Bahkan kehidupan juga seperti matematika, rumit namun jawabannya pasti, selama kita mau mencari.
...
Bel istirahat baru saja terdengar, bu Indah meninggalkan kelas yang mulai riuh. Alora baru siap memasukkan buku catatannya ke dalam ransel miliknya. Tiba saja, pergelangan tangannya digenggam dan ditarik secara kasar.
"Aw! Lepasin! Apa-apaan sih?" Kata Alora sama sekali tidak membantu dirinya yang terlihat diseret.
Ia menyadari pelakunya si psyco Beni dan kehabisan kata-kata. Setibanya di lapangan sekolah yang sepi dari siswa lain, pemuda itu akhirnya melepas tangan Alora di mana bekas merah akibat di tarik Beni segar terlihat.
"Mau loe apasih? Bisa gak pake cara baik-baik?" Ucap Alora kesal saat melihat merah di tangannya dan sakit yang ia tahan.
"Gua mau minta bantuan loe!" Ucap oknum penyebab masalah itu dengan nada angkuh.
"Apa?" Alora menghela nafas berat karena sudah merasa kewalahan dan melanjutkan katanya "Siapa yang mau bantuin loe kalo cara loe gini?"
"Loe yang akan bantuin gua!" Beni masih dengan nada angkuh.
"Enggak! Tadinya gua mau jawab gitu, tapi apaan yang harus gua bantu?" Sahut Alora malas.
"Bokap gua nuntut peringkat gua harus naik! Gimana caranya?"
"Ya belajar lah! Gak kan loe sebodoh itu gak tau caranya"
"Gua memang gak sebodoh itu, tapi masalahnya..." ucap sambil Beni mengngertakkan giginya menahan amarah.
"Okeh! Karena kebetulan jurusan kita sama, gua bakalan minjamin catatan gua buat loe copas, jadi kelar kan masalahnya"
"Kalo ada yang gua gak paham?"
"Tinggal tanya guru yang bersangkutan"
"Gak! Gua bakalan nanya ke ello"
"Berenti gangguin gua bisa? Gua gak sepinter itu, kalo mau? deketin Lia! Lia pintar, okey?"
"Lia siapa?"
"Cari tau sendiri bye!" Alora bergegas meninggalkan Beni karena lelah mengurus bayi psyco yang terus menyerang kedamaian hidupnya.
"Maafin gua bestie-ku sayang" batin Alora merasa bersalah karena menyebut nama Lia pada Beni.
Saat berjalan di koridor sekolah, gemuruh perut Alora minta di isi, hingga mengarahkan kaki Alora menuju kantin. Ia melihat Andre yang mengantri membeli minum dan diam-diam ikut mengantri tepat di belakang pemuda itu.
Saat giliran Andre tiba, Alora cegukan membuat Andre menoleh dan baru menyadari gadis itu di belakangnya.
"Sejak kapan loe di sini?" Tanya Andre.
"Sejak tadi sih" jawab Alora tanpa menatap Andre.
"Loe mau rasa apa?" Tanya Andre yang sedang memilih minuman.
"Air mineral aja! Kali ini biar gua yang bayar! Gua baru gajian"
"Jangan dong, kita kan udah buat kesepakatan kalo masalah pengeluaran biar gua yang urus"
"Kalo gitu hari ini gua off!"
"Maksud loe?"
"Loe gak pernah anggap gua temen loe ya?" Alora kesal karena merasa tawarannya tidak dihargai.
Andre berbalik setelah mendengar kalimat Alora "maksud loe apa? Kita temenan kok!"
"Kalo gitu biarin gua yang traktir teman gua hari ini!" Kedua tangan Alora mengambil dua botol minum dari tangan Andre. Tanpa sengaja pemuda itu melirik pergelangan tangan Alora yang masih merah, mata nya langsung berubah tampak khawatir.
Di bangku pojok kantin,
"Loe kemana aja? tadi pas bel bunyi langsung ngilang" tanya Andre yang menatap Alora melahap mie goreng dari piringnya.
"Karena hari ini gua mode off, bukan mode pacar, no answer!" Sahut gadis itu setelah menelan makanan dalam mulutnya.
"Kalo gitu sebagai teman deh, pergelangan tangan loe kenapa merah gitu?"
