Reyhan Curiga

Tania menatap Sandy, lalu dia pun bangkit dari posisinya. Dia menatap kosong ke depan, Sandy ikut duduk dia menirukan Tania yang menatap kosong ke depan.

Lama mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari, siang pun berganti sore.

“Maaf,” lirih Sandy saat dia menyadari hari sudah sore.

“Yuk, kita pulang!” ajak Sandy lalu dia berdiri menunggu Tania hingga ikut berdiri.

Mereka melanjutkan perjalanan pulang dalam diam. Di tengah perjalanan, Sandy meraih tangan Tania. Dia membimbing Tania agar gadis yang dicintainya itu tak terjatuh lagi. Tania membiarkan Sandy menggenggam erat tangannya.

Sesampai di rumah Sandy, mereka bersiap-siap untuk berangkat kembali ke kost yang berada di Solok.

*****

Tania sampai di kost, sebelumnya dia sudah mengantarkan Sandy ke kost-annya.

“Tania, loe kenapa lama banget!” seru Nurul panik.

“Ada apa, Rul?” Tania bingung melihat Nurul menyambutnya dengan kepanikkan.

“Lihat! Bang Reyhan sedari tadi menghubungi gue,” ujar Nurul sambil menunjukkan list panggilan tak terjawab di ponselnya.

“Hah?” Tania ikut panik.

Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari tas selempangnya. Dia membuka ponselnya yang ternyata sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dari sang kekasih, serta beberapa pesan WhatsApp.

“Ya ampun!” pekik Tania mulai panik.

Satu per satu pesan dari Reyhan dibacanya.

“Sayang, kamu lagi apa?”

“Lagi di mana sich? Kenapa pesanku pending?”

“Sayang, kamu baik-baik aja kan?”

“Tania, kasih kabar dunk!”

“Kamu di mana? Dari kemarin aku hubungi nggak bisa.”

“Tania,please kamu di mana?”

Beberapa pesan yang sama mengisi chat dari Reyhan, Tania bingung harus berbuat apa. Dia tak tahu harus menjawab pertanyaan Reyhan dengan alasan apa.

Tak berapa Tania selesai membaca pesan dari Reyhan, ponsel Tania berdering pertanda panggilan masuk dari Reyhan.

Tania yang baru saja sampai di kost dibuat panik dengan hal itu.

“Rul, biarin aja ponselnya berdering! Gue mau mandi dulu, gerah!” ujar Tania meletakkan ponselnya di atas kasur.

Tania melangkah menuju kamar mandi, sedari kemarin dia belum mandi, dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Reyhan, agar dia dapat memberi penjelasan yang masuk akal pada sang kekasih.

Selesai mandi, Tania mengambil ponselnya. Dia duduk di balkon kamar kostnya.

Tania pun menekan kontak sang kekasih lalu menghubunginya.

Tak menunggu lama, panggilan Tania di angkat oleh Reyhan.

"Hallo, sayang!" seru Reyhan, terdengar suara panik dari seberang sana.

"Iya, sayang! Maafin aku, ya!" lirih Tania memohon dengan nada penuh penyesalan.

"Kamu dari mana? Aku mencari-cari kabar kamu sejak kemarin." Reyhan sudah tak sabar ingin tahu apa yang terjadi pada sang kekasih sejak kemarin sore.

"Mhm, kemarin aku sama Nurul pergi ke rumah teman. Di sana nggak ada signal. Makanya aku nggak bisa di hubungi. Mau telpon kamu nggak bisa," ujar Tania memberi alasan.

"Tapi, ponsel Nurul udah aktif sejak tadi siang. Namun, dia tak menjawab panggilan dariku." Reyhan merasa curiga.

"Oh itu, Nurul sama Eko pulang ke sini tadi pagi, sedangkan aku baru saja sampai karena ada urusan yang diurus temanku di kampungnya." Tania berusaha menghilangkan rasa gugupnya.

Reyhan merasa curiga mendengar suara Tania yang tidak seperti biasanya.

"Teman kamu itu cowok apa cewek?" tanya Reyhan lagi membuat jantung Tania berdegup dengan kencang.

Deg

Sesaat Tania teringat dengan beberapa kejadian yang telah terjadi di antara dirinya dan Sandy.

"Sayang,"

"Sayang, kamu masih di sana?" tanya Reyhan heran karena tak ada sahutan dari Tania.

"Eh iya, te te manku i tu ce wek," lirih Tania gugup.

Rasa curiga semakin menyelinap di hati Reyhan mendengar respon Tania.

