga datang dengan menenteng lap top miliknya. Dan kali ini datang bersama pak Jemari karena pak Jemari kaget melihat Angga yang berlari lari bolak balik ke perpustakaan. Pak Jemari tidak banyak bicara dan komentar dia hanya melihat Angga yang sibuk menyiapkan lap topnya. Sekarang pak Jemari tahu kenapa Angga berlari lari, tadi dia mengikuti mengira kalau ada sesuatu yang mengkuatirkan.
Angga lalu dengan segera membuka lap topnya, semua anak di situ kagum melihat lap top Angga.
“Sudah kakak kakak silahkan pakai lap topku, nanti bisa langsung dikirim email juga tugasnya.” ucap Angga sambil menyerahkan lap top yang siap dengan lembar kerja.
“Aku belum bisa pakai lap top belum pernah pegang.” ucap salah satu dari mereka
“Sama saja kakak.” jawab Angga
“Pinjam mouse ibu Sari saja.” ucap Fatima memberi saran.
“Iya ayo pinjam mouse ibu Sari aku juga akan menemui ibu Sari.” ucap papinya Angga. Fatima lalu menganggukkan kepala dan bangkit berdiri berjalan kemudian langkahnya diikuti oleh Papinya Angga mereka berdua berjalan meninggalkan ruang perpustakaan menuju ke kamar ibu Sari.
Sesampai di kamar Ibu Sari, Fatima mengetuk pintu dan tidak lama pintu dibuka oleh Ibu Sari. Sebelum ibu Sari mengucapkan sepatah kata, papinya Angga sudah bertanya...
“Ibu Sari kenapa tidak melaporkan kondisi sarana belajar panti ini secara detail.”
“Maaf Pak, maksudnya bagaimana?” tanya ibu Sari yang tidak paham dengan pertanyaan papinya Angga
“Saya diajak Angga melihat kondisi komputer yang sudah tua dan hanya ada satu komputer saja.” jawab Papinya Angga
“Oooo maaf Pak, saya hanya melaporkan sarana belajar anak secara umum. Dan selama ini permasalah kekurangan komputer kami atasi dengan memakai jasa rental atau memanfaatkan komputer sekolah di saat jam belajar di sekolah.” Ucap Ibu Sari
“Iya Bu, mungkin kami sebagai donatur juga tidak membaca laporan secara cermat.”
“Di kantor saya ada beberapa komputer yang masih bagus yang sudah dipakai. Besok saya suruh bawa ke sini.” ucap papinya Angga kemudian beliau akan menyumbangkan beberapa komputer kantor yang sudah tidak dipakai biasanya barang barang yang sudah tidak dipakai akan dilelang.
“Terimakasih sekali Pak.” jawab Ibu Sari dengan senang. Fatima yang mendengar juga terlihat senang.
"Sama sama Ibu Sari, kalau begitu saya undur diri, mau istirahat." ucap papinya Angga lalu melangkah menuju ke kamar tamu. Sedangkan Fatima masih tertinggal di depan Ibu Sari.
“Kamu ada perlu apa Fat, mengantar Papinya Angga atau juga ada perlu dengan Ibu?” tanya ibu Sari sambil menatap Fatima.
“Oooo sampai lupa Bu, mau pinjam mouse. Mau dipinjami lap top Angga tapi susah kalau tidak pakai mouse.” jawab Fatima sambil tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments