Pemuda ini menatap tajam seakan jika sinar laser keluar dari matanya pohon ini sudah tewas tertebang. Alora bangkit dari duduknya lalu berkata
"Sorry, gua cuman istirahat bentar, karna tadi abis lari di hukum pak ihsan dan gua.." jelas gadis dengan seragam olahraga itu, kali ini dia tidak membalas dengan pertanyaan karena tidak ingin mencari masalah.
Tanpa mereka sadari, para siswa kepo sekolah itu beberapa sudah berkumpul menonton Alora yang sepertinya akan terkena masalah lagi.
"Loe tau nggak? Gak ada yang berani neduh di pohon ini karena ini tempat istirahat gua" jelas pemuda bernama Beni itu dengan ekspresi khasnya yaitu datar dan tampak menakutkan.
"Sebenarnya tempat ini milik sekolah, dan sayangnya di sini satu-satunya tempat yang paling teduh yang paling dekat dengan lapangan sekolah kita. Kalo loe mau klaim tempat ini milik loe itu hak loe! Gua cuman numpang neduh, bentar lagi kelas kami jam orkes" kata Alora tak membuat Beni terkecoh sedikitpun.
"Loe mau cari masalah? Atau..." kata Beni terpotong oleh gadis itu.
"Eh bentar.. bentar!" Alora terdiam sebentar dan spontan tersenyum tak percaya.
"Enak ya? Jadi orang berkuasa dan bisa memerintah orang sesukanya. Jadi sekarang loe mau gua pergi?" Alora merogoh saku celana training miliknya mengambil Android untuk mengecek berapa menit tersisa. Ia menarik nafas panjang dan berkata
"Maafin gua kalo istirahat loe terganggu, sisa 2 menit sebelum pak ihsan balik ke sini, kalo gua balik ke kelas butuh waktu 2 menit dan pas balik ke sini lagi gua bakalan telat lagi, dan dapat hukuman lagi. Loe tetep mau gua pergi agar loe maafin gua?"
"Dia baru aja dapat bebas hukuman" batin Beni yang membuatnya pergi tanpa sepatah katapun dan masih dengan wajah menakutkannya.
Gemerincing suara bel berbunyi, Alora menatap punggung Beni yang menjauh darinya.
"Akhirnya loe selamat! Gua lega banget huhuu" Lia yang tadinya hanya menonton langsung berlari dan sampai di lapangan memeluk Alora.
"Apaan sih Lia, lebay deh!" Alora merasa geli dengan tingkah temannya itu.
"Loe tau Beni kan? Jangan cari masalah sama dia. Tadi ngapain loe ceramahin dia segala untung moodnya bagus hari ini kalo gak loe bisa-bisa di seret sama dia, mau loe?" Oceh Lia heboh.
Alora hanya diam saja dan tampak sedang berpikir. Lia menatap Alora yang bengong lalu menggoyangkan tubuh gadis itu sambil berkata
"Loe dengar gak? Lain kali minta maaf langsung pergi aja okey!"
"Ngapain gua minta maaf ya tadi? Kan gua gak salah!" Kata Alora setelah beberapa saat berpikir.
"Nih orang dibilangin gak kapok-kapok" gadis ini mengerutkan alis nya dan bingung dengan tingkah sahabatnya.
Di sisi lain, Andre yang merupakan anggota penonton tadi tampak sedang memikirkan rencana aneh yang bermanfaat untuknya. Dia saat ini sedang cengingisan tersenyum tidak jelas sendiri di tengah kerumunan.
"Guys coba dengerin ide gua!" Ucapnya sambil merangkul dua temannya, Zaki dan Vero.
.
.
Gemerincing suara burung yang sedang bermain bersama anak-anaknya yang baru belajar terbang di pagi hari, menemani gadis manis dengan bibir agak tipis, mata agak besar dengan kelopak mata ganda, hidung mancung dan rambutnya dikuncir, Alora sedang menjemur pakaian serta seragam sekolahnya di halaman rumahnya. Ia selalu mencuci di hari libur seperti ini sebelum berangkat kerja lagi.
Perhatiannya terkecoh karena siulan seorang pemuda yang bersepeda di jalan komplek rumahnya. Dan tentu pemuda yang lewat itu tampak seperti Andre.
"Pasti seneng rasanya bisa jalan-jalan tanpa beban gitu" gumam gadis itu lalu masuk ke dalam rumahnya.
Ia membuka rice cooker dan hanya mendapati nasi yang setengah beras lalu menyadari rice cooker-nya rusak lagi.
Karena merasa lapar ia ke kios terdekat untuk beli mie instan. Pulang ke rumah ia menghidupkan kompor, namun tidak mau hidup. Ia memeriksa sedotan gas, ternyata gasnya habis.
Akhirnya ia memutuskan untuk bersiap-siap lalu berangkat kerja lebih awal. Gadis dengan celana jeans longgar, kaos putih dan atasan kemeja hitam yang tidak dikancing itu berjalan kaki, namun sesekali ia menatap langit sambil bertanya dalam hatinya "hidup gini amat ya?"
