"Hidupku berantakan" kalimat ini tersembunyi dibalik bibir manis yang tersenyum setiap hari.
...
Orang-orang hanya ingin melihat apa yang mereka anggap benar dan mendengar apa yang mereka inginkan sebagai jawaban. Namun dibalik semua itu, setiap orang punya trauma yang mereka sembunyikan hingga membentuk karakter mereka hari ini.
Hari ini gadis bernama Alora baru saja pulang kerja usai magrib. Ia kehujanan di sepanjang jalan dan terus melirik setiap kedai jajanan yang ia temui karena merasa sangat lapar, tapi tidak bisa membelinya karena tidak punya cukup uang.
Gadis dengan mantel dongker yang setengah koyak itu sampai di rumahnya kedinginan. Ia mendapati ayah dan adiknya yang pulang sementara ke rumah sebelum kembali untuk bekerja di luar kota.
Tak berapa lama usai berganti pakaian, ia menuju minimarket terdekat untuk membeli satu bungkus mie instan. Ia langsung memasaknya setibanya di rumah. Mie yang telah mengembang itu di taruh diatas meja sebentar karena harus ke kamar mandi. Saat ia kembali ia melihat wadah mie-nya kosong, dan terletak beberapa lembar receh di sisi wadah itu.
"Tadi Ali yang makan mienya, kamu beli lagi aja terus buat lagi!" kata Ayahnya lalu berangkat pergi.
"Yaah Alora juga lapar kenapa ayah nggak peka banget sih?"
Entah mengapa hal itu membuatnya sedih dan marah, karena ia merasa ayahnya tidak peduli padanya. Rasa lelah dan laparnya tidak ada apa-apanya, walau mienya di ganti, namun terlihat jelas bahwa ayahnya hanya menyayangi adiknya.
Setelah seluruh mie miliknya habis, ia malah hanya makan nasi dibubuhi minyak dan garam di temani ikan asin sisa kemarin. Ia makan sembari menangis sendirian.
Semakin berat kehidupan yang dijalani membuat seseorang semakin sensitif dan terlalu cepat menyimpulkan. Bukan karena tidak saling menyayangi namun tidak dihargai.
***
Gemerincing suara burung bernyanyi di pagi hari membangunkan Alora yang ingin menghabiskan akhir pekannya untuk tidur. Akhirnya ia terbangun dan tidak bisa tertidur lagi. Ia menuju teras rumahnya dan hanya duduk merenung. Iya rumah ini sepi seperti biasanya.
"Hei All" seseorang menepuk bahunya.
"Huh?" Gadis yang membiarkan rambutnya terurai itu tampak sedikit terkejut lalu menoleh ke sisi kanannya, tampak Andre sudah duduk di sampingnya. Alora mengaitkan keningnya dan bola mata yang bertanya.
"Aaaaaaa" nada pemuda berwajah tampan berirama. "Gua liat gerbangnya terbuka gua masuk aja, lagian gua juga lagi gabut di rumah, pas gua jalan liat loe deh!"
"Terus?" Tanya Alora.
"Hmm... sebenarnya ada yang mau gua tanyain, loe... udah dapat kerjaan?" Andre tampak ragu bertanya.
"Udah, di kedai kopi dekat sekolah" sahut Alora tenang.
"Huh? Bukan kafe tapi kedai kopi? Pengunjungnya pasti bapak-bapak, gak bisa cari kerjaan di tempat yang lebih bagus apa?"
"Loe pikir cari kerja mudah?"
"Makanya gua bilang, jadi pacar gua aja, gua bayar loe!"
"Gua gak butuh duit loe! Lagian udah tenang sekarang gak ada yang gangguin loe lagi, jadi kita gak perlu pura-pura di depan mereka lagi"
"Kalo mereka cuman liat kita sama-sama cuman seminggu, mereka bakalan curiga tau!"
Gadis itu bungkam tanpa jawaban, ia menatap Andre lalu berpikir "aku iri sama loe ndre!"
"Gua bakalan tetap bantuin loe kok, asal loe gak mencampuri urusan pribadi gua!" Ucap Alora.
