Alora menghela nafas berat lalu membuka tangan yang tadi digenggamnya, gadis manis ini mengulurkan tangan mungilnya ke arah Andre yang saat ini sudah duduk dan hendak bangun. Pemuda itu meraih tangan Alora.
"Cepetan bangun! Kita gak akan menang kalo loe masih tiduran di situ!" Ucap Alora mencoba tenang lalu menggenggam tangan Andre yang baru saja diraihnya dan membantunya berdiri.
"Loe niat gak sih ikutan lomba?" Tanya gadis itu tegas.
Bola mata Andre naik sedikit ke atas tampak berpikir dengan bibirnya juga ikut maju sedikit.
"Kalo memang loe gak serius mending kita berhenti sampe sini saja!" Sambung Alora.
"Tadinya gua ikutan cuman buat menikmati aja sih, tapi.. asal loe tau aja kenangan ikutan event beginian yang akan berkesan pas kita lulus nanti!" Andre memasang ekspresi seolah pemikirannya yang paling benar.
"Okeh, jadi pilihan loe?"
"Lanjut lah! Gua udah bilang memori kayak..."
"Gua pengen menang jadi loe harus berusaha, deal?"
"Apa? Gak ah, gua akan lakukan sesuai kemapuan gua, lagian hadiahnya gak seberapa kalo dibagi dua lagi cuman cukup buat bensin gua doang"
"Mudah ya? Bagi orang-orang kayak loe yang ngeremehin harapan orang lain" Alora tampak kembali kesal.
"Yaudah! Dari awal udah enggak sependapat, kita berhenti sampai sini aja!" Alora meninggalkan lapangan dengan bola mata menatap tajam dan mengatupkan bibirnya karena hampir tidak dapat menahan amarahnya.
Tanpa sadar semua orang menatap gadis yang berjalan sambil menguncir rambutnya itu meninggalkan lapangan termasuk Andre yang terlihat merasa bersalah.
"Sepertinya ada yang tidak beres, lombanya akan kita lanjutkan 15 menit lagi" kata pak guru itu lalu ikut meninggalkan lapangan dan mencari Alora.
Pemuda yang tadinya berbuat ulah merasa bersalah dan berusaha menemukan gadis itu.
Alora mencoba menenangkan pikiran nya dengan bersantai di bawah pohon besar di depan kelas mereka. Setelah mencari beberapa lama akhirnya pemuda tinggi berwajah bak pemain drama korea itu menemukannya juga. Iya mendekati gadis itu perlahan dan mencoba untuk tidak mengganggu nya.
"Gua minta maaf!" Ucap Andre pelan lalu duduk di sisi Alora.
"Yaah walaupun gue pengen menikmati aja, tapi kerjasama tim memang perlu sih, jadi ayo kita sama-sama menang!" Jelas Andre tanpa menatap gadis itu lalu hanya melirik sesaat memastikan raut wajah gadis itu.
Alora tampak diam saja dan merenung lalu mengangguk perlahan dan berkata "okey ayo menang!" Sambil mengangkat pergelangan tangannya dengan semangat.
"Tapi gua punya syarat loe harus tetep menikmati permainannya, selain untuk menang kita juga bisa buat kenangan!" lalu kedua remaja itu melakukan tos sambil tersenyum seakan musik latar Fire-BTS terputar melengkapi semangat membara mereka.
Seperti yang sudah mereka janjikan, keduanya melakukan setiap perlombaan dengan baik dan berhasil memperoleh nilai tinggi hampir di seluruh pertandingan. Tibalah pada pertandingan terakhir yaitu lomba estafet membawa tongkat.
Para peserta tampak udah bersiap di garis start. Pemain pertama akan memulai duluan kemudian akan bergantian saat mencapai batas yang telah ditentukan. Alora sebagai pemain pertama tampak sangat fokus, gadis yang sudah menguncir kembali rambut panjang nya itu menatap Andre dan menyatakan tekad melalui bola matanya itu. Sebaliknya andre memberi isyarat anggukan.
Suara peluit terdengar semua peserta berlari sekuat tenaga untuk memberikan tongkat estafet nya pada rekan timnya. Akhirnya Alora berhasil sampai di tempat Andre dan menyerahkan tongkatnya. Andre pun berlari sekuat tenaga agar memenangkan perlombaan tersebut, setiap peserta tampak kompetitif dan saat ini 3 peserta sedang berlari pada posisi yang sama, untuk menentukan pemenangnya andre hanya perlu sampai di garis finish duluan.
Kaki Andre hampir terkilir membuat semua orang khawatir dan fokus pada dirinya, namun keadaan berbalik andre berhasil mencapai garis finish dan berhasil menjadi pemenang, tentu saja sebagai rekan tim gadis itu tampak sangat bahagia dan tertawa lepas karena timnya menduduki peringkat pertama seperti yang ia inginkan kemungkinan dirinya menang semakin besar. Ia berlari ke arah pemuda tampan itu tanpa sadar ia memeluknya lalu menggenggam tangan Andre dan mengangkat ke atas sembari melompat kegirangan.
Tibalah pada saat yang sangat menentukan siapa pemenang dari semua perlombaan tersebut. Pemenang ditentukan dari nilai setiap perlombaan dan kerjasama tim serta tingkat energi yang diberikan oleh setiap peserta.
Pak ihsan sudah bersiap di atas panggung untuk mengumumkan posisi pertama dari seluruh perlombaan yang telah dilaksanakan pada hari ini.
