Kelopak matanya hampir tertutup rapat, kamus bahasa Inggris yang ia pinjam dari perpustakaan dijadikan bantal, salah satu pipi manisnya menempel pada kamus yang terletak di atas meja dekat jendela itu. Gadis cantik berwajah imut berkedok bestie datang diam-diam dikelas yang hening itu, Lia mengusap pelan rambut Alora hingga ia terbangun.
Alora menggangkat kepala yang tadinya ia menghadap jendela, kali ini ia menghadap Lia yang duduk di sisinya dengan tetap menempelkan sisi pipi lainnya di kamus tadi dan di tambah satu buku.
"Udah makan?" Tanya Lia dengan senyum merekah di wajahnya.
"Gua ngantuk bukan lapar! Loe gimana sih?" Sahut Alora dengan suara parau dan matanya setengah terbuka.
"Loe tetep harus bangun dan makan gua gak mau tau! Gua bawa banyak nih" Gadis itu mencoba mengancam lalu menarik badan Alora agar ia terbangun.
Alora tampak menyandarkan tubuhnya yang bertumpu di bagian belakang kursi ke sisi dinding. Sedangkan Lia membuka kotak bekal makan yang ia bawa.
"Tadaa..Nah sendoknya ada dua, loe mau warna apa? Biru atau pink?" Seru Lia dengan mata berbinar.
"Yang hitam gak ada?" Sahut Alora setengah sadar.
"Loe tuh hitam terus, gua heran baju loe kalo gak hitam, silver, atau ijo gelap, yang cerah sesekali napa? Nih pink buat loe biar hidup loe cerah gak suram kek raut muka loe!" Oceh Lia yang tampak kesal, namun belum dapat di pastikan oknum yang di maksud mendengar seluruh kalimat Lia.
Keduanya makan di satu bekal yang sama, karena Alora mengantuk, sesekali Lia memukul meja agar bestie nya itu terbangun.
Entah bagaimana kelas berakhir tanpa guru yang masuk, katanya sih ibu Susi lagi cuti melahirkan dan belum ada guru pengganti untuk pelajaran Ekonomi.
Alora menghabiskan waktunya untuk tidur karena kelelahan semalam ia harus kerja lembur, Lia memainkan Android-nya dan seperti biasa siswa lainnya ada yang membuka situs ghibah online maupun ofline, para cowo ada yang sibuk mabar sambil teriak-teriak, untung malaikat pencabut nyawa tidak mendengar makian mereka.
Alora terbangun saat mendengar teriakan atau jeritan yang tidak bisa ia pastikan menusuk ke telinga mungilnya. Ia membuka matanya mendapati kelas kosong, lalu dia mengarahkan pandangannya ke pintu kelas tampak siluet seorang pemuda masuk diikuti pancaran cahaya dari belakangnya.
Pandangannya masih buram, tak lama segerombolan cewek mengikuti di belakang pemuda itu.
"Mimpi nih gua!" Batin Alora.
Pemuda tinggi itu menuju bangku di sisi Alora, menjatuhkan tubuhnya lalu merebah kan kepalanya di atas meja menghadap gadis itu. Alora yang tadinya berfikir sedang bermimpi kembali menutup matanya saat segerombolan cewek-cewek yang masuk tadi keluar.
Namun, sepertinya ada yang salah gadis ini mengernyitkan dahinya lalu tersadar dan membuka lebar matanya. Wajah Andre tepat di depan bola matanya. Tubuhnya otomatis tegak.
"Loe ngapain tidur di sini?" Tanya Alora bingung.
"Numpang tidur!" Ucap Andre santai.
"Kenapa gak tidur di kelas loe sendiri?" Tanya Alora dengan wajah datarnya.
"Btw kita sekelas, loe gimana sih?" sahut Andre tampak bingung.
"Kok gua gak pernah lihat? Apa gua kebanyakan tidur di kelas ya?" gadis itu tampak bertanya pada dirinya sendiri.
"Itu! Disitu! Gua selalu duduk di tengah kelas"
"Terus? Kenapa gak duduk di bangku loe aja?"
"Di sini lebih dingin karna deket jendela jadi angin masuk" jawab Andre malas.
"Btw meja loe lebih dingin karena di bawah Kipas Angin! Kenapa loe.." kata Alora terpotong.
"Loe! Kepo banget sih? Banyak nanya banget!" Andre tampak kesal lalu bangkit menuju bangku miliknya.
"Huh? Kepo?" Alora tampak menghela nafas panjang lalu menutup matanya sebentar. Ia tidak punya energi untuk berdebat walau ia ingin, saat ini ia harus menyimpan energinya untuk bekerja.
Karena sudah jam istirahat, gadis itu tampak berlari mengelilingi lapangan untuk menuntaskan hukuman terlambat masuk kelas kemarin pas jam Olahraga.
Setelah berlari ia menuju kantin untuk membeli minuman.
"Loe masih harus keliling lapangan 5x sebelum jam Orkes?" Tanya Lia sembari duduk di kursi kantin bersama Alora. Alora hanya membalas anggukan setelah beberapa teguk air mineral masuk ke tenggorokannya.