"Aku penasaran, apa orang lain juga menjalani hidup yang sulit sepertiku?" Batinnya terus bertanya dan hanya mampu bertanya sendirian. Karena dari semua hal berharga yang ia miliki hanyalah dirinya.
Sampai di coffe shop tepat waktu, ia melihat remaja seusianya yang sedang menikmati harumnya wangi campuran kopi dan susu yang dihirup dari sedotan coklat itu. Jangan sampai terlalu larut, ia mengalihkan pandangannya lalu menuju ruang ganti ubtuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerja.
Alora bertugas menerima pesanan dan saat ini ia sedang mengguris pulpen biru di buku catatannya.
"Mbak ice americano satu untuk di bawa pulang" suara itu membuat gadis itu bangkit lalu menarik sedikit topi yang dipakainya karena agak longgar.
"Mau bayar cash atau pakai card atau.." saat ia menatap pelanggan yang datang ternyata
"Elloe rupanya?" Pemuda yang dipanggil Beni itu menyeringai dan melanjutkan katanya "gak jadi bawa pulang, gua minum di sini aja" lalu ia menuju meja terdekat dari situ.
Setelah membuat kopinya, Alora menarik nafas panjang lalu mengantar pesanan Beni. Ia meletakkan kopi itu di meja dan hendak pergi.
"Tunggu!" Kata Beni yang berhasil menghentikan langkah gadis itu.
Alora berbalik menatap pemuda tampan itu lalu berkata "ada apa?"
"Duduk!" Kata Pemuda itu, namun Alora hanya memasang wajah bingung.
"Tapi saya harus kerja loh! Ini masih jam kerja" lalu Alora berbalik hendak melangkah.
"Gua bilang duduk!" Nada Beni agak meninggi, membuat Alora otomatis berbalik lagi, menarik kursi lalu duduk dan bertanya
"Kali ini kenapa? Salah gua apa? Ini wilayah loe juga? Gua harus pergi? Tapi gua lagi kerja nanti dipecat kalo dilihat manager gua duduk di sini dikira..."
"Ini kafe bokap gua!" Kata Beni yang sukses menutup mulut Alora yang banyak tanya.
"Loe cerewet banget sih?" Tanya pemuda dengan kaos hitam polos di tutupi jaket jeans lengkap dengan celana jeans hitam dan kakinya dibalut sneakers kekinian.
"Kenapa gua cerewet? Biasanya gak gitu" gumam gadis itu terdengar tidak jelas.
"Kak Indra!" Beni memanggil pria berjabatan manager itu.
"Kenapa Ben?" Tanya Indra.
"Pecat dia! Dia malas-malasan pas jam kerja!" Kata Beni sekali lagi sukses buat Alora sangat terkejut.
"Apa? Enggak! Pak saya dipanggil dia yang suruh saya duduk" jelas Alora pada sang manager sambil panik.
"Kalo kita pecat dia, kita kekurangan pegawai lagi, loe mau gantiin dia kerja emang?" Kata Indra menjelaskan.
"Al! Kembali kerja!" Perintah manager.
"Baik pak!" Alora kembali ke tempatnya, sedangkan Indra dan Beni tampak berdiskusi serius.
Bola mata gadis itu sibuk mengkhawatirkan percakapan mereka berdua, ia takut ia akan benar-benar dipecat.
"Es cappucino dua yaa, bawa pulang!" Ucap seorang pelanggan yang baru datang.
"Ah iya baik!" Alora mengalihkan bola matanya langsung menyentuh kopi dan membuatnya.
"Alora?" Nada tanya pemilik suara itu membuat gadis itu menoleh.
"Huh? Andre? Nih kopinya udah siap!" Mengangkat cappucino yang sudah dikemas rapi. "Mau bayar pake apa?"
"Ternyata benar Alora" ucap nya tersenyum kecil sembari menyerahkan kartu debitnya untuk pembayaran cappucino.
"Loe kenapa aneh gitu?" Alora menyerahkan kembali kartunya karena sudah melakukan pembayaran.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kafe tersebut dengan kedua sudut bibirnya naik.
Di sisi lain kedua insan yang sedang berdiskusi sudah menentukan pilihan dan menghampiri Alora yang sudah membuat beberapa kopi lainnya dan mengantarnya ke pelanggan.
Menatap kedua pria ini serius membuat Alora semakin yakin ketakutannya akan terjadi walau ia berharap tidak.
"Alora saya ingin bicara!" Ucap manager pelan.
"Iya pak! Ada apa?" Jawab Alora sopan.
"Sebenarnya Beni yang akan mengatakannya" Indra membebaskan diri.
"Loe dipecat!"
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Indriharteu
Kasian Alora nya atuh..
2023-05-02
1
Lisa Aulia
hah...kok bisa sih dipecat....sok berkuasa banget tuh si beni...mentang mentang coffe shop punya bokap nya....
2022-08-15
1