Pagi minggu, Alora sudah siap berangkat untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Sudah beberapa hari sejak ia kembali ke rumahnya namun ia belum menemukan pekerjaan yang tepat untuknya. Setelah berkeliling sampai siang, akhirnya ia menemukan satu tempat yang menerimanya dan dia bisa mulai bekerja besok.
Sorenya gadis itu pulang ke rumah, tampak seorang wanita paruh baya menunggunya di halaman depan.
"Alora kamu dari mana aja? Capek mama nungguin kamu dari tadi, kamu tau sendiri mama harus kerja lagi kita butuh uang" ucap Anita pada anaknya.
"Ada apa ma? Tumben mama nungguin aku" tanya gadis itu tampak khawatir.
"Kemasi barang kamu dan pulang ke rumah nenek! Rumah ini mau mama jual, mama udah muak!" Tampak bola mata wanita itu berkaca.
"Mama berdebat lagi sama ayah? Maah begitu rumah ini terjual kita gak punya apa-apa lagi! Tolong ma jangan jual rumah, Alora juga akan ikut kerja jadi mama gak perlu mikirin uang sekolah Alora"
"Bilang apa kamu?" Suara wanita yang Alora panggil mama itu bergetar lalu meneteskan cairan bening dari matanya.
"Harusnya kamu sadar diri! Berhenti sekolah dan ikut kerja aja, jadi mama gak perlu repot balik ke sini buat belanja bulanan dan rumah ini bisa kita jual!" bentak Anita pada anaknya itu namun dengan bola mata yang berkaca.
Wanita cantik yang dipanggil mama itu mengatupkan bibirnya lalu mengusap matanya yang berair. Alora memeluk ibunya sembari menahan tangisnya walaupun beberapa tetes bening mengalir begitu saja.
Di sisi lain tanpa sengaja seseorang yang tampak seperti Andre menyaksikan kejadian itu ketika berjalan menuju minimarket terdekat dari rumahnya. Setelah membeli beberapa keperluannya, Andre kembali pulang melewati taman dan melihat seorang gadis dengan pose sama seperti saat di halte samping sekolah. Akhirnya gadis itu mengangkat kepalanya dan ia menemukan gadis ini lagi yang duduk di kursi taman dan gadis itu sedang terpuruk lagi dan menangis diam-diam.
Andre memutuskan menghampiri gadis itu dengan memberikan sapu tangan miliknya untuk menyeka air mata gadis itu. Ia duduk di samping gadis yang sedang menyapu air matanya itu.
"Apapun itu aku harap kamu bisa baik-baik aja ya" ucap Andre tanpa menatap gadis itu.
"Makasih" ucap Alora lembut sembari meletakkan tangannya di atas lutut.
"Sebenarnya aku juga pernah liat kamu dengan posisi tadi di halte!"
"Di halte?"
"Iya halte dekat sekolah, waktu itu kamu lagi yaa maaf yaa aku nebak aja sih soalnya posturnya sama kayak kamu tadi"
"Ayo biar aku antar pulang, kayaknya rumah kita searah, biar sekalian aja, hampir gelap juga nih" sambung Andre sembari bangkit dari kursi itu.
Alora pun ikut bangkit lalu mereka melangkah pulang bersama. Walau hanya terdengar suara sandal menyentuh tanah, keduanya tetap berjalan seirama. Sesampainya di rumah gadis itu langkah mereka sama-sama terhenti saat Andre tiba-tiba bertanya
"nama kamu siapa?"
"Alora" jawabnya setelah beberapa detik berlalu.
"Nama kamu cantik. Yaudah aku pulang dulu ya" pemuda tampan itu melanjutkan langkahnya. Alora menatap sejenak punggung pemuda itu yang perlahan menjauh lalu masuk ke dalam rumahnya.
...
Keesokan harinya, tampak burung bergemerincing dari langit meminta hujan. Di sisi lain Alora berjalan dari lapangan sekolah menuju mading yang berada di depan gedung sekolah. Ia mendapati lembaran poster yang tertempel asal dan hampir terlepas di hembus angin.
"Lomba pekan olahraga? Hadiahnya 5 juta?" Gadis itu hanya bergumam, namun tampak bola mata sedang mengkalkulasi kebutuhan biaya hidupnya, lalu menatap kembali lembaran yang sedang dipegangnya itu.
Keesokan harinya di lapangan, siapa sangka Alora yang hampir tiap pelajaran olahraga bolos ke uks karena mengantuk malah hadir mengikuti event olahraga. Begitulah yang dirasakan Lia melihat sahabatnya dengan mata melebar dan mulut terbuka. Semua peserta telah membentuk barisan termasuk Alora yang sudah menjadi bagian dari barisan itu.
"Baik, semuanya udah kumpul?" Tanya pak Ihsan dengan suara lantang dan tegas. Guru berbadan kekar itu ditugaskan untuk mengatur siswa sekaligus menjadi wasit dalam setiap pertandingan yang akan diadakan.
"Sudah pak!" Sahut para peserta serentak.