Keduanya tampak hanya duduk terdiam menatap langit mendung.
...
"Kamis, 29 juli tahun lalu
Hari di mana aku makin menyadari bahwa di dunia ini aku hanya punya diriku.
Sebulan sebelumnya aku mengalami kecelakaan, sejak saat itu aku mulai semakin murung dan sangat sensitif. Saat-saat aku paling lemah dan membutuhkan uluran tangan, but there's no one. Orangtuaku bersikap tidak acuh, mulai dari biaya ganti rugi sampai berobat, kubayarkan dengan uang tabunganku hasil bekerja.
Aku juga paham mereka tidak punya uang makanya aku tidak menuntut apa-apa. Namun tidak bisakah mereka sedikit saja memberikan perhatian lebih seperti orangtua lainnya?"
Banyangan rasa itu sama sekali tidak memudar, namun terlihat semakin jelas seiring waktu berjalan.
"Kasih sayang?" Andre tampak berpikr setelah mendengarkan Alora yang tiba saja bercerita.
"Kenapa gua ceritain ke ello ya?" Alora menghela nafas berat lalu berkata "lupain aja ocehan gua tadi"
"Jadi karena loe hanya punya diri sendiri makanya loe kerja keras? Menurut gua tidak ada manusia yang benar-benar sendirian, mereka pasti punya orang-orang yang mendukung secara diam, tanpa disadari sebenarnya mereka ada dan banyak orang yang tidak mampu menunjukkan kasih sayang walau mereka mau"
"Loe tau? Hidup gua juga gak seberuntung itu, gua juga punya hal yang gua simpan sendiri" sambung Andre.
Alora hanya diam dengan tatap sendu. Andre melirik gadis itu dengan tatap yang berbeda dari sebelumnya lalu berkata
"Sekarang loe gak sendirian lagi! Ada gua kok, ada Lia juga, loe lupa dia selalu sama loe?"
Namun Alora tetap diam dan hanya menatap kosong tanah.
Cuaca semakin mendung akhirnya turun hujan, keduanya berlari masuk ke dalam rumah. Dua cangkir kopi hangat di atas meja tepi jendela yang kacanya mengembun terkena percikan air hujan. Kedua insan itu hanya duduk diam sesekali menyeruput kopi hangat milik mereka.
"Loraaaa! Ujan-ujan gini enaknya makan Pop mie, skuy!" Teriak Lia yang datang terburu-buru dengan payung kuning miliknya.
Layaknya rumah sendiri, Lia masuk ke dapur untuk menghidupkan dispenser lalu menuju ruang tamu.
"Eh? Kok loe ada di sini?" Gadis mungil ini terkejut melihat Andre bersama Alora.
"Tadi.. guaa.." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Lia memotong
"Oh pasti loe kehujanan pas pulang, Alora ajak loe masuk biar gak makin kehujanan! Good Loraanya Liaa baik banget xixi" gadis ini terkekeh sendiri sembari menutupi mulut kecilnya lalu mengacungkan kedua jempolnya ke arah bestie-nya itu.
"Mana pop mie nya?" Tanya Alora.
"Omg gua cuma bawa dua!" Lia memakai
raut serius dan dua oknum di depannya hanya terdiam saling melempar tatap satu sama lain dan le arah Lia.
"Tenang aja kok, gua ada bawa lebih hihi" raut wajah Lia seketia berubah kembali ceria.
Ketiga cup pop mie sudah terisi air di atas meja itu, selanjutnya hanya perlu menunggu mie mengembang.
"Guys cerita dong! Apa kek? Sepi amat cuman dengerin suara hujan nyentuh genteng" Lia angkat suara karena tidak tahan keheningan.
"Okeh, biar gua yang cerita. Dulu pas pertama kali gua ke sini umur 10 tahun, gua ketemu cewe dia 1 tahun lebih muda dari gua. Setahun dua kali gua balik ke sini gua selalu habisin waktu bareng dia karena gia gak punya teman lain"
"Masa sih? Cowo seganteng loe ga punya temen? Bohong loe!" Sahut Lia antusias.