"Waaah pak Ihsan luar biasa, gua gak akan pernah telat kalo gak mau berakhir kayak loe!" Sambung Lia sembari menatap jam tangannya. "10 menit lagi masuk kelas, mending loe cepetan balik ke lapangan gih,"
Alora mengangguk lalu bangkit dan berlari, tiba saja dubrak, kedua oknum yang bertabrakan terjatuh.
"Loe lagi? Kenapa loe ganggu banget sih?" Ucap Andre sambil menepis debu di celananya sambil bangkit untuk berdiri.
"Lagi? Gangguin loe? Kapan?" Alora tampak bingung lalu membatin "nih orang aneh banget, kapan gua gangguin dia?" Dengan bibir agak naik dan dahi mengernyit.
"Lagi-lagi loe banyak nanya!" Ucap pemuda berwajah rupawan ini.
"Mohon maaf, gua nabrak karna lagi buru-buru, dan maaf juga kalo loe merasa terganggu sekarang gua harus pergi" Alora melangkahkan kakinya namun Andre meletakkan kaki jenjangnya di depan gadis itu hingga ia terjatuh lagi, namun kali ini lebih parah.
"Aww" desis gadis manis itu lalu tangan kanan menahan lengan tangan kirinya karena terasa sakit.
Alora bangkit dan berdiri, ia menatap tajam Andre dengan posisi tangan masih memegang bahu kirinya.
"Loe puas?"
Andre memasang tampang ngeselin, mulut dan bola matanya mengikuti.
"Kalo loe udah puas gua pergi!" Alora berlari dengan kaki agak sakit.
Di sisi lain, Andre mengalihkan wajahnya ke arah Alora dan hanya menatap kosong lalu membatin "kenapa dia cuman nerima gitu aja? Kok dia gak terkecoh sih?"
Di lapangan, pak Ihsan sang guru olahraga itu sudah menunggu Alora untuk menuntaskan hukuman yang beliau berikan. Alora berlari tampak bugar namun juga terlihat kesakitan.
"Maaf pak saya terlambat!" Ucap gadis yang baru tiba di depan pria paruh baya dengan kumis tipis itu. Alora menunduk merasa bersalah, dalam hatinya berbisik
"duh nambah hukuman lagi ruman-rumannya"
"Hari ini kamu bebas hukuman!" Ucap pak Ihsan.
Kepala Alora otomatis terangkat, karena tidak dapat mempercayai apa yang ia dengar.
"Yang bener pak? Saya bebas hukuman? Saya nggak salah dengar kan pak?" Tanya Alora.
"Iya, tadi wali kelas kamu jumpain bapak, katanya kamu harus kerja setiap pulang sekolah sampe jam malam, kamu... harusnya kamu bilang gitu sama bapak, jadi saya gak perlu hukum kamu, ini juga buang-buang waktu saya, maunya kan saya bisa istirahat 10 menit sebelum masuk kelas" omelan pria itu membuktikan bahwa sebenarnya dia orang yang peduli, hanya saja dituntut tegas, untuk menjaga image 'guru killer' nya.
"Maaf pak"
"Oya kamu kerja dimana? Gajinya berapa? Kalo kerja jangan lupa makan, kesehatan yang paling penting. Kamu di kasih makan juga kan di sana?" Tanya Pak Ihsan.
"Kok bapak jadi banyak nanya?" Alora membalas dengan pertanyaan lainnya.
"Kamu jawab saya dengan pertanyaan? Kenapa gak jawab aja apa yang saya tanya?" Tentu pria ini tetap bertanya.
Ddrrrrrrrrrttttttt ddrrrrrrrrrttttt...
Getaran terdengar dari saku jas pak Ihsan, pria itu akhirnya meninggalkan Alora untuk mengangkat telpon, gadis itupun menuju pinggir lapangan di bawah pohon beringin dimana angin sepoi-sepoi terhembus lalu menjatuhkan tubuhkan dan bersandar pada batang pohon. Hembusan nafas capek sekaligus berat terdengar bersamaan.
"Huh? Ada orang lain di sini?" Batin Alora bertanya.
"Tapi aku gapeduli, aku capek banget" sambungnya dalam hati lalu menggerakkan kelopak matanya agar tertutup.
Oknum lainnya yang bersantai di sisi lain pohon beringin itu bangun lalu berdiri di depan Alora yang tampak tertidur.
"Loe ngapain tidur di sini? Ini tempat istirahat gua!" Terdengar suara nyaring yang membuat Alora membuka matanya.
Bola mata gadis itu membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Ia menelan liurnya karena pemuda tinggi berbadan tegap, wajahnya bukan main tampan namun sikapnya yang dingin dan penyendiri sehingga sulit didekati, julukannya 'psyco handsome'.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Indriharteu
Duh psyco handsome siapa nih..
2023-05-02
1
Ini Aku
suka sama ceritanya..
2022-08-19
1