Waktu berlalu begitu cepat, bahkan saat-saat terasa berat dan panjang juga akan berlalu, intinya jalani saja.
...
Alora mencoba mengajarkan tuan muda keras kepala itu, tapi seperti yang kita tahu bersama tidak berhasil. Setelah seminggu gadis manis itu sudah lelah dengan semua tuduhan dan makian yang ia dapat.
Senin akhirnya kembali, sepulang sekolah ia menuju Cafe dan mulai bekerja.
"Hari ini cuma kalian berdua yang bertugas, Lili harus pulang tadi karena ibunya sakit. Jadi saya harap Beni dan Alora kalian akur dan bisa kerja sama, saya juga akan ikut membantu" Ucap Indra kepada kedua bawahannya di dalam ruangannya.
Tentu Alora sudah menyerah pada Beni dan me-manage otaknya bahwa di hari sibuk ini ia akan bekerja sendirian.
"All jatah makan siang kamu ada di meja kecil samping dapur, kamu makan dulu baru kerja ya" ucap pria muda baik berjabatan manager itu.
Sebelum makan, Alora membantu staf dapur mencuci piring. Setelahnya baru ia ke meja kecil samping dapur lalu membuka kotak nasi dan mengambil sesuap.
"Alora cepetan keluar! Udah ada pelanggan ini!" Teriak Indra saat Alora baru saja hendak memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
Sebagai pekerja yang baik, tentu ia meninggalkan makanan nya dan langsung menjalankan tugasnya. Sesuai dugaan, di hari sibuk itu pelanggan yang datang lebih banyak dari biasanya. Memang benar pula gadis remaja yang bermodalkan tenaga itu mengerjakan bagian service sendirian, untung Indra ikut membantu menerima pesanan, sedangkan Beni hanya duduk mengawasi sambil menggoyangkan kaki.
Hari sudah hampir gelap, pelanggan akhirnya mulai mereda. Perut Alora sudah menggerutu dari siang, namun hanya menggiling angin. Sembari mengelus perut mungilnya, gadis itu menuju meja tempat nasi tadi. Alangkah sayangnya nasinya telah basi dan tidak bisa di makan.
Di sisi lain, Beni tampak melirik Alora yang sedang mengendus kotak nasi yang masih penuh itu lalu membuangnya. Tatap Beni perlahan melembut lalu memalingkan wajahnya sambil menatap ke bawah.
Jam pulang tiba, Alora keluar dari pintu Cafe sembari menepuk dan memijat pelan kuduk yang terasa pegal dan menghela berat nafasnya. Ia langsung menuju mini market terdekat lalu membeli pop mie untuk dijadikan makan siang sekaligus makan malamnya.
Tanpa di sadari, tuan muda yang berkedok psyco itu mengikuti Alora dari belakang. Beni hanya mengawasi apa yang Alora lakukan, tanpa melepas sorot mata pada targetnya.
Hp Alora berdering saat ia masih menyeruput mie dalam cup itu. Setelah mengangkat telpon, ia langsung berlari menuju halte lalu naik bus menuju rumah sakit karena menerima kabar neneknya jatuh pingsan. Di sisi lain, Beni tampak panik saat melihat Alora berlari dan mengikutinya hingga halte.
"Dia kenapa ya?" Gumam pemuda tampan itu.
***
Selasa pagi, tampak Alora sedang berlari mengitari lapangan sekolah di bawah langit cerah dan panas matahari mulai menyapa.
Beni yang lewat di lorong sekolah tanpa sengaja mengarahkan pandangannya ke lapangan dan mendapati Alora dengan hukumannya karena terlambat datang di temani guru penjaga.
Setelah 10 kali mengelilingi lapangan, gadis yang keringat memenuhi wajahnya itu masuk ke kelas saat Bu indah sang wali kelas sedang mengajar. Ia menduduki bangkunya lalu otomatis merebahkan kepala di atas meja karena kelelahan hingga tertidur.
Jam istirahat pun tiba, bu Indah menghampiri Lia dan Alora yang masih tertidur.
"Lia, Alora kenapa? Dia sakit?" Tanya bu Indah tampak khawatir.
"Lora kecapean buk, semalam pas pulang kerja katanya neneknya sakit, jadi dia jagain neneknya di rumah sakit semalaman tanpa tidur, makanya tadi telat ke sekolah" jelas Lia dengan wajah sedih.
Indah, guru itu menghela berat karena kasihan lalu berkata "nanti kamu kasih catatan kamu ke dia ya, sayang kan jangan sampai dia ketinggalan pelajaran juga"
"Baik buk!" Sahut Lia sembari tersenyum.
Andre terlihat mendengarkan pembicaraan Lia dan wali kelasnya diam-diam untuk mengetahui apa yang terjadi pada Alora. Karena Alora tidak akan bercerita padanya. Lalu keluar kelas setelah bu Indah meninggalkan ruangan.
Tak seberapa lama, Andre datang dengan beberapa bungkus roti dan bekal yang kemudian ia taruh di meja Alora dan duduk di depannya.
"Lora!" Panggilnya pelan dengan wajah yang mendekat ke arah Alora untuk memastikan gadis itu terbangun atau tidak.
