"Please hold my hand..."
Para jangkrik sedang beradu mulut begitu pula belalang sesekali menyambar dari kebun belakang rumah tengah malam itu. Setidaknya tidak begitu sepi menemani gadis dengan senyum manis bernama Alora yang tengah kedinginan hingga terbangun dari tidurnya.
Alora menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya, tak lama seluruh badannya gemetar dan suhu tubuhnya semakin tinggi. Keringat perlahan membasahi tubuh di balik selimut itu bersamaan air mata mengalir sendirinya. Seluruh tubuhnya terasa sakit, namun hanya ia seorang di dalam rumah itu. Tak ada seorang pun yang bisa dipanggil saat ia haus membutuhkan minuman dan tubuhnya lemas.
"Aku harus bertahan, semua tentang proses dan aku yakin bisa melaluinya" batinnya mencoba menghibur sembari mengusap wajah dengan aliran air asin dari matanya.
...
Keesokan harinya, Lia tampak celingak-celinguk ke arah jendela saat bel sudah berbunyi.
"Duh Lora kemana sih? Kok belum sampe sih? Bisa-bisa kena omel pak Jol lagi kalo telat!" Gumam Lia yang tampak khawatir.
Jam istirahat, pak Jol sudah meninggalkan kelas itu.
"Andre!" Panggil Bisma si ketua kelas yang sedang berdiri di meja guru.
"Apaan?" Sahut Andre yang merapikan bukunya di bangkunya.
"Alora mana? Loe kan pacarnya, Gua mau isiin absensi nih" kata bisma sembari membuka map absensi.
"Gua nggak tau!" Kata Andre pelan dengan bola mata yang menghindari tatapan Bisma.
"Loe beneran pacarnya bukan sih? Masa loe ngga tau? Gua denger katanya kemaren Alora jalan bareng Beni si psyco itu ke kafe, loe ngga tau juga?"
"Maksud loe apa?" Tanya Andre seolah tidak tau, padahal ia juga melihatnya.
"Ada yang lihat mereka di kafe bareng kek ngobrol serius gitu kemaren, gua gak tau juga sih, apa mungkin Alora selingkuhin loe?" Kata Bisma yang membuat satu kelas mulai berbisik satu sama lain.
"Kalian apaan sih? Lora bukan cewe gituan, dia pasti kenapa-napa sekarang, kalian tega banget sih?" teriak Lia membela sahabatnya, karena ia sangat mengenal Alora.
"Eh kata anak kelas sebelah si psyco juga ngga sekolah hari ini" sambar Mina yang baru kembali dari kantin.
Andre bangkit dari kursinya dengan wajah kecut meninggalkan kelas karena kesal.
...
Di sisi lain, Beni bersama ayahnya sedang menunggu Alora yang katanya akan datang sepulang sekolah untuk menemui Herman.
"Mana gadis bernama Alora itu? Kok belum datang?" Tanya Herman pada anak bungsunya.
"Bentar lagi pah! Dia bilang akan datang" Beni beralasan.
"Ini hampir dua jam! Pulang sekolah harusnya udah dari tadi, gak mungkin sampe dua jam gini, sekolahnya juga gak seberapa jauh dari sini" Herman terus melihat jam di tangannya.
"Sial! Cewe itu main-main sama gua!" Batin Beni dengan wajah kesal sembari menatap tajam.
"Kamu bohongin papah? Beni Beni Beni! Kapan kamu akan dewasa?" Herman mengerutkan dahinya lalu menutup mata mencoba tenang.
"Papah akan kasih kamu kesempatan terakhir, kalo kamu gagal bujuk dia kembali, semua fasilitas mewah kamu akan papah cabut, dan ingat! Yang membuat kamu bisa menikmati semua fasilitas itu adalah berkat bantuannya almarhum kakeknya Alora" Herman meninggalkan Kafe setelah kata terakhir itu.
Beni tampak sangat ingin meledak, tapi ia tahan hingga menggertakkan giginya beberapa kali.
"Tuh cewe ke mana sih?" Teriaknya di Kafe hingga para pelanggan dan staf Kafe pun terkejut dan menoleh.
