Pagi hari masih mendung setelah semalam hujan mengguyur bumi tanpa permisi. Tidak ada burung yang beterbangan dan awan gelap masih saja menyelimuti langit yang kedinginan. Matahari perlahan menyongsong, apakah hari ini akan cerah?
Setelah pelajaran pertama yang dihabiskan dengan tertidur usai, gadis ini masih menguap dan tidak sanggup bangun.
"Bangun Lora! Cepetan siap-siap! Bentar lagi harus ke lapangan" Lia menggoyangkan tubuh teman sebangkunya itu.
"Mmm.." sahutan yang terdengar malas itu membuat Lia memberontak. Lia memukul-mukul meja hingga Alora terpaksa bangun.
"Cepet ganti baju, loe mau dihukum gegara telat lagi?" Desak Lia setelah menaruh seragam training Alora di depannya.
"Iya iya bawel!" Sahut Alora lalu menuju ke sudut ruangan untuk mengganti pakaiannya.
"Eh eh eh di sudut bahaya tuh! Cepetan keluar" teriak Lia sebagai kode supaya para cowo yang sudah berganti kostum tidak masuk dulu ke kelas.
Berkat Lia yang sangat peduli itu, Alora aman dari siksaan guru killer.
"Hari ini kalian bebas pilih mau jenis olahraga apa aja asal semua ikutan main!" Jelas pak Ihsan pada siswa kelas 3 Mia-1 yang telah membentuk barisan di tengah lapangan itu.
"Pak kalau pilihannya beda-beda boleh enggak?" Tanya salah satu murid dari barisan itu.
"Boleh! Silakan ambil peralatannya sendiri di ruang bapak, lalu simpan kembali saat jamnya berakhir, semua paham?"
"Paham pak!" Sahut siswa-siswi serentak.
Pak Ihsan meninggalkan lapangan, namun tetap memantau dari ruangnya.
"Lia Ayok!" Alora mengangguk memberi kode pada sahabatnya untuk berlari dan mengambil raket agar bisa memainkan badminton.
Lia ikut mengangguk dan tersenyum lalu keduanya berlari. Di sisi lain pak Ihsan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan murid-muridnya. Setelah diperhatikan ternyata Alora sangat jago bermain bulutangkis. Tatapan guru olahraga itu mulai serius melihat permainan Alora dan membandingkannya dengan siswi yang lain.
Di sisi lain, Alora berkali-kali mencetak poin hingga Lia berhenti karena kesal.
"Loraa kasih kesempatan gua yang cetak poin napa?" Lia memelas.
"Kemampuan loe masih gitu-gitu aja dari dulu! Wuuu!" Ledek Alora lalu tersenyum kecil.
"Yok tanding sama gua!" Andre yang muncul tiba-tiba merebut raket dari tangan Lia.
"Ni orang apaan lagi?" Lia menoleh dengan mulut yang bergerak-gerak ingin mengomel.
"Kita liat siapa yang menang nanti!" Sambung Andre menantang dengan tampang sombongnya.
Alora menatap serius lalu mengangguk. Permainan pun berlangsung, perlahan teman sekelas mereka mulai berkumpul untuk menonton kedua oknum yang berkedok pacaran itu bertanding.
Semua penonton tampak heboh terbawa ke dalam permainan Alora, poinnya sama sekali tidak tertinggal selisih hanya satu poin dan berhasil ditutupi. Saat ini poinnya sama-sama 15, namun tiba saja langit menyemburkan air membuat semua orang berlari mencari tempat teduh.
Alora hanya menatap kosong hujan dan masih berdiri di tengah lapangan saat semua orang menghilang. Andre hanya melihatnya dari jauh dan tampak mencari-cari payung untuk menjemput Alota dari tengah lapangan itu.
Tiba saja seseorang menarik lengannya ke bawah pohon besar paling tefuh di lapangan. Iya benar, itu adalah si Penyandang gelar Psyco handsome, Beni.
"Loe bodoh banget sih? Ngapain berdiri di tengah hujan? Kalo mau mati cari cara lain, jangan di bawah hujan" Ucapan pemuda tinggi itu setajam silet.
"Mana tau ada halilintar, jadi kasusnya real bencana alam!" Alora melirik pemuda itu dengan kesal.
Halilintar menyambar tepat setelah kata gadis itu, Beni memeluk Alora seakan ingin melindungi.
...
Setelah ke empat mata pelajaran usai di temani rintisan air dari langit, saat melepas penat tiba, tentu saja pulang.
Di Lobby sekolah satu persatu siswa yang membuka payungnya dan berjalan pulang. Andre masih menunggu jemputannya membawa payung di sisi kiri lobby.
Alora yang baru saja tiba ke lobby usai membersihkan kelasnya karena jadwal piket. Ia berdiri tepat di pintu lobby lalu berpikir sejenak.
"Kalo gak berangkat sekarang pasti di pecat, soalnya udah beberapa kali telat, gimana nih hujannya deras banget, tapi aku gak punya payung" Batinnya menggerutu dengan bola mata tampak yang tidak tenang.
Ia mengangkat tasnya dijadikan sebagai payung lalu melangkah dengan sedikit menunduk, tiba saja seseorang menarik lengannya dengan keras membuat gadis itu terhenti dan menoleh.
