Nesya masih terisak dalam pelukan Marginah. Sedangkan pak Jemari masih terdiam mematung karena bingung.
"Nah boleh aku memeluk bapakmu, aku pengen merasakan pelukan seorang bapak" ucap lirih sambil terisak
"Boleh tapi biar bapakku pakai baju dulu ya, biar kamu ga bau keringatnya" ucap Marginah jujur dan membuat Nesya tersenyum dalam deraian air matanya.
"Pak, cepat pakai baju lengkapnya" teriak Marginah. Pak Jemari yang bingung namun spontan memakai baju lengkapnya. Lalu Marginah mendekat pada bapaknya.
"Pak... Nesya kangen bapaknya dia pengen memeluk bapak" ucap Marginah, dan Nesya lalu memeluk pak Jemari, dan pak Jemari mengusap lembut rambut kepala Nesya. Nesya sejenak merasakan damai dia seperti merasakan usapan lembut kakeknya yang sudah sepuluh tahun tidak dirasakan. Marginah ikut memeluk Nesya dari samping sambil mengusap usap punggungnya.
Di saat mereka masih berpelukan mas Budi sudah datang dengan becaknya.
"Ada apa Nes, apa ada orang mau menculikmu lagi?" tanya mas Budi sambil turun dari jok kemudi becaknya. Ucapan mas Budi membuat pak Jemari semakin bingung. Dan merekapun saling mengurai pelukannya.
"Aku bukan penculik Mas" ucap pak Jemari sambil menatap ke mas Budi.
"Bukan begitu Pak, ada beberapa orang suruhan bapaknya Nesya ingin menculik Nesya" ucap mas Budi yang kemudian menjelaskan semua kejadian Nesya, dan tentu saja membuat Nesya menangis lagi, Marginah kembali memeluk Nesya, dan akhirnya pak Jemaripun yang sekarang sudah paham permasalahan juga memeluk Nesya.
"Nes, anggap aku bapakmu kamu juga kuanggap sebagai anakku, sekarang yang penting kamu jaga diri baik baik nurut sama Bu Sari dan petugas panti yang lain, rajin belajar dan berdoa...ya...." ucap pak Jemari sambil mengelus elus rambut kepala Nesya dan Marginah yang berada di dada kiri dan kanan pak Jemari.
"Sudah ayo kerja lagi" ucap pak Jemari kemudian. Mereka kemudian mengurai pelukannya.
Terlihat mas Budi berjalan menuju ke becaknya dia mengambil dua set rantang yang terlihat berat saat di bawanya.
"Kita makan siang di sini saja, ini juga ada snack tadi pagi dibawakan ke sini juga" ucap Mas Budi sambil menaruh dua set rantang di bawah pohon rambutan. Mereka semua akhirnya duduk di bawah pohon rambutan. Lalu terlihat mas Budi berjalan lagi ke becaknya dan terlihat membawa tempat air berukuran jumbo. Lalu berjalan lagi di tempat mereka berkumpul.
"Piring nya apa Mas" tanya Marginah saat tidak melihat piring
"Pakai daun pisang aja ya, aku lupa bawa" jawab mas Budi lalu berdiri menuju ke pohon pisang yang diikuti pak Jemari. Setelah mendapatkan beberapa lembar daun pisang mereka berempat makan siang di kebun dan terasa sangat nikmat.
Setelah makan siang mereka melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari. Dan setelah selesai mereka kembali ke panti asuhan.
Malam harinya
Tetttttt tettttt tettttttt terdengar suara bel di seluruh ruangan panti. Terlihat semua berjalan menuju ke ruang makan. Tidak ada acara saling desak saat memasuki pintu ruang makan.
Mereka duduk di meja makan sesuai dengan kelompoknya. Marginah sudah duduk manis di samping Nesya dan Nita. Usia Nita seumuran Stela adiknya sehingga bisa mengobati kerinduan Marginah pada Stela. Saat semua sudah duduk di meja makan dan tentu saja pak Jemari sudah duduk rapi di dekat mas Budi. Terlihat ibu Sari berjalan dengan anak laki laki seusia Marginah dan Nesya. Anak laki laki berkulit putih bersih dengan rambut yang hitam tebal terpotong rapi. Mereka berdua memasuki ruang makan lalu duduk di meja mas Budi dan pak Jemari karena hanya meja tersebut yang masih terlihat kosong.