"Bagus! Sekarang kita akan bagi kelompok, sebenarnya ini perlombaan grup, satu grup berisi dua orang dan saya akan membagi secara acak, jadi tiap dari kalian akan membangun kerja sama tim walau bukan dengan teman kalian sendiri, semua paham?" Jelas guru olahraga itu diakhiri kalimat tanya.
"Loh pak di posternya kok gak dibuat harus berkelompok?" Tanya Rian, salah seorang siswa yang berdiri di depan barisan.
"Karena ini surprise! Pokoknya kalian jangan banyak tanya saya akan bagikan grupnya sekarang" ucap pak Ihsan.
Tiap peserta mendapatkan pasangannya walaupun bersamaan kegaduhan merasa tidak adil karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Alora adalah peserta terakhir yang mendaftar, jumlah pesertanya ganjil hingga ia tidak punya pasangan.
"Emm Alora kamu coba ajak teman kamu yang lain yang bisa jadi pasangan kamu dalam lomba ini" ucap pak Ihsan kepada gadis itu.
"Tapi teman saya hanya satu pak, Lia.. dia sedang tidak sehat karena jatuh dari sepeda kemarin, apa saya akan didiskualifikasi karena tidak punya pasangan?" Gadis itu tampak menjawab ragu.
"Hmm.. ada yang mau ikut berpartisipasi perlombaan ini? Kita kekurangan peserta di sini!" Tanya guru itu pada sekumpulan siswa yang sudah teratur di pinggir lapangan siap menonton.
"Saya pak!" Seseorang berteriak dan menunjuk tangan di tengan keramaian.
Terdengar kegaduhan dari para gadis, ternyata peserta baru adalah pemuda tampan berwajah idol, Andre yang muncul dari keramaian menuju lapangan.
"Okay, kalau begitu kalian jadi pasangan, kita akan siap-siap breafing untuk lombanya sekarang" ucap pak Ihsan pada kedua remaja itu saat Andre tiba di lapangan.
"Okey, kita akan mulai dengan..." pak Ihsan menjelaskan apa yang harus dilakukan dan dihindari selama permainan serta bagaimana berlangsungnya perlombaan.
"Satu lagi jangan sampai ada yang terluka, itu yang paling penting okay?" guru bernama Ihsan itu akhirnya menyelesaikan ceramahnya.
"Okay kita akan mulai dengan estafet membawa telur dengan sendok, bagi yang telurnya jatuh harus mengulang lagi dari garis start"
Seperti biasa peserta sudah siap di garis start, Andre berada di garis start sedangkan Alora berada di garis finish karena pemenang utamanya adalah siapa yang duluan sampai ke garis start pada saat pemain berganti. Peluit sudah tertiup tanda permainan sudah di mulai. Semua orang bergerak cepat kecuali satu orang yang terbilang hanya berjalan santai.
"Andree cepetaan!!" teriak rekan timnya yang tampak gelisah "cepat, kita harus menang!".
Akhirnya pemuda lambat itu sampai dan berganti tugas dengan gadis itu. Alora tampak bersungguh-sungguh walau ia sangat tertinggal dari teman yang lain dan berhasil mendapatkan posisi ketiga.
Di sisi lain Lia tampak tercengang "Wah gua nggak nyangka itu Alora temen gua? sejak kapan lari nya cepet, biasanya suka ngeluh kalo di suruh lari".
Permainan selanjutnya adalah membawa gelas berisi air menggunakan kain, keseimbangan dan kerja sama tim paling penting di sini. Namun sejak peluit berbunyi pemuda tinggi itu sama sekali tidak fokus dan tidak ingin menyamakan tinggi tangannya dengan Alora.
"Andre! jangan ketinggian angkatnya, airnya tumpah!" ucap Alora sambil kembali ke garis awal mengisi ulang air dalam gelas.
"Loe nya aja yang pendek!" Andre tampak mengejek.
"Tarik kainnya biar seimbang, dia harus ketat jangan kendor" Ucap Alora panik.
"Iya iya bawel" sahut Andre ketus. Pemuda yang dipanggil Andre itu membuka kakinya terlalu lebar.
Dubraak..!
Tanpa sengaja kaki Alora tersandung kakinya Andre hingga kaki mereka menyilang dan keduanya terjatuh. Tentu saja Alora tertindih karena ia berdiri di depan Andre. pemuda itu mengangkat tubuhnya pelan, Alora mengerutkan dahinya karena kesakitan.
"Loe nggak apa kan?" Tanya Andre yang masih di atas tubuh Alora sambil menatap gadis itu. Entah matanya tersiram debu atau bagaimana, namun di pandangan Andre saat ini Alora tampak begitu cantik dan ia malah terdiam sejenak.
Kenyataannya, Alora tampak sangat Kesal dan memilih mendorong pemuda itu lalu berdiri sendiri.
"Loe!" teriak gadis yang rambutnya beterbangan di tiup angin gara-gara kuncir rambutnya lepas saat terjatuh, ia menatap tajam dan telunjuknya yang tampak mengancam ke arah Andre yang masih setengah terbaring.
Bibir gadis itu terlihat bergerak-gerak sangat ingin mengeluarkan kata kotor.
.
.
.
tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Indriharteu
Mulai seru nih
2023-05-02
2
Lisa Aulia
lanjut...
2022-08-14
1