"Oh, kamu sehat kan?" tanya Reyhan mengalihkan pembicaraan.

"Iya, aku sehat," ucap Tania.

"Aku mau video call, boleh?" tanya Reyhan.

"Boleh, dunk," jawab Tania merasa lega, karena Reyhan tak lagi mencurigai dirinya.

Reyhan menekan tombol video call di layar ponselnya.

Mereka pun melepas rindu dengan saling bercerita lewat video call.

*****

Pagi hari ini, Tania telah siap untuk mengajar mendampingi Pak Lingga sang guru pembimbing Tania.

"Pagi, Pak!" sapa Tania saat berjumpa dengan guru pamongnya.

"Pagi, Tania. Kamu siap buat ngajar hati ini?" tanya Pak Lingga.

"I iya, Pak!" sahut Tania bersemangat.

"Syukurlah, kayaknya hari ini bapak nggak bisa mendampingi kamu di kelas. Kamu bisa menggantikan bapak mengajar di kelas hari ini?" pinta Pak Lingga.

"Mhm, bisa, Pak!" Tania mengangguk sambil mengernyitkan dahinya.

"Hati ini bapak ada urusan di luar sekolah, jadi bapak nggak bisa masuk kelas," jelas Pak Lingga menjawab pertanyaan yang ada di hati Tania.

"Oh gitu. Iya nggak apa-apa, Pak," ujar Tania.

"Ya sudah, kamu semangat, ya!" seru Pak Lingga memberi semangat.

"Siap, Pak!" seru Tania berpose dengan gaya hormat bendera.

Pak Lingga tersenyum melihat Tania yang bersemangat untuk mengajar.

"Oke, ini beberapa buku yang kamu butuhkan, bapak minta tolong, analisis hasil evaluasi kamu kerjakan di saat jam kosong!" Pak Lingga memberi arahan sebelum dia meninggalkan anak didiknya.

"Iya, Pak!" Tania mengangguk paham.

Pak Lingga pun pergi, Tania mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya dalam mengajar.

Teeeetth teeeetth teeeetth (bel masuk kelas berbunyi)

"Ngajar di kelas berapa, Tan?" tanya Nurul yang melangkah hendak masuk kelas.

"XI IPS 3, loe ngajar di kelas berapa?" Tania balik bertanya.

"XI IPA 1," jawab Nurul.

"Oh, semangat, ya!" seru Tania.

"Pasti, eh iya. Mau titip salam, nggak?" tanya Nurul menggoda sahabatnya.

"Titip salam?" Tania menautkan kedua alisnya.

"Titip salam buat berondong kesayangan," ledek Nurul yang berhasil membuat wajah Tania berubah merah merona tersipu malu.

"Loe, apa-apaan sih," ketus Tania kesal.

"Gitu aja marah, week!" cibir Nurul lalu dia langsung masuk kelas yang sudah ada di depan matanya.

Tania hanya cemberut membiarkan sahabatnya lolos. Dia terus melangkah menuju kelas XI IPS 3 yang ada di pojok lorong sekolah.

"Assalamualaikum," ucap Tania saat masuk ke dalam kelas.

"Waalaikumsalam,"sahut beberapa siswa.

Para siswa di sana masih saja ribut, hanya beberapa orang yang memperdulikan keberadaan Tania di kelas itu.

Tania duduk di bangku yang tersedia khusus untuk guru. Dia meletakkan perkakasnya di atas meja, lalu melangkah ke tengah-tengah kelas mencari perhatian para siswa.

Beberapa siswa masih sibuk dengan kegiatan mereka, tanpa mengacuhkan Tania yang sudah berdehem memberi isyarat atas keberadaan dirinya di kelas itu.

"Selamat pagi, anak-anak!" seru Tania dengan nada yang tinggi agar dapat mengambil perhatian dari siswanya.

"Pagi, buk!" balas beberapa siswa.

Tanpa disadarinya seorang siswi menatap tajam ke arah Tania.

Rasa benci di hatinya membuat dia berdiri dan melangkah menghampiri Tania.

Plaakk

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Azfa Humaira

Azfa Humaira

wajar aja reyhan curiga

2022-01-17

0

я𝓮𝒾𝓷A↠ͣ ⷦ ͣ𝓭𝓲𝓪𝓷✿

я𝓮𝒾𝓷A↠ͣ ⷦ ͣ𝓭𝓲𝓪𝓷✿

ktnggalan bnyk episode

2022-01-14

0

GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™

GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™

done kk

2022-01-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!