Sesaat kemudian ibu Sari mempersilahkan semua untuk memulai makan malamnya. Terlihat semua penghuni panti sudah mengambil piring nya dan menaruh nasi dan perlengkapannya. Namun saat Marginah dan temen temennya mau menyuapkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya terdengar
braaaaakkkkkkkkk
Arah suara berasal dari meja ibu Sari yang duduk juga pak Jemari di meja tersebut. Marginah kaget tidak jadi menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Dia sangat kuatir bapaknya berbuat kesalahan. Terlihat nasi dan lauk pauk berceceran di meja ibu Sari. Semua penghuni panti menatap ke arah meja tersebut.
"Aku tidak mau makan makanan a***** seperti ini" ucap anak laki laki yang datang dengan Ibu Sari tadi, lalu anak tersebut bangkit berdiri dan meninggalkan ruang makan. Seketika juga ibu Sari berjalan mengejar anak tersebut.
Semua penghuni panti saling tengok kiri kanan dan beberapa anak saling tanya pada temannya.
"Ayo semua lanjutkan makannya" ucap Mas Budi. Namun terlihat mas Budi dan pak Jemari tidak melanjutkan makannya, namun membereskan makanan dan alat alat yang berantakan
Marginah melanjutkan makannya namun dia tidak menghabiskan makannya. Disisakan separo.
"Nah kok tidak dihabiskan apa tidak enak makanannya?" tanya Fatima
"Bukan kak, ini sudah enak sekali menurutku ada sayuran ada ikan tongkol dan ada tahu tempe, ini kusisihkan buat bapakku kak, kasihan kalau bapakku tidak makan nanti tidak bisa tidur" jawab Marginah
"Ooooh, kamu habiskan saja makanannya, tenang saja masih ada makanan untuk bapakmu dan mas Budi" ucap Fatima yang diangguki kepala oleh Mawarni dan Nesya
"Kaaak" ucap Nita dengan pelan dan takut takut
"Apa" jawab Fatima sambil menatap ke arah Nita yang posisi duduknya berhadapan tapi menyilang
"Ikan tongkolku jatuh, tadi aku kaget saat mau menggigit ada gebrakan, apa masih ada ikan tongkolnya" ucap Nita dengan malu malu
"Sebentar ya" Fatima lalu bangkit berdiri dan berjalan ke luar ruang makan menuju dapur. Fatima memang diberi kepercayaan bu Supri dan Bu Ninok untuk mengawasi makanan selama mereka sudah pulang ke rumah. Tidak lama Fatima datang lagi sambil membawa tempat lauk. Lalu memberikan pada Nita.
"Kak laukku juga jatuh" kata anak laki laki di meja lainnya.
"Mana buktinya?" tanya Fatima sambil menatap anak laki laki tersebut.
"Sudah aku ambil dan kumakan lagi" ucap anak laki laki itu sambil tersenyum nyengir.
"Ga boleh bohong ya" ucap Fatima sambil mendekati anak tersebut. Sambil memberikan lauk namun anak tersebut menolaknya karena dia terbukti berbohong.
Fatima lalu mengajak Mawarni pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk pak Jemari dan Mas Budi, karena terlihat meja mereka sudah bersih.
"Siapa anak laki laki yang ngamuk tadi Nes?" tanya Marginah pada Nesya
"Sepertinya cucunya tamu yang sering datang ke panti ini" jawab Nesya
"Tamunya itu kalau datang ke panti bawa makanan banyak kadang baju baju kadang buku buku, macem macemlah" ucap Nesya kemudian
"Dia tadi ke sini tidak dengan Oma nya mbak, tapi dengan sopirnya" ucap Nita
"Iya datangnya tadi saat mbak Marginah dan mbak Nesya ke kebun, datang pakai mobil bagus" ucap Vani menambah informasi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
🎐Tsubaki
mampir thoorr..
nitip sepatu dulu yak..
2022-03-31
4
Nit_Nit
Anak donatur ya yang ngebrak meja
2022-01-11
2