10 Gebrakan di meja pak Jemari

Nesya masih terisak dalam pelukan Marginah. Sedangkan pak Jemari masih terdiam mematung karena bingung.

"Nah boleh aku memeluk bapakmu, aku pengen merasakan pelukan seorang bapak" ucap lirih sambil terisak

"Boleh tapi biar bapakku pakai baju dulu ya, biar kamu ga bau keringatnya" ucap Marginah jujur dan membuat Nesya tersenyum dalam deraian air matanya.

"Pak, cepat pakai baju lengkapnya" teriak Marginah. Pak Jemari yang bingung namun spontan memakai baju lengkapnya. Lalu Marginah mendekat pada bapaknya.

"Pak... Nesya kangen bapaknya dia pengen memeluk bapak" ucap Marginah, dan Nesya lalu memeluk pak Jemari, dan pak Jemari mengusap lembut rambut kepala Nesya. Nesya sejenak merasakan damai dia seperti merasakan usapan lembut kakeknya yang sudah sepuluh tahun tidak dirasakan. Marginah ikut memeluk Nesya dari samping sambil mengusap usap punggungnya.

Di saat mereka masih berpelukan mas Budi sudah datang dengan becaknya.

"Ada apa Nes, apa ada orang mau menculikmu lagi?" tanya mas Budi sambil turun dari jok kemudi becaknya. Ucapan mas Budi membuat pak Jemari semakin bingung. Dan merekapun saling mengurai pelukannya.

"Aku bukan penculik Mas" ucap pak Jemari sambil menatap ke mas Budi.

"Bukan begitu Pak, ada beberapa orang suruhan bapaknya Nesya ingin menculik Nesya" ucap mas Budi yang kemudian menjelaskan semua kejadian Nesya, dan tentu saja membuat Nesya menangis lagi, Marginah kembali memeluk Nesya, dan akhirnya pak Jemaripun yang sekarang sudah paham permasalahan juga memeluk Nesya.

"Nes, anggap aku bapakmu kamu juga kuanggap sebagai anakku, sekarang yang penting kamu jaga diri baik baik nurut sama Bu Sari dan petugas panti yang lain, rajin belajar dan berdoa...ya...." ucap pak Jemari sambil mengelus elus rambut kepala Nesya dan Marginah yang berada di dada kiri dan kanan pak Jemari.

"Sudah ayo kerja lagi" ucap pak Jemari kemudian. Mereka kemudian mengurai pelukannya.

Terlihat mas Budi berjalan menuju ke becaknya dia mengambil dua set rantang yang terlihat berat saat di bawanya.

"Kita makan siang di sini saja, ini juga ada snack tadi pagi dibawakan ke sini juga" ucap Mas Budi sambil menaruh dua set rantang di bawah pohon rambutan. Mereka semua akhirnya duduk di bawah pohon rambutan. Lalu terlihat mas Budi berjalan lagi ke becaknya dan terlihat membawa tempat air berukuran jumbo. Lalu berjalan lagi di tempat mereka berkumpul.

"Piring nya apa Mas" tanya Marginah saat tidak melihat piring

"Pakai daun pisang aja ya, aku lupa bawa" jawab mas Budi lalu berdiri menuju ke pohon pisang yang diikuti pak Jemari. Setelah mendapatkan beberapa lembar daun pisang mereka berempat makan siang di kebun dan terasa sangat nikmat.

Setelah makan siang mereka melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari. Dan setelah selesai mereka kembali ke panti asuhan.

Malam harinya

Tetttttt tettttt tettttttt terdengar suara bel di seluruh ruangan panti. Terlihat semua berjalan menuju ke ruang makan. Tidak ada acara saling desak saat memasuki pintu ruang makan.

