First fake dating berakhir di Cafe tempat mimpi buruk mungkin saja akan menyapa kembali.
Di meja sudut kedua remaja menuju dewasa itu duduk bersebelahan dengan dua cangkir ice americano.
"Kenapa harus di sini sih?" Pemuda berkedok pacar itu terlihat tidak ingin berada di sana.
"Lagi pula nanti aku juga akan kemari, jadi sekalian aja" Alora tiba saja mendekatkan bibirnya ke telinga Andre lalu berbisik
"Kalo mau lebih meyakinkan kita harus ke sini, anak-anak dari sekolah kita sering banget ke sini, jadi gak akan ketahuan kalo kita cuma pura-pura"
Terasa nafas bisikan Alora di daun telinganya, Andre menoleh lalu mendapati wajah Alora hanya 5cm dari tatapnya. Wajah polos dengan mata berbinar namun juga terlihat sendu dan rambut panjang yang sedikit tertiup angin membuat pemuda di depannya menaikkan kedua ujung bibirnya.
Alora yang agak kaget karena Andre tiba saja menoleh ke arahnya ditambah senyuman langka yang ia dapati sangat dekat dengan tatapnya dari wajah sempurna itu seakan ia bermimpi.
"Kenapa loe senyum gitu?" Pertanyaan Alora membuat pemuda itu tersadar lalu mengalihkan pandangannya.
"Ekhem hmm suka-suka gua dong!" Sahutnya spontan lalu mengambil iPhone miliknya, membuka aplikasi camera.
"Sini cepetan! Deketan lagi, kita harus abadikan moment ini" Ucap Andre lalu mengangkat tangannya dan cekrek.
Seperti biasa Alora hanya menunjukkan wajah tanpa senyum khasnya.
"Senyum!" Perintah Andre menghasilkan reaksi, layaknya mesin, senyum palsu otomatis keluar lalu menghela berat nafasnya.
Di sisi lain, tampak Herman keluar dari ruang manager Cafe bersama anak semata wayangnya, tentu saja si psyco Beni lalu diikuti manager di belakang mereka.
"Seperti yang udah papah bilang, kamu harus kerja kalo mau dapat uang jajan, papah mau lihat seberapa besar usaha kamu untuk perbaiki hidup kamu sendiri" kata Herman pada Beni.
Alora menoleh karena seperti mendengar suara orang yang ia kenal.
"Indra, Alora di mana?" Tanya Herman pada manager.
"Alora biasanya masuk shift siang mulai dari jam 2 sampai jam 8 malam" jelas Indra pada bosnya. "Oh itu dia! Alora!" Panggil Indra saat melihat Alora ada di sudut Cafe sambil mengangkat tangan seolah menyuruhnya datang.
Andre ikut menoleh saat nama "Alora" masuk ke telinganya. Matanya langsung menuju kedua manik lainnya (Beni) yang saling menatap tajam.
Alora menghampiri lalu menyapa pria paruh baya pemilik Cafe itu.
"Alora tolong ajarin Beni ya! Dan Beni! Kamu harus ikutin arahan Alora, papah akan minta laporan dari Alora tiap minggu" Ucap Herman tegas.
"Iya om Herman, Alora akan coba" Ucap gadis itu lalu mencoba tersenyum.
Andre hanya menyaksikan dari bangkunya, ia terlihat kesal.
Alora kembali ke bangkunya, Herman sudah pergi, dan Andre masih menatap tajam Beni yang senyum menyeringai ke arahnya.
"Ada hubungan apa loe sama om itu?" Tanya Andre begitu pacar imitasinya kembali.
"Om Herman udah banyak bantuin gua, jadi gua harus balas budi, sama kayak loe yang udah nolongin gua pas gua sakit dan gua lagi balas budi dengan jadi pacar loe" kata Alora membuat tatap Andre agak berbeda dari sebelumnya.
***
Masih di hari hujan yang sama, Alora tampak sangat sabar menghadapi anak bos yang jatuh miskin sedang marah padanya. Apapun yang ia coba ajarkan pada pemuda tinggi dengan akhlak tidak setampan wajahnya itu selalu berakhir berantakan dan ia hanya dapat makian dari Beni.
Indra sebagai manager hanya mampu menggelengkan kepala melihat kelakuan Beni, karena iapun tidak mampu mengatasi amarah tuan muda itu.
"Loe bisa serius gak?" Tanya Alora dengan wajah menahan rasa kesalnya.
Beni hanya memasang tampang menyebalkan dan tidak mau fokus.
"Kalo udah masuin kopi loe tinggal tarik ini dan tutup, kopinya akan keluar dari..." Alora menghentikan katanya lalu hanya diam.
Beni menghela nafas dan berkata "bosan banget gua denger ceramah dari tadi. Heh ini semua gara-gara Loe! Loe aja yang ngerjain semua, gua mau tidur!"
"Tidur? Yaudah sana!" Ucap Alora cuek.
Oknum yang bersangkutan merasa ada yang aneh, "Heh kalo berani loe lapor ke bokap gua, awas loe!"
Alora hanya diam, namun Beni masih belum puas dan melanjutkan katanya.
"Heh! Loe udah miskin harus nya tau diri, jangan macam-macam! Jauhin bokap gua gausah caper! Loe gak akan kaya dengan godain om-om!"
***
Malamnya, gadis malang yang merasa sangat tertekan itu langsung menghela berat nafasnya saat keluar dari pintu Cafe. Lalu menatap langit yang masih menangis. Tanpa pikir panjang ia melangkahkan kakinya pelan di tengah rintik hujan itu.
Terdengar suara hirupan dari hidung berair dan air mata yang mengalir samar bersama air hujan di pipinya. Sesekali terdengar suara tangis yang lepas kendali dari katupan bibirnya. Pikirannya dipenuhi suara makian yang ia dapat hari ini dari mulut tajam si psyco, apalagi kata terakhir yang ia terima sangat melukai harga dirinya.
Ia tidak bisa menyerah namun juga tidak ingin melanjutkan.
"Salah gua dimana?" suaranya terdengar bergetar.
"Tolong selamatkan aku! Jangan sampe aku bunuh diri! Aku ingin mati aja" batin Alora sembari terus berjalan dan menangis dan sesekali mengusap mata yang di penuhi cairan asin itu.
Gadis yang sudah basah kuyup itu berhenti di halte dekat komplek rumahnya.
"Jangan salahkan aku kalo besok aku menghilang" Ucapnya pada dirinya sendiri sambil memeluk tubuhnya.
Tiba saja seseorang meletakkan jaket jeans hitam tebal diatas tubuh rapuh kedinginan itu, Alora pun menoleh. Ia mendapati pacar palsunya hanya memakai kaos putih tipis di tengah hujan dan membuka payung.
"Ayo pulang!" Ucap Andre.
Karena sangat sedih Alora hanya mengikuti di bawah payung Andre tanpa sepatah katapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Lisa Aulia
saat ini alora hanya butuh pelukan hangat ...yah..sebuah pelukan yg mampu menguatkan dua untuk menjalani hari2 yg begitu keras dan menyakitkan ,apalagi ketika bersama si anak bos yg hanya bisa marah2 nggak jelas....tuh mulut nya kasar amat sama perempuan ...awas Lo ntar suka nanti...baru tau...
2022-08-15
1