Tabrakkan

Sandy melangkah menuju pintu, dia mencoba membuka pintu,. Namun, pintu ruang ganti telah terkunci.

Sandy bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Rio, meminta bantuan padanya.

Berkali-kali Sandy menghubungi sahabatnya, tak satu pun panggilannya tersambung.

"Sayang." Suara manja seorang wanita datang menghampiri Sandy.

Sandy kaget dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.

"Loe, ngapain di sini?" tanya Sandy dengan nada sedikit tinggi.

"Gue mau berduaan sama kekasih gue," ucap sang gadis sambil mengelus lembut dada bidang Sandy.

"Loe gila, Git!" bentak Sandy geram.

“Iya, gue memang gila karena cinta, loe deketin gue dan buat gue jatuh cinta sama loe. Habis itu loe buang gue gitu aja? Gue nggak rela Sandy, gue akan bikin loe jadi milik gue,” ujar Gita.

Sandy melangkah menuju pintu, dia mencoba membuka pintu,. Namun, pintu ruang ganti telah terkunci.

Sandy bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Rio, meminta bantuan padanya.

Berkali-kali Sandy menghubungi sahabatnya, tak satu pun panggilannya tersambung.

"Sayang." Suara manja seorang wanita datang menghampiri Sandy.

Sandy kaget dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.

"Loe, ngapain di sini?" tanya Sandy dengan nada sedikit tinggi.

"Gue mau berduaan sama kekasih gue," ucap sang gadis sambil mengelus lembut dada bidang Sandy.

"Loe gila, Git!" bentak Sandy geram.

“Iya, gue memang gila karena cinta, loe deketin gue dan buat gue jatuh cinta sama loe. Habis itu loe buang gue gitu aja? Gue nggak rela Sandy, gue akan bikin loe jadi milik gue,” ujar Gita dengan senyuman sinisnya.

Gita membuka kancing bajunya satu persatu, dia hendak memperlihatkan tubuhnya pada Sandy.

Sandy membalikkan tubuhnya saat melihat tindakan gila wanita yang sempat jadi pacarnya itu.

“Gue akan berikan semua tubuh gue buat loe, asalkan loe bersedia menjadi milik gue untuk selamanya,” ucap Gita dengan suara yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Sandy.

“Perempuan gila,” bentak Sandy masih dalam posisi membelakangi Gita.

Gita pun memeluk tubuh kekar Sandy.

“Lepas!” teriak Sandy lagi.

Gita masih saja memeluk tubuh Sandy dengan erat, membuat Sandy jengah dengan perbuatan Gita, dia menghempaskan tangan Gita yang melingkar di pinggangnya. Sandy membalikkan tubuhnya dia melihat Gita yang telah membuka setengah pakaiannya.

“Aku bersyukur telah memutuskanmu, ternyata kau wanita murahan!” geram Sandy meruncingkan telunjuknya tepat didepan wajah Gita dan menatap tajam matanya.

Ceklek

Pintu ruang ganti terbuka, Sandy langsung menoleh ke arah pintu.

"Ada apa bro?" tanya Rio yang tiba-tiba datang.

Gita langsung menutup tubuhnya dengan bajunya.

"Shi**, ngapain dia datang ke sini? Gagal semua yang sudah gue rencanakan," gumam Gita kesal di dalam hati.

Dia pun pergi meninggalkan ruang ganti tersebut.

"Syukurlah, Yo. Loe datang tepat waktu. Thank you," ucap Sandy.

"Terus Gita?" tanya Rio penasaran dengan apa yang terjadi.

"Dia itu perempuan gila," jawab Sandy.

Sandy membuka lokernya lalu mengambil pakaiannya yang ketinggalan.

"Yuk, balik!" ajak Sandy.

Flash back off

“Apakah ini alasan kamu ngejauhin aku?” gumam Sandy di dalam hati, Sandy terus melamun dalam perjalanannya.

Sandy terus memikirkan kejadian yang menimpa Tania akibat dirinya. Dia merasa bersalah dengan perbuatan yang dilakukan Gita pada Tania. Tanpa disadarinya ada mobil yang melintas di persimpangan jalan.

Brukk Praaang

Sandy terpental ke pinggir jalan, sepeda motornya tergeletak di tengah alan, sedangkan mobil yang di tabrak Sandy pergi begitu saja meninggalkan Sandy yang tak sadarkan diri di pinggir jalan.

Beberapa orang yang melihat kejadian yang menimpa Sandy datang menghampirinya. Lalu ada empat orang pemuda membawa Sandy ke klinik terdekat dengan mobil pick up milik salah satu dari mereka.