Mereka duduk di meja makan sesuai dengan kelompoknya. Marginah sudah duduk manis di samping Nesya dan Nita. Usia Nita seumuran Stela adiknya sehingga bisa mengobati kerinduan Marginah pada Stela. Saat semua sudah duduk di meja makan dan tentu saja pak Jemari sudah duduk rapi di dekat mas Budi. Terlihat ibu Sari berjalan dengan anak laki laki seusia Marginah dan Nesya. Anak laki laki berkulit putih bersih dengan rambut yang hitam tebal terpotong rapi. Mereka berdua memasuki ruang makan lalu duduk di meja mas Budi dan pak Jemari karena hanya meja tersebut yang masih terlihat kosong.

Sesaat kemudian ibu Sari mempersilahkan semua untuk memulai makan malamnya. Terlihat semua penghuni panti sudah mengambil piring nya dan menaruh nasi dan perlengkapannya. Namun saat Marginah dan temen temennya mau menyuapkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya terdengar

braaaaakkkkkkkkk

Arah suara berasal dari meja ibu Sari yang duduk juga pak Jemari di meja tersebut. Marginah kaget tidak jadi menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Dia sangat kuatir bapaknya berbuat kesalahan. Terlihat nasi dan lauk pauk berceceran di meja ibu Sari. Semua penghuni panti menatap ke arah meja tersebut.

"Aku tidak mau makan makanan a***** seperti ini" ucap anak laki laki yang datang dengan Ibu Sari tadi, lalu anak tersebut bangkit berdiri dan meninggalkan ruang makan. Seketika juga ibu Sari berjalan mengejar anak tersebut.

Semua penghuni panti saling tengok kiri kanan dan beberapa anak saling tanya pada temannya.

"Ayo semua lanjutkan makannya" ucap Mas Budi. Namun terlihat mas Budi dan pak Jemari tidak melanjutkan makannya, namun membereskan makanan dan alat alat yang berantakan

Marginah melanjutkan makannya namun dia tidak menghabiskan makannya. Disisakan separo.

"Nah kok tidak dihabiskan apa tidak enak makanannya?" tanya Fatima

"Bukan kak, ini sudah enak sekali menurutku ada sayuran ada ikan tongkol dan ada tahu tempe, ini kusisihkan buat bapakku kak, kasihan kalau bapakku tidak makan nanti tidak bisa tidur" jawab Marginah

"Ooooh, kamu habiskan saja makanannya, tenang saja masih ada makanan untuk bapakmu dan mas Budi" ucap Fatima yang diangguki kepala oleh Mawarni dan Nesya

"Kaaak" ucap Nita dengan pelan dan takut takut

"Apa" jawab Fatima sambil menatap ke arah Nita yang posisi duduknya berhadapan tapi menyilang

"Ikan tongkolku jatuh, tadi aku kaget saat mau menggigit ada gebrakan, apa masih ada ikan tongkolnya" ucap Nita dengan malu malu

"Sebentar ya" Fatima lalu bangkit berdiri dan berjalan ke luar ruang makan menuju dapur. Fatima memang diberi kepercayaan bu Supri dan Bu Ninok untuk mengawasi makanan selama mereka sudah pulang ke rumah. Tidak lama Fatima datang lagi sambil membawa tempat lauk. Lalu memberikan pada Nita.

"Kak laukku juga jatuh" kata anak laki laki di meja lainnya.

"Mana buktinya?" tanya Fatima sambil menatap anak laki laki tersebut.

"Sudah aku ambil dan kumakan lagi" ucap anak laki laki itu sambil tersenyum nyengir.

"Ga boleh bohong ya" ucap Fatima sambil mendekati anak tersebut. Sambil memberikan lauk namun anak tersebut menolaknya karena dia terbukti berbohong.

Fatima lalu mengajak Mawarni pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk pak Jemari dan Mas Budi, karena terlihat meja mereka sudah bersih.

