Kesepian

"Tapi, Dok. Saya ingin mengetahui keadaan anak itu," pinta Tania memohon.

Dokter menatap Tania, lalu menghela napas.

"Ya sudah, silakan!" seru sang Dokter.

Dia pun melangkah masuk ke dalam ruang pemeriksaan, diikuti oleh salah satu pemuda dan Tania.

Tiga orang pemuda lainnya dan Nurul diminta untuk menunggu di luar.

Saat berada di ruangan itu, Tania shock melihat Sandy yang terbaring lemah di atas tempat tidur.

Matanya langsung tertuju pada kepala Sandy yang terbalut perban dengan lengan yang lecet.

Seketika tubuh Tania lemah, dia tak kuat melihat keadaan pria yang kini mulai mengisi hatinya. Dia panik, dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya.

Saat itu juga, kaki Tania tak dapat menumpu bobot tubuhnya. Tania jatuh pingsan.

"Kak," pekik sang pemuda panik.

Pemuda itu menggendong Tania, dia membawanya ke atas tempat tidur yang ada di samping Sandy.

****

"A-a ku di mana?" lirih Tania saat baru saja membuka matanya.

Dia menangkap silau cahaya lampu yang bersinar di ruangan itu. Tania mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

"Tan, loe udah sadar?" tanya Nurul saat mendengar suara sahabatnya yang baru saja terbangun.

"Rul, gue di mana?" tanya Tania bingung, saat mengetahui dia bersama sang sahabat.

"Mhm," gumam Nurul mengangkat bahunya sambil menoleh ke arah samping.

Tania mengikuti arah pandangan Nurul, dia melihat Sandy tersenyum ke arahnya.

"Aneh, aku yang kecelakaan. Kamu yang pingsan," ledek Sandy sambil terkekeh geli menggoda Tania..

"Apaan sih?" gerutu Tania malu.

Wajah Tania kini sudah memerah bagaikan tomat masak.

"Aku tahu, kamu sangat mengkhawatirkan diriku. Sampai shock begitu, sedalam itulah cintamu padaku?" tambah Sandy semakin percaya diri bahwa dirinya sudah ada di hati Tania.

"Ge-er amat sih, Kamu." Tania memanyunkan bibirnya berusaha menutupi rasa yang bergelora di hatinya.

"Hahaha," kelakar Sandy melihat ekspresi Tania.

Wajah cantik nan imut itu tersipu malu, membuat tampangnya semakin menggemaskan.

Nurul hanya menatap bingung pada dua insan yang mungkin saat ini tak menyadari keberadaan dirinya.

Dua insan yang terbalut rasa yang menghilangkan kewarasan mereka.

"Gue keluar aja deh," gumam Nurul di dalam hati.

Nurul bangkit dari duduknya, dia melangkah keluar tanpa berpamitan dengan Tania.

"Rul, loe mau ke mana?" tanya Tania saat melihat sahabatnya hendak meninggalkan dirinya bersama Sandy di ruangan itu.

"Ke luar, males gue jadi obat nyamuk, mending gue cari makan. Kenyang!" sindir Nurul memasang wajah kesal.

"Jangan gitu, dong!" seru Tania.

Dia bangkit dari posisi tidurnya, lalu turun dari tempat tidur, dia melangkah menghampiri sahabatnya.

Setelah beristirahat sejenak, Tania sudah merasa fit.

"Please, dong! Jangan suka ambekkan! Ntar cantiknya ilang," celetuk Tania lalu menggandeng tangan Nurul untuk mendekati tempat tidur Sandy.

"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Apa perlu aku kasih kabar ini sama ibumu?" tanya Tania.

"Nggak usah, dokter bilang aku hanya luka ringan. Palingan ntar sore udh boleh keluar dari sini. Aku lagi nunggu Rio buat jemput aku," ujar Sandy.

"Oh, ya udah," gumam Tania.

Beberapa menit terjadi keheningan di antara mereka.

Seketika Tania ingat dengan perlakuan Gita pada dirinya tadi pagi. Wajah ceria Tania berubah murung.

"Hei, ada apa?" tanya Sandy sambil melambaikan tangannya di depan wajah Tania. Dia mulai mengkhawatirkan ekspresi Tania yang tiba-tiba berubah.

"Mhm? Nggak apa-apa, kok." Tania berusaha menutupi keresahan hatinya.