"Iya gua serius, dan gua paling inget selalu turun hujan pas gua bareng dia, kami diam-diam main hujan dan pulang pas baju kami agak kering jadi gak kena siraman rohani sama emak hihi" Andre menertawakan dirinya dan Lia ikut tertawa dan Alora hanya tersenyum kecil.
"Iyaa loe bener, gua juga pernah main hujan gegara ikutan temen, pulangnya kena siraman rohani plus siraman air lagi dari emak di suruh main hujan lagi biar sakit, biar sekalian dikubur katanya, mak gua ngeri" ucap Lia lalu tertawa.
Usai dua remaja yang bercerita itu mengakhiri detik terakhir tawanya, mereka menatap penuh harap ke arah Alora, agar gadis di depan mereka ini juga berbagi cerita tentang hujan. Alora menyadari empat manik menyorot dirinya.
"Apaan? Gua gak inget masa kecil gua! Seingat gua... gua gak pernah main hujan"
"Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh" Andre dan Lia serentak bersuara dengan nada yang semakin rendah.
"Mie nya udah bisa di makan nih, ayo makan aja!" Sambung Alora seusai mengangkat sesendok mie dari cupnya, ia meniup pelan lalu menyeruput menikmatinya.
Lia dan Andre pun ikut makan di tengah hujan hari itu.
Tak seberapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Lia bangkit dari kursinya untuk membuka pintu.
"Kok loe ada di sini?" Suara Lia menggema membuat dua remaja lainnya menuju pintu dan menunjukkan ekpresi yang sama.
"Beni?" Alora tampak membuka mulutnya karena tidak percaya yang ia lihat.
Misteri Beni yang tiba saja muncul di rumah Alora tidak terjawab, karena tidak ada yang berani bertanya lagi pada si Psyco hansome ini, sejujurnya mereka hanya tidak ingin terlibat masalah.
"Gua cuman bawa 3 pop mie, loe mau? Makan punya gua aja!" Ucap Lia menekuk bibirnya karena merasa takut sekaligus kesal harus menyerahkan mie-nya.
Hening tanpa jawaban. Beni hanya melirik Alora sejak ia datang, tatap menakutkan itu tidak berpindah membuat Alora berpikir ia akan berada dalam masalah hingga ia tidak menghembuskan nafasnya. Masa untuk menghela nafas hanya ketika Beni berkedip selama 0.1 detik Alora dengan ketenangan singkatnya.
"Loe mau bunuh gua?" Tanya Alora akhirnya menatap Beni.
"Apaan sih Alora ngeri ih pertanyaannya!" Ucap Lia tampak kaget begitu juga Andre yang melebarkan bola matanya.
"Loe mau mati emang?" Kata Beni pada Alora sukses membuat Lia meneguk ludahnya.
"Yaa kalo itu mau loe silakan! Mau pakek apa? racun? Pisau? Di mana? Gores di leher tusuk di perut?" Oceh Alora asal.
"Loe berani nantang gua?" Tanya Beni dengan nada seramnya.
Lia tampak khawatir, ia tidak bisa menghentikan Alora yang tidak ingin kalah dari Beni, karena masih kesal ia dipecat karena alasan sepele.
"Hush kalian ini kenapa ngumpul di sini? Ngomongin apa coba pakek pisau segala, udah! bubar! Lia balik ke rumah! Kalian anak muda udah bisa pulang hujannya udah reda! Alora ikut ke rumah tante yuk ikut makan" Isma, ibunya Lia datang menyelamatkan perdebatan dua insan yang diduga psyco itu.
Mereka keluar bersamaan, Isma dengan kedua anak gadis berangkat duluan. Tinggallah dua pemuda ganteng itu di depan pintu gerbang rumah Alora. Keduanya saling menatap tajam, setelah beberapa detik saling memalingkan wajah dan berjalan ke arah yang berlawanan.
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Indriharteu
Beni makin kesini makin kesana deh
2023-05-02
2
Lisa Aulia
fix ini kek nya beni juga ada rasa sana lora...
2022-08-15
1