"Jadi seperti yang sudah saya katakan bahwa penilaian nya ditentukan oleh juri dan akan di akumulasi kan dengan tingkat kemenangan yang diperoleh peserta. Oke langsung saja kita buka hasil sudah di akumulasi kan dan mari kita lihat siapa yang akan menempati posisi pertama diperlombakan tahun ini" ucap pria paruh baya itu kemudian membuka sebuah amplop berisi nilai.
Semua peserta tampak gugup tak terkecuali kedua pasangan yang baru terbentuk itu.
"Saya sudah buka amplopnya, saya akan umumkan dari posisi ketiga terlebih dahulu dan yang berhasil meraih posisi ketiga adalah tim Nadia dan Irsyad" tampak semarak dan semua orang bertepuk tangan, kemudian kedua siswa yang dipanggil temannya tersebut maju ke atas panggung untuk diberikan penghargaan.
"Selanjutnya posisi kedua jatuh kepada tim Alora dan Andre, selamat kepada kalian berdua dan silahkan ke atas panggung untuk menerima hadiah" kata pak Ihsan bergema.
Keduanya bangkit dari tempat duduk lalu naik ke atas panggung dan menerima penghargaan kemudian pengumuman posisi pertama dilanjutkan. Walaupun gadis yang sangat ingin menang tadinya namun hanya meraih posisi kedua ia tetap bersyukur karena setidaknya dia akan menerima uang sebesar Rp3.000.000 yang nantinya akan dibagi berdua dengan Andre. Sebuah foto kenangan pun terambil dari atas panggung, Cekrek.
...
Keesokan paginya seperti biasa gadis bernama Alora berangkat ke sekolah dengan jalan kaki sambil berlari kecil. Di tengah jalan dia mendapati sebuah mobil mewah yang melewati dirinya. Gadis itu menghela berat nafasnya saat menyadari dirinya tidak se-beruntung mereka yang mampu berangkat sekolah dengan mobil. Jangankan mobil, sepeda rongsokan saja tidak punya.
Sesampainya di sekolah dan melewati pintu gerbang, gadis itu menatap pemuda tinggi dengan tas ransel hitam yang keluar dari mobil yang melewatinya tadi. Ternyata pemuda itu adalah Andre, gadis cantik itu hanya menatap tanpa sepatah kata pun dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas. Dia duduk di bangkunya lalu meletakkan beberapa buku di atas meja, mengeluarkan kotak pensil dan membenamkan wajahnya ke atas tumpukan buku di atas meja itu dengan tangan terlipat.
"Kapan gua bisa merubah nasib gua? Walaupun capek gua nggak boleh nyerah gua harus bertahan" batin Alora lalu menghela berat.
Ketika jam istirahat, Alora menghampiri Andre yang baru saja dia lihat berjalan di depannya.
"Ndre! Gua mau ngomong bentar ke sebelah situ yuk" ucap Alora yang menghentikan langkah Andre dan mengubah arah jalannya ke kursi taman di bawah pohon beringin.
Kedua remaja itu sudah duduk di kursi taman, walau tampak canggung gadis yang menguncir ekor kuda rambutnya itu mencoba memulai pembicaraan.
"Mmm... gua mau bahas soal hadiah kemarin, jadi..."
"Buat loe aja!" Pemuda itu momotong kata Alora sembari menatap gadis di sisinya itu.
"Huh? Apa? Kenapa? Jangan dong!!" Alora tertegun.
"nggak apa kok! Lagian kemarin gua ikutan cuman buat seneng-seneng aja kok, jadi lo nggak usah khawatir hadiahnya buat loe aja" Andre bangkit dari kursi lalu menggerakkan kakinya menuju kelas. Sedangkan Alora tampak kebingungan yang hanya menatap punggung Andre yang semakin jauh darinya.
...
Jam pulang, Alora berpapasan lagi dengan Andre, langkah keduanya terhenti dan hanya saling menatap sesaat, lalu Andre melanjutkan langkahnya tanpa sepatah katapun.
"Hmm.. karna dia kaya, dia pasti nggak butuh hadiah uangnya, yaudah deh aku ambil aja semua" batin gadis dengan tas ransel yang dijinjingnya karena talinya putus.
Ia menuju ruang pak Ihsan untuk mengambil hadiahnya lalu pulang.
Tentu saja, setelah mengganti pakaiannya ia langsung menuju tempat kerjanya agar tidak terlambat, di sebuah coffe shop ia menjadi waiters. Gadis itu bekerja dengan rajin dan terlihat sangat dapat diandalkan. Bekerja hingga jam 9.30 malam, akhirnya ia pulang dan menuju halte bus. Ia duduk sendirian lalu menghela berat nafasnya.
"Andai aku punya cukup uang buat ongkos pulang aku gak perlu jalan kaki" gumamnya terdengar samar.
Tiba saja sebuah mobil lewat ke arah jalan rumahnya. Ia bangkit mengikuti mobil yang perlahan sudah sangat jauh dari nya. Di sisi lain seorang pemuda sedang menatapnya dari kaca belakang mobil tadi.
"Pak, pelan aja nyetirnya" ucap pemuda dengan bibir tipis itu.
"Iya den" sahut pak sopir.
"Kenapa dia pulang malam-malam sendirian?" Gumam pemuda itu masih menatap Alora dari jauh.
.
.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Indriharteu
Makin penasaran aja hihi
2023-05-02
1
Lisa Aulia
sebegitu getir kehidupan alora...demi menghemat uang kemana mana harus jalan kaki....
2022-08-15
1