"Sekarang bukan waktunya buat membahas masalah ini. Maaf, jika setelah ini aku akan menjauhimu, aku sadar dengan posisi ku saat ini. Seharusnya cinta itu tak boleh hadir di hati kita," batin Tania.

"Hai, Bro!" sapa Rio, yang tiba-tiba memasuki ruangan tempat Sandy berada.

"Eh, Buk Tania, Buk Nurul," sapa Rio pada dua wanita yang menemani Sandy.

Tania dan Nurul hanya tersenyum menyapa Rio.

"Hei, Rio!" Tania dan Nurul membalas sapaan dari sahabat Sandy yang merupakan siswanya.

"Aku sama Nurul pergi dulu, ya. Kan sudah ada Rio yang nemanin kamu," ujar Tania pamit hendak meninggalkan Sandy.

"Oh, ya udah," ujar Sandy kecewa.

Namun, Sandy sengaja membiarkan Tania dan Nurul pulang. Dia tahu saat ini Tania tengah memikirkan sesuatu yang membuat dirinya murung.

Tania dan Nurul melangkah keluar dari ruangan Sandy.

Sandy hanya dapat memandangi kepergian Tania.

"Yo, gue harus bikin perhitungan dengan Gita," ujar Sandy pada sahabatnya geram, dia mengepalkan tangannya.

"Perhitungan? Buat apa?" tanya Rio penasaran.

"Loe yakin, nggak tahu permasalahannya apa?" tanya Sandy memastikan.

"Iya, San. Gue nggak ngerti," ujar Rio.

Akhirnya Sandy menceritakan apa yang terjadi tadi pagi di kelas XI IPS 3.

"Sakau, tuh cewek!" pekik Rio ikut geram.

Awalnya, Rio memang tidak setuju dengan hubungan Sandy dan Tania, tapi setelah kenal lebih dekat Rio mendukung hubungan itu.

Apalagi saat ini, Sandy tak hanya sekedar main-main, melainkan Sandy serius dengan hubungan di antara mereka.

"Loe bener, San. Gita harus kita kasih pelajaran sama cewek murahan seperti dia." Rio tersenyum licik, membuat Sandy mengernyitkan dahinya melihat sang sahabat.

****

Hari demi hari berlalu begitu saja, Reyhan semakin sibuk dengan pekerjaannya.

Hasil bidikan profesional Reyhan membuat banyak instansi pemerintah ingin menggunakan jasanya.

Kerjasama dengan beberapa Instansi pemerintah terus datang bergantian seakan tak ada habisnya.

Hal ini membuat waktunya untuk Tania semakin berkurang. Tania yang berusaha menjauhi Sandy mulai merasakan kesepian di relung hatinya.

Saat ini dia lebih banyak menghabiskan waktunya tanpa siapa pun.

Nurul sang sahabat tengah berbunga-bunga dalam cintanya yang bersemi dengan sang ketua mahasiswa PPL di SMAN 1. Sehingga dia juga jarang bersama Tania.

"Tania," panggil Sandy saat melihat Tania turun dari scoopy merah miliknya. Tania baru saja pulang dari sekolah.

Tania bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kost. Dia masih teguh ingin menghindari Sandy.

"Tan," lirih Sandy yang berhasil meraih tangan Tania.

Tania terpaksa menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya.

"Aku mohon, jauhi aku!" lirih Tania, pelan-pelan dia melepaskan tangan Sandy yang memegang erat tangannya.

Bukannya melepaskan tangan Tania, Sandy malah mendekati Tania, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter.

"Tatap mataku, dan katakan sekali lagi!" pinta Sandy penuh penekanan.

Tania menundukkan kepalanya, dia tak sanggup menatap mata elang pria yang kini telah mengisi sebagian hatinya.

Sandy mengangkat dagu Tania, mereka saling beradu pandangan.

Lagi dan lagi, Sandy tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Tania.

Tania bergeming, seakan terhipnotis oleh mata tajam milik pria yang ada di hadapannya.

"Tania!"

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Hum@yRa Nasution

Hum@yRa Nasution

sepi sepi

2022-01-12

1

Nastio Iman

Nastio Iman

s3pi...

2022-01-12

1

Irma Kirana

Irma Kirana

yosh semangat

2022-01-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!