Rasa Cinta yang Seharusnya tak Ada

"Mak! Mak!" panggil Sandy.

"Aril! Aril!" Sandy memanggil nama adiknya.

Namun, tak ada sedikitpun yang menyahut. Rumah pun terlihat gelap, hanya lampu cas yang redup memberi sedikit cahaya dari dalam rumah.

Eko dan yang lainnya juga ikut panik.

"Ada apa, San?" tanya Eko.

Sandy mengangkat bahunya. Dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi.

Setelah beberapa lama mereka berdiri di depan rumah Sandy, seorang warga datang menghampiri mereka.

"Nak Sandy, ya?" sahut wanita paruh baya yang tinggal tak jauh dari rumah Sandy.

Dia melihat Sandy dan teman-temannya sedari tadi menunggu pintu rumah dibuka. Dia teringat, tadi sore Aril pamit padanya hendak pergi ke rumah sang kakak.

"Iya!" jawab Sandy lalu menghampiri warga tersebut.

"Ibumu dan Aril menginap di rumah kakakmu, katanya Santi hendak melahirkan." Wanita paruh baya itu memberi kabar.

“Oh begitu, terima kasih, Buk,” ucap Sandy.

“Lalu kita harus bagaimana, San?” tanya Eko jadi bingung.

“Ya, nggak apa-apa. Kita masuk aja, yuk!” ajak Sandy dia pun melangkah menuju pintu belakang.

Sandy masuk dari sana, lalu membuka pintu depan untuk teman-temannya.

“Silakan masuk!” seru Sandy.

Mereka pun masuk ke dalam rumah Sandy yang sangat kecil, kira-kira hanya berukuran sekitar 4x6 meter. Rumah panggung, yang terbuat dari papan. Di sana hanya terdapat satu kamar yang sangat kecil. Tak ada dapur dan tak ada kamar mandi.

“Kita bisa menginap di sini malam ini, besok pagi kita bisa kembali ke kost-an,” ujar Sandy.

Teman-teman Sandy pun duduk di ruangan kecil itu.

“Tunggu sebentar, aku akan buatkan teh untuk menghangatkan tubuh kita sebelum tidur.” Sandy keluar dari rumah itu melewati pintu belakang.

Tania mengikuti Sandy, dia hendak menolong Sandy. Di belakang rumah Sandy, terdapat sebuah pondok kecil beratapkan daun rumbio, di sana terdapat tungku yang terbuat dari susunan batako. Sandy mengambil beberapa potong kayu bakar lalu menyalakan api.

“Tunggu sebentar! Aku akan mengambil air dulu,” ujar Sandy.

Dia melangkah tak jauh dari dapur itu, di sana terdapat pancuran air dari bambu. Dia mengisi sebuah periuk dengan air pancuran itu. Lalu meletakkannya di atas tungku yang sudah menyala.

“Air dari mana?” tanya Tania pada Sandy penasaran.

“Air pegunungan yang di alirkan melalui bambu, Air ini yang selalu kami gunakan setiap hari,” ujar Sandy.

“Kamu sudah biasa melakukan ini?” tanya Tania pada Sandy saat mereka menunggu air yang dimasak mendidih.

“Beginilah aku, seorang anak kampung. Hal ini sudah biasa aku lakukan,” jawab Sandy tersenyum dalam redupnya cahaya di pondok itu.

Tania merasa tersentuh dengan kehidupan Sandy, dia tak menyangka hidup Sandy sangatlah berat. Jauh berbeda dengan kehidupannya di kota.

Besar rumah Sandy hampir sama besar dengan kamar yang dimilikinya di rumahnya. Pondok kecil yang disebutnya sebagai dapur sangat jauh berbeda dengan dapur di rumah Tania, untuk memasak air Tania cukup menghidupkan kompor gas tanpa menggunakan korek api.

“Aku tak menyangka hidupmu sangatlah sulit,” gumam Tania di dalam hati, dia bersimpati pada pria yang diam-diam sudah mulai memasuki hatinya.

“Airnya sudah mendidih. Tolong ambilkan tekonya!”pinta Sandy pada Tania sambil menunjuk ke rak-rak kecil yang dibuat dari kayu.

Tania berdiri, dia mengambil sebuah teko yang ada di rak tersebut lalu memberikannya pada Sandy.

“Kamu bisa bikin teh?” tanya Sandy menguji Tania.