"Gua lagi males cerita"
Di sisi lain, Lia tampak gelisah karena setiap teman sekelas yang ditemuinya semua menanyakan hal yang sama
"Lia, Beni nyariin loe! Loe punya masalah apa sama dia?"
Akibat selembaran yang ditempel di mading sekolah.
Gadis cantik nan imut itu akhirnya memutuskan untuk menemui oknum yang mencarinya setelah memberanikan diri.
Tepatnya di meja batu di dekat perpustakaan sekolah, Beni tampak seperti menunggu mangsanya.
"Ada apa loe cari gua? Gua gak punya masalah apa-apa sama loe, selama ini juga gua bahkan gak pernah ketemu sama loe, gua bingung tiba.." Tanya Lia panjang lebar, gadis itu baru saja tiba, namun terus mengoceh hingga Beni menghentikan kalimatnya.
"Gua mau loe ngajarin gua matematika!" Beni sangat to the point.
Bola mata Lia terbelalak keluar dengan mulut yang otomatis terbuka dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Gua gak salah denger? Serius?" Lia masih shock dan tidak percaya.
"Mau nggak?" Tanya Beni.
"Tunggu tunggu! Sebenarnya ngajarin orang itu agak merepotkan sih, tapi loe punya imbalannya gak?" Lia tampak bertekad.
"Gua bakalan bayar loe kalo peringkat gua naik!"
"Okeh tapi gua punya syarat, loe nggak boleh gangguin Alora lagi, sama satu lagi kalo janjian sama gua harus on time soalnya gua nggak suka buang waktu sama satu lagi..."
"Apa lagi?"
"Kalo ngajarin orang biasanya gua tegas dan cepet banget marah, jadi gua mohon supaya loe mau mengerti"
"Udah?"
"Udah itu aja!"
***
Besoknya, sesuai janji Lia mengajari Beni matematika di tempat yang sama dengan kemarin.
"Kita mulai dari mana nih?" Tanya Lia sembari membuka buku.
"Dari awal?" Ucap Beni sembari berpikir.
"Loe gak pernah belajar? Okey yaudah, loe perhatiin baik-baik, karena nanti seberapa siap gua jelasin materinya, gua bakalan kasi loe soal buat dikerjain dan bawa ke gua besoknya"
"Apa? Jadi gua harus buat pr gitu?"
"Iya dong! Loe harus ngerjain soal biar kita sama-sama tau loe udah bisa apa belum".
Lia menjelaskan dengan detail hingga bel masuk kelas berbunyi. Seperti katanya Lia bahkan sudah menyiapkan soal-soal dan mengirimnya ke Beni.
Dua hari kemudian...
Alora sedang membersihkan meja kasir, ia tampak begitu ranjin, namun terlihat lelah. Beni yang baru saja tiba di Cafe tampak perlahan mendekat ke arah Alora.
"Loe nemuin Lia dimana?" Tanya Beni tiba-tiba.
"Huh? Lia? Kenapa? Jadi loe beneran belajar sama Lia? Gua kira Lia bohong"
"Tuh cewe cerewet banget, untung gua lagi butuh!"
"Jangan macam-macam loe! Dia sahabat gua, awas aja!" Ucap Alora lalu melangkah ke arah berlawanan dengan arah tatapan pemuda itu.
Tiba saja tangan gadis itu tertarik, tentu saja pelakunya Beni yang menarik tangan Alora untuk menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh dan mendapati wajah Beni yang condong ke arahnya.
"Kenapa gak loe aja yang ngajarin gua, jadi gua gak perlu macam-macam sama sahabat loe!" Beni melempar senyum psyconya.
Alora menatap tak percaya, pemuda tampan yang wajahnya cuma 10cm darinya membuatnya kehilangan kata-kata.
Di sisi lain, Andre yang baru memasuki Cafe itu mendapati Beni dan Alora dengan posisi sangat berdekatan membuatnya kesal.
"Mereka ngapain sih?" Gumam Andre.
"Alora!" Panggil Andre dengan wajah serius membuat kedua oknum yang ditatapnya menoleh bersamaan.
.
.
.
"Hidup itu rumit seperti matematika, sama kayak perasaanku ke kamu:)"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Ank Bungsu
Andre cemburu dehh
2022-08-20
0