...
Sepulang sekolah Lia terburu-buru menuju rumah Alora.
"Oiya, gimana kalo rumah Alora terkunci? Gua harus pulang ambil kunci cadangan dulu!" Gumam Lia kembali berlari ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Alora, ia langsung memasukkan kunci ke lubangnya dan membuka pintu. Gadis cantik itu langsung menuju kamar Alora, namun oknum yang di cari tidak ada di sana.
"Lora loe di mana?" Lia bertanya sembari mengelilingi rumah kecil itu.
Akhirnya ia mendapati Alora yang terkapar di lantai dapur yang basah dan gelas yang pecah.
"Loraaaaa! Loe kenapa?" Lia sangat khawatir berlari ke arahnya dan langsung merangkulnya.
"Suhu badannya panas banget! Duh gua harus apa nih?"
"Loraa bangun dong! Tolong! Tolong!" Lia berteriak panik.
Terdengar bunyi sepatu seseorang berlari, pemuda yang rapi dengan jasnya berdiri di depan Lia dan Alora yang terbaring di pangkuannya.
"Kak Andi? Tolongin bang!" Suara Lia sudah bercampur dengan tangis.
"Dia kenapa?" Tanya Andi langsung mengecek suhu tubuh Alora.
"Dia demam tinggi, pas Lia disini Lora udah terbaring di lantai" jelas Lia sambil menangis.
"Bantu aku! Biar aku gendong Alora ke mobil" kata Andi dengan cepat memberikan punggungnya.
Lia yang mengangguk, mengangkat Alora agar berada di punggung Andi.
Setelah mobil Andi berangkat, Tak lama muncul Andre yang berada di depan pintu rumah Alora. Ia sudah mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah.
"Alora, loe ke mana sih? Kenapa loe ngilang setelah buat masalah?" Gumam Andre masih kesal.
...
Di rumah sakit tampak dua insan yang menunggu di depan ruang itu. Andi duduk di kursi RS, namun Lia tidak bisa diam, gadis itu mondar-mandir tampak sangat khawatir.
"Udah Lia! Duduk dulu sini!" Kata Andi yang akhirnya membuat gadis itu duduk di sisinya.
"Kak, Lia khawatir!" Ucap gadis itu sembari mengerutkan keningnya dengan bibir menciut.
"Udah tau, dari tadi gak tenang gitu, tenang aja Alora pasti baik-baik aja kok, dia cuman demam" jelas Andi tersenyum kecil melihat tingkah Lia yang tampak imut di matanya.
"Eh tunggu dulu, kok kamu tau nama aku sih?" Tanya Andi yang belum sempat bertanya tadi.
"Oh itu, Lia sering denger ibu-ibu gosip katanya Andi ganteng banget dan pas banget mereka nunjukin pas Andi lewat, ups!" Lia menghentikan katanya karena merasa malu dengan apa yang ia katakan lalu mengatupkan kedua bibirnya.
Pemuda tampan yang mirip Andre itu tertawa kecil lalu berkata "gosip ibu-ibu? Kamu lucu banget sih"
"Kak Andi kakaknya Andre kan? Mirip bangey soalnya" Lia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, tapi jangan bilang-bilang Alora ya! Soal hari ini dan juga siniin hp kamu!" Andi mengambil iphone Lia.
"Ini nomor aku, kalo ada apa-apa kabarin aku ya! Aku pergi dulu!" Ucap Andre sembari mengembalikan iphone Lia lalu bangkit dan pergi.
Lia hanya menatap punggung Andi yang semakin jauh darinya sebelum kembali teringat Alora.
...
Kelopak mata perlahan terbuka dan berkedib beberapa kali.
"Ini... di rumah sakit?" Tanya Alora dengan suara lemas.
Lia yang tadinya terus menatap layar ponselnya langsung menoleh ke arah Alora.
"Loe udah sadar? Huhuuu" Lia langsung memeluk bestie-nya.
"Gua apa kok! Kenapa bawa gua ke rumah sakit sih? Harusnya loe kompres aja pakek air hangat gua bisa sembuh sendiri"
"Loe bawel!" Lia melepas peluknya.