“Bisa dunk,” jawab Tania mengangguk.

Dia mengambil gula dan teh seduh yang ada di rak. Dia memasukkan gula serta teh seduh itu ke dalam teko, lalu Sandy memasukkan air yang sudah mendidih ke dalam teko.

Tania mengaduk air yang ada di teko agar gula dan tehnya larut.

“Auww!” pekik Tania saat tangannya tak sengaja terkena air panas.

“Kenapa?” tanya Sandy khawatir.

“Nggak apa-apa,” jawab Tania menyembunyikan tangannya yang terasa perih.

Sandy melihat hal itu, lalu dia menarik tangan Tania, dia melihat tangan Tania yang merah akibat air panas. Sandy mengambil garam halus lalu mengoleskan sedikit garam ke tangan Tania yang terkena air panas.

“Kalau terkena air panas, di kasih garam halus supaya tidak berbekas.” Sandy menggantikan pekerjaan Tania.

Tania terpaku, dia memandangi wajah tampan Sandy. Pria yang masih asyik mengaduk air di dalam teko itu menyadari wanita yang ada di hadapannya tengah memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Mereka berpadu pandang, sesaat pandangan mereka terkunci. Sandy menatap bibir seksi milik Tania, dia mulai tergoda dengan bibir itu. Pandangan itu membuat mereka hilang kendali, hingga jarak di antara mereka lama-lama semakin dekat.

Tanpa mereka sadari, kini bi-b*r mereka telah bersatu. Sandy menyentuh bi-b*r seksi itu dengan lembut. Mereka menikmati rasa yang bergejolak di hati mereka, sesaat mereka tenggelam dalam rasa cinta yang tak seharusnya ada di antara Tania dan Sandy.

Sesaat Tania melupakan keberadaan Reyhan di hatinya.

“Tania!” panggil Nurul dari dalam rumah, dia merasa khawatir pada sahabatnya.

Tania dan Sandy tersadar, mereka saling melepaskan pautan bi-b*r mereka. Seketika rasa canggung menyelimuti mereka.

“Ya!” sahut Tania dari dapur.

Tania keluar dari dapur, dia meninggalkan Sandy yang masih mengambil beberapa gelas dan nampan.

“Minum dulu, ya!” tawar Sandy sambil menuangkan teh yang masih panas ke dalam beberapa gelas yang ada di dalam nampan.

Tania dan yang lainnya mengambil gelas masing-masing, lalu menikmati hangatnya teh buatan Sandy sambil mengobrol segala hal tentang Sandy.

Saat malam semakin larut, rasa kantuk mulai menghampiri mereka. Mereka pun tertidur di ruang tengah rumah Sandy. Tania dan Nurul berbaring di sudut ruangan itu beralaskan kasur lusuh milik ibu Sandy.

Setelah semua teman-temannya tertidur, Sandy mengambil selimut tebal miliknya dari kamar. Dia menyelimuti Tania dengan selimut hangat itu. Sedangkan teman-teman yang lain tidur hanya berselimutkan kain sarung.

Sandy tak ingin Tania merasakan dinginnya malam di desanya. Tania mengetahui hal itu, dia terbangun saat Sandy memberinya selimut tebal di tubuhnya, lalu dia berbagi selimut itu dengan Nurul agar sahabatnya juga merasakan kehangatan.

Sandy berbaring di samping Tania karena memang tak ada lagi tempat untuknya kecuali di samping Tania. Saat tertidur, Sandy meraih tangan Tania. Dia menggenggam erat tangan Tania lalu tertidur.

“Baru kali ini aku tertidur di samping seorang pria, kamu menggenggam tanganku seakan kamu tak rela melepaskanku. Apa yang harus aku lakukan, hatiku mulai memiliki sebuah rasa untukmu,” bathin Tania di dalam hati saat dia terbangun dari tidurnya di tengah malam.

Tania pun kembali terlelap, di saat pagi datang. Nurul terbangun dari tidurnya. Dia kaget saat melihat Tania dan Sandy.

“Tania!” teriak Nurul tak suka.

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Nastio Iman

Nastio Iman

like

2022-01-04

0

Marlis Nasution

Marlis Nasution

enak dunkz

2022-01-03

0

Irma Kirana

Irma Kirana

baru sampai sini bacanya kak,☺️

2022-01-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!