"Siapa anak laki laki yang ngamuk tadi Nes?" tanya Marginah pada Nesya

"Sepertinya cucunya tamu yang sering datang ke panti ini" jawab Nesya

"Tamunya itu kalau datang ke panti bawa makanan banyak kadang baju baju kadang buku buku, macem macemlah" ucap Nesya kemudian

"Dia tadi ke sini tidak dengan Oma nya mbak, tapi dengan sopirnya" ucap Nita

"Iya datangnya tadi saat mbak Marginah dan mbak Nesya ke kebun, datang pakai mobil bagus" ucap Vani menambah informasi

Terpopuler

Comments

🎐Tsubaki

🎐Tsubaki

mampir thoorr..
nitip sepatu dulu yak..

2022-03-31

4

Nit_Nit

Nit_Nit

Anak donatur ya yang ngebrak meja

2022-01-11

2

lihat semua
Episodes
1 1. Celoteh di persiapan pagi hari
2 2. Pesan Nenek
3 3. Emosi Pak Jemari
4 4. Toko Mekar
5 5. Panti asuhan Budi Luhur
6 6. Kamar Tamu yang horor
7 7. Teman sekamar
8 8 Sedikit cerita Nesya
9 9 Cerita Nesya
10 10 Gebrakan di meja pak Jemari
11 11. Sedikit cerita tentang Angga
12 12. Igauan Angga
13 13. Pak Jemari jangan pulang
14 14. Sepuluh juta
15 15. Salah Paham
16 16. Salah Paham 2
17 17. Kedatangan Papinya Angga
18 18. Keputusan Papinya Angga
19 19. Bantuan
20 20. Sabar
21 Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22 Bab. 22. Bersyukur
23 Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24 Bab. 24. Dalam Bahaya
25 Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26 Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27 Bab. 27. Waspada
28 Bab. 28. Menjemput Angga
29 Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30 Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31 Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32 Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33 Bab. 33. Belajar Bela Diri
34 Bab. 34. Berbinar Binar
35 Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36 Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37 Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38 Bab. 38. Semangat Belajar
39 Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40 Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41 Bab. 41. Malam Perpisahan
42 Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43 Bab. 43. Penghuni Baru
44 Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45 Bab. 45. Kalimat yang Viral
46 Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47 Bab. 47. Terlambat
48 Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49 Bab. 49. Ada itu Berkah
50 Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51 Bab. 51. Penasaran
52 Bab. 52. Doa Ibu Sari
53 Bab. 53. Nesya Histeris
54 Bab. 54. Ancaman Nesya
55 Bab. 55. Ide Angga
56 Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57 Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58 Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59 Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60 Bab. 60. Tangisan
61 Bab. 61. Curiga
62 Bab. 62. Waspada
63 Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64 Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65 Bab. 65. Emak Baru
66 Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67 Bab. 67. Rencana Emak Baru
68 Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69 Bab. 69. Diambil Alih
70 Bab. 70. Tekad Emak Baru
71 Bab. 71. Tidak Sendiri
72 Bab. 72. Emak Baru Kepo
73 Bab. 73. Ujian Hidup
74 Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75 Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76 Bab. 76. Anomali
77 Bab. 77. Menunggu
78 Bab. 78. Kedatangan Tamu
79 Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80 Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81 Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82 Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83 Bab. 83. Dilema
84 Bab. 84. Kecewa?
85 Bab. 85. Akhirnya Asyik
86 Bab. 86. Hujan Badai
87 Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88 Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89 Bab. 89. Berita Menggelegar
90 Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91 Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92 Bab. 92. Bantuan Sandra
93 Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94 Bab. 94. Rahasia
95 Bab. 95. Izin
96 PROMO NOVEL BARU
97 PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98 PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 99 Episodes