Tania yang melintas TKP, buru-buru me-rem mendadak sepeda motornya.

Ciiiiitt

“Eits, kamu kenapa sih Tan?” protes Nurul kaget.

“Lihat deh!” tunjuk Tania pada segerombolan warga di tempat Sandy terjatuh.

“Eh, ada apa ya,Tan?” tanya Nurul penasaran.

“Mana gue tahu, kita kan baru lewat sini.” Tania turun dari sepeda motornya.

Nurul pun ikut turun dan mengikuti langkah Tania, dia menghampiri segerombolan warga tersebut.

“Buk, ada apa ya?”tanya Tania pada seorang ibu-ibu berdaster.

“Tadi ada anak sekolah nabrak mobil, dia nyebrang nggak liat-liat deh kayaknya,” jelas ibu berdaster tersebut.

“Anak sekolah? Sekolah mana, Buk?” tanya Tania penasaran.

“Kayaknya anak SMA 1, tuh sepeda motornya!”Sang ibu berdaster menunjuk ke sebuah warung yang di depannya terparkir sepeda motor butut milik Sandy dalam keadaan rusak.

Tania menoleh ke arah tunjuk ibu berdaster, dia kaget saat mengetahui sepeda motor itu tak asing baginya.

“Itu kan motor Sandy,” lirih Tania.

“Tan,” gumam Nurul mulai panik.

“Trus anak itu di bawa ke mana, Buk?” Tanya Tania khawatir.

Tania yakin sepeda motor itu adalah milik Sandy. Saat ini bayangan Sandy terluka melintas di benaknya.

“Kayaknya di klinik di depan mesjid raya, karena klinik itu paling dekat dari sini,” jawab sang ibu berdaster.

“Ya udah, terima kasih, Buk.” Ucap Tania lalu dia menarik tangan Nurul.

Nurul masih bingung, dia hanya bisa mengikuti sang sahabat.

Tania menaiki scoopy merahnya, lalu melaju menuju klinik terdekat dari tempat Sandy kecelakaan.

Sesampai di klinik, Tania langsung turun dan meninggalkan Nurul begitu saja.

“Suster, apakah ada pasien kecelakaan yang baru masuk?” tanya Tania langsung saat mendapati suster melintas di depannya.

“Iya, Kak. Kalau nggak salah anak sekolah!” jawab sang Suster.

“Sekarang dia ada di mana,Sus?” tanya Tania lagi.

“Itu, di ruang IGD,” jawab sang Suster sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan IGD di depan pintunya.

“Saya boleh ke sana?” tanya Tania.

Tania melangkah menuju ruang IGD, dia melihat empat orang pemuda yang menunggu di depan ruang IGD tersebut.

“Maaf, Bang! Apakah yang di dalam ruangan initanak sekolah?” tanya Tania memastikan di dalam ruang IGD itu adalah Sandy.

“Iya, Dek. Dia nabrak mobil yang melintas di persimpangan.” Salah sattu dari empat pemuda itu menjawab pertanyaan Tania.

“Sandy,” lirih Tania panik.

“Apakah adik ini mengenali anak itu?” tanya salah satu pemuda yang lainnya.

“Mungkin dia salah satu siswa saya,” jawab Tania.

Tania terpaksa mengatakan hal itu, karena saat ini dia masih mengenakan pakaian dinasnya. Sepulang dari sekolah, Tania dan Nurul langsung pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan sehari-hari.

“O ibu guru rupanya,” celetuk sang pemuda.

Tania hanya tersenyum.

Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang IGD tempat Sandy di periksa.

“Siapa yang membawa korban?” tanya sang dokter pada Tania dan empat orang yang berada di depan ruang IGD.

“Kami, Dok.”Salah satu dari pemuda itu berdiri menghampiri sang Dokter, diikuti oleh Tania.

“Bagaimana keadaan anak itu, Dok?” tanya Tania panik.

“Kamu ini siapa?” tanya sang Dokter seakan enggan memberitahu keadaan Sandy pada Tania.

“Kakak boleh tunggu di luar,” ujar Dokter.

Bersambung...

Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...

Rate...

Like...

Komentar...

Hadiah...

dan

Vote...

Terima kasih🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Hum@yRa Nasution

Hum@yRa Nasution

amazing

2022-01-12

1

Nastio Iman

Nastio Iman

good

2022-01-12

1

Irma Kirana

Irma Kirana

mampir 😘🌹

2022-01-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!