Tirai jendela terhempas di tiup angin membuat Alora membuka matanya saat sinar matahari masuk membuatnya silau. Namun ia mendapati pemuda tampan yang sedang menatap dari dekat itu tersenyum padanya.
"Gua mimpi?" Gumam Alora yang membuka dan menutup bola matanya beberapa kali.
"Loe gak mimpi! Bangun makan dulu" Ucap Andre sambil menunjukkan sederet gigi rapi lalu menjauhkan wajahnya. Alora pun terbangun.
"Bekal? Loe masih nerima beginian dari cewe-cewe?" Tanya gadis manis itu sambil membuka kotak bekal itu.
"Iya! Bekal dari anak kelas 10. Peran loe sebagai pacar gua mana? Harusnya loe labrak cewe itu dan bilang gausah kasih bekal buat pacar loe, gimana sih?" Sahut Andre panjang lebar.
"Tenang aja, gua makan dulu, gak perlu labrak kita cuman perlu ngomong baik-baik!" Sahut Alora sambil mengunyah.
Andre terlihat gemas dan hanya menatap pacar pura-puranya makan di depannya dengan santai di kelas yang hanya ada mereka berdua itu.
Seperti yang dijanjikan, Alora menemui gadis yang memberi bekal untuk Andre, sedangkan Andre mengawasi dari jauh.
"Lita ya? Nih kotak bekal loe!" Alora menyerahkan kotak bekal itu lalu melanjutkan katanya
"Makanannya enak! Tapi lain kali, kamu gak perlu kasi bekal lagi buat Andre, karena Andre gak makan selain masakan ibunya. Dan gua juga merasa bersalah harus makan bekal dari loe terus, kan kasian kalo dibuang mubazir. Jadi maaf banget dan mohon pengertian nya ya!" Jelas Alora lalu berbalik hendak pergi setelah menyelesaikan katanya.
"Kakak Alora ya?" Tanya gadis berbadan kecil itu.
Langkah Alora terhenti dan kembali berbalik "Iya, kenapa?"
"Jadi kakak pacarnya kak Andre yang cuma tau menerima tapi gak pernah memberi itu ya? Mungkin gak sanggup kali ya?" ucap Lita yang membuat teman-teman yang duduk bersamanya menertawakan Alora.
Andre tampak kesal mendengar perkataan gadis itu, lalu bergegas mencoba menghampiri Alora karena ingin membela pacarnya.
Alora mengusap rambutnya yang terurai, melangkah mendekat lalu mendekatkan wajahnya ke arah gadis yang baru saja menghinanya itu.
"Andre gak bisa hidup tanpa gua. loe yang sok caper ngasih bekal aja gak dilirik sama dia, kalah dong sama gua yang miskin gak punya apa-apa" Ucap Alora sembari tersenyum sinis dan langsung kehilangan senyum usai berkata layaknya dialog psychopath dalam drama korea.
Ia berbalik dan menuju arah Andre yang terhenti saat melihat aksi Alora membela diri. Gadis itu langsung menggenggam tangan Andre seolah memamerkan bahwa ia yang menang dan menyiratkan bahwa jangan macam-macam dengannya.
Lita kena mental langsung menutup mulutnya dengan tangan karena merinding.
"Alora memang psychopath! "
***
Alora masih menggenggam tangan Andre yang saat ini mereka sudah duduk di bangku beton samping gedung perpustakaan.
Andre hanya memasang senyum tampannya sedari tadi menatap ke arah Alora yang duduk di sisinya dan sesekali melirik tangannya yang digenggam gadis itu.
"Ini gak ada rencana dilepas nih?" Ucap Andre dengan tampang canda khasnya.
Alora yang larut dalam pikirannya pun tersadar dan melepas "ah sorry sorry!"
"Loe mikirin apa sih?" Tanya Andre.
"Loe gak takut sama gua?" Tanya Alora setelah beberapa saat terdiam.
"Kenapa harus takut?"
"Loe gak takut kalo gua cuma manfaatin dan porotin duit loe? Karna bener kata mereka, gua cuman lintah yang nempel sama loe, cuma tau menerima tanpa memberi" Ucap gadis itu tanpa menatap Andre.
"Gak kok! Gua dapat feedback dari loe. Contohnya kayak hari ini, gak akan ada lagi kotak bekal paksaan. Dan semenjak sama loe, privasi gua jadi lebih aman, gak ada lagi kerumunan mengganggu yang buat gua risih dan gua jadi lebih bisa nikmati waktu sendiri" jelas Andre pelan.
"Dan sejak gua kenal loe juga, gua jadi paham kita gak bisa mandang semua hal dari satu sisi." Tambah pemuda itu lalu menatap mata Alora yang hanya melihat tanah sejak tadi.
"Jadi loe gak usah mikirin teori lintah, kita saling melengkapi kok! Karena apa yang kita miliki dan kebutuhan kita ada di satu sama lain"
Kalimat terakhir Andre yang sukses membuat Alora menoleh ke arahnya hingga keempat bola mata itu bertemu penuh makna.
***
~Hidup itu seperti rantai, semua saling terikat bersama takdir satu sama lain~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Lisa Aulia
aku jd gemes dng mereka berdua...
2022-08-15
1