1
1. Celoteh di persiapan pagi hari
2
2. Pesan Nenek
3
3. Emosi Pak Jemari
4
4. Toko Mekar
5
5. Panti asuhan Budi Luhur
6
6. Kamar Tamu yang horor
7
7. Teman sekamar
8
8 Sedikit cerita Nesya
9
9 Cerita Nesya
10
10 Gebrakan di meja pak Jemari
11
11. Sedikit cerita tentang Angga
12
12. Igauan Angga
13
13. Pak Jemari jangan pulang
14
14. Sepuluh juta
15
15. Salah Paham
16
16. Salah Paham 2
17
17. Kedatangan Papinya Angga
18
18. Keputusan Papinya Angga
19
19. Bantuan
20
20. Sabar
21
Bab. 21. Kabar dari Rumah Sakit
22
Bab. 22. Bersyukur
23
Bab. 23. Dikejar Bapaknya Nesya
24
Bab. 24. Dalam Bahaya
25
Bab. 25. Membangkitkan Semangat Marginah
26
Bab. 26. Harus Sabar dan Terus Semangat
27
Bab. 27. Waspada
28
Bab. 28. Menjemput Angga
29
Bab. 29. Mobil Antar Jemput
30
Bab. 30. Yang Penting Aman dan Senang
31
Bab. 31. Pak Jemari Hilang
32
Bab. 32. Ada Bapaknya Nesya di Pasar Malam
33
Bab. 33. Belajar Bela Diri
34
Bab. 34. Berbinar Binar
35
Bab. 35. Musibah Pak Jemari
36
Bab. 36. Nasehat Mbah Parjan, Mimpi Pak Jemari
37
Bab. 37. Rahasia Mbah Parjan
38
Bab. 38. Semangat Belajar
39
Bab. 39. Pak Jemari Pamit Pulang
40
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan
41
Bab. 41. Malam Perpisahan
42
Bab. 42. Bisa Karena Terbiasa
43
Bab. 43. Penghuni Baru
44
Bab. 44. Mencari Ibu Sang Bayi
45
Bab. 45. Kalimat yang Viral
46
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi
47
Bab. 47. Terlambat
48
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari
49
Bab. 49. Ada itu Berkah
50
Bab. 50. Menjadi Orang Miskin bukan Takdir
51
Bab. 51. Penasaran
52
Bab. 52. Doa Ibu Sari
53
Bab. 53. Nesya Histeris
54
Bab. 54. Ancaman Nesya
55
Bab. 55. Ide Angga
56
Bab. 56. Menanti Keterangan Pak Jemari
57
Bab. 57. Dilancarkan Urusannya
58
Bab. 58. Ibu Sang Bayi
59
Bab. 59. Cerita Ibu Sang Bayi
60
Bab. 60. Tangisan
61
Bab. 61. Curiga
62
Bab. 62. Waspada
63
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan
64
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup
65
Bab. 65. Emak Baru
66
Bab. 66. Kekuatiran Emak Baru
67
Bab. 67. Rencana Emak Baru
68
Bab. 68. Jangan Mengkuatirkan yang Belum Pasti
69
Bab. 69. Diambil Alih
70
Bab. 70. Tekad Emak Baru
71
Bab. 71. Tidak Sendiri
72
Bab. 72. Emak Baru Kepo
73
Bab. 73. Ujian Hidup
74
Bab. 74. Keahlian Tersembunyi
75
Bab. 75. Kebahagiaan Emak Baru
76
Bab. 76. Anomali
77
Bab. 77. Menunggu
78
Bab. 78. Kedatangan Tamu
79
Bab. 79. Menyambut Tamu 1
80
Bab. 80. Menyambut Tamu 2
81
Bab. 81. Tak Bisa Tidur
82
Bab. 82. Siapa Gadis Berkacamata Tebal
83
Bab. 83. Dilema
84
Bab. 84. Kecewa?
85
Bab. 85. Akhirnya Asyik
86
Bab. 86. Hujan Badai
87
Bab. 87. Membaca Bahasa Alam
88
Bab. 88. Saling Memberi Manfaat
89
Bab. 89. Berita Menggelegar
90
Bab. 90. Tenang Bagai Samudra
91
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh
92
Bab. 92. Bantuan Sandra
93
Bab. 93. Penolakan dari Nesya
94
Bab. 94. Rahasia
95
Bab. 95. Izin
96
PROMO NOVEL BARU
97
PROMO NOVEL BARU "DIPECAT MALAH JADI JURAGAN"
98
PROMO NOVEL SUKSES SETELAH DIHINA DAN DICERAI
99
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!