"Alora gak masuk juga hari ini?" Tanya Beni pada Indra yang sedang sibuk di ruang manajer Cafe.
"Enggak, dia masih cuti, neneknya masih dirumah sakit" Sahut Indra lalu melirik Beni yang tampak berpikir.
"Kangen loe?" Sambung Indra sambil melanjutkan kerjanya.
"Apaan sih?" Beni memasang tampang kesal.
"Kangen juga gak masalah kali!" Sahut Indra lagi "oya karena Alora gak masuk, loe harus kerja! Selama ini dia yang meng-cover tugas-tugas loe. Kita kekurangan pegawai, kerja sana!"
Beni hanya diam lalu keluar dari ruang Indra.
***
Terdengar bunyi klakson dari depan rumahnya, membuat Alora yang baru saja mengganti seragam sekolah dengan pakaian santai itu keluar untuk mengecek siapa yang datang. Pemandangan yang ia lihat membuatnya berseru.
"Woooaaaaa.. motor baru?"
Ia mendapati Andre yang tampak keren dengan tampilan boyfriend material lengkap dengan motor keren nya.
"Yoi dong! Sekarang gua punya pacar jadi wajib punya motor gak sih?" Ucap Andre dengan tampang sok cool nya, walau sebenarnya dia benar-benar terlihat keren sih.
"Ngadi-ngadi loe!" Sahut gadis itu sembari tertawa melihat tingkah Andre.
"Yok kemana kita?" Tanya Andre.
Alora berlari ke dalam rumah, lalu kembali keluar lengkap dengan jaket dan tas. Ia berdiri di depan pemuda yang tampak bingung itu lalu menaiki belakang motornya.
"Rumah sakit! Lumayan bisa hemat ongkos taksi xixixi" Ucap Alora lalu menepuk punggung Andre dan berkata "let's go!"
Layaknya sebuah pelarian dari hidup yang melelahkan. Naik motor bersama Andre membuat Alora bersemangat sembari menikmati hembusan angin dan pemandangan indah alam yang sering ia lewatkan karena terlalu sibuk bekerja. Alora akhirnya benar-benar tersenyum untuk dirinya.
"Loe suka?" Tanya Andre sembari mengendarai motor di jalan itu.
"Suka! Suka banget! Gua gak pernah menyadari kalo alam ternyata seindah ini" Sahut Alora.
Gadis itu menatap setiap pohon yang mereka lewati juga gunung-gunung indah yang tampak dari jauh.
Andre ikut tersenyum mendengar nada ceria dari mulut Alora untuk pertama kalinya selain kalimat datar atau pertanyaan.
Sesampainya di rumah sakit, kedua remaja itu mendapati Herman yang sedang berkunjung menjenguk nenek saat membuka pintu ruang rawat nenek.
"Oh kebetulan ada Alora, saya mau ngomong sebentar, ikut saya!" Kata Herman lalu keluar dari ruang itu.
Alora hanya mengangguk kecil lalu mengikuti pria paruh baya itu.
Andre yang hanya tinggal bersama nenek tersenyum canggung.
"Nek, saya Andre temannya Alora" sapa Andre dengan nada canggung pula.
"Ooh kamu Andre, sini duduk di sini" nenek menunjuk bangku kosong di sisi ranjangnya.
"Gimana keadaan nenek?" Tanya Andre mencoba mencairkan suasana.
"Alhamdulillah, nenek udah mendingan" sahut nenek sembari tersenyum lembut ke arah pemuda yang hanya menunduk tidak berani menatap.
"Tolong jaga Alora ya!" Kata nenek yang membuat Andre menoleh menatap nenek.
"Alora memang tampak kuat, tapi sebenarnya dia paling rapuh, nenek sering lihat dia menangis diam-diam, jadi tolong kamu jaga Alora ya" sambung nenek.
"Iya nek!" Sahut Andre tatap lembut. Tiba saja Andre teringat melihat Alora yang menangis di malam hujan itu.
Di sisi lain, di taman rumah sakit Herman dan gadis manis itu sedang duduk di kursi taman.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Herman pada gadis itu.
"Alora selalu baik om" sahut Alora dengan wajah datarnya.
"Oya Om, Alora minta maaf banget, kayak nya Alora gak bisa, Beni..." sambung Alora dengan ekspresi menyesal.
"Beni pasti masih nuduh kamu ya? Saya tau Beni tipe anak pemberontak susah diajarin. Dia juga gak mau belajar dan nilai akademis dia tuh rendah banget, saya udah kehabisan cara dan kewalahan nasehatin dia" kata Herman dengan wajah agak sedih.
"Alora juga udah nyerah dan biarin Beni belajar mandiri dengan cara dia sendiri"
"Gimana caranya buat dia belajar ya? setidaknya dia harus kuliah untuk nerusin perusahaan"
"Gimana kalo om kasi Beni motivasi? Supaya nilai akademiknya naik dia harus belajar, jadi om janjikan dia semua fasilitas dia kembali syaratnya peringkat dia harus naik, misalnya setidaknya peringkat pertengahan?"
"Ide kamu bagus juga, kenapa saya gak kepikiran ya?"
"Mungkin karna om terlalu banyak pikiran jadi hal sederhana terlupakan"
"Oya, Kamu nggak usah khawatirin lagi biaya rumah sakit, udah saya urus semua"
"Makasih banyak om, Alora gak tau harus balas kebaikan gimana"
"Kamu gak perlu mikirin balas budi, ini balas budi saya sama kakek kamu yang dulu bantuin saya"
"Alora bahkan gak ingat sosok kakek Alora, dan gak tau apa bener kakeknya Alora memang benar-benar berjasa buat om, tapi terimakasih banyak om"
Herman menatap gadis itu tampak kasihan.
"Kamu masih belum bisa ingat masa kecil kamu?" Tanya Herman
"Kok om tau?" Alora tampak terkejut.
"Artinya saya gak salah orang kan?" Ucap pria paruh baya itu lalu tersenyum.
...
Setelah Herman pergi, Alora tampak termenung di taman itu dengan mata agak berkaca, mulut kecilnya tertutupi tangan yang menopang dagu.
"Kenapa mama sama ayah gak datang jenguk nenek sih? Andai orangtuaku juga seperhatian om Herman, dia sayang banget sama anaknya sedangkan orang tuaku gak peduli walau aku sakit" Batin Alora.
Andre akhirnya mendapati gadis itu setelah mencari beberapa saat. Melihat gadis itu yang tampak sedih membuat langkahnya terhenti.
Cairan bening yang mengalir begitu saja membuat Alora menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis dalam diam.
Pemuda itu hanya menatap dari jauh lalu kembali ke ruang nenek karena ia merasa Alora tidak ingin siapapun melihat tangisnya makanya gadis itu menangis diam-diam.
~Aku hanya ingin satu orang saja dia tidak perlu mengerti aku, tapi hargai saja aku, itu yang paling kubutuhkan sekarang!~
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Lisa Aulia
aku penasaran kok bisa alora nggak ingat masa kecil nya....
2022-08-15
1
Jeankoeh Tuuk
kasian banget
kehidupan alora
2022-08-14
1