"Siapa sih?" Ucapnya kesal.
Ia mendapati sesosok pemuda tampan menggenggam erat pergelangan tangannya. Mulut Alora spontan terbuka dengan mata agak melebar.
"Loe lagi? Ngapain loe narik tangan gua?" Tanya Alora mencoba tenang saat melihat Beni yang terus membuatnya kesal.
Di sisi lain, Andre tadinya hendak menghampiri Alora namun keduluan sama Si Psyco handsome itu. Ia hanya memantau apa yang terjadi dari tempatnya.
"Loe gila? Hujannya deras banget!" Ucap Beni dengan nada mengintimidasi-nya.
"Apaan sih? Sok perhatian gitu setelah loe pecat gua! Merasa bersalah loe?" Alora yang perlahan tidak mampu menahan kesalnya.
Beni juga merasa tidak tahan melihat seseorang yang lemah seperti Alora selalu menentang omongannya.
"Loe! Mau nguji kesabaran gua? Huh?" Beni hampir kelepasan.
Alora menghela nafas lalu memijat keningnya sedetik dengan satu tangannya lalu mengusap rambutnya kebelakang dan berkata
"Mohon maaf ya tuan muda, anda yang duluan mencari masalah, dan kesabaran saya juga terbatas, lepasin tangan gua!"
Beni akhirnya melepas tangan Alora setelah perdebatan singkat, lalu Alora melancarkan misinya menerobos hujan dengan tas sebagai payung menuju tempat kerjanya.
Dalam perjalanan, tanpar sadar seseorang mengenakan jaket dan payung hitam mengikutinya. Orang itu semakin mendekat lalu menepuk bahu Alora dua kali hingga gadis itu menoleh karna terkejut.
"Kamu Anaknya Anita kan?" Tanya pria paruh baya yang tampak menakutkan itu.
"Kenapa pak?" Tanya Alora dengan nada bergetar.
"Bayar utang ibu kamu sekarang!" Bentak pria itu.
"Apa? Saya engga punya uang pak!"
"Kalo kamu tidak bisa bayar, ikut saya!" Pria itu menarik tangan Alora, menyeret ke arahnya.
Alora berusaha keras memberontak agar tangannya terlepas. Tiba saja tangannya terlepas saat seorang pemuda berhasil melancarkan tendangan maut ke arah pria itu. Lagi-lagi ia mendapati Beni melakukan sesuatu untuknya hari ini. Beni melancarkan serangan hingga ia berhasil membuat pria itu kabur.
"Kamu engga apa kan?" Tanya Alora saat melihat lebam biru di bagian atas bibir pemuda itu.
Beni hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya.
"Makasi ya udah nolongin aku" ucap Alora di tengah hujan itu.
"Iya! Ke mana? Gua anterin!" Kata Beni sembari melangkah.
Alora iku melangkah menuju tempat kerjanya. Sesampainya di sana, kedua insan itu sudah basah kuyup. Di tambah lagi omelan pemilik kedai kopi karena Alora sudah sangat terlambat dan berakhir di pecat. Tentu Beni menyaksikan kemalangan yang terjadi pada gadis itu lalu mengikutinya lagi saat Alora keluar.
Menyadari pemuda tinggi bersamanya tadi sudah menyamakan langkah dengannya, ia melontarkan kalimat pertamanya.
"Ben gua mau nanya, kok loe bisa ada di situ sih tadi?"
"Gua ngikutin loe!" Sahut Beni santai.
"Apa? Kenapa?" Alora menghentikan langkahnya di bawah rintik hujan itu.
"Ikut gua!" Pemuda itu menarik Alora hingga sampai ke kafe miliknya.
"Kita ngapain ke sini?" Ucap Alora saat tiba di kafe itu.
"Loe kerja lagi di sini!" Ucapan Beni yang membuat Alora tercengang.
Alora menghela berat nafasnya lalu berkata "jadi selama ini loe ikutin gua buat nyuruh gua balik kerja di sini, dan itu juga alasan kenapa loe ada di rumah gua waktu itu, but why? Bukannya you hate me?"
"Bokap gua yang minta! Katanya loe diterima langsung sama bokap gua dan gua harus tanggung jawab agar loe mau kerja lagi di sini" alasan Beni membuat Alora sedikit berpikir.
"Tapi gua masih kesel sama loe!"
"Tapi gua udah nolongin loe tadi, give and take!"
"Jadi loe anaknya om Herman? Dan ini salah satu cabang bisnisnya?"
"Besok jumpain bokap gua dan bilang loe mau kerja di sini lagi!"
"Okeh, walau gua pengen nolak, gua bisa apa? Gua lagi butuh uang dan gak mau ngecewain om Herman karna beliau udah banyak bantuin gua"
Tanpa mereka sadari ada satu pemuda lagi yang mengikuti mereka, tentu saja dia adalah Andre tuan muda kaya lainnya yang rela di basahi hujan hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Lisa Aulia
gimana nih...bakal ada yg terluka kek nya....ah...cinta emang susah ditebak
2022-08-15
1
Jeankoeh Tuuk
ternyata beni dan Andre
sama" suka dg alora
2022-08-14
1