Alora mengangkat tangannya yang di infus lalu berkata "loe tau sendiri gua paling benci yang namanya jarum, kenapa sampe bisa ke RS sih?"
"Maaf deh! Soalnya tadi gua panik!" Lia mengerucitkan bibirnya tampak imut.
"Yaudah gua udah sembuh, ayo pulang" ucap Alora hendak bangun.
"Eh tunggu dulu, loe istirahat dulu, lagian ini udah sore, bentar lagi mami gua datang bawa bekal, kita bisa pulang pas cairan infus loe habis okeh, itu masih banyak sayangkan" jelas Lia sembari tersenyum agar Alora ikut semangat.
***
Esok harinya, Jam istirahat kali ini sangat sepi, seperti biasa Alora masih tertidur di mejanya. Perlahan gadis itu mulai mengangkat kelopak matanya perlahan karena merasa ada yang aneh "kenapa sepi banget hari ini?" Batinnya.
Ia melihat siluet pemuda dengan tubuh tegap sedang duduk di depannya dan menatapnya. Matanya terbelalak keluar dan terbangun saat menyadari yang duduk di depannya adalah Beni dengan wajah penuh amarah.
Beni bangkit dari kursi itu lalu meraih pergelangan tangan Alora dan menariknya hingga Alora ikut terbangun dan tertarik ke arahnya.
"Tunggu!" Kata Andre yang menghentikan langkah Beni yang menarik Alora.
"Loe ngapain narik-narik pacar gua?" Ucap Andre sambil mendekat lalu mencoba melepas genggaman tangan Beni pada Alora.
"Pacar loe?" Beni menyeringai lalu melanjutkan katanya "ini urusan gua bukan urusan loe!" Setelah di lepas, Beni meraih lagi tangan Alora dan menariknya.
Andre juga meraih tangan Alora yang lainnya, hingga langkah Beni terhenti lagi. Alora yang menjadi korban hanya bisa terdiam membiarkan dirinya tertarik-tarik.
"Lepasin gak?" Andre mulai meninggikan suaranya hingga mengundang penonton dari luar kelas.
Beni memasang tatap psyco-nya dan kembali menyeringai "loe gak denger, ini bukan urusan loe!" Kalimat si psyco itu di akhiri dengan membentak.
Kruuuuk kruk kruk
Tiba saja terdengar suara perut Alora yang membuat semua terdiam dan menjadikannya pusat perhatian.
"Okeh guys silakan lepasin tangan gua sebelum gua teriak ini penganiayan!" Ucap Alora yang membuat kedua oknum di sisinya melepas tangan mereka.
Alora menarik nafas dalam lalu menghela berat.
"Ben! Kalo gini caranya sampe kapanpun gua gak mau berurusan sama loe atau Kafe loe. Dan Andre, loe ngga usah ikut-ikutan! Gua ngga mau aset sekolah ini kenapa-napa, secara loe ganteng, pinter, kaya, mereka semua bakalan bunuh gua kalo loe kenapa-napa" Alora mengarahkan tangannya ke sederet siswi yang hanya tampak wajahnya melalui jendela.
"Sekarang gua lapar! Mari selesaikan masalah di kantin!"
"Aku sendirian tapi tidak benar-benar kesepian, ada kalanya aku sangat kesepian sampai ingin menghilang, namun hidupku mulai menarik, bukan karena ditarik-tarik tapi aku menyadari satu hal, sisi baiknya aku punya mereka, walau mereka tidak diciptakan untukku namun mereka membutuhkan ku saat ini" batin Alora, akhirnya terukir senyum kecil di kedua ujung bibirnya.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Indriharteu
Jadi iri juga sama Alora dikelilingi cowo ganteng gitu
2023-05-02
2
Lisa Aulia
🤭🤭🤭🤭🤭 lucu...biarpun kedua cowok itu jutek tp mereka memberi warna pada kehidupan alora...yaah..walaupun hanya sekedar bertengkar....😁😁😁😁
2022-08-15
2
Jeankoeh Tuuk
makin seruuu
Andre atau beni
2022-08-14
1